Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Tumbuh Kembang

Normalkah Anak 3 Tahun Belum Bisa Bicara dan Bagaimana Cara Stimulasinya?

Article Oleh : Mauliyana Puspa Adityasari 06 Juli 2023

Semakin bertambahnya usia si Kecil, semakin bertambah pula perkembangannya. Salah satu perkembangan yang paling ditunggu-tunggu orang tua yaitu kemampuannya berbicara. Bisa mendengar satu kata terucap dari si Kecil tentu akan membuat Mama dan Papa bahagia. Namun, jika si Kecil sudah memasuki usia 3 tahun tetapi belum menunjukkan kemampuan berbicaranya, apakah itu hal yang normal?

Yuk, cari tahu jawabannya dengan membaca artikel ini selengkapnya, Ma!

Normalkah Anak 3 Tahun Belum Bisa Bicara?

Pada dasarnya, sejak lahir si Kecil sudah mampu berkomunikasi, hanya saja dia baru bisa mengungkapkan perasaan dan emosinya melalui tangisan. Nantinya, kemampuan bicara akan semakin berkembang seiring bertambahnya usia si Kecil.

Pada usia 6-9 bulan, bayi sudah mulai belajar berbicara ketika ia sudah bisa menggunakan lidah dan bibirnya secara bersamaan. Suara yang dihasilkan bayi di usia ini masih berupa ocehan (babbling) yang belum memiliki makna, seperti "ba-ba", atau "pa-pa".

Ketika memasuki usia 10-18 bulan, barulah bayi mulai bisa mengucapkan kata pertama mereka yang mempunyai makna. Sementara itu, kemampuan berbicaranya akan mulai meningkat hingga bisa merangkai 2-4 kata mulai usia 18 bulan sampai anak berusia 2 tahun.

Normalnya ketika anak menginjak usia 3 tahun, sudah bisa mengucapkan kalimat berisi 2 kata yang bermakna dan mulai dimengerti oleh Mama dan Papa. Misalnya, “minum susu” atau “mau makan”. Pengucapannya pun sudah lebih jelas sehingga dapat dimengerti oleh orang lain.

Bahkan, anak 3 tahun sudah mulai bisa menanyakan banyak hal yang ingin diketahuinya. Mama juga sudah bisa mengajak anak berusia 3 tahun untuk melakukan percakapan, tanya-jawab, dan dia sudah bisa sedikit bercerita.

Jika pada usia 3 tahun si Kecil belum menunjukkan kemampuan berbicaranya, maka bisa jadi ini merupakan tanda-tanda speech delay pada si Kecil. 

Untuk itu, sebaiknya Mama mulai waspada dan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar mendapatkan penanganan yang tepat. Semakin cepat ditangani tentunya akan semakin baik, Ma.

Apa Tanda dan Ciri-Ciri Anak Belum Bisa Bicara?

Saat anak usia 3 tahun belum bisa berbicara sama sekali, kondisi ini bukanlah hal yang normal dan tidak boleh disepelekan. Walaupun sebenarnya setiap perkembangan anak itu berbeda-beda. Namun sebagai orang tua, penting untuk mengamati dan memahami perkembangan anak.

Untuk itu, Mama harus mengetahui ciri-ciri anak terlambat berbicara sebagai berikut:

  • Belum mampu memahami instruksi sederhana, seperti ketika Mama mencoba menyuruh si Kecil mengambilkan sesuatu, ia tidak bisa memberikan respons dengan baik.

  • Saat menginginkan sesuatu, anak cenderung memberikan isyarat tanpa berkata-kata. Misalnya, hanya dengan menunjuk benda yang diinginkannya.

  • Mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dipahami.

  • Tidak mampu menirukan suara atau kata yang dicontohkan orang tua.

  • Tidak bisa mengeluarkan kata-kata, kecuali saat keadaan mendesak seperti ingin minum atau tidur.

  • Mempunyai nada suara yang tidak normal seperti serak atau sengau.

Apa Penyebab Anak 3 Tahun Belum Bisa Bicara?

