Lingkar kepala bayi normal jadi salah satu indikator penting tumbuh kembang si Kecil, selain berat dan panjang badan. Pahami ukuran ideal serta cara mengukur lingkar kepala bayi untuk bantu Mama memantau pertumbuhan otaknya dengan lebih tepat.
Mengapa Pengukuran Lingkar Kepala Bayi Itu Penting?
Menurut IDAI, pengukuran lingkar kepala bayi penting untuk menilai pertumbuhan otak dan mendeteksi kelainan sejak dini.
Contoh, jika ukuran kepala bayi melebihi batas normal, ini bisa mengindikasikan kondisi hidrosefalus atau makrosefali. Sebaliknya, bila terlalu kecil disebut mikrosefali.
Pengukuran rutin setiap bulan hingga si Kecil berusia 2 tahun dapat bantu Mama deteksi lebih dini kemungkinan kelainan pertumbuhan, sehingga penanganan bisa dilakukan secepatnya.
Baca Juga: Pertumbuhan Berat Badan Bayi 0-6 Bulan yang Ideal
Ukuran Lingkar Kepala Bayi Normal Sesuai Usia dan Jenis Kelamin
Di setiap fase pertumbuhannya, lingkar kepala si Kecil akan mengalami kenaikan ukuran.
Berikut tabel lingkar kepala bayi normal menurut World Health Organization (WHO, 2025) dan IDAI (2025) sesuai usia dan jenis kelaminnya.
Tabel Lingkar Kepala Bayi Laki-Laki
|
Usia |
Normal (cm) |
Tidak Normal (cm) |
|
0–3 bulan |
34,5–40,5 cm |
Jika bayi berusia 3 bulan <39,5 cm atau >42 cm |
|
3–6 bulan |
40,5–43 cm |
Jika pada bulan ke-6 lingkar kepalanya masih <42 cm atau >45 cm |
|
6–12 bulan |
43–46 cm |
<45 cm atau >49,5 cm jika bayi berusia 12 bulan |
Tabel Lingkar Kepala Bayi Perempuan
|
Usia |
Normal (cm) |
Tidak Normal (cm) |
|
0–3 bulan |
34–39,5 cm |
Jika di usia 3 bulan <38 cm atau >41 cm |
|
3–6 bulan |
40,5–43 cm |
Jika di bulan ke-6 lingkar kepalanya masih <41 cm atau >43,5 cm |
|
6–12 bulan |
42–45 cm |
Jika bayi berusia 12 bulan <44,5 cm atau >46 cm |
Apa yang Terjadi Jika Lingkar Kepala Bayi Terlalu Kecil atau Terlalu Besar?
Jika ukuran lingkar kepala bayi berada di bawah –2 SD dari standar lingkar kepala bayi normal, kondisi ini disebut mikrosefali.
Penyebab mikrosefali dapat meliputi paparan alkohol atau obat saat hamil, hingga infeksi TORCH. Sebaliknya, lingkar kepala berada di atas +2 SD, disebut makrosefali.
Makrosefali dengan ubun-ubun terbuka bisa disebabkan hidrosefalus atau atrofi otak, sedangkan ubun-ubun menutup biasanya terkait atrofi.
Hidrosefalus sendiri terjadi akibat penumpukan cairan otak karena kelainan bawaan, infeksi, tumor, atau gangguan metabolik.
Faktor yang Memengaruhi Ukuran Lingkar Kepala Bayi
Bentuk kepala bayi normal dipengaruhi banyak hal, mulai dari genetik hingga asupan nutrisi. Mama perlu memahami faktor-faktor ini untuk dukung perkembangan otak si Kecil dengan tepat.
1. Faktor Genetik
Ukuran kepala bayi normal sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Bila orang tua memiliki ukuran kepala lebih besar atau kecil, kemungkinan bayi mewarisi ukuran serupa.
Menurut studi yang dipublikasikan di laman University of Bristol (2019), faktor genetik dapat menentukan variasi ukuran kepala dan bentuk tengkorak si Kecil.
2. Asupan Nutrisi
Nutrisi berperan penting dalam perkembangan otak dan pertumbuhan kepala bayi.
Kekurangan zat gizi makro dan mikro, seperti protein, zat besi, dan asam lemak omega-3, dapat menghambat perkembangan otak.
IDAI menekankan pentingnya pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama karena mengandung semua nutrisi penting bagi otak bayi.
3. Kesehatan Selama Kehamilan
Kondisi Mama selama hamil juga berpengaruh terhadap ukuran lingkar kepala bayi.
Paparan infeksi seperti rubella, toksoplasma, atau CMV (cytomegalovirus) dapat mengganggu perkembangan otak janin dan menyebabkan mikrosefali.
Maka dari itu, vaksinasi dan pemeriksaan kehamilan rutin dapat membantu mencegah risiko tersebut.
4. Kesehatan Pasca Melahirkan
Setelah bayi lahir, faktor seperti pola makan, pemberian ASI, serta kondisi psikologis ibu (misalnya stres atau depresi pascapersalinan) turut memengaruhi pertumbuhan bayi.
Jika Mama kelelahan hingga stres, mungkin Mama akan lebih sulit untuk merawat si Kecil. Akibatnya, bayi mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dari seharusnya.
Baca Juga: Kenapa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) Anak Penting?
Cara Mengukur Lingkar Kepala Bayi dengan Benar
Sebetulnya, cara mengukur lingkar kepala bayi bisa dilakukan di rumah. Namun, hasil pengukuran ini mungkin tidak seakurat bila dilakukan oleh dokter.
Berikut langkah-langkahnya:
- Gunakan pita ukur fleksibel dari bahan lembut (bukan logam).
- Lilitkan pita di atas alis, di atas telinga, dan di bagian paling menonjol belakang kepala bayi.
- Pastikan pita tidak terlalu longgar atau ketat agar hasilnya tidak meleset.
- Catat hasil terbesar dari tiga kali pengukuran untuk mendapatkan data paling akurat.
- Lakukan pengukuran secara rutin setiap bulan dan catat hasilnya di Kartu Menuju Sehat (KMS).
Kapan Harus ke Dokter?
Lingkar kepala bayi normal adalah indikator penting dari perkembangan otak si Kecil. Mama perlu segera bawa si Kecil ke dokter bila lingkar kepala bayi berbeda jauh dari grafik pertumbuhan WHO.
Waspadai pula jika pertumbuhan lingkar kepala melambat atau tiba-tiba menurun signifikan dibanding bulan sebelumnya.
Kondisi ini bisa jadi tanda gangguan perkembangan otak yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Segera konsultasikan ke dokter jika terdapat gejala tambahan, seperti muntah berulang tanpa sebab jelas, ubun-ubun tampak menonjol atau menegang, serta bayi tampak lesu dan tidak responsif.
Baca Juga: Mengenal Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK)
Demikian penjelasan lengkap mengenai lingkar kepala bayi normal sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya. Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Ma!
Jika Mama masih punya pertanyaan lebih lanjut seputar tumbuh kembang si Kecil, jangan ragu untuk bertanya ke Nutriclub Expert Advisor – tim ahli terpercaya di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji!