Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Tumbuh Kembang

8 Jenis Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Harus Diwaspadai

Article Oleh : Annisa Amalia Ikhsania 31 Agustus 2023

Setiap anak tentu memiliki milestone atau tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Akan tetapi, sering kali Mama dan Papa tidak menyadari kalau si Kecil mengalami keterlambatan perkembangan. Padahal, beberapa masalah atau perubahan tidak normal bisa menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak, bahkan sampai jangka panjang, lho! Maka dari itu, sebagai orang tua sangat penting untuk mengetahui berbagai jenis gangguan tumbuh kembang anak. 

Berbagai Jenis Gangguan Tumbuh Kembang Anak

Gangguan tumbuh kembang anak adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi kemampuan anak untuk tumbuh dan berkembang sehingga tidak berjalan dengan normal.

Gangguan tersebut dapat muncul sebelum lahir atau dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti cedera, trauma, faktor keturunan, komplikasi kehamilan, bayi lahir prematur, hingga faktor medis lainnya.

Jika tidak ditangani dengan tepat, gangguan ini dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya, bahkan mungkin menetap hingga dewasa.

Ada beberapa jenis gangguan tumbuh kembang yang terjadi pada anak. Nah, penting bagi orang tua untuk mengetahui masalah pertumbuhan dan perkembangan anak yang paling umum terjadi. Berikut penjelasannya. 

1. Gangguan Bahasa dan Bicara

Jika si Kecil menunjukkan tanda-tanda masalah atau kesulitan berkomunikasi, gangguan bahasa dan bicara mungkin menjadi penyebabnya, Ma. Gangguan bahasa dan bicara pada anak ini membuatnya kesulitan berbicara, memahami perkataan orang lain, atau tidak dapat mengungkapkan pikiran dan ekspresinya sendiri. 

Adapun tanda-tanda yang dapat ditunjukkan anak dengan gangguan bahasa dan bicara adalah sebagai berikut:

  • Belum bisa mengoceh (babbling) di usia 3-4 bulan.

  • Belum bisa menoleh ketika namanya dipanggil di usia 6-7 bulan.

  • Belum bisa mengucapkan satu kata, misalnya Mama atau Papa, di usia 1 tahun.

  • Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap suatu benda pada usia 20 bulan.

  • Ketidakmampuan membuat frasa (gabungan kata) yang bermakna setelah 24 bulan.

  • Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan.

  • Perhatian atau respon yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, misalnya saat dipanggil tidak selalu memberi respon.

  • Kurangnya joint attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan dengan orang lain pada usia 20 bulan.

Sejumlah penyebab gangguan tumbuh kembang anak ini, di antaranya paparan lebih dari satu bahasa, kelainan otot yang mengatur cara bicara (disartria), kehilangan pendengaran, hingga gangguan spektrum autisme.

2. Gangguan Motorik

Kemampuan motorik adalah keterampilan untuk menggerakkan anggota tubuh yang melibatkan tulang dan otot-otot. Keterampilan ini terbagi menjadi dua, yakni motorik kasar dan halus.

Kemampuan motorik kasar adalah gerakan tubuh yang melibatkan pergerakan otot-otot besar seperti tungkai kaki, lengan, dan otot-otot seluruh tubuh. Keterampilan motorik kasar membuat anak dapat melakukan berbagai aktivitas seperti duduk, merangkak, berjalan, berlari, berdiri, melempar dan menangkap bola, hingga melompat.

Sementara itu, kemampuan motorik halus adalah gerakan yang dilakukan anak dengan melibatkan otot-otot kecil dalam tubuh, misalnya tangan, jari, dan pergelangan tangan. 

Jika gangguan motorik terjadi pada anak, maka ini dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti ataksia (cacat koordinasi otot), cerebral palsy (lumpuh otak), masalah pada penglihatan, miopati, dan spina bifida.

Kasus gangguan tumbuh kembang anak dalam aspek motorik dapat ditandai sebagai berikut:

  • Di usia 3-4 bulan, si Kecil belum terlihat berusaha memegang benda, belum bisa menopang kepalanya dengan baik, dan tidak memasukkan benda ke mulut di usia 3-4 bulan.

  • Pada usia 7 bulan, ototnya kaku atau sangat terkulai, tidak aktif meraih benda, sulit memasukkan benda ke mulut, atau tidak bisa duduk tanpa bantuan.

  • Di usia 1 tahun, anak belum bisa merangkak atau menyeret satu sisi tubuh saat merangkak.

  • Anak usia 2 tahun belum bisa berjalan, berjalan hanya dengan jari kaki, atau tidak bisa mendorong mainan beroda.

