Penyakit autoimun pada anak terjadi ketika sistem imun keliru menyerang sel atau jaringan tubuh yang sehat. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti kelelahan, demam berulang, ruam, nyeri sendi, hingga gangguan pertumbuhan. Beberapa jenisnya meliputi lupus, Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA, diabetes tipe 1, dan penyakit celiac.
Apa Itu Penyakit Autoimun?
Penyakit autoimun pada anak terjadi ketika sistem imun keliru menyerang sel atau jaringan tubuh yang sehat.
Normalnya, sistem imun beraksi melawan zat asing yang berbahaya seperti bakteri, virus, dan zat asing penyebab penyakit.
Pada autoimun, tubuh menganggap jaringan tubuh sendiri sebagai zat asing dan memproduksi sel kekebalan untuk melawannya.
Jadi, autoimun berbeda dengan sistem imun yang lemah karena sistem imun justru salah mengenali target.
Ciri Anak Terkena Penyakit Autoimun Apa Saja?
Gejala penyakit autoimun sering kali samar dan mirip dengan infeksi biasa. Namun, jika terjadi secara terus-menerus atau berulang, orang tua sebaiknya mulai waspada.
1. Demam Berulang atau Berkepanjangan
Demam yang berulang atau berlangsung tanpa penyebab jelas dapat menjadi salah satu gejala penyakit autoimun pada anak.
Demam juga dapat disertai kelelahan, nyeri sendi, atau perubahan kulit.
2. Kelelahan yang Tidak Biasa
Si Kecil yang memiliki autoimun biasanya ditandai dengan perasaan sangat lelah atau kurang berenergi meskipun sudah cukup beristirahat.
Kelelahan dapat muncul bersama demam, nyeri sendi, atau gejala lainnya.
3. Nyeri atau Bengkak pada Sendi
Nyeri, bengkak, rasa hangat, dan kaku pada sendi merupakan gejala yang dapat muncul pada penyakit autoimun atau peradangan yang memengaruhi persendian anak.
Keluhan sendi juga dapat menyebabkan si Kecil berjalan pincang, kesulitan menekuk atau meluruskan sendi.
4. Ruam atau Perubahan Kulit
Ruam dan perubahan kulit dapat muncul ketika penyakit autoimun memengaruhi jaringan kulit.
Perubahannya dapat berupa kemerahan, bercak, ruam, kulit yang lebih sensitif terhadap sinar matahari, atau luka pada mulut (sariawan).
5. Gangguan Pencernaan Berulang
Gangguan pencernaan berulang dapat menjadi ciri penyakit autoimun pada anak.
Gejalanya dapat berupa diare, kembung, nyeri perut, atau perubahan pola buang air besar.
6. Berat Badan Turun Tanpa Sebab Jelas
Ciri autoimun pada anak selanjutnya yang perlu Mama waspadai, yaitu ketika berat badan turun tanpa sebab jelas.
Kondisi ini juga dapat membuat berat badan sulit bertambah atau pertumbuhan melambat.
7. Rambut Rontok atau Bercak Kebotakan
Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan dapat menyerang folikel rambut sehingga menyebabkan rambut rontok atau muncul bercak kebotakan.
8. Gejala Spesifik Sesuai Organ yang Terdampak
Gejala penyakit autoimun pada anak dapat berbeda sesuai organ yang terdampak, seperti perubahan urine, pembengkakan, mata merah, atau nyeri.
Jika beberapa gejala muncul bersamaan atau berulang, si Kecil perlu diperiksa oleh dokter.
Apa Saja Gejala Awal Autoimun?
Gejala autoimun pada anak dapat menyerupai penyakit lain, terutama jika menetap, berulang, atau disertai perubahan fungsi organ.
Beberapa hal yang dapat menjadi perhatian, yaitu:
- Gejala menetap atau berulang, terutama jika keluhan muncul dalam jangka waktu lama atau kambuh.
- Beberapa gejala muncul bersamaan, misalnya keluhan pada kulit, sendi, dan kondisi tubuh secara umum.
- Keluhan tidak membaik dengan penanganan biasa atau justru semakin berat.
- Pertumbuhan atau berat badan terganggu, seperti berat badan sulit bertambah atau pertumbuhan melambat.
- Terjadi perubahan fungsi organ, misalnya perubahan urine atau gangguan pada mata.
Tidak semua demam, ruam, diare, kelelahan, atau perubahan berat badan menandakan autoimun. Diagnosis perlu ditegakkan melalui pemeriksaan dokter.
Baca Juga: 15 Buah Penambah Imun yang Baik untuk Daya Tahan Tubuh Anak
Apa Penyebab Autoimun pada Anak?
Penyakit autoimun pada anak tidak muncul tanpa sebab. Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak mengembangkan kondisi ini sejak dini.
1. Faktor Genetik
Anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit autoimun jika ada anggota keluarga yang juga mengidap kondisi serupa.
Meskipun tidak selalu diwariskan secara langsung, gen tertentu dapat meningkatkan kepekaan sistem imun.
2. Faktor Lingkungan
Infeksi virus atau bakteri tertentu bisa memicu respons imun abnormal pada anak.
