Vaksin penting untuk menjaga anak tetap terlindungi dari berbagai penyakit menular berbahaya seperti campak, polio, dan difteri yang dapat menimbulkan komplikasi serius. Selain memperkuat sistem imun, vaksin membantu mencegah penularan ke orang lain dan mendukung kesehatan serta tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Apa Itu Vaksinasi dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Vaksin adalah produk biologis yang membantu tubuh melawan penyakit dengan cara membentuk kekebalan. Vaksin bisa diberikan lewat suntikan, ditempelkan di kulit, atau disemprotkan.
Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin yang mengandung kuman mati atau kuman yang sudah dilemahkan. Setelah divaksin, tubuh membentuk antibodi yang mengenali penyakit dan siap melawan kuman asli saat terpapar.
Tubuh punya dua sistem imun, yaitu bawaan (sudah ada sejak lahir) dan adaptif, yang khusus melawan penyakit tertentu. Vaksinasi melatih kekebalan adaptif agar tubuh anak siap menghadapi penyakit tanpa harus mengalami sakit berat.
Apakah Vaksin Aman untuk Anak?
Ya. WHO, Kemenkes, dan IDAI memastikan vaksin sangat aman dan efektif untuk anak. Setiap vaksin diproduksi melalui riset panjang dengan standar Good Clinical Practice dan etika yang ketat, dan sudah diuji keamanannya.
Vaksin di Indonesia sudah mendapat izin edar dan terus dipantau secara ketat oleh BPOM dan badan independen seperti KOMNAS PP KIPI, serta didukung oleh organisasi internasional seperti WHO dan UNICEF.
Setiap tahun, jutaan anak di seluruh dunia menerima vaksin dengan aman. Berbagai penelitian ilmiah terbaru terus menunjukkan bahwa vaksin tidak berhubungan dengan risiko autisme atau kerusakan otak.
Baca Juga: 12 Imunisasi Lanjutan yang Perlu Anak Dapatkan di Usia 1-5 Tahun
Apa Pentingnya Vaksinasi untuk Anak?
Ada banyak manfaat vaksin untuk anak di luar dari perlindungan terhadap penyakit menular berbahaya. Berikut sejumlah alasan mengapa anak perlu divaksin:
1. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh
Vaksinasi penting untuk anak membangun kekebalan tubuh yang kuat agar terlindungi dari penyakit serius dan menurunkan risiko komplikasi.
Vaksin membantu tubuh belajar membuat antibodi yang berfungsi melindungi kita dari berbagai penyakit. Cara ini jauh lebih aman dibandingkan harus terinfeksi penyakit terlebih dahulu untuk membentuk kekebalan.
Setelah tubuh mengenali bagaimana melawan penyakit tersebut, sistem kekebalan biasanya mampu memberikan perlindungan jangka panjang, bahkan bisa seumur hidup.
2. Melindungi dari Penyakit Menular Berbahaya
Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa penyakit seperti campak, polio, dan cacar dapat muncul kembali jika banyak anak tidak mendapatkan vaksin dasar yang seharusnya melindungi mereka.
Vaksinasi membantu tubuh belajar membentuk perlindungan (antibodi) dari penyakit menular mematikan, seperti polio, campak, TBC, difteri, dan Hepatitis B sejak dini tanpa harus sakit dulu.
Campak yang dulu hampir terkendali kini kembali memicu KLB di berbagai wilayah karena cakupan vaksin campak-rubella menurun. Polio yang pernah dinyatakan bebas juga kembali ditemukan pada anak di beberapa daerah.
Ini menegaskan pentingnya vaksinasi untuk anak agar keberhasilan masa lalu tidak hilang begitu saja. Ketika semakin banyak anak terlindungi, rantai penularan bisa diputus dan penyakit berbahaya tidak punya kesempatan untuk muncul kembali.
Baca Juga: Jadwal Vaksin Cacar Air untuk Anak, Manfaat, & Efek Sampingnya
3. Mengurangi Keparahan Bila Anak Tetap Terinfeksi
Anak yang sudah divaksin masih bisa tertular penyakit tersebut. Namun, vaksin membantu tubuh mengenali kuman penyebab penyakit lebih dulu sehingga jika anak tertular, tubuhnya sudah siap melawan.
Perlindungan dari vaksin membuat anak mengalami gejala yang lebih ringan dan bisa sembuh lebih cepat dibanding yang belum diimunisasi. Itu berarti durasi sakit atau waktu dirawat bisa lebih singkat.
Karena sistem kekebalan sudah “siap,” kemungkinan terjadinya komplikasi serius menjadi jauh lebih kecil. Dengan vaksinasi, risiko sakit berat, rawat inap, atau efek komplikasi bisa ditekan.
4. Melindungi Anak dari Komplikasi Jangka Panjang
Tanpa vaksinasi, anak bisa mengalami sakit parah, cacat, atau kematian karena sistem imunnya tidak memiliki perlawanan khusus terhadap kuman berbahaya.