3. Gangguan Belajar

Bila anak Mama kesulitan memahami materi pelajaran tertentu meskipun sudah diajari berulang-ulang, bisa jadi ia sebenarnya mengalami gangguan belajar.

Gangguan belajar adalah gangguan tumbuh kembang anak yang umumnya berkaitan dengan akademis. 

Contoh, anak yang kesulitan menulis atau menyebutkan huruf terbalik saat membaca, anak kesulitan membedakan kanan kiri, anak kesulitan menulis mungkin dapat menandakan adanya gangguan belajar.  

Beberapa kondisi yang termasuk ke dalam gangguan belajar yaitu disleksia (kesulitan membaca), diskalkulia (kesulitan menghitung), dan disgrafia (kesulitan menulis).

4. Gangguan Kognitif

Gangguan kognitif adalah gangguan tumbuh kembang pada anak yang memengaruhi proses berpikir, mengingat, serta menyerap informasi, sehingga bisa menyebabkan si Kecil mengalami kesulitan dengan ingatan, persepsi, dan belajar.

Anak yang memiliki gangguan kognitif dapat menunjukkan tanda-tanda berikut:

  • Di usia 1 tahun, anak belum dapat menunjuk benda atau gambar, tidak mencari objek yang disembunyikan, dan tidak fokus melihat suatu objek. 

  • Anak usia 2 tahun tidak mengetahui fungsi benda yang umum digunakan, misalnya sikat gigi, sisir, atau sendok. Ia juga tidak bisa mengikuti instruksi sederhana atau tidak bisa meniru tindakan.

Gangguan kognitif pada anak dapat terjadi karena kurangnya asupan nutrisi yang seimbang hingga kondisi tertentu seperti cacat genetik dan masalah medis.

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa perkembangan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh saluran pencernaan dan sistem imunitas. Terlebih pada masa pertumbuhan, anak lebih rentan terkena berbagai infeksi, seperti demam, batuk, pilek (ISPA) yang dapat berefek panjang hingga berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak. 

5. Autism Spectrum Disorder

Autism spectrum disorder adalah gangguan neurobehavioral (saraf dan perilaku) yang memengaruhi cara anak berinteraksi, bersosialisasi, berbahasa, berekspresi, dan berkomunikasi dengan orang lain. Gangguan tumbuh kembang ini dapat ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:

  • Tidak menunjuk pada suatu objek.

  • Tidak melihat benda ketika orang lain menunjuknya.

  • Menghindari kontak mata.

  • Suka menyendiri.

  • Sulit berhubungan, berbicara, atau bermain dengan orang lain.

  • Sulit memahami orang lain atau mengutarakan perasaannya.

  • Seperti tidak menyadari ketika orang lain berbicara dengannya.

  • Sering mengulang-ulang kata saat berbicara.

  • Menunjukkan reaksi yang tak biasa terhadap bau, rasa, suara, atau tampilan.

Baca Juga: Kenali Penyebab dan Gejala ADHD pada Anak Usia Dini

6. Gangguan Sosial Emosional

Tahukah, Mama? Anak juga bisa mengalami gangguan sosial dan emosional, lho. Gangguan ini dapat menyebabkan mereka sulit berinteraksi dengan orang lain ataupun mengekspresikan perasaan dirinya. 

Gangguan tumbuh kembang anak ini dapat ditandai dengan:

  • Bayi usia 3 bulan tidak tersenyum atau tidak memperhatikan wajah orang lain. 

  • Bayi usia 7 bulan tidak menunjukkan ketertarikan pada orang tua, tidak merasa terhibur saat diajak main, tidak tertawa atau menjerit. 

  • Anak usia 1 tahun tidak merespons saat namanya dipanggil. 

Gangguan sosial emosional dapat terjadi akibat kurang perhatiannya orang tua terhadap anak, masalah pengasuhan, hingga kemampuan kognitif yang tertunda. 

7. Gangguan Intelektual

Gangguan intelektual tidak sama dengan gangguan belajar. Jenis gangguan ini berkaitan dengan IQ, di mana seorang anak memiliki kapasitas yang rendah untuk bernalar, belajar, dan menerapkan keterampilan. 

Ciri utama gangguan intelektual adalah memiliki IQ yang lebih rendah dari rata-rata sehingga mempengaruhi kehidupannya sehari-hari. Kondisi tersebut bisa terjadi bersama dengan gangguan perkembangan lainnya.