Berikut adalah beberapa penyebab anak 3 tahun belum bisa bicara yang perlu Mama dan Papa ketahui:

1. Faktor Lingkungan

Interaksi dan stimulasi lingkungan yang kaya akan bahasa sangat penting dalam perkembangan bicara anak. Faktor lingkungan inilah yang sangat berperan penting untuk meningkatkan setiap tonggak perkembangan atau milestone pada anak. 

Jika anak tidak mendapatkan stimulasi secara verbal dengan baik pada lingkungannya seperti kurangnya percakapan, membaca buku, mendengarkan lagu, dan bernyanyi bersama dapat menghambat perkembangan bicara mereka.

Untuk itu, Mama jangan pernah mengabaikan si Kecil dan harus sering mengajaknya berinteraksi sejak dini agar dapat mencapai tonggak perkembangannya secara optimal.

2. Gangguan Pendengaran

Salah satu penyebab lain anak 3 tahun belum bisa bicara bisa jadi karena adanya gangguan pada indra pendengarannya. Anak yang mengalami gangguan pendengaran pasti akan kesulitan untuk memahami percakapan yang Mama lakukan atau bahkan tidak mampu mendengar suaranya sendiri.

Akibatnya, si Kecil akan sangat terhambat untuk memahami dan menguasai kata-kata. Gangguan pendengaran ini juga dapat membatasi kemampuan anak dalam meniru suara-suara yang diperlukan untuk berbicara. 

Jika Mama sudah mengetahui adanya masalah ini, penting untuk segera mengatasi masalah pendengaran sedini mungkin agar anak dapat menerima bantuan yang diperlukan.

3. Keterlambatan Perkembangan Umum

Menjadi hal yang wajar jika tahap perkembangan anak itu berbeda-beda. Namun, beberapa anak mungkin mengalami keterlambatan perkembangan lainnya yang dapat memengaruhi aspek perkembangan secara keseluruhan termasuk berbicara. Mama harus lebih peka untuk memperhatikan setiap perkembangan yang dialami si Kecil, apakah semua tahapan perkembangan sudah sesuai dengan usianya saat ini atau tidak.

Faktor-faktor seperti faktor genetik, dan gangguan kesehatan dapat berkontribusi pada keterlambatan perkembangan bicara si Kecil. 

Jika Mama melihat adanya gangguan perkembangan lain yang juga memengaruhi masalah keterlambatan bicara, segera berkonsultasi pada dokter atau ahli perkembangan anak untuk menentukan penyebab pasti dan segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.

4. Gangguan Oral-Motorik

Masalah dalam kemampuan kontrol otot mulut dan lidah juga dapat menyebabkan keterlambatan dalam berbicara anak. Si Kecil mungkin mengalami kesulitan dalam menggerakkan lidah, bibir, dan rahang dengan koordinasi yang tepat agar mampu menghasilkan suara untuk berbicara.

Terapi bicara dan latihan khusus dapat membantu mengatasi masalah ini. Hanya saja jenis masalah bicara ini dapat muncul sendiri atau bisa saja memengaruhi masalah oral motorik lainnya, seperti anak yang terlambat bicara juga dapat mengalami kesulitan dalam makan.

5. Terlalu Sering Bermain Gadget

Terlalu sering menggunakan gadget dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan keterlambatan bicara pada anak, terutama mereka yang berusia di bawah 3 tahun. 

Bermain gadget memang bisa membuat si Kecil kecanduan, padahal screen time untuk anak haruslah dibatasi. Sebab, penggunaan gadget dapat mengganggu interaksi sosial antara anak dengan orang lain di sekitarnya. Padahal, interaksi sosial tersebut penting dalam membantu anak mengembangkan kemampuan bicara.

Penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara durasi penggunaan gadget dengan kebiasaan berbicara. Hal ini berarti semakin lama anak menghabiskan waktu menggunakan gadget, semakin berdampak negatif pada perkembangan kognitif dan kemampuan bicara anak tersebut. Untuk itu, dianjurkan agar anak-anak yang berusia di atas 2 tahun tidak melebihi batas waktu penggunaan gadget selama 2 jam dalam sehari.

Cara Membantu Anak 3 Tahun yang Belum Bisa Bicara

Apa saja stimulasi yang bisa diberikan untuk membantu meningkatkan kemampuan bicara anak sesuai tahapan usianya? Berikut adalah hal-hal yang bisa Mama dan Papa lakukan di rumah. 

