Ada dua jenis imunisasi bayi, yaitu wajib dan tambahan. Imunisasi wajib termasuk hepatitis, TBC, polio, difteri, pertusis tetanus, campak, dan rubella sedangkan imunisasi tambahan termasuk PCV, rotavirus, influenza, cacar, ensefalitis (radang otak), DBD, dan tipes. Sesuai panduan Kemenkes dan IDAI, imunisasi dasar lengkap perlu diberikan kepada bayi sejak usia 0 bulan hingga menjelang usia 1 tahun.
Apa Itu Imunisasi?
Imunisasi adalah cara membentuk perlindungan tubuh terhadap penyakit tertentu melalui pemberian vaksin.
Vaksin merupakan produk biologis yang mengandung antigen, yaitu zat yang berasal dari virus atau bakteri yang telah dilemahkan maupun dinonaktifkan untuk membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap penyakit tertentu.
Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan agar mampu mengenali dan melawan kuman penyebab penyakit. Hal ini membantu tubuh si Kecil mengenali dan melawan penyakit lebih cepat sehingga risiko sakit dapat berkurang.
Mengapa Bayi Harus Mendapat Imunisasi Lengkap?
Pemberian imunisasi wajib pada 1.000 hari pertama kehidupan sangat penting untuk membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit berbahaya.
Pasalnya, pada periode ini sistem imun bayi masih dalam tahap perkembangan sehingga risiko mengalami infeksi dan komplikasi yang lebih serius cenderung lebih tinggi.
Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh bayi yang menerima vaksin, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya. Semakin banyak anak yang diimunisasi, semakin kecil kemungkinan penyakit menular menyebar di masyarakat. Perlindungan bersama ini dikenal sebagai herd immunity atau kekebalan kelompok.
Ada lebih banyak alasan penting mengapa bayi harus mendapat imunisasi lengkap dibandingkan kemungkinan efek sampingnya. Di antaranya:
- Melindungi dari penyakit berbahaya.
- Membentuk kekebalan tubuh sejak dini.
- Mencegah komplikasi serius.
- Mengurangi risiko penularan.
Menurut WHO, imunisasi bisa mencegah 3,5 hingga 5 juta kematian setiap tahun dari penyakit berbahaya seperti tetanus dan campak.
Baca Juga: Dampak Anak Tidak Mendapatkan Imunisasi
Jadwal Imunisasi Bayi Terbaru dari IDAI
Bayi harus mendapatkan imunisasi pada usia yang tepat. Karena itu, simak tabel jadwal imunisasi bayi paling baru yang dirilis IDAI pada 2024 lalu berikut ini:
|
Jenis Imunisasi |
Usia Pemberian |
Melindungi dari |
|
HB |
Lahir, 2, 3, dan 4 bulan |
Hepatitis B |
|
Polio |
Lahir, 2, 3, dan 4 bulan |
Polio |
|
BCG |
<1 bulan |
Tuberkulosis (TBC) |
|
DTP |
2, 3, dan 4 bulan |
Difteri, tetanus, pertusis |
|
MR/MMR |
9 bulan |
Campak dan rubella |
Nah, jika dilihat dari usia bayi, inilah daftar jadwal vaksin yang harus dilengkapi oleh si Kecil:
1. Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir biasanya mendapatkan vaksin berikut ini:
- HB (hepatitis B)
- Polio
- BCG (tuberkulosis atau TBC)
2. Usia 2–4 Bulan
Di usia 2 hingga 4 bulan, bayi sebaiknya mendapatkan beberapa vaksin baru sekaligus menambah dosis vaksin yang sudah didapatkan saat ia lahir.
- DTP (difteri, tetanus, pertusis/batuk rejan)
- Hib (influenza tipe B)
- Polio
- PCV (pneumonia, yaitu penyakit peradangan paru-paru yang juga disebut paru-paru basah)
- Rotavirus (virus penyebab infeksi saluran pencernaan)
3. Usia 6–12 Bulan
Pada rentang usia ini, si Kecil masih perlu mengulang dosis beberapa jenis imunisasi bayi. Namun, ia juga akan mendapatkan vaksin baru. Daftar vaksin di usia 6–12 bulan yaitu:
- PCV
- Rotavirus
- Influenza
- MR/MMR (campak, gondongan, dan rubella alias campak Jerman)
- JE (ensefalitis/penyakit radang otak)
- Varisela (cacar air)
- HAV (hepatitis A)
Jenis Imunisasi Wajib untuk Bayi dari IDAI
Imunisasi wajib kerap disebut imunisasi dasar, yaitu vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah Indonesia dan diberikan secara gratis dalam program imunisasi nasional.
Jenis imunisasi dasar untuk bayi adalah:
1. Vaksin Hepatitis B
Vaksin hepatitis B (HB) berfungsi untuk mencegah infeksi virus yang menyebabkan peradangan dan kerusakan pada liver (organ hati).
