Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Tumbuh Kembang

Cara Pencegahan Stunting pada Masa Golden Age Anak

Article Oleh : Mauliyana Puspa Adityasari 11 Agustus 2023

Stunting adalah permasalahan gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan pertumbuhan anak terganggu. Salah satu ciri utama stunting pada anak adalah perawatan tinggi badan anak yang lebih rendah dibanding anak-anak seusianya. Stunting juga membuat anak mudah sakit karena sistem imunnya terganggu.

Pertanyaannya, apakah anak yang terdiagnosis stunting setelah usia 2 tahun bisa kembali normal? Dan jika tidak, adakah langkah pencegahan stunting yang bisa Mama dan Papa lakukan untuk memastikan si Kecil bertumbuh kembang dengan optimal?

Simak jawabannya di bawah ini, ya!

Apakah Stunting Setelah Usia 2 Tahun Masih Bisa Disembuhkan?

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi secara berkelanjutan dalam 1000 hari pertama kehidupan. Akibat dari kekurangan gizi pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) bersifat permanen dan sulit untuk diperbaiki.

Artinya, stunting juga bersifat irreversible dan tidak dapat diperbaiki, terutama setelah anak mencapai usia dua tahun.

Anak yang memiliki gejala stunting masih bisa sembuh jika mendapat penanganan tepat sebelum menginjak usia dua tahun. Bagaimana setelah itu?

Pengobatan stunting paling efektif dilakukan ketika anak masih dalam masa 1000 hari pertama kelahiran (HPK) dengan perbaikan asupan gizi seimbang dan perawatan kesehatan yang tepat agar anak terhindar dari risiko infeksi.

Pengobatan stunting juga bisa dilakukan hingga anak berusia 5 tahun nanti. Namun, setelah lewat dari usia balita, efektivitas pengobatannya akan lebih sulit untuk mencapai kesembuhan 100% karena anak sudah mulai berkembang.

Karena keterbatasan kemungkinan ini, peran Mama dan Papa sebagai orang tua menjadi semakin untuk memahami cara mencegah stunting pada anak sejak dini. Sebab, lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Jika Mama sudah melihat adanya indikasi stunting pada si Kecil, sebaiknya segera berkonsultasi pada dokter agar mendapat penanganan yang tepat dan dapat membantu anak untuk tumbuh kembang lebih optimal. Tentunya semakin cepat ditangani, akan semakin baik untuk anak.

Baca Juga: Si Kecil Gampang Sakit? Ini 10 Ciri Imun Tubuh Anak Lemah yang Perlu Mama Waspadai

Cara Pencegahan Stunting pada Anak

Fase 1000 hari pertama kehidupan memegang peran sangat penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan si Kecil. 

Pada periode ini, organ-organ penting dalam tubuh anak, seperti rangka tulang, jantung dan otak, sampai anggota tubuh seperti kaki dan tangan sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.

Maka dari itu, upaya yang dilakukan selama periode ini dapat memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kesehatan, perkembangan, dan masa depan anak, bahkan mencegah stunting. 

Berikut ini beberapa tindakan pencegahan stunting pada anak berdasarkan rekomendasi Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):

1. Periksa Kehamilan Secara Rutin

Kunci utama  dalam pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan. Sebab, stunting dapat terjadi sejak dalam kandungan dan gejalanya akan nampak saat anak berusia 2 tahun. Jadi, sangat penting untuk Mama rutin memeriksakan kesehatan diri serta kondisi kandungan secara rutin, dari mulai terkonfirmasi hamil sampai menjelang melahirkan.

Kontrol kandungan ke dokter juga dapat menambah edukasi dan pemahaman Mama tentang nutrisi yang baik dikonsumsi selama masa kehamilan untuk mengurangi risiko hambatan pertumbuhan janin.

Di Indonesia sendiri sudah ada program ANC Terpadu mulai dari pemeriksaan bidan, pemeriksaan dokter, dokter gigi, pemeriksaan laboratorium dan konsultasi gizi untuk menilai status gizi ibu hamil. Jika ditemukan risiko, dapat langsung diintervensi oleh petugas kesehatan yang berkompeten.

Risiko infeksi dan gangguan kesehatan terkait potensi stunting yang mungkin dialami oleh ibu hamil juga dapat didiagnosis dengan beberapa pemeriksaan laboratorium, termasuk untuk menilai status anemia pada ibu hamil.

2. Memenuhi Kebutuhan Gizi Sejak Hamil

Masih berkaitan dengan poin pertama, penting untuk Mama selalu bisa memenuhi gizi sejak masa kehamilan lewat makanan sehat nan bergizi maupun suplemen atas anjuran dokter. Nutrisi utama yang dibutuhkan selama kehamilan adalah kalori, asam folat, protein, kalsium, zat besi, sampai Vitamin A, C, dan D.

Seorang ibu hamil harus mempunyai status gizi yang baik dan mengonsumsi makanan yang beraneka ragam baik secara proporsi maupun jumlahnya, untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dirinya dan untuk pertumbuhan perkembangan bayinya. 

Bila makanan ibu sehari-hari tidak cukup mengandung zat gizi yang dibutuhkan, janin atau bayi akan mengambil persediaan yang ada di dalam tubuh ibunya, seperti sel lemak ibu sebagai sumber kalori; zat besi dari simpanan di dalam tubuh ibu sebagai sumber zat besi janin/bayi.

Demikian juga beberapa zat gizi tertentu yang tidak disimpan di dalam tubuh seperti vitamin C dan vitamin B, yang sebenarnya banyak terdapat di dalam sayuran dan buah-buahan.

