Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Kesehatan

Jadwal Imunisasi Terbaru IDAI 2023 untuk Bayi 0-12 Bulan

Article Oleh : Annisa Amalia Ikhsania 12 Januari 2023

Urutan imunisasi bayi baru lahir untuk tahun 2023 ini perlu Mama ketahui agar tidak kelewatan memberikan imunisasi pada si Kecil. Vaksin-vaksin ini tentu tidak diberikan secara bersamaan. 

Jadi, yuk, cari tahu jadwal dan urutan imunisasi bayi baru lahir sampai usia 12 bulan berdasarkan rekomendasi terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2023 di sini!

Bagaimana Cara Kerja Imunisasi?

Sebelum mengecek urutan imunisasi bayi lengkap 2023, Mama juga perlu tahu cara kerja imunisasi dalam menjaga sistem imun si Kecil. 

Bayi dilahirkan dengan sistem kekebalan yang dapat melawan sebagian besar kuman. Namun, ada beberapa penyakit serius dan bahkan mematikan yang tidak dapat mereka tangani sendiri pada saat ini. Itu sebabnya, bayi baru lahir akan membutuhkan vaksinasi secara rutin untuk memperkuat sistem kekebalan tubuhnya. 

Imunisasi sangat penting pada awal kehidupan si Kecil karena anak-anak terpapar ribuan kuman penyebab penyakit setiap hari. Ini bisa terjadi melalui makanan yang mereka makan, udara yang mereka hirup, dan benda-benda yang mereka masukkan ke dalam mulut mereka.

Imunisasi adalah proses pembentukan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit menular yang terjadi setelah pemberian vaksin. Vaksin itu sendiri biasanya berisi mikroorganisme (bakteri atau virus tertentu) yang sudah dilemahkan. Ketika dimasukkan ke dalam tubuh lewat suntikan atau secara oral, mikroorganisme yang inaktif ini tidak menyebabkan penyakit.

Yang terjadi adalah sistem kekebalan tubuh anak akan mengenalinya sebagai benda asing. Sistem imun kemudian merespon “kedatangan” benda asing ini dengan menciptakan sel-sel antibodi yang spesifik bekerja untuk melindungi tubuh dari potensi penyakit yang bisa disebabkan oleh kuman hidup tersebut.

Dengan demikian, tubuh si Kecil akan bisa cepat melawan virus dan mengurangi risiko tertular penyakit apabila di kemudian hari kuman hidup itu masuk ke dalam tubuh anak.

Setelah memahami manfaat pemberian vaksin bagi si Kecil, mari kita cari tahu urutan imunisasi bayi lengkap 2023 di bawah ini!

Baca Juga: 5 Manfaat Imunisasi untuk Kesehatan

Urutan Imunisasi Bayi Lengkap 2023, Terbaru dari IDAI

Untuk mencapai efek perlindungan yang maksimal, imunisasi harus diberikan sesuai jadwal yang telah ditentukan berdasarkan rekomendasi IDAI terbaru. Ada yang cukup satu kali imunisasi, ada yang memerlukan beberapa kali imunisasi dan bahkan pada umur tertentu diperlukan imunisasi ulang.

Oleh karena itu, penting untuk melengkapi imunisasi bayi sejak baru lahir sampai ia besar nanti. Jika ada vaksin yang belum didapat sesuai jadwal yang seharusnya, terlambat, atau tertunda, imunisasi harus secepatnya dikejar.

Nah, berdasarkan rekomendasi IDAI, ini dia urutan imunisasi bayi lengkap 2023 yang harus si Kecil dapatkan di umur 0-12 bulan:

 

1. Hepatitis B

Urutan imunisasi bayi yang pertama adalah vaksin hepatitis B. Hepatitis B adalah infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. 

Hepatitis B paling sering ditularkan dari ibu yang terinfeksi hepatitis B saat hamil. Biasanya, virus ini berpindah ke bayi ketika ia terkena paparan darah dan cairan vagina ibu selama proses persalinan normal maupun caesar.

Merujuk pada panduan imunisasi terbaru dari IDAI, vaksin hepatitis B diberikan pada bayi sebanyak 4 kali.

