Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Kenali Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasi Anak Terlambat Bicara

Tumbuh Kembang

Kenali Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasi Anak Terlambat Bicara

Article Oleh : dr. Argaruci Gemilang 15 Januari 2020

Kemampuan bicara tentu merupakan salah satu milestone anak yang paling dinanti-nanti tiap orang tua. Memasuki usia 2 tahun, kemampuan bicara anak sudah bisa dikatakan cukup lancar. Anak 2 tahun umumnya sudah bisa bicara dalam struktur kalimat, meski yang diucapkan belum beraturan. Tapi, apa yang ia katakan umumnya masih bisa dimengerti sepenuhnya. Namun, jika anak kesulitan berbicara atau sama sekali tidak bisa mengucapkan kata apa pun pada usia 2-3 tahun, ini dapat menandakan keterlambatan bicara.

Lantas, apa penyebab anak terlambat bicara dan tanda-tanda speech delay? Yuk, simak artikel ini sampai habis, Ma, untuk mengetahui jawabannya serta cara mengatasi masalah anak telat bicara agar ia makin siap masuk sekolah nanti! Namun sebelum itu, ketahui dulu bagaimana tahap perkembangan bahasa anak

Apa Saja Tahap Perkembangan Bahasa Anak?

Sebetulnya anak-anak memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam pencapaian setiap milestone-nya. Ada anak yang memang bisa bicara lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama. 

Meski begitu, Mama tetap harus memantau kemajuan perkembangan bahasa anak agar tidak sampai melewatkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. 

Nah, untuk mengetahui apakah si Kecil mengalami keterlambatan bicara atau tidak, Mama bisa menyimak apa saja perkembangan bahasa anak berikut ini: 

  • Pada usia 0-6 bulan si Kecil sudah dapat memberikan respon reseptif seperti melirik jika ada suara, berekspresi seperti tertawa, cooing, bersuara seperti “aahh” atau “uuh”.

  • Saat usia 9 bulan, cooing berubah menjadi babbling, mengucapkan “bababababa”, dadadada, “mamamama” atau “papapapa”, dapat mengucapkan Mama dan Papa walaupun belum jelas.

  • Usia 12 bulan, si Kecil dapat mengikuti 1 perintah seperti “Ayo sini lihat, Nak!”, mulai menirukan suara dan intonasi suara, serta dapat mengucapkan 1 kata.

  • Pada usia 15 bulan, pengucapan suara meningkat menjadi 3 kata.

  • Saat memasuki usia 18 bulan, si Kecil mulai dapat menunjuk minimal 1 anggota tubuhnya, pengucapan kata meningkat menjadi 6 kata.

  • Usia 2 tahun, si Kecil mulai dapat menunjukkan gambar, mengikuti lebih dari 2 perintah, dapat merangkai kata, dan dapat menyebutkan gambar.

  • Usia 2,5 tahun, si Kecil dapat menunjuk enam anggota tubuhnya, dapat melakukan 2 tindakan, setengah pembicaraannya dapat dimengerti.

  • Di usia 3 tahun, si Kecil dapat mengetahui 2 kata sifat, mengenali 4 gambar, mengenal 1 warna, dan seluruh pembicaraannya dapat dimengerti.

  • Pada usia 4 tahun, si Kecil mulai dapat memahami 4 kata, mengenal 4 warna dan seluruh pembicaraannya dapat dimengerti.

Usia Berapa Anak Dikatakan Terlambat Bicara?

Seorang anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara atau speech delay jika belum bisa berbicara ketika umurnya sudah 2-3 tahun. 

Anak terlambat bicara atau speech delay adalah salah satu penyebab keterlambatan dalam tahap perkembangan balita yang sering dijumpai. 

Keterlambatan bicara terjadi ketika seorang anak tidak dapat mengembangkan kemampuan bicara dan keterampilan berbahasa pada tingkat yang diharapkan di tahapan usianya. 

Anak akan terdengar gagap atau kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dengan cara yang benar. Mereka juga sulit untuk menyampaikan perasaan, pikiran, dan ide.