1. Sering Ajak Anak Ngobrol

Mengajak si Kecil ngobrol menjadi salah satu cara ampuh untuk melatih anak cepat bicara. Untuk itu, penting bagi Mama untuk selalu mengajak anak berkomunikasi sesering dan sedini mungkin agar ia terbiasa mendengarkan kata-kata. 

Tak perlu yang susah-susah, Mama tetap bisa memakai percakapan sehari-hari saat berkomunikasi dengannya. Mama dapat memulainya dengan mengatakan apa saja kegiatan yang sedang Mama dan anak lakukan. 

Misalnya, ketika menyuapi anak, Mama bisa membicarakan makanan apa yang dimasak, ada warna dan bentuk apa saja di dalam makanan tersebut. 

Cara stimulasi anak 3 tahun belum bisa bicara juga bisa dengan memberikannya berbagai pertanyaan. Coba Mama tanyakan apa yang sedang ia lihat, makan, atau rasakan. Tak ada salahnya memberikan pilihan kepada anak agar ia memilih. 

Jika ada orang lain yang bertanya kepada anak, sebaiknya Mama dan Papa jangan bantu menjawabnya. Ini bertujuan memberi kesempatan anak agar berusaha menjawab dengan mengerahkan segala kemampuannya.

2. Memperhatikan dan Merespon Ucapan Anak

Selain mengajak si Kecil ngobrol, respon yang menyenangkan juga dapat memberi semangat dan motivasi dirinya untuk berbicara. Misalnya, dengan merespon celotehan anak menggunakan kosa kata yang benar, jangan dibuat cadel atau baby talk.

Saat merespon dan mengajak buah hati bicara, usahakan Ibu memberikan perhatian penuh kepada anak. Sebagai contoh, ketika ia minta susu, mungkin ia akan menyebutnya dengan “cucu”, atau minta makan dengan menyebutkan “mamam”. Jika anak melakukan hal ini, Mama dan Papa bisa memperbaiki kata-kata tersebut. Selalu siapkan stok kesabaran lebih saat menunggu kata-kata yang meluncur dari mulutnya, ya. 

3. Membacakan Buku

Cara agar anak 3 tahun bisa cepat bicara adalah dengan rutin membacakan buku. Buku menjadi media yang bisa meningkatkan kosakata lebih banyak. 

Mama bisa menggunakan buku ilustrasi bergambar yang menarik. Kemudian, bacakan cerita sambil mengajak anak menunjuk gambar dan menyebut nama benda yang ada di buku agar ia terbiasa berbicara.

Misalnya, “Si Kancil memakan rumput yang berwarna hijau. Ayo coba tebak, Dik, mana gambar rumput, ya?”

4. Ajari Nama Objek yang Dipakai Sehari-Hari

Mama dapat menyebutkan nama objek sehari-hari, beserta bentuk dan warna yang ada di sekitar si Kecil. 

Misalnya, saat memberi makan, Mama bisa menyebutkan atau memberi tahu anak mengenai benda yang ada di hadapannya adalah sendok, piring, roti, gelas, dan lain sebagainya. 

Bisa juga meminta anak menyebutkan nama-nama anggota tubuhnya, seperti mata, telinga, kaki. Dengan demikian, ia akan terpancing untuk berbicara, Ma. 

5. Hindari Penggunaan Gadget

Jika Mama mencurigai anak 3 tahun belum bisa bicara, sebaiknya hindari penggunaan gadget untuk meningkatkan komunikasi dua arah, Ma.

Sebuah studi yang dimuat pada Journal of Development and Behavioral Pediatrics menyebutkan bahwa ada keterkaitan yang signifikan antara anak yang menggunakan gadget untuk menonton video dengan keterlambatan bicara pada anak usia 18 bulan. 

Anak 3 tahun belum bisa bicara perlu diajak berinteraksi secara langsung dengan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Untuk itu, mama bisa memperbanyak kegiatan anak dengan mengobrol dan bermain sambil belajar untuk mengisi hari-harinya.

