Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Perkembangan Otak

7 Cara Mengoptimalkan Kecerdasan Kinestetik Anak

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 05 November 2021

Jika si Kecil cenderung lebih suka melakukan berbagai kegiatan fisik seperti naik sepeda, lari, berenang, atau aktif di les gymnastic, bisa jadi ia termasuk anak yang memiliki kecerdasan kinestetik. 

Kecerdasan kinestetik adalah bagian dari 8 kecerdasan majemuk anak yang penting untuk Mama bantu optimalkan sejak usia dini. Alasannya adalah karena pembelajaran kinestetik mendorong aktivitas fisik yang bagus untuk mendukung kesehatan fisiknya, serta mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional, hingga meningkatkan kapasitas otak untuk menyimpan informasi baru.

Pada akhirnya, memiliki kecerdasan kinestetik turut mengembangkan kepercayaan diri anak terhadap segala keterampilannya tersebut. Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menstimulasi kecerdasan kinestetik anak?

Ciri-Ciri Anak dengan Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan anak untuk mengkoordinasikan pikiran dengan kemampuan untuk memanipulasi objek menggunakan anggota gerak tubuhnya. Tipe kecerdasan satu ini juga memungkinkan anak untuk lebih mudah memahami ketepatan tempo dalam bergerak.

Dengan kata lain, anak mampu mengkoordinasikan anggota tubuhnya secara baik dan mampu menjaga keseimbangan saat melakukan kegiatan fisik.

Sederhananya, anak dengan tipe pembelajaran kinestetik lebih terampil dan senang beraktivitas yang melibatkan koordinasi gerakan fisik dan fokus pikiran dalam waktu bersamaan, seperti menari, sepak bola, berenang, berkuda, melukis, dan lain sebagainya. 

Umumnya anak-anak dengan kecerdasan kinestetik memiliki ciri berikut:

1. Cepat Ingat Pola Gerakan

Memori otot adalah kemampuan untuk mengulang suatu gerakan spesifik dengan tingkat akurasi yang yang baik. Kemampuan ini didapatkan dari melakukan latihan secara berulang. 

Di sini otak si kecil akan menyimpan “blueprint” bagaimana sebuah gerakan harus dilakukan sehingga ia menjadi ahli dan dapat secara otomatis melakukan gerakan tertentu. 

Hal ini umumnya membuat anak dengan kecerdasan kinestetik cepat menguasai gerakan-gerakan baru, misalnya saat belajar menari atau gerakan bela diri tertentu. 

Bahkan, terkadang anak dengan kecerdasan kinestetik yang tinggi dapat secara langsung menirukan tarian yang dilihatnya tanpa perlu diajari satu-persatu detail gerakan yang harus dilakukan.  

2. Tangan yang Terampil

Anak dengan kecerdasan kinestetik umumnya memiliki koordinasi mata dan tangan yang baik. 

Itulah alasan mengapa si Kecil sangat menguasai dan menikmati kegiatan yang melibatkan tangan dan matanya untuk membuat berbagai karya seperti merajut, melukis, meronce kalung, dan lain sebagainya. 

Selain untuk belajar, kesukaan anak bergerak aktif juga berfungsi sebagai bantuan mengingat. Si Kecil akan menggunakan badannya untuk mempelajari dan menyerap berbagai informasi baru dengan mencoba mencari objek yang bisa ia sentuh dan manipulasi. 

3. Suka Olahraga

Apabila si Kecil termasuk ke dalam kategori anak dengan kecerdasan kinestetik, ia akan secara alami memiliki kemampuan motorik kasar yang baik. 

Motorik kasar sendiri merupakan kemampuan untuk mengkoordinasikan otot-otot besar yang berada di lengan, kaki, dan toro untuk melompat, berlari, melempar, berguling, dan lain sebagainya 

Berbagai macam gerakan tersebut digunakan anak melakukan berbagai aktivitas olahraga dengan presisi yang baik. Keterampilan motorik kasar dipadukan dengan memori otot yang baik akan menghasilkan gerakan atletis dengan cemerlang. Itulah yang membuat anak dengan kemampuan kinestetik pintar berolahraga. 

Baca Juga: Mengenal Manfaat Brain Gym untuk Stimulasi Kognitif Anak

4. Belajar dengan Learning by Doing

Mama akan mendapati si Kecil cepat bosan atau terdistraksi jika belajar hanya dengan mendengarkan penjelasan satu arah yang panjang lebar. 

Si Kecil pun cenderung kesulitan dalam menerima dan mengingat informasi baru yang hanya disampaikan secara verbal. Rasa bosan tersebut kemudian akan membuat si Kecil bergerak-gerak tidak tenang di tempat duduk atau bahkan jadi tidak semangat belajar.

Padahal kesalahannya bukan terletak pada anak. Si Kecil adalah anak yang cerdas, hanya cara belajarnya saja yang kurang tepat. 