8. Gangguan Fisik

Gangguan tumbuh kembang anak juga dapat memengaruhi fisik si Kecil, Ma. Kondisi ini bisa tampak jelas, seperti perbedaan fisik yang mengharuskan anak menggunakan kursi roda ataupun kondisi yang tidak terlihat, misalnya perubahan struktur otak.

Contoh gangguan fisik pada perkembangan anak adalah cerebral palsy, distrofi otot (kelainan otot), dan spina bifida (cacat tabung saraf).

Cara Mencegah Gangguan Tumbuh Kembang pada Anak

Agar si Kecil tumbuh dan berkembang dengan baik, ada beberapa upaya yang perlu Mama dan Papa lakukan dengan seksama. Berikut penjelasannya:

1. Penuhi Kebutuhan Gizi Sejak Masa Kehamilan

Tahukah Mama? Pemberian asupan nutrisi yang baik untuk si Kecil tidak hanya dilakukan setelah ia mulai konsumsi makanan padat atau MPASI. Pemberian nutrisi esensial dalam takaran yang tepat perlu dilakukan bahkan sejak masa kehamilan melalui pola makan yang sehat.

Bahkan 3 bulan sejak masa perencanaan kehamilan, Mama sangat disarankan untuk mendapatkan suplementasi beberapa jenis vitamin dan mineral seperti zat besi, asam folat, zat besi, kalsium, vitamin D, DHA, dan iodin.

Sederet vitamin dan mineral tersebut memegang kunci penting untuk mengoptimalkan pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak si Kecil di dalam kandungan. 

Apabila merasa ragu, Mama dapat berkonsultasi dulu ke dokter kandungan untuk mendapatkan informasi lebih lengkap tentang suplemen apa saja yang diperlukan dan seberapa besar dosis hariannya. 

Nah, di antara zat penting tersebut, ibu hamil paling sering kekurangan zat besi. Bila kekurangan zat penting tersebut, maka bayi berisiko mengalami perkembangan yang terhambat, gangguan kongenital, dan gangguan kognitif. 

2. Berikan ASI Eksklusif Minimal 6 Bulan

Mama pasti sudah paham kalau ASI merupakan asupan terbaik bagi bayi karena kandungan nutrisi dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap usus. Jadi, tubuh si Kecil dapat secara efektif menggunakan nutrisi di dalam ASI untuk pertumbuhan dan perkembangannya. 

Setelah usia 6 bulan barulah si Kecil membutuhkan nutrisi tambahan dari MPASI. Meski begitu, Mama perlu melanjutkan pemberian ASI hingga usianya 2 tahun. 

Menurut penelitian, si Kecil yang mendapatkan ASI akan tumbuh menjadi anak yang lebih matang, asertif, dan mampu memperlihatkan progresivitas (kemampuan berpikir maju secara psikologis) yang lebih tinggi daripada anak yang tidak mendapatkan ASI. 

Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga memaparkan hasil penelitian bahwa anak yang mendapatkan ASI dalam periode waktu 6 bulan atau lebih memiliki IQ yang lebih tinggi sehingga secara signifikan mempengaruhi perkembangan kognitif si Kecil di masa depan. 

Bahkan, bayi yang terlahir secara prematur dan mendapatkan ASI eksklusif memiliki IQ 8.3 poin lebih tinggi daripada bayi prematur yang mendapatkan asupan nutrisi dari susu formula. 

3. Mulai Berikan Asupan Makanan Bergizi Seimbang

Seiring anak memasuki usia enam bulan, maka kebutuhan nutrisi anak bertambah dan tidak dapat dipenuhi hanya dengan ASI. Di masa inilah, MPASI menjadi sumber nutrisi tambahan bagi si Kecil. 

Penting untuk diingat bahwa asupan nutrisi yang baik dan seimbang selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah pondasi yang kuat untuk mencegah gangguan kognitif, motorik, dan sosio-emosional anak hingga dewasa kelak. Untuk mencapai potensi penuh anak Indonesia, maka sangat penting memberikan asupan nutrisi bergizi seimbang.

Selain karbohidrat dan lemak, makanan yang mengandung protein hewani juga harus diberikan. Protein dalam pangan hewani berfungsi sebagai pembangun sel-sel tubuh yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan anak, memperbaiki serta mengganti jaringan tubuh yang rusak atau mati, juga membantu pembentukan antibodi yang berperan melawan penyakit.

Berikutnya, berikan makanan yang mengandung vitamin dan mineral, seperti seng, zat besi, kalsium, asam folat, serta vitamin seperti vitamin A, C, D, E, B6, B12, yang cukup dan seimbang sehingga kebutuhan gizi anak terpenuhi. 