Selain itu, paparan bahan kimia seperti pestisida atau polusi juga dapat mengganggu keseimbangan sistem imun.
Kondisi ini makin diperparah jika lingkungan tempat tinggal kurang bersih atau terlalu sering terpapar polutan.
3. Infeksi atau Pemicu Tertentu
Infeksi tertentu, seperti virus atau bakteri, diduga dapat memicu reaksi sistem imun pada anak yang rentan.
Hal ini dapat berperan dalam munculnya beberapa jenis penyakit autoimun.
4. Faktor Lain yang Berbeda pada Setiap Penyakit
Selain faktor genetik dan lingkungan, pemicu penyakit autoimun dapat berbeda sesuai jenis penyakitnya.
Faktor seperti hormon, pola makan, atau kondisi tertentu dapat berperan pada penyakit autoimun tertentu, tetapi belum tentu berlaku pada semua jenis autoimun.
Jenis Penyakit Autoimun pada Anak
Penyakit autoimun pada anak dapat memengaruhi berbagai organ atau sistem tubuh. Beberapa jenis yang dapat ditemukan pada anak antara lain:
Autoimun yang Memengaruhi Sendi
- Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA): penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi anak dan remaja.
- Lupus (SLE): penyakit autoimun yang dapat menyebabkan peradangan pada berbagai bagian tubuh, termasuk sendi, kulit, ginjal, otak, jantung, dan paru-paru.
Autoimun yang Memengaruhi Kulit
- Psoriasis: penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan kulit hingga muncul bercak atau plak bersisik dan dapat memengaruhi sendi.
- Vitiligo: kondisi autoimun yang menyebabkan sel penghasil pigmen kulit (melanosit) rusak sehingga muncul bercak kulit yang kehilangan warna.
- Alopecia areata: penyakit autoimun yang membuat sistem imun menyerang akar rambut sehingga menyebabkan kerontokan rambut, sering kali berupa bercak-bercak.
Autoimun yang Memengaruhi Saluran Cerna
- Penyakit celiac: penyakit autoimun akibat reaksi terhadap gluten yang merusak usus halus dan mengganggu penyerapan nutrisi.
- Kolitis ulseratif: penyakit yang menyebabkan peradangan pada usus besar dan rektum hingga memicu diare dan feses berdarah.
Autoimun yang Memengaruhi Kelenjar
- Diabetes tipe 1: sistem imun menyerang sel beta di pankreas sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin.
- Hashimoto: sistem imun menyerang kelenjar tiroid sehingga dapat menyebabkan produksi hormon tiroid menurun.
- Penyakit Addison: kerusakan autoimun pada kelenjar adrenal dapat menyebabkan tubuh kekurangan hormon yang diproduksi kelenjar tersebut.
Autoimun yang Memengaruhi Darah, Otot, dan Sistem Saraf
- Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP): kondisi ketika sistem imun menyerang trombosit sehingga jumlahnya menurun dan risiko perdarahan meningkat.
- Multiple Sclerosis (MS): penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, termasuk lapisan pelindung serabut saraf (mielin).
- Juvenile Dermatomyositis (JDM): penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan dan kelemahan otot serta ruam kulit.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak
Bahayakah Autoimun pada Anak?
Penyakit autoimun pada anak tidak selalu menyebabkan kondisi yang berat. Dampaknya berbeda, tergantung jenis penyakit dan bagian tubuh yang terkena.
Beberapa kondisi dapat terkendali dengan pengobatan.
Sementara penyakit tertentu dapat memengaruhi organ dan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.
Apakah Autoimun Bisa Menyebabkan Komplikasi?
Autoimun pada anak dapat menyebabkan komplikasi jika peradangan berlangsung terus dan mengganggu jaringan atau organ tubuh.
Tingkat keparahannya dapat berbeda, tergantung jenis penyakit, organ yang terkena, dan seberapa aktif peradangannya.
Journal of Pediatric Rheumatology (2018) menyebutkan bahwa pengobatan lebih awal dapat membantu memperbaiki hasil pengobatan autoimun.
Bagaimana Autoimun pada Anak Didiagnosis?
Diagnosis autoimun pada anak dilakukan melalui beberapa tahap karena tidak ada satu pemeriksaan yang dapat mendiagnosis semua jenis autoimun.
1. Riwayat Kesehatan dan Keluarga
Dokter akan menanyakan gejala yang dialami anak, riwayat penyakit sebelumnya, serta riwayat penyakit autoimun dalam keluarga.
Informasi ini membantu dokter memahami pola keluhan dan mempertimbangkan kemungkinan penyakit autoimun maupun kondisi lain dengan gejala serupa.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat tanda-tanda yang berkaitan dengan keluhan anak, seperti perubahan pada sendi, kulit, otot, atau bagian tubuh lain.
Hasil pemeriksaan membantu dokter menentukan pemeriksaan lanjutan yang mungkin diperlukan.
3. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah dapat membantu dokter melihat tanda peradangan atau antibodi tertentu yang berkaitan dengan penyakit autoimun.