Beberapa penyakit menular seperti polio dan campak dapat menimbulkan komplikasi serius yang berdampak panjang pada kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Sebagai contoh, vaksin polio melindungi anak dari risiko lumpuh layu. Lumpuh layu akibat virus polio tidak dapat disembuhkan dan bersifat permanen.
Vaksin MMR juga mencegah komplikasi radang otak dan gangguan pendengaran akibat infeksi campak, meningitis, dan rubella. Dengan perlindungan ini, anak bisa tumbuh lebih sehat dan aman.
5. Membentuk Herd Immunity
Vaksin tidak hanya melindungi diri anak sebagai penerima langsung, tapi juga memberikan perlindungan untuk orang lain di sekitar. Terutama orang yang tidak dapat menerima vaksin karena alasan medis.
Efek perlindungan massal ini disebut dengan herd immunity. Herd immunity terbentuk ketika sebagian besar orang dalam kelompok sudah kebal terhadap penyakit, baik lewat vaksinasi atau pemulihan.
Hal ini membuat penyakit lebih sulit menyebar di masyarakat, sehingga orang-orang yang belum kebal, termasuk mereka yang tidak bisa divaksinasi, juga ikut terlindungi dari penularan.
6. Mencegah Terjadinya Wabah
Jika anak belum divaksinasi dan tertular penyakit, ia dapat menularkan virus atau bakteri penyebab penyakit itu kepada orang lain di sekitarnya, baik itu anggota keluarga atau teman bermainnya.
Wabah dapat terjadi ketika penyakit itu menyebar dengan cepat dan menjangkit banyak orang dalam waktu singkat, karena banyak orang yang belum memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Maka itu, manfaat vaksin untuk anak tidak hanya penting untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
7. Mengoptimalkan Prestasi Akademik Anak
Vaksin membantu menjaga anak tetap sehat sehingga ia lebih jarang sakit dan bisa rutin ke sekolah.
Anak yang jarang izin sakit tentu memiliki lebih banyak waktu belajar dan lebih mudah konsentrasi di kelas. Tubuh yang sehat juga membantu otak bekerja optimal, sehingga anak dapat menyerap informasi dengan lebih baik.
Pemerintah juga menjalankan program imunisasi anak sekolah (BIAS) sebagai bagian upaya meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan anak.
Penelitian menunjukkan program vaksinasi di sekolah menurunkan absensi dan berpengaruh positif pada kemampuan belajar.
Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Imun Anak agar Tidak Mudah Sakit
8. Mendukung Pertumbuhan dan Perkembangan yang Optimal
Imunisasi membantu anak terhindar dari penyakit serius, sehingga energi tubuh tidak habis untuk melawan infeksi. Dengan tubuh yang lebih kuat, anak bisa tumbuh lebih aktif dan bertenaga.
Saat anak jarang sakit, nafsu makan lebih stabil dan nutrisi bisa diserap dengan lebih baik. Ini mendukung pertumbuhan tinggi badan, berat badan, dan kesehatan secara menyeluruh.
Vaksinasi juga berpengaruh pada tumbuh kembang fisik dan kemampuan berpikir anak. Anak yang sehat cenderung lebih fokus, lebih siap belajar, dan berkembang optimal sesuai usianya.
9. Mengurangi Risiko Penyakit Kronis di Masa Depan
Vaksin membantu tubuh anak terhindar dari infeksi serius, yang jika tidak diobati bisa berkembang menjadi penyakit kronis, seperti TB atau hepatitis.
Anak yang tidak divaksin dan tertular penyakit TB harus mengonsumsi obat setiap hari selama 6 bulan tanpa boleh terputus. Jika pengobatan terputus atau tidak dilakukan dengan benar, bakteri TB menjadi resisten terhadap obat dan lebih sulit diobati.
Maka itu, Kementerian Kesehatan RI kini juga memasukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) dalam program imunisasi rutin anak untuk mencegah kanker serviks saat dewasa.
Dengan memberi vaksin sejak kecil dan mengikuti jadwal imunisasi lengkap, Mama membantu anak tumbuh sehat dan meminimalkan risiko penyakit menular berubah menjadi kondisi serius di masa depan.
10. Membentuk Kesadaran Hidup Sehat
Saat mendapatkan vaksin, Mama bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana mengenai manfaat menjaga kesehatan dan bagaimana caranya mengoptimalkan manfaat tersebut.
Hal itu akan menjadi jembatan yang baik untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat lainnya seperti rajin cuci tangan, tidak banyak minum manis, mau makan sayur, dan lain sebagainya.
Mama juga bisa unduh Ebook Imunitas di 1000 HPK untuk mendapatkan tips-tips efektif dari expert dalam meningkatkan kekebalan tubuh anak agar ia lebih siap melangkah menjadi pemenang!
