Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

penyakit-auto-imun-pada-anak
Imunitas

4 Jenis Penyakit Autoimun yang Umum Terjadi Pada Anak

23 Agustus 2021

Penyakit autoimun terbilang sangat jarang terjadi pada anak-anak. Namun, Mama perlu waspada apabila Mama atau salah satu anggota keluarga menderita penyakit autoimun. Sebab, beberapa jenis penyakitnya dipengaruhi genetik yang dapat menurun dari orang tua ke anak. Oleh karena itu, Mama juga harus memahami apa penyebabnya dan apa saja jenis-jenis penyakit autoimun yang umum dialami anak-anak.

Penting juga bagi orangtua untuk memahami bahwa penyakit autoimun bukanlah kesalahan anak atau orangtua, dan dukungan serta pemahaman keluarga sangat penting untuk membantu anak menghadapi kondisi ini.

Nah Mama, mari simak penjelasan berikut!

Apa Itu Penyakit Autoimun?

Penyakit autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh anak menyerang dan merusak jaringan tubuh sendiri. Biasanya, sistem kekebalan tubuh bekerja untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus, atau zat asing lainnya. Namun, pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh anak menjadi bingung dan menganggap sel-sel atau jaringan tubuhnya sendiri sebagai musuh.

Contohnya, bayangkan jika anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik. Tubuhnya mungkin akan menyerang sel-sel kulitnya sendiri, menyebabkan masalah kulit seperti ruam atau bisul. Pada kasus lain, mungkin sistem kekebalan tubuh anak menyerang sendi-sendi, sehingga menyebabkan nyeri sendi pada usia dini.

Meskipun penyakit autoimun tidak bisa sembuh sepenuhnya, tapi dokter bisa membantu mengelola gejala anak dengan menggunakan berbagai pengobatan dan perawatan. ​​Sebab, penyakit autoimun yang menyerang organ tubuh tertentu bisa saja menimbulkan kerusakan organ bila tidak ditangani dengan benar.

Gejala Penyakit Autoimun pada Anak

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kita yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan penyakit, malah menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Jadi, tubuh kita seakan-akan sedang melawan dirinya sendiri.

Hingga kini tercatat ada sekitar 80 jenis penyakit autoimun yang telah berhasil didiagnosis, dengan gejala yang berbeda-beda. Penyakit autoimun bisa mempengaruhi berbagai bagian tubuh dan gejalanya bisa bervariasi tergantung pada jenis yang dialami anak.

Tanda-tanda penyakit autoimun pada anak yang harus diperhatikan:

  • Kelelahan yang berlebihan: Orang yang mengalami penyakit autoimun sering merasa lelah secara terus-menerus dan tidak bisa pulih meskipun sudah beristirahat dengan cukup.

  • Nyeri otot dan sendi: biasanya berupa rasa nyeri, bengkak, dan kekakuan pada otot dan sendi. Beberapa penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis (rematik), lupus, dan fibromyalgia, seringkali menyebabkan gejala ini.

  • Gangguan kulit: Kulit bisa mengalami perubahan seperti ruam, gatal, atau bahkan luka yang sulit sembuh. Contoh penyakit autoimun yang mempengaruhi kulit adalah psoriasis dan vitiligo.

  • Masalah pencernaan: Beberapa penyakit autoimun dapat mempengaruhi saluran pencernaan, menyebabkan gejala seperti perut kembung, diare, konstipasi (sembelit), dan nyeri perut.

  • Perubahan berat badan: Penyakit autoimun kadang-kadang dapat menyebabkan perubahan berat badan yang tidak wajar, baik penurunan berat badan atau peningkatan berat badan yang tiba-tiba.

  • Masalah tiroid: Gangguan autoimun seperti penyakit Hashimoto atau Graves dapat mempengaruhi kelenjar tiroid, menyebabkan masalah seperti penurunan energi, penambahan berat badan, atau gangguan hormon.

Penting untuk diingat bahwa gejala penyakit autoimun dapat bervariasi tergantung pada jenis penyakit dan organ yang terkena. Jika si Kecil mengalami gejala-gejala ini, Mama dan Papa sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis yang tepat dan pengobatan yang diperlukan.

Faktor Risiko Penyakit Autoimun pada Anak

Karena penyakit autoimun ada banyak jenisnya, faktor risiko yang mempengaruhi anak bisa berbeda-beda tergantung penyakitnya. Namun, secara umum, para peneliti telah menemukan kaitan yang kuat dengan faktor-faktor berikut:

  • Jenis Kelamin: Anak perempuan hampir tiga kali lebih mungkin terkena penyakit autoimun dibandingkan anak laki-laki. Namun, diabetes tipe 1 mempengaruhi anak laki-laki dan perempuan hampir sama.