4. Pemeriksaan Imaging
Dokter dapat menggunakan pemeriksaan imaging untuk melihat kondisi jaringan atau organ yang berkaitan dengan gejala anak.
Jenis pemeriksaan dapat berupa rontgen (X-ray), USG, atau MRI, tergantung kondisi yang dicurigai.
5. Pemeriksaan Lanjutan Sesuai Gejala
Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan berdasarkan gejala dan organ yang mungkin terlibat.
Pemeriksaan lanjutan dapat meliputi tes urine, fungsi organ, biopsi, pemeriksaan saraf, atau pengambilan cairan sendi.
Baca Juga: Imunisasi Wajib Anak 1 Tahun dan Tips Mengurangi Rewel
Bagaimana Cara Mengobati Autoimun pada Anak?
Berikut beberapa pilihan pengobatan autoimun pada anak yang dapat membantu mengendalikan gejala, mengurangi peradangan, serta mencegah kerusakan organ.
1. Obat untuk Mengendalikan Peradangan
Obat antiinflamasi dapat digunakan untuk membantu mengurangi peradangan dan meredakan gejala autoimun.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan kortikosteroid untuk membantu mengendalikan peradangan.
2. Obat yang Memodulasi Sistem Imun
Pada beberapa penyakit autoimun, dokter dapat memberikan obat untuk menekan atau memodulasi respons sistem imun.
Terapi ini membantu mengendalikan aktivitas penyakit dan mencegah kerusakan jaringan.
3. Terapi Pengganti Hormon
Pada penyakit autoimun tertentu, terapi pengganti hormon dapat diberikan untuk memenuhi hormon yang kurang diproduksi tubuh.
4. Fisioterapi atau Terapi Pendukung
Fisioterapi dapat menjadi bagian dari perawatan jika autoimun memengaruhi tulang, sendi, atau otot.
Terapi ini dapat membantu mempertahankan atau meningkatkan kemampuan bergerak anak.
5. Pemantauan Organ
Jika autoimun memengaruhi organ tertentu, dokter akan memeriksa secara berkala untuk memantau kondisi organ dan respons terhadap pengobatan.
Baca Juga: Vitamin untuk Anak yang Mudah Sakit
Apa Autoimun pada Anak Bisa Sembuh?
Autoimun pada anak tidak bisa sembuh total karena hasilnya bergantung pada jenis penyakit dan kondisi anak.
Beberapa dapat mencapai remisi, tetapi remisi bukan berarti sembuh, sementara lainnya membutuhkan terapi jangka panjang.
Pengobatan bertujuan mengontrol penyakit dan mencegah kerusakan organ. Kondisi setiap anak dapat berbeda.
Bisakah Autoimun pada Anak Dicegah?
Penyakit autoimun pada anak belum dapat dicegah secara pasti, tetapi kesehatan dapat dijaga dan penyakit bisa dikelola setelah diagnosis.
1. Menjaga Pola Hidup Sehat
Pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan anak selama pengobatan.
Lengkapi juga nutrisi si Kecil dengan memberikan susu pertumbuhan terbaik untuk mendukung tumbuh kembangnya dengan kandungan FOS:GOS dan DHA EPA yang lebih tinggi.
2. Mencegah dan Menangani Infeksi Sesuai Anjuran Dokter
Anak dengan penyakit autoimun tertentu dapat lebih rentan mengalami infeksi, terutama saat menggunakan obat yang menekan sistem imun.
Menjaga kebersihan tangan, menghindari paparan orang sakit, dan mengikuti anjuran dokter dapat membantu mengurangi risiko infeksi.
3. Mengikuti Pengobatan dan Kontrol
Setelah diagnosis, berikan obat sesuai anjuran dokter dan lakukan kontrol secara rutin.
Hal ini dapat membantu mengendalikan penyakit, memantau kondisi anak, dan menyesuaikan pengobatan bila diperlukan.
Apakah Autoimun pada Anak Menular?
Penyakit autoimun pada anak tidak menular dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak biasa.
Autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel atau jaringan tubuh yang sehat.
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?
Anak sebaiknya diperiksakan ke dokter jika mengalami salah satu kondisi berikut:
- Gejala berlangsung lama atau sering berulang
- Berat badan atau pertumbuhan anak terganggu
- Nyeri atau pembengkakan menetap
- Muncul ruam yang tidak biasa atau berulang
- Anak sangat lelah tanpa sebab yang jelas
- Beberapa gejala muncul bersamaan
Jika anak mengalami gejala berat atau tanda kegawatdaruratan, segera bawa ke layanan medis untuk mendapatkan pertolongan ya, Ma.
Sistem imun yang kuat membantu si Kecil tetap aktif belajar, bermain, dan bereksplorasi setiap hari. Jadi member Nutriclub untuk mendapatkan berbagai informasi expert-verified seputar daya tahan tubuh anak dan cara mendukung kesehatannya secara optimal. Nikmati juga berbagai keuntungan member eksklusif, mulai dari akses ke konten expert-verified, penawaran spesial, hingga kesempatan mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai exclusive rewards dari Nutriclub. Temukan Nutrilon Royal 3 hanya di NutriShop, official store dengan pengalaman belanja terpercaya.
