Anak kurang gizi masih sering terjadi. Efeknya tidak hanya berdampak pada berat badannya, tetapi juga imun hingga kecerdasannya. Jadi, kenali penyebab, ciri, dan cara mengatasinya!
Apa Itu Kurang Gizi?
Kurang gizi adalah anak tidak mendapat asupan gizi yang cukup sesuai usianya dalam jangka waktu panjang sehingga fungsi tubuhnya tidak berjalan optimal.
Anak dikatakan kurang gizi bila hasil pengukurannya di bawah z-score -2 SD dan kurang gizi parah jika hasil pengukuran di bawah z-score -3 SD pada kurva pertumbuhan WHO.
Hasil pengukuran dilihat dari berat badan menurut usia, berat badan menurut tinggi badan, dan tinggi badan menurut usia. Ingat, tidak semua anak kurang gizi tampak kurus secara kasat mata.
Penyebab Anak Kurang Gizi
Kurang gizi pada si Kecil umumnya disebabkan oleh:
1. Anak Sering Sakit & Infeksi Berulang
Anak yang sering batuk, demam, pilek, diare, atau terkena penyakit menular lainnya lebih rentan kurang gizi. Lantas, bagaimana pertumbuhan anak yang sering sakit?
Saat sakit, si Kecil merasa tidak nyaman, ia jadi tak nafsu makan, lalu kebutuhan gizi sulit terpenuhi. Muntah dan diare pun membuang cadangan cairan dan zat gizinya sehingga rentan kurang gizi.
Selain itu, infeksi berkepanjangan membuat tubuh butuh lebih banyak energi. Jumlah asupan yang biasa saja tidak cukup, lalu diperparah dengan nafsu makan berkurang.
Berbagai kondisi di atas menimbulkan rantai yang sulit diputus. Anak yang sering bisa menyebabkan kurang gizi. Namun, saat kurang gizi, ia pun semakin mudah sakit.
Baca Juga: 16 Ciri Anak Sehat dan Imunitasnya Kuat
2. Asupan Makanan Tidak Mencukupi
Tidak menerapkan pola makan bergizi seimbang membuat sajian makanan kekurangan gizi penting untuk memenuhi kebutuhan anak. Hal ini juga membuat anak makan lebih jarang daripada seharusnya.
Anak kurang gizi bisa terjadi akibat kekurangan kalori dari asupan protein hewani dibandingkan kebutuhan berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) atau juga kekurangan zat gizi lainnya.
Si Kecil pun kekurangan gizi untuk mempertahankan daya tahan tubuhnya. Akhirnya, ia rentan terkena penyakit infeksi berulang, dan kondisi gizinya memburuk.
3. Gangguan Penyerapan Nutrisi
Masalah pencernaan kronis, seperti diare dan penyakit Crohn, mengganggu penyerapan gizi. Akibatnya, anak kesulitan mendapatkan vitamin, mineral, dan kalori untuk tumbuh kembang optimal.
Hal ini meningkatkan risiko kekurangan gizi meskipun anak makan dengan baik.
Gejala gangguan penyerapan nutrisi berupa muntah dan diare juga dapat menurunkan nafsu makan. Hal ini tentu bisa menyebabkan anak kurang gizi.
4. Perilaku Makan (Picky Eater, GTM)
Pilih-pilih makan atau picky eater dan GTM Ada membuat si Kecil kekurangan asupan gizi karena ia menolak makanan tertentu, bahkan menolak makan sama sekali.
Hanya mengonsumsi jenis makanan yang sama secara berkepanjangan mengakibatkan anak kekurangan asupan kalori, lemak, dan protein harian. Berat dan tinggi badannya pun akan sulit naik.
Sementara itu, penyebab anak GTM bisa beragam, seperti bosan, sakit, atau trauma terhadap makanan. Bila dibiarkan atau hanya memberikan makanan favorit, ia bisa kekurangan nutrisi penting.
5. Alergi Makanan Tanpa Pengganti Tepat
Ada sejumlah makanan yang tinggi risiko alergi bagi anak, antara lain susu, kerang-kerangan, ikan, kacang-kacangan, telur, gluten, dan kedelai.
Sebagian besar makanan yang tinggi risiko alergi merupakan sumber kalori, protein, kalsium hingga omega-3 yang sangat dibutuhkan oleh anak untuk tumbuh dengan optimal.
Bila tidak mendapatkan pengganti makanan alergi yang tepat, risiko anak kurang gizi bisa meningkat.
6. Faktor Lingkungan & Pola Asuh
Tidak menjaga pola hidup bersih dan sehat, seperti jarang mencuci tangan dan buang air besar sembarangan membuat si Kecil rentan infeksi, misalnya diare atau ISPA. Infeksi menghambat nutrisi anak.
Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk juga dapat memperburuk kondisi gizi anak, yang menghambat pertumbuhannya.
