Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Kesehatan

Polusi Udara Picu Penyebaran TBC pada Anak, Bagaimana Mencegahnya?

Article Oleh : Mauliyana Puspa Adityasari 15 Agustus 2023

Tuberkulosis (TBC) atau yang kini lebih dikenal dengan sebutan TB adalah salah satu penyakit infeksi pernapasan paling mudah menular pada anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dari 503.712 orang Indonesia yang mengidap TBC sejak 1 Januari - 1 November 2022 sebanyak 61.594 kasusnya adalah dari anak-anak usia 0-14 tahun. Nah, tahukah Mama bahwa salah satu faktor risiko terbesar penularan TB pada anak-anak saat ini adalah polusi udara yang memburuk?

Atas dasar itu, Mama dan Papa perlu mewaspadai cara penularan TBC pada anak, serta gejala yang mungkin muncul, dan cara mencegah penularannya untuk mendukung imunitas si Kecil.

Anak Rentan Terkena TBC Karena Apa?

TBC adalah penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar dari satu orang ke orang lain melalui droplet (cipratan air liur) yang keluar dari mulut penderita saat batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidung, membuang dahak sembarangan atau bahkan saat berbicara tanpa menggunakan masker. Begitu tetesan ini beterbangan di udara, siapa pun di dekatnya dapat menghirupnya.

Anak-anak yang terkena TBC kemungkinan besar tidak tertular dari teman-teman sebayanya, melainkan dari orang dewasa di sekitarnya yang menderita penyakit tersebut. Ketika orang dewasa yang menderita TBC batuk atau bersin, bakteri penyebab TBC akan menyebar ke udara. Pada saat itulah, penularan penyakit TBC ke orang-orang di sekitarnya dapat terjadi.

Salah satu faktor risiko terbesar yang dapat meningkatkan peluang anak tertular TB adalah sirkulasi udara yang buruk dalam ruangan. Bakteri tuberkulosis memang lebih mudah menyebar di ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk. Dalam lingkungan yang tertutup dan lembap, bakteri TB dapat bertahan di udara selama sekitar satu hingga dua jam. 

Sebuah penelitian dari American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine tahun 2021 melaporkan, polusi udara dalam ruangan (misalnya, karena asap rokok) terkait dengan peningkatan kemungkinan infeksi tuberkulosis laten pada anak-anak yang tinggal serumah dengan pasien tuberkulosis aktif. Beberapa penelitian pun telah menunjukkan bahwa anak yang terpapar asap rokok secara pasif mengalami peningkatan risiko TB aktif.

Selain itu, polusi udara luar ruangan yang belakangan ini semakin memburuk juga merupakan faktor risiko TB. Paparan polusi udara secara langsung dapat mempengaruhi organ pernapasan anak dan menurunkan fungsi paru-paru melalui peningkatan stres oksidatif paru dan peradangan yang terus-menerus.

Beberapa faktor risiko lain seperti riwayat imunisasi serta asupan gizi juga terbukti meningkatkan kerentanan anak terhadap infeksi TB.

Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Kejar untuk Lengkapi Imunisasi Dasar Bayi yang Tertunda

Bagaimana Cara Mengetahui Anak Terkena TBC?

TBC pada anak biasanya tidak memunculkan gejala yang spesifik dan khas sehingga bisa menyebabkan kesalahan diagnosis yang berpengaruh terhadap pengobatan dan dapat menyebabkan perburukan kondisi seiring dengan berjalannya waktu. Beberapa anak dengan tuberkulosis paru aktif juga bisa saja asimtomatik, sehingga sulit dibedakan dengan tuberkulosis laten.

Untuk itu, Mama perlu mengetahui apa saja gejala-gejala TBC yang umum terjadi pada anak. TB pada anak gejalanya tidak selalu berupa batuk. Gejala utama tuberkulosis paru pada anak meliputi kelelahan, keringat pada malam hari, lemas, penurunan berat badan atau berat badan tidak naik selama 2 bulan berturut-turut, dan anak terlihat kurang aktif sehingga tidak mau bermain.

Batuk persisten yang terjadi lebih dari 2 minggu yang makin lama makin parah dan tidak membaik dengan pemberian antibiotik juga menjadi gejala utama dari tuberkulosis paru pada anak yang umum. 

Dalam beberapa kasus, anak-anak bisa mengalami flu-like syndrome yang pulih dalam waktu seminggu. Ketika infeksi bakteri semakin berkembang, anak bisa mengalami keluhan nyeri dada, batuk, dan hemoptisis atau batuk berdahak yang disertai dengan darah (meski yang ini jarang terjadi).

Tanda dan gejala lain termasuk:

  • Demam yang umumnya tidak tinggi (berlangsung kurang lebih selama 15 hari dan atau berulang tanpa sebab, yang sering muncul di malam hari). 

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di daerah leher rahang bawah, ketiak, dan selangkangan.

  • Turunnya nafsu makan.

  • Mengalami penurunan berat badan atau berat badan tidak naik selama 2 bulan berturut-turut.

Namun, ciri-ciri di atas juga umumnya muncul serupa pada penyakit infeksi lain. Maka apabila Mama dan Papa mencurigai si Kecil pernah terpapar bakteri TBC, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis yang pasti. 

Gejala TBC yang sulit dideteksi ini menjadi tantangan utama dalam mengidentifikasi penyebab TB pada anak, sehingga diperlukan pendekatan yang menggabungkan informasi klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium pendukung.