3. Beri ASI Eksklusif Minimal 6 Bulan

Menyusui secara eksklusif minimal selama 6 bulan ternyata berpotensi mengurangi risiko stunting pada anak sejak usia dini berkat kandungan gizi mikro dan makronya. Sebagai contoh, protein whey dan kolostrum yang terdapat pada ASI pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang masih rentan.

4. Dampingi dengan MPASI Lengkap dan Bergizi

Setelah usia 6 bulan, IDAI merekomendasikan ASI tetap diteruskan sampai usia 2 tahun dengan didampingi pemberian menu MPASI lengkap yang bergizi seimbang dan memadai.

Artinya, Mama harus bisa memastikan makanan yang dipilih sebagai MPASI bisa memenuhi gizi mikro dan makro bayi yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk mencegah stunting, misalnya protein, karbohidrat, hingga zat besi, zinc, dan vitamin A. 

Protein hewani terutama juga harus ada dalam makanan pendamping air susu Ibu (MPASI) anak sejak pertama kali dikenalkan pada usia 6 bulan. Sebab, kandungan asam aminonya lengkap dan dibutuhkan anak untuk mencapai tinggi optimalnya untuk mencegah stunting.

Menurut Kementerian Kesehatan, anak-anak yang mendapatkan asupan protein optimal dan sesuai dengan kebutuhan usia mereka cenderung memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang jarang mengonsumsi protein. 

Protein hewani bisa didapatkan dari daging sapi, daging ayam, hati ayam, dan telur. 

PERGIZI PANGAN Indonesia menekankan bahwa memberikan satu butir telur pada MPASI si Kecil setiap hari terbilang efektif dalam mencegah stunting, karena telur merupakan sumber protein yang kaya dan berkualitas tinggi.

5. Terus Pantau Tumbuh Kembang Anak

Selanjutnya tindakan pencegahan stunting bisa dengan melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara teratur, idealnya setiap bulan. 

Mama dapat membawa si Kecil ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya secara teratur untuk melakukan pemantauan dan pemeriksaan agar mendapat diagnosis yang tepat.

Pemantauan tumbuh kembang anak bisa dilakukan secara rutin dan berkala pada usia:

  • Setiap bulan ketika anak berusia 0 sampai 12 bulan.

  • Setiap 3 bulan ketika anak berusia 1 sampai 3 tahun.

  • Setiap 6 bulan ketika anak berusia 3 sampai 6 tahun.

Mama perlu terus memantau tumbuh kembang anak, terutama dari tinggi dan berat badan anak. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi Mama untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya.

6. Melengkapi Imunisasi

Pencegahan stunting juga perlu Mama lakukan dengan memperhatikan dalam pemberian imunisasi.  Sebab, pemberian vaksinasi sesuai dengan jadwal imunisasi memiliki peran penting dalam merangsang sistem kekebalan tubuh anak untuk melindungi dari berbagai penyakit. 

Menurut IDAI, anak-anak diwajibkan untuk menerima vaksin secara rutin sesuai dengan jadwal yang ditentukan mulai dari saat baru lahir hingga mencapai usia 18 tahun.

7. Selalu Jaga Kebersihan Lingkungan

Seperti yang diketahui, anak-anak sangat rentan tertular penyakit, terutama kalau lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor ini pula yang secara tak langsung meningkatkan risiko stunting. Sebab, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi yang berulang.

Studi yang dilakukan di Harvard School of Public Health menyebutkan diare kronis adalah faktor ketiga yang menyebabkan stunting. Seperti yang Mama ketahui, salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Semoga informasi ini membantu para ibu mencegah stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak. Mama juga bisa, lho, dapatkan panduan lengkap untuk mendukung daya tahan tubuh si Kecil serta tips dukung tumbuh kembang anak dengan download E-Book 1000 HPK secara gratis!

  1. Terlanjur Stunting Bisakah Diobati? (2018). Jatengprov.go.id. https://jatengprov.go.id/beritaopd/terlanjur-sunting-bisakah-diobati/
  2. Apa itu Stunting? Yuk Cari tahu disini | Puskesmas Gamping II. (2023, January 19). Puskesmas Gamping II | Sehat Bersama Kami, Melayani Dengan Hati. https://pkmgamping2.slemankab.go.id/apa-itu-stunting-yuk-cari-tahu-disini/
  3. ‌STUNTING DAPATKAH DISEMBUHKAN | Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. (2023). Papuabaratprov.go.id. https://dinkes.papuabaratprov.go.id/artikel/stunting-dapatkah-disembuhkan
  4. ‌World. (2015, November 19). Stunting in a nutshell. Who.int; World Health Organization: WHO. https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell
  5. ‌Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2022). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1388/mengenal-apa-itu-stunting
  6. ‌Bourke, C. D., Berkley, J. A., & Prendergast, A. J. (2016). Immune Dysfunction as a Cause and Consequence of Malnutrition. 37(6), 386–398. https://doi.org/10.1016/j.it.2016.04.003
  7. ‌IDAI | Mencegah Anak Berperawakan Pendek. (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mencegah-anak-berperawakan-pendek
  8. ‌Stunting, Ancaman Generasi Masa Depan Indonesia - Direktorat P2PTM. (2013). Direktorat P2PTM. https://p2ptm.kemkes.go.id/post/stunting-ancaman-generasi-masa-depan-indonesia
  9. ‌Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2022). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1519/ciri-anak-stunting
  10. ‌Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. https://promkes.kemkes.go.id/pencegahan-stunting
  11. IDAI | Pentingnya Memantau Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (Bagian 1). (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-1
comment-icon comment-icon