Jadi sebagai contoh, anak-anak di umur 2 tahun biasanya sudah mulai mampu menggunakan sekitar 50 kata secara teratur, contohnya “mama”, “papa, “mamam”, “nenek”, dan berbicara dalam kalimat dua dan tiga kata seperti “mau makan” atau “main bola”.

Kemudian menginjak usia 3 tahun,  kemampuan bicara anak sudah bisa dikatakan lancar. Bahkan, mereka dapat melakukan dialog dalam susunan 3-4 kata, seperti “nggak mau makan itu” dan percakapan timbal balik. Meski kalimatnya tidak terdiri dari SPOK, apa yang ia katakan umumnya masih bisa dimengerti sepenuhnya.

Nah, seorang anak bisa dikatakan terlambat berbicara jika belum bisa berbicara dengan lancar di usia yang sudah mencapai 2-3 tahun. Anak juga dikatakan memiliki speech delay ketika ucapannya masih sulit dipahami dan ia tampak kesulitan memahami apa yang ia dengar atau baca.

Ciri-Ciri Anak Terlambat Bicara

Setiap anak umumnya bertumbuh kembang dalam kecepatan dan caranya sendiri-sendiri. Terlebih, kemampuan bahasa membutuhkan proses yang tidak sebentar. 

Namun, jika anak Mama tidak berbicara seperti kebanyakan anak pada usia yang sama, ini mungkin pertanda anak mengalami keterlambatan bicara.

Berikut adalah beberapa ciri-ciri umum anak terlambat bicara yang perlu Mama Papa ketahui:

  • Pada usia 12 bulan si Kecil tidak babbling, menunjuk, atau tidak mengikuti gerak-gerik orang tua dan pengasuh.

  • Saat usia 15 bulan si Kecil belum mampu melihat atau menunjuk 5 dari 10 objek, atau orang yang disebutkan dan tidak mengucapkan minimal 3 kata.

  • Usia 18 bulan, si Kecil tidak mengikuti 1 instruksi dan tidak mengatakan “mama, papa, dada”.

  • Anak usia 2 tahun tidak menunjuk pada gambar atau anggota tubuh yang disebutkan dan tidak mengucapkan minimal 25 kata.

  • Usia 2,5 tahun si Kecil tidak merespon secara verbal, mengangguk, atau menggelengkan kepala pada sebuah pertanyaan dan tidak dapat mengombinasi dua kata.

  • Anak berusia 3 tahun, si Kecil tidak memahami dan mengikuti perintah, tidak mengucapkan paling sedikit 200 kata, tidak dapat menyebutkan keinginannya dan mengulang kalimat sebagai respon dari pertanyaan.

Apa Penyebab Speech Delay pada Anak?

Jika anak terlambat bicara, sebetulnya ini tidak selalu berarti ada yang salah dalam proses tumbuh kembangnya. 

Karena menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) keterlambatan bicara juga bisa disebabkan oleh gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif/ekspresif, autis atau gangguan pada organ mulut. 

Berikut penyebab anak terlambat bicara selengkapnya yang perlu Mama ketahui.

1. Kurang Stimulasi

Salah satu penyebab anak terlambat bicara adalah kurangnya stimulasi yang baik pada anak. Ini bisa terjadi karena Mama dan Papa tidak pernah mengajak anak bicara, atau melibatkannya dalam pembicaraan. 

Padahal, melakukan stimulasi dengan mengajak anak bicara berperan penting dalam perkembangan bicara atau bahasa anak, lho.

2. Masalah Pendengaran

Masalah pendengaran juga menjadi penyebab anak telat bicara yang paling umum. Ini karena pada umumnya anak menirukan perkataan yang ia dengar dari orang tuanya.

Bila pendengarannya bermasalah, anak akan kesulitan memahami dan menguasai kata-kata spesifik, sehingga membatasinya dalam meniru kata-kata dan menggunakan bahasa dengan lancar atau benar.