Selain itu, beberapa jenis nutrien untuk mendukung perkembangan imunitas (sistem kekebalan tubuh) dan kognitif juga diperlukan. Misalnya, prebiotik FOS:GOS dan asam lemak rantai panjang seperti omega-3, omega-6, dan DHA. Prebiotik FOS:GOS memiliki peran untuk menunjang pertumbuhan bakteri baik seperti Bifidobacteria sedangkan asam lemak rantai panjang berperan penting dalam sistem imun anak. Daya tahan tubuh yang kuat akan meningkatkan perkembangan sistem kognitif yang optimal. 

Selain dari menu makanan setiap hari, Mama bisa bantu cukupi asupan nutrisi si Kecil dengan memberikan Nutrilon Royal 3 sebagai Bekalnya untuk Menang.

Susu Nutrilon Royal 3 diformulasikan dengan formula ACTIDUOBIO+, yaitu perpaduan FOS:GOS rasio 1:9 paling tinggi dan teruji klinis bantu optimalkan imun serta daya tangkap anak jika diimbangi dengan stimulasi yang tepat. Nutrilon Royal 3 juga dilengkapi dengan Omega 3 & 6 serta zat besi dan DHA untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil.

5. Biarkan Anak Bermain dan Bereksplorasi

Bermain tidak hanya menyenangkan, tapi juga menjadi momen yang tepat untuk anak meningkatkan keterampilan sensori, kognitif, fisik, sosial, dan emosionalnya di usia dini. Melalui bermain, anak-anak belajar tentang dunia dan diri mereka sendiri.

Mereka juga mempelajari keterampilan yang mereka butuhkan untuk belajar dan menjalin hubungan, seperti kepercayaan diri, empati, resiliensi, menghadapi dan memecahkan masalah, hingga cara berkomunikasi.

Berikut adalah beberapa permainan dan stimulasi untuk anak usia dini:

  • Nyanyikan lagu anak-anak berbahasa inggris yang melibatkan gerakan dan sentuhan. Misalnya, “Head Shoulders Knees and Toes”, “Are You Sleeping”, atau “Itsy bitsy Spider”

  • Bacakan buku-buku edukatif dan interaktif, misalkan buku ensiklopedia pop-up dan lift-the-flap. Mama juga bisa membacakan sebuah kata sambil menunjukkan gambarnya, kemudian minta anak untuk mengulangi ucapan Mama bersama-sama, atau mengajukan pertanyaan seperti “Apa yang terjadi selanjutnya?”

  • Dorong anak untuk suka menggambar dan mencoret-coret, untuk melatih imajinasi dan keterampilan motorik halusnya. Menggambar dan mewarnai juga bisa membantu anak mengenal dan menghafal nama-nama warna.

  • Permainan sensori (sensory play), seperti bermain dengan pasir kinestetik, clay, atau bermain dengan air untuk membiasakan anak mengeksplor tekstur dan sensasi baru.

  • Ajak anak bermain peran dengan bantuan alat peraga sederhana seperti syal tua, tas tangan, atau pakaian.

6. Sering-Sering Ngobrol dengan Anak

Di tiga tahun pertama usianya, si Kecil mungkin memang belum terlalu lancar bicara ya, Ma. Tapi ia sebetulnya sudah sedikit banyak memahami apa yang orang lain bicarakan padanya.

Jadi, demi mengasah kemampuan bicara dan berbahasanya, sering-seringlah mengajak anak ngobrol tentang berbagai topik. Mengajak ngobrol anak juga membantunya mengasah rasa ingin tahu dan merangsang anak untuk berinisiatif memunculkan ide baru. 

7. Rutin Kontrol ke Dokter

Sampai setidaknya bayi berusia ​​24 bulan, Mama dan Papa idealnya perlu rutin membawa si Kecil kontrol ke dokter.

Namun, perlu diingat, Ma. Kontrol dokter ini berbeda dengan kunjungan ke dokter ketika bayi memang sakit, cedera, atau terluka, ya. Ini tujuannya adalah untuk memastikan apakah si Kecil bertumbuh ke arah yang positif sesuai usianya atau tidak.

Umumnya, dokter akan memeriksa seperti apa pertumbuhan berat, tinggi atau panjang badannya, serta lingkar kepalanya. Pemeriksaan lain mungkin juga diperlukan sesuai kebutuhan.

Jadwal kontrol setiap anak bisa sedikit berbeda, tetapi American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bayi mendapatkan pemeriksaan fisik pertama pada saat lahir dan 3 hingga 5 hari setelah lahir. Kemudian, kontrol lanjutan diperlukan secara rutin pada usia 1, 2, 4, 6, 9, 12, 15, 18, dan 24 bulan.