Bayi harus mendapatkan vaksin ini ketika ia lahir, dan perlu diulang tiga kali lagi di bulan ke-2, 3, dan 4.
Efek samping ringan yang mungkin muncul setelah imunisasi HB adalah kemerahan, bengkak, atau nyeri di area penyuntikkan. Demam ringan juga bisa terjadi, tapi tidak berbahaya.
2. Vaksin Polio
Imunisasi ini berfungsi untuk mencegah penyakit polio yang bisa menyebabkan kelumpuhan total.
Vaksin polio diberikan pada saat bayi lahir (ditetes lewat mulut) dan akan ditambah 3 kali lagi di usia 2, 3, dan 4 bulan.
Efek samping ringan vaksin polio di antaranya demam ringan atau jika vaksin diberikan lewat suntik (biasanya di usia 4 bulan) kemungkinan muncul kemerahan atau nyeri di area suntikan.
3. Vaksin BCG
Vaksin BCG berfungsi untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau TBC yang menyerang paru-paru hingga ke seluruh organ tubuh.
Imunisasi BCG diberikan satu kali saja, yaitu saat bayi lahir melalui suntikan.
Kemungkinan efek samping dari imunisasi BCG adalah muncul benjolan kecil kemerahan di bekas suntikan yang akan sembuh sendiri. Nantinya mungkin tersisa bekas luka kecil berbentuk bulat dan cekung di kulit.
4. Vaksin DTP
Vaksin DPT adalah kombinasi dari tiga jenis vaksin yang melindungi anak dari penyakit difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan).
Jadwal imunisasi DTP adalah di usia 2, 3, 4 bulan atau 2, 4, 6 bulan. Lalu booster pertama bisa diberikan pada usia 18 bulan. Booster selanjutnya diberikan saat anak masuk usia sekolah.
Efek samping vaksin DTP antara lain demam dan muntah serta nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan. Namun, kasusnya biasanya ringan dan bisa sembuh sendiri.
5. Vaksin MR/MMR
Vaksin MR/MMR berfungsi untuk mencegah penyakit menular campak, rubella (campak Jerman), dan gondongan.
Pemberian dosis pertamanya yaitu saat bayi berusia 9 bulan. Dosis lanjutannya yaitu saat si Kecil berumur 15–18 bulan serta 5–7 tahun.
Vaksin ini mungkin menimbulkan efek samping ringan pada bayi seperti nyeri dan bengkak di area yang disuntik vaksin.
Dengan informasi kesehatan yang tepat, Mama bisa lebih tenang dalam mendampingi si Kecil. Yuk, bergabung juga sebagai member Nutriclub untuk dapatkan akses ke panduan kesehatan anak yang terlengkap dan terpercaya. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Jenis Imunisasi Tambahan yang Direkomendasikan IDAI
Di luar imunisasi wajib, si Kecil juga sangat dianjurkan untuk melengkapi imunisasi tambahan. Ini karena di beberapa daerah, penyakit menular tertentu masih sering ditemukan.
1. PCV
Imunisasi PCV diberikan untuk mencegah pneumonia, yaitu radang paru-paru akibat infeksi virus.
Vaksin pneumonia biasanya disuntikkan saat bayi berusia 2, 4, dan 6 bulan. Kemudian booster bisa diberikan saat usianya 12–15 bulan.
Efek samping ringan yang mungkin muncul dari vaksin pneumonia adalah demam ringan serta kemerahan atau bengkak di area yang disuntik, yang bisa membuat bayi jadi lebih rewel.
2. Rotavirus
Jenis imunisasi bayi tambahan ini berfungsi untuk cegah penyakit rotavirus, yaitu infeksi pencernaan yang sangat umum ditemui pada balita.
Jadwal imunisasinya yaitu pada usia 2, 4, dan 6 bulan, biasanya diberikan lewat tetesan ke mulut bayi.
Efek samping ringan imunisasi rotavirus adalah demam ringan, lemas, dan bayi jadi susah makan.
3. Influenza
Imunisasi influenza penting untuk melindungi anak dari flu musiman, yaitu salah satu infeksi sistem pernapasan yang paling umum ditemui di Indonesia.
Vaksin ini bisa diberikan mulai usia 6 bulan dan sebaiknya dosisnya diulang setiap satu tahun sekali.
Kemungkinan efek samping yang muncul yaitu demam ringan, bayi lemas, dan sakit atau bengkak di area yang disuntik sehingga bayi jadi lebih rewel.
4. Varisela
Vaksin varisela diberikan untuk mencegah penyakit menular cacar air yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster.
Biasanya vaksin ini akan disuntik pada bayi usia 12 bulan dan perlu diulang lagi dosisnya berdasarkan kebijakan dari dokter si Kecil.
