Memantau status gizi anak secara teratur memanglah penting untuk memastikan si Kecil tumbuh dengan baik dan sehat. Cara ini merupakan langkah awal untuk mengidentifikasi potensi masalah kesehatan misalnya stunting, wasting, dan overweight. Lalu, bagaimana cara menghitungnya? Cari tahu selengkapnya seputar status gizi menurut WHO di artikel ini, ya, Ma.
Apa Itu Status Gizi Menurut WHO?
Status gizi anak menurut WHO adalah penilaian kondisi pertumbuhan anak berdasarkan keseimbangan antara kebutuhan dan asupan nutrisinya.
Penilaian ini membantu mengetahui apakah anak tumbuh sesuai standar atau mengalami risiko masalah gizi.
WHO menilai status gizi anak melalui pengukuran antropometri, seperti berat badan (BB), panjang atau tinggi badan (TB), usia, dan jenis kelamin.
Hasil pengukuran tersebut kemudian dibandingkan dengan WHO Growth Standards yang digunakan secara global untuk memantau pertumbuhan anak usia 0-5 tahun.
Standar Pertumbuhan WHO mencakup indikator berat badan menurut umur, panjang/tinggi badan menurut umur, berat badan menurut panjang/tinggi badan, dan IMT menurut umur.
Baca Juga: Ketahui Tinggi Badan Anak yang Ideal Sesuai Usianya
Mengapa Status Gizi Anak Penting Dipantau?
Status gizi anak penting dipantau agar masalah pertumbuhan bisa dikenali lebih cepat. Dengan begitu, orang tua dapat mengetahui kapan anak perlu perbaikan nutrisi atau pemeriksaan lanjutan.
1. Mendeteksi Stunting Lebih Dini
Pemantauan status gizi membantu mendeteksi stunting atau kondisi saat tinggi anak lebih pendek dari standar usianya. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan kekurangan gizi kronis atau infeksi berulang.
Dengan rutin mengukur tinggi atau panjang badan, tanda stunting dapat terlihat lebih awal. Jika hasilnya berada di bawah kurva pertumbuhan, dokter dapat menilai penyebab dan langkah penanganannya.
2. Mengetahui Risiko Gizi Kurang dan Gizi Lebih
Status gizi juga membantu mengetahui apakah anak berisiko gizi kurang, wasting, atau berat badan berlebih. Makanya, penilaian tidak hanya melihat BB, tetapi juga TB, usia, dan jenis kelamin.
Anak dengan BB terlalu tinggi atau rendah untuk TB-nya perlu dipantau. Pemeriksaan ini membantu memahami apakah pola makan dan kondisi kesehatan anak sudah mendukung pertumbuhan yang optimal.
3. Memantau Tumbuh Kembang Anak
Pemantauan status gizi membantu melihat apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai usia. WHO Growth Standards digunakan untuk memantau BB, TB, dan beberapa indikator pertumbuhan anak 0-5 tahun.
Hasil pemantauan dapat menjadi dasar untuk evaluasi nutrisi, kesehatan, dan kebiasaan makan anak. Jika ada perubahan pola pertumbuhan, orang tua bisa lebih cepat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Baca Juga: 5 Langkah Mudah Penuhi Gizi Seimbang si Kecil
Cara Menentukan Status Gizi Anak Menurut WHO
Status gizi anak menurut WHO ditentukan dengan membandingkan hasil pengukuran tubuh anak dengan standar pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin.
Indikator yang digunakan meliputi BB/U, TB/U, BB/TB atau BB/PB, serta IMT/U. Di bawah ini beberapa cara menghitung status gizi anak yang perlu Mama ketahui.
1. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat Badan Menurut Umur (BB/U) menilai apakah berat badan anak sudah sesuai dengan usianya. Indikator ini membantu mendeteksi risiko berat badan kurang atau sangat kurang.
Cara membacanya adalah dengan membandingkan BB anak dengan standar pertumbuhan WHO sesuai usia dan jenis kelamin.
Jika hasilnya jauh di bawah standar, anak mungkin mengalami masalah gizi yang perlu dipantau lebih lanjut.
Berikut indikator status gizi anak menurut standar WHO pengukuran BB/U:
|
Z-Score |
Kategori |
|
< -3 SD |
Berat badan sangat kurang |
|
-3 SD sampai < -2 SD |
Berat badan kurang |
|
-2 SD sampai +1 SD |
Berat badan normal |
|
> +1 SD |
Risiko berat badan lebih |
2. Tinggi Badan Menurut Usia (TB/U)
Tinggi Badan Menurut Umur atau TB/U menilai apakah panjang atau tinggi badan anak sudah sesuai dengan usianya. Indikator ini membantu mendeteksi anak yang sangat pendek atau pendek akibat masalah gizi jangka panjang.