Agar dapat belajar dengan baik, Mama atau guru di sekolah perlu melibatkan si Kecil dalam proses belajar secara aktif dan memfasilitasi si Kecil dengan berbagai eksperimen yang dapat ia coba sendiri. 

Bagaimana Cara Menstimulasi Kecerdasan Kinestetik Anak Usia Dini?

Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik perlu mendapatkan lebih banyak kesempatan bergerak secara aktif dan belajar dengan menggunakan indra peraba agar dapat fokus dengan lebih baik. 

Oleh karena itu, Mama dapat menstimulasi kecerdasan kinestetik si Kecil dengan:

1. Belajar di Luar Ruangan

Duduk diam di dalam ruangan merupakan hal sangat menyiksa untuk si Kecil yang memiliki kecerdasan kinestetik.

Untuk menyiasatinya, Mama dapat mengajak si Kecil untuk belajar di luar ruangan. Gelar tikar piknik di atas rumput kemudian ajak anak mempelajari sesuatu sambil merasakan tekstur rumput atau bebatuan yang ada di bawahnya menggunakan tangan. 

Mama juga bisa memilihkan les atau kegiatan ekstrakurikuler yang banyak mengandalkan fisik seperti bela diri, menari, olahraga tim, dan sebagainya. Cara ini sekaligus akan membantunya bersosialisasi dengan teman sebaya.

2. Field Trip

Selain belajar di luar ruangan, Mama juga bisa mengajak anak pergi field trip sehingga anak dapat belajar sembari menyentuh langsung atau mempraktekkan langsung apa yang sedang dipelajari. 

Misalkan Mama mengajak si Kecil ke kebun binatang untuk mempelajari perbedaan tentang hewan karnivora dan hewan herbivora. Saat berkeliling melihat rusa, Mama dapat mengajak anak untuk berpartisipasi memberikan wortel dan kangkung sambil menjelaskan bahwa rusa adalah hewan herbivora. 

“Adik lihat rusanya makan wortel dan kangkung. Mereka lahap sekali ya makannya? Karena rusa sukanya makan sayur makanya ia disebut sebagai hewan herbivora.”

Baca Juga: Kenali Perkembangan Psikomotorik pada Anak dan Cara Stimulasinya

3. Bermain Peran

Kegiatan bermain peran atau role-playing memberikan kesempatan pada si Kecil untuk merasakan dan mempraktikkan secara langsung hal-hal yang sedang dipelajari dan kemudian direfleksikan bersama. 

Ada berbagai macam skenario yang dapat Mama mainkan bersama anak, contohnya belajar tentang pentingnya menyikat gigi dengan berpura-pura sebagai dokter gigi dan pasiennya. Skenario lain yang bisa Mama coba bersama si Kecil adalah menjadi peneliti sains atau arkeolog yang menemukan fosil dinosaurus untuk menstimulasi daya pikirnya.

4. Berolahraga

Mama dapat memenuhi kebutuhan gerak si Kecil dengan mengajaknya berolahraga.

Pasang lagu kesukaan si Kecil dan menari bersama di ruang tengah dengan gerakan bebas atau ajak si Kecil untuk menciptakan koreografi sendiri yang dihafalkan bersama Mama. 

Apabila si Kecil menunjukkan ketertarikan khusus pada kegiatan menari, Mama dapat mendaftarkan si Kecil untuk kursus balet atau tari tradisional.  

Begitu pula dengan olahraga. Mama bisa mengajak si Kecil bermain bulu tangkis, berenang, main basket, atau sekedar mengadakan lomba lari spontan dengan teman-teman di playground. 

Sedangkan, untuk memaksimalkan kegiatan olahraga si Kecil dan agar ia melakukannya dengan teknik yang tepat Mama dapat mendaftarkannya ke klub olahraga yang sesuai dengan minat si Kecil.   

Bergabung bersama klub olahraga dan sanggar tari bisa saja membuka jalan karir si Kecil sebagai atlet atau balerina profesional di masa depan.

5. Melakukan Eksperimen

Mempelajari teori lewat penjelasan verbal seperti menghafal atau membaca saja akan “masuk kuping kanan keluar kuping kiri” bagi si Kecil. Untuk itu, Mama perlu menyiapkan simulasi atau eksperimen sederhana yang dapat dilakukan bersama-sama dengan si Kecil. 

Misalkan Mama mau mengajarkan pentingnya cuci tangan dan bagaimana cara sabun bekerja membunuh kuman yang ada di tangan. 

Mama dapat menyiapkan sebuah baskom yang diisi air hingga penuh. Taburi permukaan air dengan lada bubuk sebagai perumpamaan kuman-kuman jahat. Kemudian, balurkan sabun pada permukaan jari telunjuk si Kecil. Setelah itu, ajak si Kecil untuk mencelupkan jarinya ke permukaan air baskom yang telah dipenuhi lada. Beberapa detik kemudian, butiran-butiran lada yang ada di permukaan air akan serentak menjauh.

