Tanda-tanda autisme pada anak dapat berupa tidak merespons ketika dipanggil, kurang menggunakan kontak mata atau gestur saat berkomunikasi, terlambat atau berbeda dalam perkembangan bahasa, serta menunjukkan perilaku berulang dan terbatas. Namun, satu tanda saja tidak cukup untuk menentukan anak autisme. Konsultasikan tumbuh kembang si Kecil pada dokter untuk mendapatkan skrining dan evaluasi yang sesuai.
Apa Itu Autism Spectrum Disorder (ASD)?
Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan otak dan saraf yang menyebabkan perbedaan cara komunikasi dan berinteraksi sosial.
Kondisi ini juga dapat disertai pola perilaku, minat, atau aktivitas berulang dan terbatas. Gangguan perkembangan ini disebut "spektrum" karena karakteristik dan kebutuhan dukungan setiap anak bisa berbeda.
Ada yang membutuhkan dukungan lebih banyak dalam aktivitas sehari-hari, sementara lainnya membutuhkan lebih sedikit.
Tanda-Tanda Autisme pada Anak yang Perlu Diperhatikan
Beberapa karakteristik berikut dapat menjadi perhatian Mama dan Papa. Namun, keberadaan satu tanda-tanda autisme bukan berarti bahwa si Kecil pasti mengalami ASD.
1. Tidak Merespons ketika Dipanggil
Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan bahwa anak berusia 9 bulan yang tidak merespons saat dipanggil bisa menjadi tanda ASD.
Di usia itulah si Kecil umumnya bisa mengenali suara Mama dan merespons suara lain. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti autisme.
Kurangnya respons bayi terhadap suara mungkin dipengaruhi faktor pendengaran, perhatian, atau jenis gangguan tumbuh kembang lainnya.
2. Kurang Menggunakan Kontak Mata dan Gestur
Anak dengan ASD dapat menunjukkan perbedaan dalam melakukan komunikasi nonverbal, seperti berikut.
- Jarang kontak mata
- Tidak menunjuk untuk berbagi perhatian
- Tidak menunjukkan benda yang menarik perhatiannya kepada orang tua
- Kurang menggunakan gestur, misalnya melambaikan tangan
- Kurang memperhatikan atau merespon ajakan orang lain
Kemampuan berbagi perhatian dengan orang lain atau joint attention merupakan bagian penting perkembangan komunikasi sosial. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan saat evaluasi perkembangan anak.
3. Mengalami Keterlambatan atau Perbedaan dalam Komunikasi
Anak mungkin mengulang kata atau kalimat yang didengar (echolalia), mengalami kesulitan menggunakan bahasa untuk berinteraksi, atau memiliki intonasi dan cara bicara yang berbeda.
Bayi umumnya mulai mengeluarkan suara atau babbling di usia 6–9 bulan dan menjadi lebih jelas ketika masuk usia satu tahun. Namun, keterlambatan bicara tidak selalu berarti autisme.
Setiap tahap tumbuh kembang si Kecil menghadirkan kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Mama dapat bergabung dengan Nutriclub untuk mendapatkan panduan tumbuh kembang yang expert-verified, sesuai usia dan kebutuhan si Kecil. Nikmati juga berbagai keuntungan member eksklusif, mulai dari akses ke konten expert-verified, penawaran spesial, hingga kesempatan mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai exclusive rewards dari Nutriclub.
4. Sulit Berinteraksi atau Bermain dengan Orang Lain
Perhatikan apakah si Kecil tampak kurang tertarik bermain bersama, sulit berbagi perhatian, sulit memahami respons sosial, atau mengalami kesulitan dalam permainan pura-pura sesuai tahap perkembangannya.
Kesulitan dalam komunikasi dan interaksi sosial merupakan salah satu area utama yang dinilai dalam evaluasi ASD.
5. Menunjukkan Perilaku Repetitif
Beberapa anak dengan ASD menunjukkan perilaku yang dilakukan berulang, seperti mengepakkan tangan, bergoyang, mengulang aktivitas tertentu, menyusun benda dengan cara yang sama, atau mengulang kata dan suara.
Perilaku repetitif juga dapat terlihat dalam penggunaan benda atau pola bermain, misalnya memainkan mainan dengan cara yang sama secara berulang atau mengalami kesulitan ketika rutinitas berubah.