Vaksin hepatitis pertama atau yang disebut vaksin hepatitis B (HB) monovalen diberikan segera kurang dari 12 jam setelah bayi lahir yang didahului dengan penyuntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelum vaksin.

Dosis kedua diberikan pada jarak 4 minggu setelah imunisasi pertama, dan jarak vaksin ke-3 minimal 2 bulan dan yang paling baik 5 bulan setelah vaksin kedua.

Mengutip dari Sari Pediatri, bayi-bayi yang tidak mendapat vaksin HB pada waktu lahir berisiko terinfeksi 3,5 kali lebih besar dibandingkan dengan bayi yang mendapat imunisasi waktu lahir. 

2. BCG

Vaksin BCG merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC) atau yang sekarang dikenal dengan sebutan TB. TB disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis.

TBC merupakan penyakit menular berbahaya yang menyerang paru-paru dan terkadang bagian lain dari tubuh, seperti otak, tulang, sendi, dan ginjal. 

Imunisasi BCG hanya perlu didapatkan satu kali saja. Menurut rekomendasi IDAI 2023, imunisasi BCG sebaiknya diberikan segera setelah bayi lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan, karena pada usia kurang dari 2 bulan sistem imun bayi belum matang.

Bagaimana jika imunisasi ini terlewatkan? Bayi tetap boleh mendapatkan vaksin BCG di atas usia 3 bulan, tapi dokter biasanya akan melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Jika hasilnya negatif, anak boleh diberikan vaksin ini. 

3. DPT/DTP

Urutan imunisasi bayi baru lahir yang berikutnya adalah vaksin DPT. Vaksin DPT atau vaksin DTP adalah pembentukan imunisasi terhadap tiga penyakit menular, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus.

Vaksin DTwP atau DTaP disuntikkan secara intramuskular mulai usia 6 minggu. Jadwal imunisasi DTaP diberikan sebanyak 3 kali dan berturut-turut pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan atau usia 2, 4, dan 6 bulan. Namun, si Kecil tetap harus mendapatkan 1 kali vaksin DTP lanjutan (vaksin booster) pertamanya pada usia 18 bulan. 

Pada usia 5 tahun, akan diberikan ulangan lagi sebelum masuk sekolah.

Apabila si Kecil terlambat mendapatkan vaksin DPT, berapa pun jarak keterlambatannya jangan mengulang dari awal. Tetap lanjutkan imunisasi sesuai jadwal ya, Ma.

4. HiB

Vaksin HiB adalah jenis imunisasi untuk melindungi bayi dari infeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B yang bisa menyebabkan kematian.

Menurut IDAI, vaksin Hib dapat diberikan pertama kali ketika bayi berusia 2 bulan. Ketika usianya menginjak 4 dan 6 bulan, anak lalu harus mendapat vaksin HiB lagi masing-masing 1 kali.

Sebagai tambahan alias booster, anak dapat kembali menerima vaksin HiB di usia 15-18 bulan nanti.

Idealnya pemberian imunisasi pada si Kecil adalah ketika kondisi bayi dalam keadaan sehat dan tidak sedang sakit ringan (batuk, pilek, atau demam).

5. Polio

Polio adalah penyakit menular yang terkadang tidak memperlihatkan gejala-gejala ketika virusnya sudah menyerang tubuh. Imunisasi bayi ini tidak boleh Mama lewatkan, karena hingga saat ini juga belum ada obat yang bisa menyembuhkan infeksi polio pada manusia. 

Vaksin polio untuk bayi ada dua jenis, yaitu vaksin oral (OPV) yang diberikan dari tetesan obat lewat mulut dan vaksin suntik (IPV). Tergantung dari jenisnya, jadwal pemberian imunisasi polio untuk bayi juga berbeda.

Vaksin oral (OPV) diberikan 4 kali. Jadwal pertama yaitu segera saat bayi lahir, dan masih bisa didapatkan sampai usia 1 bulan. Jadwal selanjutnya adalah di usia 2, 4, 6, 18 bulan (atau usia 2, 3, 4 bulan sesuai program pemerintah).

6. Campak

Urutan imunisasi untuk bayi baru lahir yang berikutnya adalah vaksin campak. Imunisasi campak biasanya diberikan satu kali pada usia 9 bulan. 