Efek samping yang mungkin muncul yaitu kemerahan dan bengkak di area suntikan serta demam ringan.
5. JE
Vaksin JE (Japanese encephalitis) berfungsi untuk mencegah ensefalitis, yaitu penyakit radang otak yang bisa ditularkan lewat nyamuk yang membawa virus tersebut.
Vaksin ini sangat dianjurkan untuk bayi yang tinggal di atau akan bepergian ke daerah endemik. Di Indonesia sendiri, masih ada beberapa provinsi yang banyak kasus ensefalitisnya.
Maka, vaksin ini sudah bisa diberikan mulai usia 9 bulan. Efek samping yang bisa muncul yaitu demam ringan serta kemerahan dan bengkak di area suntikan sehingga bayi jadi rewel.
6. Hepatitis A
Kalau hepatitis B penularannya lewat darah, hepatitis A bisa lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A. Selain itu, hepatitis A sifatnya akut atau sementara. Sedangkan hepatitis B bisa jadi penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan.
Untuk mencegah penyakit hepatitis A yang menyerang organ hati, vaksin HAV bisa disuntikkan mulai usia 12 bulan, lalu dosis selanjutnya diberikan selang 6-18 bulan sesudahnya.
Efek samping dari vaksin HAV untuk cegah hepatitis A yaitu kemerahan, rasa sakit, dan pembengkakan di area suntikan.
7. Tifoid
Vaksin tifoid digunakan untuk mencegah penyakit tipes yang masih sering ditemui di Indonesia.
Jadwal pemberian vaksin tifoid pertama yaitu ketika si Kecil menginjak usia 2 tahun dan dosisnya diulang setiap 3 tahun.
Seperti vaksin jenis imunisasi bayi lainnya, efek samping yang bisa muncul antara lain nyeri dan bengkak di area suntikan serta demam ringan.
8. Dengue (DBD)
Imunisasi dengue diberikan untuk mencegah penyakit demam berdarah (DBD) akibat beragam virus dengue yang dibawa oleh nyamuk.
Si Kecil disarankan mendapatkan dua dosis vaksin dengue, mulai dari usia 6 tahun. Dosis selanjutnya bisa diberikan 3 bulan setelahnya.
Kemungkinan efek sampingnya yaitu sakit kepala, nyeri otot, serta nyeri di bagian yang disuntik.
Baca Juga: Imunisasi Lanjutan Anak dan Jadwalnya
Apa yang Terjadi Jika Jadwal Imunisasi Terlambat?
Jika jadwal imunisasi bayi terlambat atau terlewat, sebaiknya segera susulkan dan penuhi imunisasinya.
Mama tak perlu mengulangi imunisasinya dari awal lagi, karena imunisasi sebelumnya sudah bisa memberikan efek perlindungan meski belum yang paling optimal.
Lebih jelasnya soal kapan harus mengejar imunisasi (catch up immunization), segera konsultasikan dengan dokter anak dan tenaga kesehatan setempat, ya.
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
Kapan Harus ke Dokter Setelah Imunisasi?
Efek samping serius setelah imunisasi sangat jarang terjadi, tapi segera bawa anak ke dokter jika muncul reaksi alergi berat seperti sesak napas, bengkak pada wajah atau bibir, atau kejang.
Dokter biasanya akan memantau kondisi bayi setelah imunisasi untuk memastikan tidak ada reaksi serius.
Kebanyakan hanya mengalami efek samping ringan yang membaik dalam beberapa hari. Jadi, manfaat imunisasi dalam melindungi bayi dari penyakit masih jauh lebih besar dibanding risiko efek samping serius yang amat jarang terjadi.
Baca Juga: Hal yang Perlu Dihindari Setelah Vaksin
Bolehkah Bayi Imunisasi saat Batuk atau Pilek?
Jika tiba jadwalnya imunisasi tapi malah kena batuk atau pilek ringan, bayi masih boleh imunisasi.
Sakit yang sifatnya masih ringan tidak akan berpengaruh pada kerja vaksin, begitu juga sebaliknya vaksin tidak akan membuat sakit anak bertambah parah.
Namun, bila ia demam tinggi atau sakitnya cukup berat, pemberian vaksin perlu ditunda. Agar si Kecil tetap aman, selalu konsultasikan dengan dokter dulu, ya.
Nah, Mama bisa kunjungi Exclusive Hub Nutriclub untuk menikmati berbagai konten premium gratis seputar imunitas si Kecil. Ada e-book, podcast, dan video edukasi, gratis!
Segala informasi tepercaya seputar nutrisi tepat, perkembangan kognitif, serta tips menjaga daya tahan tubuh anak langsung dari ahlinya, dirancang khusus untuk Mama.