6. Memiliki Minat yang Sangat Terbatas atau Intens
Anak dengan ASD dapat menunjukkan ketertarikan yang sangat kuat pada objek atau topik tertentu, melakukan aktivitas yang sama berulang kali, atau mengalami kesulitan mengalihkan perhatian dari minat tersebut.
Minat terbatas dan sangat intens termasuk karakteristik yang dapat dinilai dalam evaluasi ASD. Namun, memiliki hobi atau ketertarikan tertentu saja tidak berarti anak mengalami autisme.
7. Sangat Sensitif atau Kurang Responsif terhadap Stimulus Sensorik
Gangguan spektrum autis juga dapat ditandai dengan hipersensitivitas (terlalu sensitif) atau hiposensitivitas (kurang sensitif) terhadap stimulus sensorik.
Beberapa anak mungkin menghindari atau merasa jengkel terhadap suara, tekstur, cahaya, sentuhan, bau, atau rasa. Sementara itu, beberapa yang lain mungkin tidak menyadari rangsangan sensorik yang diberikan.
Meski begitu, perbedaan sensorik juga dapat ditemukan dalam kondisi perkembangan lainnya sehingga tidak dapat digunakan sebagai tanda tunggal untuk menentukan autisme.
Baca Juga: Perbedaan Motorik Kasar dan Halus Anak serta Stimulasinya
Tanda-Tanda Autisme pada Anak Berdasarkan Usia
Perkembangan anak dapat dipantau melalui berbagai milestone, termasuk kemampuan komunikasi, sosial, dan bermain. Namun, milestone bukan alat untuk mendiagnosis autisme.
Pemantauan perkembangan anak ditujukan untuk membantu Mama dan tenaga kesehatan mengetahui apakah perkembangan anak sesuai dengan yang diharapkan dan kapan evaluasi lebih lanjut dibutuhkan.
Mengutip dari Antara News, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini menyebut bahwa tanda-tanda autisme mulai bisa diperhatikan ketika anak memasuki usia 9 bulan dan belum bisa merespons saat dipanggil namanya.
“Tanda-tanda autisme yang dapat diperhatikan oleh orang tua, seperti ketika anak sudah berusia 9 bulan namun tidak ada reaksi saat namanya dipanggil atau tidak ada ketertarikan saat diperlihatkan mainan," ujar Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial di RSCM sekaligus Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial di IDAI.
|
Usia |
Hal yang dapat diperhatikan |
|
9 bulan |
Respons terhadap nama, ekspresi wajah, dan respons sosial |
|
12 bulan |
Gestur seperti menunjuk atau melambaikan tangan, interaksi sosial, dan permainan sederhana |
|
18 bulan |
Bahasa, gestur, interaksi, minat, dan perilaku repetitif |
|
24 bulan |
Bahasa dan komunikasi sosial, permainan, serta kemampuan mengikuti instruksi |
|
3 tahun |
Interaksi dengan teman, percakapan, permainan pura-pura, dan fleksibilitas perilaku |
Usia tersebut bukan patokan bahwa anak yang belum bisa melakukannya pasti autisme. Namun, pertimbangkan untuk skrining jika si Kecil mengalaminya. CDC menyebutkan bahwa ASD dapat terdeteksi pada usia 18 bulan atau lebih muda.
Baca Juga: Perkembangan Emosi Anak Usia Dini
Seperti Apa Gejala Autis Ringan pada Anak?
Istilah "autisme ringan" sering digunakan secara informal untuk menggambarkan anak dengan kebutuhan dukungan lebih sedikit. Namun, tingkat kebutuhan dukungan tidak dapat ditentukan hanya dengan jumlah tanda-tanda autisme yang terlihat.
Karakteristik ASD tetap dapat melibatkan komunikasi dan interaksi sosial serta perilaku atau minat terbatas dan repetitif. Pada sebagian anak, perbedaan ini mungkin baru tampak jelas ketika tuntutan sosial dan komunikasi meningkat, misalnya saat sekolah.
Karena itu, Mama sebaiknya tidak menentukan "tingkat" autisme berdasarkan gejala terlihat saja. Konsultasikan dengan dokter untuk menilai perkembangan anak secara menyeluruh.
Kapan Anak Perlu Skrining Autisme?