Bayi sudah bisa menerima dosis pertama vaksin MMR mulai usia 9 bulan. Menurut jadwal imunisasi IDAI 2023 yang terbaru, dosis kedua bisa diberikan mulai usia 15-18 bulan, dan dosis ke-3 pada umur 5-7 tahun nanti.

Setelah vaksin wajib, si Kecil kemudian harus mendapat dosis vaksin campak ulangan pertama pada usia 6-59 bulan yang bertujuan sebagai penguatan (strengthening).

Program ini bertujuan untuk mencakup sekitar 5 persen individu yang diperkirakan tidak memberikan respon imunitas yang baik saat diimunisasi dahulu.

Bagi anak berusia 9-12 bulan yang terlambat ataupun belum mendapat imunisasi campak, berikan segera dan kapan pun saat mengunjungi dokter.

Bila anak sudah berusia >1 tahun, berikan MMR. Apabila MMR sudah diberikan, anak tidak perlu lagi mendapatkan imunisasi campak MR pada usia 18 bulan.

Sementara untuk pemberian vaksin polio suntik (IPV) dijadwalkan pada usia 2, 4, 6-18 bulan dan 6-8 tahun.

Menurut IDAI, apabila imunisasi polio terlambat diberikan, jangan mengulang pemberiannya dari awal, tetapi lanjutkan dan segera lengkapi dosisnya tanpa mempedulikan berapa lama jarak keterlambatannya dari pemberian sebelumnya.

Baca Juga: Manfaat, Jadwal Pemberian, dan Efek Samping Vaksin Campak

7. MMR

Vaksin MMR adalah kombinasi vaksin untuk mencegah penyakit campak (measles), gondongan (mumps), dan campak Jerman (rubella).

Vaksin MMR diberikan pada usia 15-18 bulan dengan minimal interval 6 bulan antara imunisasi campak dengan MMR. MMR juga idealnya diberikan minimal 1 bulan sebelum atau sesudah penyuntikan imunisasi lain. 

Jika sampai usia 12 bulan si Kecil belum pernah mendapatkan vaksin MR, Mama dapat memberikan MMR mulai di usia 12-15 bulan, dan dosis keduanya di rentang umur 5-7 tahun. Bila imunisasi ulangan (booster) belum diberikan setelah berusia 6 tahun, berikan vaksin campak/MMR kapan saja saat bertemu.

Pada prinsipnya, berikan imunisasi campak 2 kali atau MMR 2 kali.

8. Rotavirus

Vaksin rotavirus adalah jenis imunisasi untuk melindungi bayi dari penyakit diare. Urutan imunisasi bayi baru lahir yang satu ini tidak boleh disepelekan, sebab menurut IDAI angka kematian akibat diare di Indonesia masih tinggi. 

Vaksin rotavirus yang beredar di Indonesia saat ini ada 2 macam dengan jadwal pemberian yang berbeda tergantung usia bayi. Jenis pertama adalah vaksin rotavirus monovalen yang diberikan secara oral dan vaksin pentavalen yang diberikan lewat suntikan.

Sesuai jadwal imunisasi IDAI terbaru versi 2023, vaksin RV monovalen (RV1) diberikan sebanyak 2 dosis. Dosis RV1 pertama diberikan pada usia 6-12 minggu, dan dosis kedua dengan interval minimal 4 minggu setelahnya. Vaksin RV monovalen diberikan paling lambat pada usia 14 minggu. 

Sementara untuk vaksin pentavalen (RV5) diberikan lewat suntikan dalam 3 dosis yang diberikan jarak 4-10 minggu dari dosis sebelumnya. Dosis pertama diberikan pada usia 6-12 minggu, dosis kedua diberikan dengan jarak 4-10 minggu dari dosis pertama, dan dosis ketika paling lambat diberikan pada usia 32 minggu. 

Batas akhir pemberian imunisasi rotavirus adalah saat bayi usia 24 minggu atau 6 bulan. Apabila bayi belum diimunisasi pada usia lebih dari 6-8 bulan, tidak perlu diberikan ya, Ma,  karena belum ada studi keamanannya.

9. PCV (Pneumokokus)

PCV adalah vaksin untuk mencegah penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), radang telinga, dan infeksi darah (bakteremia) yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae atau pneumokokus.