Tanda-tanda seorang anak yang mengalami gangguan pendengaran memang tidak tampak secara jelas, Ma. Namun, ini menjadi ciri anak terlambat bicara yang bisa Mama amati. 

3. Gangguan pada Organ Mulut

Bibir sumbing adalah salah satu contoh dari gangguan organ mulut yang dapat memengaruhi kemampuan bicara anak. 

Selain itu, lipatan bawah lidah (frenulum) yang pendek juga menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata yang dikenal sebagai gangguan artikulasi. Gangguan yang dikenal sebagai tongue tie ini membuat koordinasi antara bibir, lidah, dan rahang untuk membuat suara menjadi lebih sulit. 

4. Gangguan Oral-Motorik

Sebagian besar anak yang mengalami keterlambatan bicara mungkin memiliki masalah oral-motorik, seperti apraksia, yang dapat merusak kemampuan motorik anak. 

Gangguan ini terjadi ketika terdapat masalah di area otak yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan kata-kata tertentu.

Penyebab speech delay pada anak ini membuat mereka sulit dalam mengoordinasikan bibir, lidah, dan rahang yang digunakan untuk bicara. 

5. Adanya Infeksi Telinga

Infeksi telinga yang sudah sembuh umumnya tidak menimbulkan masalah bicara pada anak. Namun, infeksi telinga kronis dapat menjadi penyebab anak terlambat bicara. Jenis infeksi ini ditandai dengan peradangan dan infeksi di telinga bagian tengah. 

Jika Mama mencurigai si Kecil mengalami kondisi ini, ada baiknya untuk segera memeriksakannya dengan dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT). 

6. Autisme

Speech delay sering kali terlihat pada anak dengan gangguan spektrum autisme. Autisme adalah kelainan perkembangan saraf yang memengaruhi perilaku dan komunikasi anak. 

Keterlambatan bicara pada anak akibat autisme dapat disertai gejala lain, Ma. Misalnya mengucapkan suatu frasa berulang-ulang, menunjukkan perilaku berulang (seperti, menghentak-hentakkan kepala), sulit berkomunikasi verbal dan nonverbal, bahkan mengalami gangguan interaksi sosial.

7. Gangguan Saraf

Penyebab anak telat bicara berikutnya adalah gangguan saraf tertentu sehingga dapat memengaruhi otot yang diperlukan untuk berbicara. Kondisi ini meliputi cerebral palsy, distrofi otot, dan cedera otak traumatis.

Pada kasus cerebral palsy, gangguan perkembangan atau kecacatan lainnya juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam bicara.

Untuk mengetahui diagnosis pasti penyebabnya, diperlukan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, telinga-hidung-tenggorok (THT), psikolog dan psikiater anak, dan terapi dapat dimulai secara sistematis sesuai keadaan pasien.

Cara Mengatasi Keterlambatan Bicara pada Anak

Jika si Kecil menunjukkan tanda-tanda terlambat bicara, Mama sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak. 

Dokter akan melakukan pemeriksaan dan mempertimbangkan kemungkinan penyebab anak speech delay, mulai dari masalah pendengaran hingga gangguan perkembangan. Bila perlu, dokter mungkin akan merujuk si Kecil ke ahli patologi bahasa, audiolog, atau dokter spesialis tumbuh kembang anak.

Nantinya, dokter mungkin akan menyarankan anak untuk menjalani terapi wicara sebagai cara mengatasi anak terlambat bicara. 

Peran orang tua sangat besar untuk bantu mengembangkan keterampilan bicara anak sejak usia sangat dini. Sebab, bertambahnya koleksi kosakata anak akan berbanding lurus dengan jumlah kata yang ia dengar selama periode emas perkembangannya.

Jadi, beberapa hal yang bisa Mama dan Papa lakukan untuk mendorong perkembangan bicara dan bahasa anak antara lain:

1. Perhatikan Gerak-Gerik Anak

Ketika memasuki usia 1 tahun, si Kecil sebenarnya sudah mengerti banyak kata, tetapi belum mampu mengucapkan kata tersebut. Namun, Mama dan Papa dapat lebih memperhatikan  gerak-gerik untuk memahami maksudnya.