Pola asuh yang memaksa makan, selalu ada pertikaian di waktu makan, atau membiarkan anak konsumsi makanan yang disukai membuat ia enggan makan, terutama makan makanan bergizi.
Ciri-Ciri Anak Kurang Gizi
Kekurangan gizi memang bisa terlihat dari tubuhnya. Namun, ada ciri anak kurang gizi lain yang tersembunyi, hanya terlihat bila ia bergabung dan berinteraksi dengan orang lain.
Berikut ciri-ciri fisik yang bisa diamati:
- Tergolong terlalu pendek untuk usianya (gagal tumbuh).
- Terlihat kurus atau buncit.
- Rambutnya tipis dan kemerahan.
- Kulitnya pucat dan kering.
- Berat badan sulit naik atau sering turun.
Sementara itu, berikut ciri-ciri perilaku dan perkembangan anak kurang gizi:
- Lebih rewel, lambat, atau gelisah.
- Mudah lelah.
- Kesulitan memahami pelajaran.
- Perkembangan kognitif dan motorik terhambat.
Baca Juga: 10 Jenis Vitamin untuk Anak yang Sering Sakit
Dampak Kekurangan Gizi pada Anak
Masalah anak kekurangan gizi perlu mendapatkan perhatian ekstra. Dampak kekurangan gizi dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang yang serius, antara lain:
1. Wasting dan Underweight
Wasting adalah berat badan anak turun drastis sehingga berada jauh di bawah kurva pertumbuhan. Bila diukur, ia tergolong terlalu kurus untuk tinggi badannya.
Sementara itu, underweight adalah berat badannya rendah sehingga gagal mencapai berat badan ideal untuk anak seusianya.
Kondisi ini mengganggu laju pertumbuhan tinggi badan anak dalam jangka waktu tertentu. Coba amati, jika tulang rusuknya terlihat menonjol, ada kemungkinan ia underweight.
2. Stunting
Kekurangan zat gizi secara kronis dapat menyebabkan stunting, yakni kondisi anak berperawakan pendek dibandingkan dengan anak-anak seusianya.
Namun, anak stunting tidak selalu terlihat kurus ya, Ma. Anak stunting bisa memiliki berat badan yang ideal atau bahkan terlihat lebih gemuk dari teman sebayanya.
Namun, bisa dipastikan anak stunting pasti lebih pendek daripada teman-teman sebaya.
3. Gangguan Daya Tahan Tubuh
Anak kurang gizi umumnya memiliki kadar zat gizi yang rendah, seperti protein, zinc, zat besi, vitamin A , dan vitamin D.
Padahal, zat gizi tersebut penting untuk memproduksi dan menjaga fungsi sel-sel imun. Akibatnya, daya tahan tubuh melemah dan anak rentan terkena infeksi.
Lagi-lagi, kondisi ini menyebabkan rantai yang tak putus antara infeksi dengan kekurangan gizi pada si Kecil.
Baca Juga: 10 Manfaat Daya Tahan Tubuh Kuat untuk Anak
4. Anemia Defisiensi Besi
Kekurangan asupan zat besi bisa menyebabkan anemia defisiensi besi pada anak. Gejalanya, seperti kulit pucat, rewel, mudah lelah, dan tidak nafsu makan.
Tidak nafsu makan akibat anemia akan memperparah kondisi kurang gizi. Hal ini akan memperparah status gizi si Kecil.
Terlebih, anak dengan anemia lebih rentan sakit akibat infeksi. Padahal, infeksi juga membuat tubuh perlu asupan gizi tambahan, bahkan bisa mengganggu penyerapan gizi.
5. Gangguan Konsentrasi & Daya Tangkap
Anak kurang gizi juga rentan mengalami masalah kognitif yang sulit diperbaiki, bahkan bersifat permanen, seperti lambat berpikir, sulit fokus, dan daya tangkapnya cenderung rendah.
Kondisi ini biasanya diakibatkan kekurangan zat besi. Mineral ini penting untuk mielinisasi, yaitu pembentukan selaput selubung otak untuk mengantarkan informasi dari otak ke seluruh jaringan tubuh.
Apabila proses mielinisasi terganggu, maka proses penghantaran informasi menjadi lebih lambat. Hal ini membuat anak tidak bisa berpikir dengan cepat.
6. Risiko Penyakit Kronis di Masa Depan
Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis, bahkan terjadi seumur hidup.
Kondisi ini berkaitan dengan daya tahan tubuh lemah, gangguan perkembangan otak, dan keterlambatan perkembangan.
Saat beranjak dewasa, gangguan dan hambatan tersebut meningkatkan risiko obesitas. Nah, obesitas ini erat kaitannya dengan penyakit kronis, seperti diabetes dan penyakit jantung.