6. Melatih Mengunyah

Tekstur makanan yang dikonsumsi anak ternyata dapat memengaruhi kemampuan anak 3 tahun belum bisa bicara lho, Ma. Maka sangat penting bila anak berusia 1 tahun diberikan makanan padat agar mulutnya jadi lebih aktif mengunyah. 

Perbedaan tekstur makanan ini bisa merangsang kemampuan motorik mulutnya, mulai dari rahang, lidah, dan bibir yang menjadi bagian terpenting untuk ia berbicara nanti. Jika otot-otot mulut anak tidak dilatih, maka dapat berpengaruh terhadap perkembangan dan kemampuannya berbicaranya, Ma.

7. Ajak Anak Bernyanyi

Anak-anak pasti senang diajak bernyanyi. Nah, Mama bisa melakukan kegiatan menyenangkan ini sebagai stimulasi anak terlambat bicara. 

Coba setel atau ajak ia bernyanyi lagu-lagu kesukaannya. Melalui lagu yang didengarkan dan dinyanyikan, secara tidak langsung anak akan mendapat banyak kosakata baru yang menambah perkembangan kemampuan bahasa anak usia 3 tahun.

8. Main dengan Anak-Anak Lain

Anak 3 tahun belum bisa bicara? Mama bisa mencoba buat rutinitas agar anak bisa berinteraksi dengan anak-anak lain seusianya yang memiliki kemampuan komunikasi lebih baik. 

Misalnya, dengan mengajak anak playdate atau mengundang teman-teman yang memiliki anak untuk bermain bersama. Ibu bisa juga memasukkan anak dalam kelas prasekolah agar bertemu dengan teman-teman sebayanya. 

Lakukan kegiatan-kegiatan di atas dengan cara menyenangkan, ya, Ma. Ajak juga anggota keluarga lain di rumah untuk membantu stimulasi perkembangan bicara anak.

Baca Juga: Mengenal Metode Montessori dan Manfaatnya untuk Anak 

Nah, itulah penjelasan tentang keterlambatan bicara pada anak. Penting untuk diingat bahwa setiap anak adalah individu yang unik dan kemampuan bicara mereka akan berkembang pada waktu mereka sendiri. Namun, umumnya anak usia 2-3 tahun sudah mampu berbicara dengan 2 kata bermakna yang bisa dipahami orang lain.

Jika Mama merasa khawatir dengan perkembangan bicara si Kecil, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi yang tepat serta bantuan yang diperlukan.

Sebagai orang tua, Mama dapat terus mendukung perkembangan bicara anak dengan terus memberikan stimulasi seperti berinteraksi secara aktif, membaca buku bersama, dan bernyanyi bersama.

Mama juga bisa mengetahui sejauh mana kemampuan kognitif si Kecil melalui tes 8 Winning Skills yang diidentifikasi dari kesehariannya, dan dapatkan secara gratis Stimulation Kit di akhir tesnya!

  1. When Do Babies Start Talking? – Children’s Health. (2022). Childrens.com. https://www.childrens.com/health-wellness/when-do-babies-start-talking
  2. ‌IDAI | Keterlambatan Bicara. (2013). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/keterlambatan-bicara
  3. ‌Communication and Your 2- to 3-Year-Old (for Parents) - Nemours KidsHealth. (2022). Kidshealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/comm-2-to-3.html
  4. ‌Speech and Language Delay - familydoctor.org. Familydoctor.org. https://familydoctor.org/condition/speech-and-language-delay/
  5. ‌Delayed Speech or Language Development (for Parents) - Nemours KidsHealth. (2022). Kidshealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/not-talk.html
  6. ‌IDAI | Mencegah Terlambat Bicara pada Anak. (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/mencegah-terlambat-bicara-pada-anak
  7. ‌Pietrangelo, A. (2019, October 30). Does My Toddler Have a Speech Delay? Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/speech-delay-3-year-old-2#causes
  8. ‌Verywell. (2013). Causes of Toddler Speech Delays. Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/causes-of-toddler-speech-delays-289665
  9. ‌Rizky Anugrah Putra, Ashadi Ashadi, & Muhammad Fahruddin Aziz. (2022). Excessive Gadget Exposure and Children Speech Delay: The Case of Autism Spectrum Risk Factor. 7(01), 176–195. https://doi.org/10.24903/sj.v7i01.1077
comment-icon comment-icon