Hasil TB/U dapat menunjukkan risiko severely stunted jika tinggi badan anak jauh di bawah standar, atau stunting jika berada di bawah batas normal.
Berikut indikator status gizi anak menurut standar WHO pengukuran TB/U:
|
Z-Score |
Kategori |
|
< -3 SD |
Sangat pendek |
|
-3 SD sampai < -2 SD |
Pendek |
|
 -2 SD sampai + 2 SD |
Normal |
|
 > + 2 SD |
Tinggi |
3. Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB atau BB/PB)
Berat Badan Menurut Tinggi Badan atau BB/TB menilai apakah BB anak sudah sesuai dengan TB-nya. Pada anak yang masih diukur dalam posisi berbaring, indikator ini disebut berat badan menurut panjang badan (BB/PB).
Indikator BB/TB atau BB/PB membantu mendeteksi wasting atau gizi kurang, sekaligus melihat risiko overweight dan obesitas.
Hasil ini penting karena anak bisa saja memiliki berat badan yang tampak normal, tetapi tinggi badan tidak sesuai. Berikut indikatornya:
|
Z-Score |
Kategori |
|
< -3 SD |
Gizi buruk |
|
-3 SD sampai < -2 SD |
Gizi kurang |
|
-2 SD sampai +1 SD |
Gizi baik |
|
> +1 SD sampai +2 SD |
Risiko gizi lebih |
|
> +2 SD sampai +3 SD |
Gizi lebih |
|
> +3 SD |
Obesitas |
4. Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U)
Indeks Massa Tubuh Menurut Umur atau IMT/U menilai perbandingan BB dan TB anak sesuai usia. Indikator ini membantu melihat apakah anak berisiko mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
IMT/U sering digunakan sebagai skrining awal obesitas karena lebih sensitif dalam melihat kelebihan BB. Jika hasil Z-score berada di atas +1 SD, anak perlu dipantau agar risiko gizi lebih tidak berkembang menjadi obesitas.
Berikut indikator IMT/U menurut standar Z-score WHO:
|
Z-Score |
Kategori |
|
< -3 SD |
Gizi buruk |
|
-3 SD sampai < -2 SD |
Gizi kurang |
|
-2 SD sampai +1 SD |
Gizi baik |
|
> +1 SD sampai +2 SD |
Risiko gizi lebih |
|
> +2 SD sampai +3 SD |
Gizi lebih |
|
> +3 SD |
Obesitas |
Baca Juga: Dampak Berat Badan Kurang terhadap Perkembangan Anak
Apa Itu Z-Score pada Status Gizi Anak?
Z-score adalah angka yang menunjukkan seberapa jauh hasil pengukuran anak dari standar pertumbuhan WHO. Nilai ini membantu Mama membaca apakah BB, TB, atau IMT anak masih sesuai usianya.
Cara Kerja Z-Score
Z-score membandingkan hasil pengukuran anak dengan median atau nilai tengah pada standar WHO. Perbandingan ini disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, serta indikator yang digunakan.
Misalnya, berat badan anak tidak hanya dilihat dari angkanya saja. Hasilnya perlu dibandingkan dengan anak lain pada usia dan jenis kelamin yang sama dalam standar pertumbuhan WHO.
Arti Z-Score Minus dan Plus
Z-score minus berarti hasil pengukuran anak berada di bawah median standar WHO. Semakin kecil angka, semakin besar kemungkinan anak mengalami masalah gizi kurang, stunting, atau wasting.
Sebaliknya, Z-score plus berarti hasil pengukuran anak berada di atas median standar WHO. Angka tinggi menunjukkan risiko gizi lebih, overweight, atau obesitas, tergantung indikatornya.
Berapa Z-Score yang Normal?
Secara umum, Z-score yang berada di sekitar median menunjukkan pertumbuhan anak masih batas wajar. Banyak indikator pertumbuhan menggunakan rentang sekitar -2 SD sampai +2 SD sebagai batas normal.
Namun, kategori normal bisa berbeda tergantung indikator yang dibaca, seperti BB/U, TB/U, BB/TB, atau IMT/U. Hasil Z-score sebaiknya dilihat bersama tenaga kesehatan agar interpretasinya sesuai.
Cara Membaca Hasil Status Gizi Anak
Cara membaca hasil status gizi anak adalah mencocokkan indikator yang digunakan dengan nilai Z-score pada tabel WHO.