Vaksin PCV untuk bayi yang baru lahir diberikan 3 kali dengan jadwal pertama di usia 2 bulan,  kedua di bulan 4, dan ketiga saat usianya 6 bulan (dengan interval 4-8 minggu antar dosis).

10. Influenza

Urutan imunisasi bayi baru lahir berdasarkan panduan IDAI berikutnya adalah vaksin influenza. Imunisasi influenza diberikan mulai bayi berusia 6 bulan yang diulang setiap tahun. 

Pada usia 6 bulan sampai 8 tahun, imunisasi pertama diberikan sebanyak 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Sementara itu, usia di atas 9 tahun akan mendapat imunisasi pertama sebanyak 1 dosis.

11. Japanese Ensefalitis

Urutan imunisasi bayi lengkap 2023 yang terakhir adalah vaksin Japanese Ensefalitis (JE). 

Vaksin JE digunakan untuk mencegah infeksi virus Japanese Encephalitis penyebab penyakit radang otak. Umumnya, jenis vaksin ini diberikan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah tersebut.

Area endemis JE di Indonesia antara lain adalah Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jakarta.

Di panduan urutan imunisasi bayi lengkap 2023 dari IDAI, jenis vaksin ini diberikan mulai umur 9 bulan di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Untuk perlindungan jangka panjang anak dapat diberikan imunisasi lanjutan 1-2 tahun kemudian.

Bayi Demam Setelah Imunisasi, Haruskah Khawatir?

Setelah mengetahui urutan imunisasi bayi baru lahir, biasanya timbul pertanyaan lanjutan di benak Mama, bagaimana kalau bayi demam setelah imunisasi? Tenang Ma, sebab umumnya demam setelah imunisasi tidak berbahaya dan hanya berlangsung selama 24 jam setelah pemberian imunisasi.

Demam pasca imunisasi adalah reaksi umum yang dipicu oleh kerja sistem imun tubuh untuk mengenali dan merespon mikroorganisme dalam vaksin yang disuntikkan ke tubuh.  

Hal yang harus Mama lakukan untuk menurunkan demam pada bayi setelah mendapatkan imunisasi adalah menjaganya agar tetap terhidrasi, mengompres area lipatan seperti leher dan ketiak dengan waslap hangat, dan pakaikan si Kecil baju yang tipis. Biarkan bayi tidur untuk membuatnya beristirahat.

Baca Juga: 10 Cara Ampuh Menghilangkan Rasa Sakit Setelah Imunisasi pada Bayi

Bila demam bayi tidak kunjung turun lebih dari 24 jam dan dikhawatirkan ada hal lain yang memicu terjadinya demam, segera konsultasikan ke dokter.

Mama juga bisa konsultasi langsung ke Nutriclub Expert Advisors untuk cari tahu lebih lanjut seputar penanganan demam bayi dan cara menjaga imun si Kecil setelah mendapatkan imunisasi.

Itu dia ulasan mengenai urutan imunisasi bayi baru lahir. Jangan sampai si Kecil terlewat mendapatkan vaksin ya, Ma

  1. IDAI | Jadwal Imunisasi IDAI 2020. (2020). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/tentang-idai/pernyataan-idai/jadwal-imunisasi-idai-2020
  2. IDAI | Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian II). (2023). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-ii
  3. Rokom. (2016, August 29). PASTIKAN BAYI ANDA DIBERI IMUNISASI DASAR LENGKAP !!! Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/daerah/20160829/0018303/pastikan-bayi-anda-diberi-imunisasi-dasar-lengkap/
  4. Japanese Encephalitis Virus Vaccine (Intramuscular Route) Description and Brand Names - Mayo Clinic. (2023). Mayoclinic.org. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/japanese-encephalitis-virus-vaccine-intramuscular-route/description/drg-20072758
  5. Soedjatmiko Soedjatmiko, Mei Neni Sitaresmi, Sri Rezeki Hadinegoro, Kartasasmita, C. B., Ismoedijanto Moedjito, Kusnandi Rusmil, Siregar, S. P., Zakiuddin Munasir, Dwi Pebrianti, & Gatot Irawan Sarosa. (2020). Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2020. Sari Pediatri, 22(4), 252–252. https://doi.org/10.14238/sp22.4.2020.252-60
comment-icon comment-icon