Lalu, apa saja pemeriksaan fisik yang akan dilakukan oleh dokter di bulan ini?

  • Perut, dokter akan menekan lembut perut si Kecil untuk merasakan sesuatu yang tidak biasa.

  • Detak jantung dan pernapasan dengan stetoskop.

  • Pinggul, kaki, lengan, punggung, dan tulang belakang untuk memastikan bayi bergerak, tumbuh, dan berkembang secara normal.

  • Mata, kondisi fisik, dan fungsi penglihatannya.

  • Telinga dan hidung, dengan otoskop.

  • Mulut dan tenggorokan.

  • Leher dan ketiak, dengan lembut menekan kelenjar getah bening yang terletak di sana.

  • Lingkar kepala.

  • Fontanelles (titik lunak di kepala). 

  • Alat kelamin untuk memeriksa hernia atau testis yang tidak turun. Dokter juga dapat memeriksa denyut nadi femoralis di selangkangan untuk mengetahui denyut yang kuat dan stabil.

  • Warna dan nada kulit untuk mengecek ruam atau tanda lahir.

  • Refleks pada bayi baru lahir.

Pada kunjungan rutin ini, dokter juga akan mengecek sampai mana kelengkapan vaksin si Kecil. Jika ada imunisasi yang perlu didapat di bulan ini, dokter biasanya akan menyertakannya di akhir sesi kontrol dan akan menjadwalkan imunisasi selanjutnya.

Baca Juga: 5 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Itu dia berbagai informasi seputar gangguan tumbuh kembang pada anak yang perlu Mama dan Papa ketahui. Ingat, Ma, gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak umumnya perlu didiagnosis sedini mungkin ketika menunjukan gejala. 

Jadi jika anak menunjukkan gejala gangguan perkembangan, sebaiknya segera periksakan si kecil ke dokter spesialis anak. Dengan demikian, penanganan yang diberikan akan disesuaikan dengan gangguan tumbuh kembang yang terjadi pada anak.

Agar bisa lebih maksimal menemani tumbuh kembang si Kecil, Mama juga bisa download e-book eksklusif Panduan 1000 HPK secara gratis sebagai bekal untuk jadikan si Kecil pemenang di masa depan!

  1. Autism spectrum disorder - Symptoms and causes. (2018). Mayo Clinic; https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autism-spectrum-disorder/symptoms-causes/syc-20352928
  2. Gillette, H. (2019, May 17). All About Childhood Developmental Disorders. Psych Central; Psych Central. https://psychcentral.com/disorders/childhood-developmental-disorders#effects-in-adulthood
  3. Stuart, A. (2007, September 24). Developmental Delays in Young Children. WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/recognizing-developmental-delays-birth-age-2#1
  4. Pietrangelo, A. (2020, August 13). What You Need to Know About Developmental Delay. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/developmental-delay
  5. Hirshlag, J. (2018, April 4). Your Guide to Well-Baby Visits. What to Expect; WhattoExpect. https://www.whattoexpect.com/first-year/health-and-safety/well-baby-visits-guide/
  6. Growth and Development, Ages 2 to 5 Years | HealthLink BC. (2021). Healthlinkbc.ca. https://www.healthlinkbc.ca/pregnancy-parenting/parenting-toddlers-12-36-months/toddler-growth-and-development/growth-and-1
  7. DiNicolantonio, J. J., & O’Keefe, J. H. (2020). The Importance of Marine Omega-3s for Brain Development and the Prevention and Treatment of Behavior, Mood, and Other Brain Disorders. Nutrients, 12(8), 2333–2333. https://doi.org/10.3390/nu12082333
  8. IDAI | Nutrisi pada Bayi dan Batita di Era New Normal Pandemi Covid 19. (2020). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/nutrisi-pada-bayi-dan-batita-di-era-new-normal-pandemi-covid-19
  9. Cegah Stunting, Protein Hewani Harus Ada dalam MPASI – Info Sehat FKUI. (2020, October 5). Ui.ac.id. https://fk.ui.ac.id/infosehat/cegah-stunting-protein-hewani-harus-ada-dalam-mpasi/
  10. ‌IDAI | Mengenal Keterlambatan Perkembangan Umum pada Anak. (2013). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-keterlambatan-perkembangan-umum-pada-anak
  11. IDAI | Air Susu Ibu dan Tumbuh Kembang Anak. (2013). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-tumbuh-kembang-anak
comment-icon comment-icon