Kekhawatiran orang tua mengenai perkembangan anak dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dan melakukan skrining. Mama dan Papa tidak perlu menunggu hingga tanda yang muncul semakin banyak atau semakin jelas.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan skrining perkembangan secara umum pada usia 9, 18, dan 30 bulan. Untuk skrining khusus ASD, Mama bisa melakukannya pada usia 18 dan 24 bulan.
Hal ini dikarenakan dapat terjadi developmental regression atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai, seperti kemampuan bicara, berinteraksi sosial, atau menggunakan gestur. Perubahan ini dapat terjadi pada masa awal perkembangan dan perlu segera dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Salah satu metode skrining autisme yang umum digunakan adalah Modified Checklist for Autism in Toddlers, Revised with Follow-Up (M-CHAT-R/F). Mama juga dapat memantau perkembangan si Kecil lewat Buku KIA dari Kemenkes.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan oleh JAMA Pediatrics (2023), yang mencakup 50 studi dengan 51 sampel, menunjukkan bahwa M-CHAT(-R/F) memiliki pooled sensitivity sebesar 83% dan specificity sebesar 94%.
Hasil tersebut mendukung penggunaannya sebagai alat skrining, meski hasilnya tetap perlu ditindaklanjuti dengan evaluasi dan tidak dapat digunakan sebagai diagnosis tunggal.
1. Apa Bedanya Monitoring, Skrining, dan Diagnosis?
Ketiga istilah berikut kerap tertukar, padahal memiliki tujuan berbeda. Mama bisa membedakannya supaya lebih memahami si Kecil.
|
Tahap |
Tujuan |
|
Developmental monitoring |
Memantau milestone dan perkembangan anak dari waktu ke waktu |
|
Screening |
Mengidentifikasi apakah anak berisiko mengalami keterlambatan atau perbedaan perkembangan |
|
Diagnosis |
Evaluasi lebih menyeluruh oleh profesional untuk menentukan apakah kriteria ASD terpenuhi |
Skrining bukan diagnosis. Jika hasil skrining menunjukkan risiko, dokter dapat merekomendasikan evaluasi lebih mendalam. Diagnosis ASD dilakukan berdasar riwayat perkembangan dan pengamatan perilaku, bukan tes medis tunggal.
Baca Juga: 7 Faktor Tumbuh Kembang Anak dan Cara Optimalkannya
Apakah Autisme Bisa Sembuh?
Autisme merupakan kondisi yang memiliki karakteristik yang beragam pada setiap individu, sehingga kebutuhan dukungan dan pendekatan intervensi nya juga berbeda.
Hingga saat ini, autisme belum dapat dihilangkan secara menyeluruh. Namun, dengan intervensi dan dukungan yang tepat, anak dapat mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Identifikasi sedini mungkin juga dapat membantu anak memperoleh layanan dan dukungan yang dibutuhkan lebih cepat. Bentuk intervensi sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik, kebutuhan, dan kondisi setiap anak.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Jika Menemukan Tanda Autisme?
Jika Mama atau Papa melihat tanda yang membuat khawatir, tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa si Kecil mengalami autisme. Lakukan langkah berikut untuk identifikasi lebih lanjut.
- Catat perilaku atau milestone yang membuat khawatir.
- Perhatikan kapan perilaku tersebut mulai terlihat.
- Catat apakah perilaku muncul terus-menerus atau hanya pada situasi tertentu.
- Sampaikan kekhawatiran kepada dokter anak.
- Tanyakan apakah si Kecil membutuhkan developmental screening atau skrining ASD.
- Hindari melakukan self-diagnosis hanya berdasarkan checklist di internet.
- Jika ditemukan keterlambatan atau kebutuhan perkembangan tertentu, ikuti rekomendasi evaluasi dan intervensi dari tenaga profesional.
Di masa perkembangan si Kecil, Mama bisa mendukung sistem imunnya lewat susu pertumbuhan, seperti Nutrilon Royal 3, satu-satunya formula teruji klinis yang dirancang secara saintifik dengan Double Biotics FOS:GOS dan DHA EPA yang lebih tinggi, menjadikannya nutrisi optimal sebagai "The Formula to Win".
Dukung daya tahan tubuh dan kemampuan berpikir si Kecil demi mempersiapkan anak untuk menang. Yuk, belanja di NutriShop sekarang.