Misalkan, jika anak memberikan lambaian tangan, Mama dan Papa dapat mengatakan “dadah”. Atau, saat buah hati kita menunjuk suatu benda, Mama dan Papa dapat meresponnya dengan kalimat singkat, “Adik/Kakak mau main apa kita hari ini? Main ini ya?” 

Dengan merespon gerak-gerik anak, hal ini dapat membantu melatih anak untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan.

2. Sering Ajak Anak Bicara

Untuk mendukung terapi wicara, Mama bisa rutin mengajaknya ngobrol sebagai salah satu cara mengatasi anak terlambat bicara.

Sebetulnya, mengajak bayi ngobrol sudah bisa dilakukan secara rutin, bahkan sejak ia baru lahir. Sebab, hanya karena anak belum bisa bicara, bukan berarti ia belum mengerti apa yang Mama dan Papa maksud, lho! Sebab, semakin banyak Mama berbicara dan mengekspresikan diri, semakin mudah bagi si Kecil untuk belajar berinteraksi dan berbicara. 

Selain itu, kata-kata yang didengarnya akan menjadi bekal dalam perkembangan bicara dan bahasanya kelak di kemudian hari. 

Maka, Mama bisa mengajaknya berbicara kapan pun dan di mana pun, seperti setiap kali memberikan makan, memandikannya, memakaikan pakaian, menyiapkan makanan sampai sebelum tidur. 

Bicarakan apa saja yang terlintas di pikiran atau benak Mama, pastikan untuk menggunakan kata-kata sederhana dan kalimat pendek jika memungkinkan. Sebagai contoh, ketika mau makan Mama bisa bilang “Adik sudah lapar, ya? Tunggu ya, nak. Sebentar lagi sayurnya matang. Hari ini kita makan sayur sop, ya”.

Jika si Kecil mengeluarkan suara atau ocehan, Mama bisa menanggapinya. Bila perlu, gunakan gestur atau mimik muka seekspresif mungkin untuk memancing respons gelak tawanya. 

3. Beri Respon Menyenangkan

Saat si Kecil memulai sebuah kata-kata apa pun, kita dapat memberikan ia respon yang antusias, Ma. Namun, hindari penggunaan bahasa bayi saat berbicara dengan anak ya, Ma.

Namun, ketika ada kata-kata anak yang kurang tepat dalam pengejaan atau pengucapannya, juga bila si Kecil menggunakan bahasa bayi yang cadel, Mama dan Papa tidak perlu langsung mengoreksi kata-kata tersebut. Cukup tanggapi dengan penggunaan kata yang tepat. 

Biarkan si Kecil mengucapkan kata apa pun, dan kita dapat memberikan respon yang menyenangkan agar memotivasi anak semangat berbicara.

Respon juga setiap ucapan si Kecil meski Mama mungkin juga tidak mengerti apa maksudnya. Ketika setiap ucapannya ditanggapi, ia akan semakin termotivasi untuk berkomunikasi lebih sering.

Misalnya, ketika anak mengucapkan “Aku mau num tutu”, Mama Papa mengulangi dengan kalimat, “Ooh..Adik mau minum susu?.”

4. Gunakan Bahasa Isyarat

Mama tidak perlu fasih berbahasa isyarat untuk mengajari anak beberapa isyarat dasar. Sebab, banyak orang tua telah mengajari bayi dan balita menggunakan kata-kata isyarat. 

Misalnya, saat Mama ingin memperkenalkan kata ‘susu’, bisa tunjukkan bahasa isyarat susu agar si Kecil bisa mengingat kata-katanya lebih baik.

Biasanya, anak kecil sering kali lebih mudah memahami bahasa isyarat daripada orang dewasa. Hal ini memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri pada usia yang masih muda. 

Dengan begitu, si Kecil tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mengekspresikan diri dengan gerakan tubuhnya. 