Setiap indikator punya fungsi berbeda, jadi hasil BB/U, TB/U, BB/TB, dan IMT/U perlu dibaca sesuai kategorinya.
Jika BB/U anak -2,5 SD, artinya berat badan anak termasuk kurang untuk usianya. Jika TB/U berada di -2 SD atau lebih rendah, anak masuk kategori pendek atau stunting.
Jika BB/TB anak +2 SD, artinya anak berada pada kategori gizi lebih untuk tinggi badannya. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar hasil penilaian status gizi anak sesuai.
Contoh Perhitungan Status Gizi Anak
Misalnya, anak usia 24 bulan memiliki berat badan 11 kg dan tinggi badan 84 cm. Untuk membacanya, Mama perlu memilih grafik WHO sesuai jenis kelamin, usia, dan indikator yang ingin dinilai.
Selanjutnya, plot berat badan pada BB/U, tinggi badan pada TB/U, dan berat terhadap tinggi pada BB/TB. Dari titik tersebut, lihat garis Z-score terdekat untuk tahu apakah hasilnya normal, kurang, atau berlebih.
Hasil akhir dibaca sesuai kategori WHO. Jika titik BB/U ada pada rentang -2 SD sampai +1 SD, berat badan tergolong normal. Namun, jika TB/U di bawah -2 SD, anak perlu evaluasi risiko stunting.
Butuh insight dari ahli di tengah kesibukan? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor, tim ahli terpercaya kami di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.
Apa Penyebab Status Gizi Anak Tidak Normal?
Status gizi anak bisa menjadi tidak normal ketika asupan nutrisi, kondisi kesehatan, dan kebutuhan energi anak tidak seimbang. Penyebabnya dapat berkaitan dengan pola makan, infeksi, kesulitan makan, atau aktivitas sehari-hari.
1. Kurang Asupan Nutrisi
Kurang asupan nutrisi terjadi ketika anak tidak mendapatkan energi, protein, vitamin, atau mineral yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya.
Kondisi ini dapat membuat berat badan anak sulit naik atau berada di bawah standar usianya.
Jika berlangsung lama, kekurangan nutrisi juga dapat memengaruhi TB dan imun anak. Oleh karena itu, asupan makan perlu dinilai dari jumlah, variasi, dan kualitas gizinya.
2. Infeksi Berulang
Infeksi yang terjadi berulang, seperti diare atau infeksi saluran napas, dapat mengganggu status gizi anak. Saat sakit, anak sering makan lebih sedikit, sementara kebutuhan energi tubuh justru meningkat.
Dalam jangka panjang, infeksi berulang dapat membuat BB sulit naik dan memperbesar risiko gizi kurang. Kondisi ini juga dapat memperburuk masalah pertumbuhan bila tidak ditangani dengan baik.
3. Kesulitan Makan
Sebagian anak mengalami kesulitan makan, seperti menolak makanan tertentu, makan terlalu sedikit, atau sulit menerima tekstur baru.
Jika terjadi terus-menerus, anak bisa tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Kesulitan makan perlu diperhatikan bila mulai memengaruhi BB, pertumbuhan, atau energi anak sehari-hari.
Orang tua dapat mencatat jenis makanan, jumlah yang dimakan, dan perilaku anak saat makan untuk membantu evaluasi.
4. Pola Makan Tidak Seimbang
Pola makan tidak seimbang dapat menyebabkan anak kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu.
Misalnya, anak sering makan makanan tinggi gula, garam, dan lemak, tetapi kurang buah, sayur, protein, atau sumber zat gizi penting lainnya.
Masalah gizi tidak selalu berarti BB kurang, Ma. Anak dengan BB berlebih pun tetap bisa kekurangan mikronutrien jika pilihan makanannya kurang beragam dan tidak seimbang.
5. Kurang Aktivitas Fisik atau Kelebihan Kalori
Status gizi anak dapat terganggu ketika kalori yang masuk lebih banyak daripada energi yang digunakan. Jika disertai kurang aktivitas fisik, risiko gizi lebih dan obesitas dapat meningkat.
Aktivitas fisik membantu anak menggunakan energi, menjaga kebugaran, dan mendukung pertumbuhan yang sehat. Untuk anak yang lebih besar, rutinitas bergerak aktif setiap hari penting dibiasakan sejak dini.