Jenis-Jenis Vaksin Anak 0–2 Tahun dan Fungsinya
Setiap vaksin punya fungsi berbeda. Untuk membantu Mama memahami jadwal imunisasi dengan lebih mudah, berikut adalah rangkuman jadwal vaksin terbaru dari IDAI untuk anak usia 0–2 tahun, lengkap dengan manfaat dan waktu pemberiannya.
|
Vaksin |
Melindungi Dari |
Usia Pemberian |
|
BCG |
TBC |
0–1 bulan |
|
Hepatitis B |
Hepatitis B |
0 bulan, 1 bulan, 6 bulan |
|
Polio (OPV/IPV) |
Polio |
0 bulan, 2–4 bulan, 18 bulan, 5 tahun |
|
DPT / DTaP |
Difteri, pertusis, tetanus |
2–4 bulan, 18 bulan, 5 tahun |
|
Hib |
Meningitis, pneumonia |
2–4 bulan, 18 bulan |
|
PCV |
Pneumonia, meningitis |
2, 4, 6 bulan; booster 12–15 bulan |
|
Rotavirus |
Diare berat |
6 minggu–6 bulan |
|
MR / MMR |
Campak, rubella (+ gondong untuk MMR) |
9 bulan, 12 bulan, booster s/d 5 tahun |
|
Varisela |
Cacar air |
12–18 bulan |
|
Influenza |
Flu berat |
Mulai 6 bulan, tiap tahun |
|
Hepatitis A |
Hepatitis A |
12–24 bulan (2 dosis) |
|
Tifoid |
Demam tifus |
Mulai 2 tahun, booster tiap 3 tahun |
Apa yang Terjadi Bila Anak Tidak Divaksin?
Melalui imunisasi, sistem kekebalan anak diperkuat dan diajarkan untuk mengenali serta melawan penyakit seperti polio, campak, difteri, dan hepatitis dengan lebih baik.
Anak yang tidak mendapatkan vaksin lebih rentan terkena berbagai infeksi berbahaya yang sebenarnya bisa dicegah lewat vaksin dan berisiko mengalami komplikasi berat hingga kecacatan permanen atau kematian.
Tanpa vaksin, risiko komplikasi akibat penyakit meningkat. Penyakit ringan bisa menjadi berat, dan anak juga berisiko lebih sering harus rawat inap bila terinfeksi penyakit serius.
Selain itu, anak bisa menularkan penyakit ke anggota keluarga lain, termasuk bayi atau orang tua yang rentan.
Baca Juga: 5 Imunisasi Wajib untuk Anak 1 Tahun yang Tidak Boleh Terlewat
Tips Agar Anak Tidak Takut Vaksin
Banyak orang tua khawatir si kecil akan takut atau rewel saat disuntik, namun dengan persiapan yang tepat, pengalaman vaksinasi bisa terasa jauh lebih mudah.
Berikut beberapa cara sederhana yang bisa membantu anak lebih tenang saat menerima vaksin.
- Persiapkan mental anak dengan bicara lembut dan tenang sebelum vaksin.
- Jelaskan proses vaksin dengan bahasa sederhana agar anak mengerti.
- Ajak anak bermain atau mengalihkan perhatian sebelum dan setelah vaksin agar tidak terlalu tegang.
- Pegang anak dengan posisi nyaman saat vaksin supaya dia merasa aman.
- Kalau suntikan menyebabkan nyeri, kompres area dengan kain bersih agar rasa sakit sedikit berkurang.
Mitos dan Fakta Seputar Vaksin
Di tengah banyaknya informasi yang beredar, tak sedikit orang tua yang masih bingung membedakan mana fakta dan mana sekadar mitos tentang vaksin. Agar tidak salah langkah dalam melindungi kesehatan si kecil, penting bagi orang tua untuk memahami informasi yang benar dan dapat dipercaya.
Berikut beberapa mitos umum seputar vaksin beserta penjelasan faktanya.
- “Vaksin bikin sakit” — mitos. Faktanya: efek samping biasanya ringan dan cepat sembuh, seperti demam ringan atau bengkak di tempat suntikan.
- “Anak sudah pernah sakit, jadi sudah kebal” — mitos. Faktanya: Tidak semua penyakit memberi kekebalan seumur hidup.
- “Vaksin terlalu banyak, takut sistem imun overload” — mitos. Faktanya: Sistem imun anak sanggup menangani ribuan antigen setiap hari, jadi vaksin tidak membebani kekebalan tubuh.
- “Bahan vaksin berbahaya” — mitos. Faktanya: Proses pembuatan vaksin dilakukan melalui riset panjang dengan etika yang ketat dan sudah diuji keamanannya oleh BPOM.
Jadi, Mama tidak perlu lagi ragu untuk memberikan vaksin untuk anak demi kesehatan jangka panjang dan masa depan si Kecil yang lebih sejahtera.
Lalu, jangan lupa bergabung jadi member Nutriclub untuk dapatkan ratusan expert-verified parenting content yang terkurasi sesuai usia si Kecil, akses ke call center yang terhubung langsung dengan ahli seputar nutrisi dan tumbuh kembang anak, serta beragam exclusive rewards khusus untuk Mama dan si Kecil dari setiap pembelian produk Nutrilon. Daftar gratis, sekarang!