Lakukan cara stimulasi anak agar cepat bicara ini berulang kali sampai anak Mama mempelajari tandanya, dan mengaitkan kata itu dengan makna aslinya. 

Memberi anak kemampuan untuk mengekspresikan diri melalui bahasa isyarat dapat membantu mereka merasa lebih percaya diri dalam berkomunikasi, sekaligus dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi ia untuk belajar lebih banyak bahasa.

5. Tunjuk dan Minta Sebutkan Nama Benda

Cara lain agar anak cepat bicara bisa dengan meminta anak menyebutkan nama benda. Biasanya si Kecil mungkin akan menunjuk barang yang diinginkan, bukannya meminta dengan mengucapkan sesuatu. 

Sebagai contoh, bila si Kecil menunjukkan sebuah gelas berisi jus, maka Mama bisa menimpalinya, “Adik mau jus?”.

Tujuan dari cara merangsang anak agar cepat bicara ini adalah untuk mendorongnya mengucapkan kata atau frasa yang sama, seperti “jus”. 

Jadi, bila si Kecil sedang menunjukkan sesuatu, ucapkan nama benda tersebut agar ia bisa meniru dan menyebut nama bendanya dengan sempurna. 

Mama juga bisa sering-sering menyebutkan nama-nama anggota tubuh, warna benda, atau menunjuk hewan dan anggota keluarga lain di rumah. 

Contohnya, “Nak, lihat itu ada kucing hitam!”, “Dik, kalau kakek yang mana?” Coba tanyakan juga "Hidung adik yang mana?” kemudian minta anak si Kecil untuk menunjuk ke mulut, telinga, hidung, kaki, dan sebagainya.

6. Buat Instruksi Sederhana untuk Anak

Mama bisa menggunakan instruksi sederhana sebagai cara mengatasi keterlambatan bicara pada anak, seperti "Coba ambil mobil merah itu," atau “Dadah ke Papa, Nak!". Membuat instruksi singkat dan sederhana dapat membantu anak memahami kata-kata yang orang tuanya ucapkan.

7. Membacakan Buku Cerita

Tahukah Mama kalau membacakan buku cerita bisa jadi cara stimulasi anak agar cepat bicara? Ya! Membacakan cerita kepada si Kecil sebanyak mungkin setiap harinya terbukti dapat mendorong perkembangan bahasanya. 

Hal ini didukung oleh sebuah studi yang dimuat pada Journal of Literacy Research tahun 2016. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa anak-anak akan bisa memiliki kosakata yang lebih banyak bila dibacakan buku cerita bergambar daripada mendengar ucapan orang dewasa. 

Pada studi lainnya yang dipublikasikan di Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics, menunjukkan bahwa membacakan satu buku tiap hari bisa membuat anak terpapar 1,4 juta kata lebih banyak dibandingkan anak-anak yang semasa kecilnya tidak pernah dibacakan cerita.

Mama dan Papa bisa bergantian membacakan cerita setiap kali ada waktu luang dan sebelum tidur untuk memperbanyak kosakata anak. Sembari membaca, Mama bisa tunjuk gambar dan menyebut nama benda yang ditunjuk supaya ia memahami artinya.

8. Ajak Bernyanyi

Anak kecil pasti sedang senang-senangnya bernyanyi. Untuk itu, Mama Papa bisa mengajak anak bernyanyi guna merangsangnya agar cepat bicara. 

Ada banyak sekali lagu anak-anak yang bisa dinyanyikan bersama si Kecil. Misalnya, Cicak-Cicak di Dinding, Bintang Kecil, hingga Balonku.

Lirik pada lagu anak-anak bisa menjadi cara merangsang anak agar cepat bicara. Mama bisa mengajaknya bernyanyi seraya melakukan beberapa gerakan yang ekspresif. Dengan demikian, si Kecil akan meniru dan mengingat kata-kata apa yang dilantunkan. 

9. Batasi Screen Time

Untuk melatih kemampuan anak berbicara, tentunya perlu dilakukan komunikasi dua arah. Penggunaan gawai secara berlebihan tentu tidak memfasilitasi hal tersebut, karena si Kecil hanya dapat merespon dengan mendengar tanpa ada interaksi dua arah.