Cara Mengatasi Kekurangan Gizi pada Anak
Anak yang kurang gizi bisa dicegah dan diperbaiki, asal sebelum usia 2 tahun. Kuncinya, orang tua perlu deteksi dini dan konsisten menjaga kesehatan serta nutrisinya. Berikut cara mengatasinya:
1. Penuhi Gizi Seimbang Sesuai Usia
Cara mengatasi kurang gizi pada anak yang pertama, pastikan anak mendapatkan makanan yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan dan jumlahnya sesuai dengan usia dan kebutuhannya.
Berbagai zat gizi yang diperlukan anak, yaitu protein, karbohidrat, lemak sehat, serat, omega-3 DHA & EPA, zat besi, serta vitamin dan mineral penting lainnya.
Pastikan jumlahnya sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan RI, yakni 3–4 kali makan utama dan 1–2 kali makan selingan berupa camilan sehat.
2. Variasi Menu & Sumber Protein
Menu makanan yang itu-itu saja membuat si Kecil sulit menerima makanan lainnya. Hal ini malah memperparah picky eating.
Padahal, semakin beragam menu makanan, semakin mudah mendapatkan berbagai asupan gizi yang diperlukan.
Sumber protein yang diprioritaskan adalah protein hewani. Namun, tambahkan juga protein nabati untuk melengkapi kebutuhan protein sekaligus menambah kalori makanan.
3. Atur Jadwal Makan Teratur
Menerapkan jadwal pola makan yang teratur juga sangat berperan dalam mengatasi sekaligus mengatasi anak kurang gizi.
Cobalah atur jadwal makan yang konsisten dan sajikan berbagai jenis makanan untuk meningkatkan nafsu makan dan memenuhi kebutuhan gizinya.
Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering juga dapat membantu jika anak sulit makan dalam porsi besar.
4. Ciptakan Suasana Makan Positif
Menciptakan lingkungan makan yang positif sangat membantu meningkatkan nafsu makan anak.
Cobalah untuk menghindari tekanan atau paksaan saat anak makan. Sebaliknya, buat suasana makan menjadi menyenangkan dan ajak anak untuk makan bersama keluarga.
Hal ni dapat membuat mereka lebih tertarik untuk makan dengan lahap.
5. Pantau Pertumbuhan Rutin
Pemeriksaan kesehatan secara rutin juga sangat penting untuk mendeteksi kekurangan gizi sejak dini.
Dokter dapat melakukan pengecekan status gizi anak melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, serta pemeriksaan darah untuk memastikan tidak ada defisiensi nutrisi yang berpotensi mengganggu kesehatan anak.
Dengan deteksi dini, penanganan yang tepat bisa segera dilakukan.
6. Berikan Suplemen Bila Dianjurkan Dokter
Pemberian suplemen gizi atas anjuran dokter bantu tambah asupan gizi jika anak mengalami kekurangan gizi yang cukup parah.
Suplemen vitamin dan mineral dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi yang tidak tercukupi melalui makanan.
Namun, pemberian suplemen harus dilakukan dengan rekomendasi dokter atau ahli gizi agar sesuai dengan kebutuhan anak.
7. Dukung Dengan Asupan Cairan & Nutrisi Pendamping
Selain makanan, kecukupan cairan juga penting untuk mendukung metabolisme tubuh anak.
Kekurangan cairan dapat menghambat penyerapan nutrisi, sehingga penting untuk memastikan asupan cairan cukup, terutama bagi anak-anak yang aktif bermain.
Pastikan anak mengonsumsi cukup air putih setiap hari agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Mama juga bisa berikan minuman dengan kandungan gizi lengkap seperti susu pertumbuhan yang diformulasikan dengan kombinasi FOS:GOS rasio 1:9 serta DHA & EPA lebih tinggi.
Kapan Anak Kurang Gizi Perlu Dibawa ke Dokter?
Segera bawa anak ke dokter bila timbul tanda-tanda kurang gizi yang perlu diwaspadai, seperti:
- Anak sering sakit.
- Berat badan stagnan/turun selama 2 bulan atau lebih.
- Lemas dan tidak aktif.
- Perut buncit.
- Kaki dan wajah membengkak.
- Warna rambut kemerahan dan tipis.
Anak yang kurang gizi bisa disembuhkan dengan maksimal bila usianya di bawah 2 tahun.
Untuk itu, Mama Papa perlu mendeteksi tanda-tandanya sedini mungkin agar penanganan tak terlambat. Dengan begitu, tumbuh kembangnya terjaga.
Gabung jadi member Nutriclub untuk dapatkan ratusan expert-verified parenting content yang terkurasi sesuai usia si Kecil, akses ke call center yang terhubung langsung dengan ahli seputar nutrisi dan tumbuh kembang anak, serta beragam exclusive rewards khusus untuk Mama dan si Kecil dari setiap pembelian produk Nutrilon. Daftar gratis, sekarang!