Saat itu juga si Kecil akan berada pada “aha moment” dan memahami bahwa, “Kuman-kuman jahat takut pada sabun sehingga mereka lari menjauh dengan sangat cepat. Jadi, aku harus rajin mencuci tangan.”

6. Membuat Kerajinan 

Secara alami, anak dengan kecerdasan kinestetik memiliki keterampilan motorik halus yang baik. Tentu saja kemampuan koordinasi tangan dan mata ini tidak boleh Mama sia-siakan. 

Ajak anak untuk membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti gelang, totebag dari kain flanel dengan pola jahit sederhana, menggambar, dan lain sebagainya. 

Perhatikan mana kegiatan yang paling anak sukai dan dukung anak untuk mengembangkan keahliannya pada bidang tersebut. Siapa tahu si Kecil akan tumbuh menjadi pelukis atau desainer ternama, Ma. 

7. Menulis dengan Tangan

Anak dengan kecerdasan kinestetik dapat belajar dengan baik ketika mereka diajak  menggunakan keterampilan motorik halusnya. 

Salah satu cara yang dapat Mama ajarkan pada si Kecil yang sudah memasuki usia sekolah adalah mengajaknya menulis dengan tangan apa yang sedang dijelaskan oleh guru untuk memfasilitasi motorik halusnya. 

Menulis akan membantu si Kecil untuk memahami dan mempertahankan informasi yang disampaikan. 

Baca Juga: Menjaga Balita Saat Ia Aktif Bermain di Luar Ruangan

Selain dari stimulasi di atas, dapatkan lebih banyak lagi tips optimalkan kecerdasan kinestetik anak dari 8 Winning Skills Stimulation Kit yang sudah diuji dan divalidasi oleh para ahli. Ini adalah panduan eksklusif untuk Mama membantu si Kecil menjadi juara dalam segala hal. Yuk, segera download dan berikan si Kecil bekal terbaik untuk menang!

Penting juga untuk melengkapi stimulasi dari kegiatan sehari-hari dengan asupan nutrisi yang optimal dari makanan bergizi serta tambahan susu pertumbuhan seperti Nutrilon Royal 3 sebanyak tiga kali sehari sebagai Bekal si Kecil untuk Menang.

Nutrilon Royal 3 secara saintifik menggabungkan advanced ingredients Double Biotics FOS:GOS dan DHA EPA yang lebih tinggi dan teruji klinis sebagai "The Formula For Winning Child" untuk perkuat imunitas dan maksimalkan inteligensi anak, agar siapkan si Kecil jadi pemenang.

Yuk, Ma daftar di Nutriclub sekarang untuk dapatkan promo menarik dari pembelian susu Nutrilon dan akses ke berbagai konten parenting eksklusif yang divalidasi para ahli di bidangnya.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Ma!

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
  1. Sabriye Şener, & Ayten Çokçalışkan. (2022). An Investigation between Multiple Intelligences and Learning Styles. Journal of Education and Training Studies, 6(2), 125–132. https://redfame.com/journal/index.php/jets/article/view/2643/3122

  2. Multiple Intelligence Theory. (2022). UTHSC; UTHSC. https://www.uthsc.edu/tlc/intelligence-theory.php#:~:text=Bodily%20kinesthetic%20intelligence%20is%20the,well%2Ddeveloped%20bodily%20kinesthetic%20intelligence.

  3. Gardner’s Theory of Multiple Intelligences. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/gardners-theory-of-multiple-intelligences-2795161

  4. Belsky, G. (2019, August 5). What are gross motor skills? Understood.org. https://www.understood.org/en/articles/all-about-gross-motor-skills

  5. Bodily Kinesthetic Intelligence Bodily Kinesthetic Intelligence International Montessori Schools and Child Development Centres Brussels, Belgium. (n.d.). Retrieved March 9, 2023, from https://www.international-montessori.org/swfiles/files/Bodily-Kinesthetic-Intelligence.pdf

  6. ‌Stafford Global. (2020, December 9). The 3 Main Learning Styles: Kinaesthetic, Visual and Auditory Learning styles. Stafford Global; Stafford Global. https://www.staffordglobal.org/articles-and-blogs/education-articles-and-blogs/3-main-learning-styles/

  7. Alhamdu Alhamdu, Chintia Viranda, & Listya Istiningtyas. (2019, June 26). Bermain Peran (Role Play) dan Peningkatan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. ResearchGate; Universitas Mulawarman. https://www.researchgate.net/publication/335261695_Bermain_Peran_Role_Play_dan_Peningkatan_Keterampilan_Sosial_Anak_Usia_Dini

  8. Pepper. (2013, January 8). Education.com. Education.com; Education.com. https://www.education.com/science-fair/article/pepper-and-soap-experiment/

Artikel Terkait
floating-icon