Baca Juga: Bahaya Polusi Udara bagi Bayi dan Cara Mencegahnya

Pencegahan TBC pada Anak

Karena sifat penularan TBC yang cepat dan pengobatannya juga rumit, maka diperlukan strategi pencegahan yang tepat agar anak terhindar dari risiko paparan. Berikut cara mencegah penyakit TBC pada anak:

1. Dapatkan Vaksinasi TBC

Cara paling efektif untuk mencegah TBC pada anak yaitu dengan pemberian vaksin BCG. Pemberian vaksin ini sudah masuk dalam program imunisasi wajib yang dijadwalkan IDAI tahun 2023. Vaksin ini hanya perlu diberikan sekali dan segera setelah bayi lahir atau sebelum bayi berusia 1 bulan.

2. Optimalkan Asupan Gizi Anak

Penularan TB sangat erat kaitannya dengan masalah asupan nutrisi. Sebab, malnutrisi menurunkan imunitas tubuh anak sehingga akan meningkatkan risiko infeksi dan penyebaran TB.

Nutrisi yang buruk menyebabkan malnutrisi energi protein dan defisiensi mikronutrien yang menyebabkan defisiensi imun. Imunodefisiensi sekunder ini meningkatkan kerentanan anak terhadap infeksi dan karenanya meningkatkan risiko berkembangnya tuberkulosis.

Contoh nutrisi yang telah dibuktikan terkait dengan imunitas adalah A, D, C, E, B6 dan B12, vitamin D, folat, seng, selenium, zat besi, tembaga, dan protein (termasuk glutamin asam amino).

Ini artinya, Mama harus memastikan si Kecil makan bergizi seimbang dari banyak sayuran dan buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, protein tanpa lemak, dan sumber lemak sehat. Mama juga bisa dapatkan info lebih lengkap tentang cara meningkatkan imun tubuh si Kecil lewat asupan gizi yang berkualitas dengan men-download e-book Nutrisi dan Gizi untuk Imunitas Anak secara gratis.

3. Jauhkan Anak dari Pasien TB

TBC merupakan penyakit yang mudah menular melalui udara, terutama jika ada pasien pengidap TB di rumah yang melakukan aktivitas seperti batuk, bersin, atau berbicara.

Oleh karena itu, sebisa mungkin batasi atau hindari kontak dekat sama sekali antara anak dengan pasien. Selama di rumah, wanti-wanti pasien TB untuk selalu menggunakan masker saat berada di area ramai dan berinteraksi dengan anggota keluarga lain terutama selama tiga minggu pertama pengobatan, tutup mulut saat bersin, batuk, dan tertawa atau gunakan tisu untuk menutup mulut, serta mencuci tangan. Tisu dan masker yang sudah digunakan harus selalu langsung dimasukan ke dalam plastik dan dibuang ke kotak sampah.

Pastikan juga pasien pengidap TB selalu menaati anjuran pengobatan yang direncanakan dokter dan jangan sampai terlupa atau melewatkan mengonsumsi obat yang sudah diresepkan.

Baca Juga: 5 Cara Mudah Memperkuat Daya Tahan Tubuh Anak 

4. Jaga Kebersihan Udara Rumah

Mencegah infeksi TBC bukan hanya membutuhkan tubuh yang sehat dan imun yang kuat, tetapi juga memperhatikan kebersihan lingkungan rumah atau tempat tinggal. 

Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak lembap, misalnya dengan rutin memasang air purifier dan memastikan ventilasi udara di rumah berjalan baik. Jangan lupa bersihkan debu-debu di rumah untuk menghindari penumpukan partikel kotor yang dapat terhirup si Kecil.

Menjaga jaga diri dari polusi udara belakangan ini adalah salah satu langkah penting untuk mencegah penyebaran TBC pada anak. Mama juga bisa menghubungi Nutriclub Expert Advisor untuk konsultasi langsung bersama ahlinya terkait asupan nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh si Kecil. Yuk, atur jadwal konsultasinya sekarang, Ma!

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kemkes.go.id. https://www.kemkes.go.id/article/view/23033100001/deteksi-tbc-capai-rekor-tertinggi-di-tahun-2022.html
     
  2. Indonesia Raih Rekor Capaian Deteksi TBC Tertinggi di Tahun 2022. (2022). Kemkes.go.id. https://ayosehat.kemkes.go.id/indonesia-raih-rekor-capaian-deteksi-tbc-tertinggi-di-tahun-2022
     
  3. ‌IDAI | Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. (2022). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/professional-resources/pedoman-konsensus/pedoman-nasional-pelayanan-kedokteran-tata-laksana-tuberkulosis
     
  4. ‌IDAI | Amankah Buah Hati Anda dari Tuberkulosis? (2013). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/amankah-buah-hati-anda-dari-tuberkulosis
     
  5. ‌TB Anak TB Anak. (2010). https://sr.tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2019/12/website-tb-anak_3juli2019.pdf
     
  6. ‌Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2022). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1811/kenali-tb-pada-anak
     
  7. ‌Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2023). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/read/1108/edukasi-tbc-pada-anak-apa-yang-harus-orang-tua-ketahui
     
  8. Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. https://promkes.kemkes.go.id/mengenal-gejala-tbc-pada-anak-1
     
  9. Tahukah kalian pentingnya Terapi Pencegahan TBC (TPT) ? TBC Indonesia. https://tbindonesia.or.id/apakah-kalian-tahu-tpt-dapat-mence/
     
comment-icon comment-icon