Jangan lewatkan informasi penting di setiap fase tumbuh kembang si Kecil. Daftar sebagai member Nutriclub sekarang dan akses panduan lengkap, insight ahli, serta tips stimulasi yang disesuaikan dengan milestone anak. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Cara Menjaga Status Gizi Anak Tetap Baik
Status gizi anak dapat dijaga dengan memenuhi kebutuhan makan, memantau pertumbuhan, dan mencegah infeksi. Kebiasaan sehari-hari di rumah berperan dalam menjaga BB dan TB anak.
1. Berikan Gizi Seimbang
Mulailah dengan memberi anak makanan yang beragam setiap hari. Dalam satu piringnya, ada sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan lemak sehat sesuai kebutuhan usianya.
Pola makan seimbang membantu anak mendapat energi dan zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh. Selain jumlah makanan, variasi dan kualitas bahan makanan juga perlu diperhatikan.
2. Penuhi Protein Hewani
Protein hewani penting untuk mendukung pertumbuhan anak karena mengandung asam amino, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Sumbernya antara lain telur, ikan, ayam, daging, atau hati.
Masukkan protein hewani ke dalam menu harian anak sesuai usia dan kemampuan makannya. Untuk anak yang masih MPASI, tekstur dan porsinya perlu disesuaikan agar aman dikonsumsi.
3. Berikan ASI dan MPASI Sesuai Usia
Untuk bayi, ASI eksklusif dianjurkan selama 6 bulan pertama kehidupan. Setelah usia 6 bulan, MPASI mulai diberikan karena ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan nutrisi bayi.
MPASI sebaiknya diberikan bertahap, mulai dari porsi kecil lalu ditingkatkan sesuai usia anak. Pilih makanan yang padat gizi, aman, dan sesuai kemampuan mengunyah serta menelan si Kecil.
4. Pantau Pertumbuhan Secara Berkala
Pertumbuhan anak perlu dipantau secara rutin melalui pengukuran BB dan TB. Hasilnya dapat dibandingkan dengan standar pertumbuhan WHO sesuai usia dan jenis kelamin.
Pemantauan berkala membantu Mama tahu apakah anak tumbuh sesuai kurva atau mulai menunjukkan risiko masalah gizi. Selalu konsultasikan hasilnya dengan tenaga kesehatan.
5. Lengkapi Imunisasi
Imunisasi bantu menurunkan risiko anak terkena penyakit infeksi yang bisa mengganggu makan dan pertumbuhannya. Jadwal imunisasi sebaiknya dipenuhi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Saat anak lebih terlindungi dari penyakit, tubuhnya punya kesempatan lebih baik untuk tumbuh optimal. Bila imunisasi terlewat, konsultasikan ke dokter atau di fasilitas kesehatan terdekat.
6. Jaga Kebersihan Lingkungan
Lingkungan bersih membantu menurunkan risiko infeksi, terutama diare dan infeksi saluran napas. Rutinitas seperti mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan perlu dibiasakan.
Pencegahan infeksi penting karena anak yang sering sakit bisa mengalami penurunan nafsu makan dan gangguan penyerapan nutrisi.
Dengan lingkungan yang sehat, upaya menjaga status gizi anak menjadi lebih optimal.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi ke Dokter?
Orang tua perlu berkonsultasi ke dokter jika berat badan anak tidak naik selama 2 bulan berturut-turut, berat badan turun, atau anak tampak sulit makan dalam waktu lama.
Konsultasikan juga bila hasil Z-score anak berada di bawah -2 SD, misalnya pada BB/U, TB/U, atau BB/TB. Nilai ini menunjukkan berbagai risiko status gizi tergantung indikator yang digunakan.
Selain itu, segera periksakan ke dokter jika tinggi badan anak jauh di bawah kurva atau pertumbuhannya melambat dibandingkan sebelumnya.
Kondisi-kondisi tersebut perlu dievaluasi bersama tenaga kesehatan dan/atau dokter agar penyebabnya dapat diketahui lebih cepat dan segera diberi penanganan yang tepat.
Itulah informasi selengkapnya tentang status gizi anak menurut WHO, mengapa status gizi penting untuk terus dipantau, hingga cara menjaga status gizi si Kecil agar tetap baik.
Mama bisa lengkapi kebutuhan gizi si Kecil dengan berikan susu pertumbuhan Nutrilon Royal 3 sebagai satu-satunya formula teruji klinis yang dirancang secara saintifik dengan Double Biotics FOS:GOS dan DHA EPA yang lebih tinggi, menjadikannya nutrisi optimal sebagai "The Formula to Win". Dukung daya tahan tubuh dan kemampuan berpikir si Kecil demi persiapkan anak untuk menang.