Menurut sebuah studi yang dimuat pada Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics, membatasi anak menatap layar TV dan gadget ternyata dikaitkan dengan keterlambatan bahasa pada anak berusia 18 bulan. 

Para ahli juga menekankan bahwa interaksi dengan orang lain tanpa menatap layar gadget adalah cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan bahasa. 

Selain itu, American Academy of Pediatrics juga menyarankan agar anak-anak usia 2-5 tahun tidak menghabiskan waktu di depan layar televisi dan gadget lebih dari 1 jam per hari, serta lebih sedikit lagi waktu untuk anak-anak yang lebih kecil.

Jadi, jika orang tua ingin melatih anak cepat bicara, sebaiknya batasi ia untuk menonton atau main gadget dan ajak ia berinteraksi secara langsung, ya.

Baca Juga: Screen Time Anak dan Pengaruh Gadget pada Balita

Nah, itu dia berbagai cara mengatasi speech delay anak yang bisa dilakukan di rumah. Sebagai orang tua, peran Mama sangat penting dalam penanganan keterlambatan bicara tersebut. 

Rajinlah mengajak si Kecil untuk berbicara sejak bayi, walaupun belum bisa berbicara namun kosakata dari Ibu dapat menjadi bekal dalam perkembangan bicara dan bahasanya kelak. Mama juga bisa membacakan cerita untuk menambah kosakata yang didengar oleh si Kecil. 

Keterlambatan bicara pada si Kecil sebaiknya dapat diketahui sejak dini, sehingga dapat dilakukan penanganan secepatnya.

Semoga artikel ini membantu, ya!

  1. Medise, Bernie E. IDAI. Seputar Kesehatan Anak. Mengenal Keterlambatan Perkembangan Umum Pada Anak. Jakarta. 2013.
  2. Gunawan, Gladys . et all. Saripediatri. Gambaran Perkembangan Bicara dan Bahasa Anak usia 0-3 Tahun. Vol. 13 No. 1 Juni. 2011. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung.
  3. Eka News. Anak Terlambat Bicara, Normalkah? Eka Hospital. Monthly Newsletter Ed. 3 Mei 2010. Jakarta.
  4. McLaughlin, Maura R. MD. Speech And Language Delay In Children. American Family Physician. University of Virginia School of Medicine, Charlottesville, Virginia. Vol. 83, No. 10. May 15, 2011.
  5. Soebadi, Amanda. IDAI. Keterlambatan Bicara. Jakarta. 2013.
  6. Pietrangelo, A. (2019, October 30). Does My Toddler Have a Speech Delay? Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/speech-delay-3-year-old-2
  7. Verywell. (2013). Causes of Toddler Speech Delays. Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/causes-of-toddler-speech-delays-289665
  8. Peacock, F. (2013, October 13). When Do Babies Start Talking? 9 Tips To Get Baby Talking. BellyBelly; BellyBelly. https://www.bellybelly.com.au/baby/when-do-babies-start-talking/
  9. NHS Choices. (2023). Help your baby learn to talk. https://www.nhs.uk/conditions/baby/babys-development/play-and-learning/help-your-baby-learn-to-talk/
  10. Higuera, V. (2020, March 25). How to Teach Your Toddler to Talk. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/how-to-teach-toddler-to-talk#tips-and-activities
  11. Speech and Language Development | CS Mott Children’s Hospital | Michigan Medicine. (2022). Mottchildren.org. https://www.mottchildren.org/posts/your-child/speech-and-language-development
  12. ‌Van den Heuvel, M., Ma, J., Borkhoff, C. M., Koroshegyi, C., Dai, D. W. H., Parkin, P. C., Maguire, J. L., & Birken, C. S. (2019). Mobile Media Device Use is Associated with Expressive Language Delay in 18-Month-Old Children. Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, 40(2), 99–104. https://doi.org/10.1097/dbp.0000000000000630
comment-icon comment-icon