  • Umur: Sebagian besar penyakit autoimun menyerang orang dewasa muda dan paruh baya. Beberapa penyakit dimulai secara khusus pada masa kanak-kanak, seperti juvenile rheumatoid arthritis (rematik pada anak) dan dermatomiositis juvenil.

  • Genetika: Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun membuat anak berisiko lebih tinggi. Faktanya, diperkirakan sekitar sepertiga dari risiko mengembangkan penyakit autoimun terkait dengan sesuatu dalam gen anak.

  • Ras: Beberapa laporan menunjukkan bahwa anak-anak dari ras yang berbeda mungkin lebih rentan terhadap penyakit autoimun tertentu. 

  • Penyakit lain: Anak-anak dengan satu penyakit autoimun cenderung berisiko lebih tinggi terkena penyakit lain. Misalnya, anak-anak dengan diabetes tipe 1 tampaknya lebih rentan terkena penyakit celiac atau penyakit Addison.

Menurut para ahli, diagnosis biasanya sulit ditegakkan karena banyak sekali gejala penyakit autoimun yang tidak spesifik sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut seperti pemeriksaan darah (blood marker autoimmune) dan juga biopsi jaringan apabila diperlukan untuk mendiagnosa penyakit autoimun.

Baca Juga: 12 Cara Menurunkan Panas Pada Anak dengan Cepat dan Efektif

Jenis Penyakit Autoimun yang Umum pada Anak

Pada penyakit autoimun, imun tubuh menyerang jaringan normal yang sehat. Penyebabnya tidak diketahui. Ini bisa menjadi kombinasi gen seseorang dan sesuatu di lingkungan yang memicu gen tersebut.

Lima penyakit autoimun yang paling umum terjadi pada anak-anak adalah:

1. Diabetes Tipe 1

Pada diabetes tipe ini, sistem kekebalan tubuh anak menyerang sel-sel di pankreasnya yang membuat insulin. Insulin adalah hormon yang digunakan tubuh untuk memungkinkan gula (glukosa) memasuki sel untuk menghasilkan energi.

Diabetes tipe 1 adalah kondisi autoimun yang diduga sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan dipicu oleh faktor luar. Gen tertentu, seperti yang berkaitan dengan fungsi sistem kekebalan, juga berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 1.

Gejala diabetes tipe 1 dapat muncul tiba-tiba dan mungkin termasuk:

  • Merasa lebih haus dari biasanya.
  • Banyak buang air kecil.
  • Mengompol pada anak yang tidak pernah mengompol pada malam hari.
  • Merasa sangat lapar.
  • Menurunkan berat badan tanpa berusaha.
  • Merasa mudah tersinggung atau mengalami perubahan suasana hati lainnya.
  • Merasa lelah dan lemah.
  • Mengalami penglihatan kabur.

Konsultasilah ke dokter jika Mama melihat salah satu gejala di atas pada anak Mama.

2. Juvenile Arthritis Rheumatoid (Rematik)

Juvenile Arthritis Rheumatoid atau juvenile idiopathic arthritis (JIA) adalah bentuk radang sendi pada anak-anak yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan sehat pada persendian tubuh. JIA disebabkan oleh beberapa hal, termasuk gen dan lingkungan. Artinya, penyakit ini bisa menurun dalam keluarga, tapi bisa juga dipicu oleh paparan hal-hal tertentu.

Arthritis menyebabkan pembengkakan sendi (peradangan) dan kekakuan sendi. JIA adalah artritis yang menyerang satu atau lebih sendi selama minimal 6 minggu pada anak berusia 16 tahun atau lebih muda.

Rematik pada anak tidak seperti rematik yang umum menyerang orang dewasa. Jika rematik pada orang dewasa umumnya berlangsung (kronis) dan seumur hidup, arthritis pada anak-anak dapat diatasi dan disembuhkan. Akan tetapi, penyakit ini dapat mempengaruhi perkembangan tulang pada anak yang sedang tumbuh.

Baca Juga: Ketahui Lebih Lengkap Masalah Talasemia Pada Bayi dan Anak

3. Lupus

Systemic lupus erythematosus (SLE), adalah jenis lupus yang paling umum. SLE adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh anak menyerang jaringannya sendiri, menyebabkan peradangan luas dan kerusakan jaringan pada organ yang terkena. Lupus dapat mempengaruhi persendian, kulit, otak, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah.

Penyebab lupus tidak diketahui, namun diyakini terkait dengan faktor lingkungan, genetik, dan hormonal. Apa saja tanda-tanda dan gejalanya?

Anak yang memiliki lupus mungkin mengalami berbagai gejala yang meliputi kelelahan, ruam kulit, demam, dan nyeri atau bengkak pada persendian. Gejala lain dapat mencakup kepekaan terhadap sinar matahari, sariawan, radang sendi, masalah paru-paru, masalah jantung, masalah ginjal, kejang, psikosis, hingga kelainan sel darah dan gangguan imun.

4. Penyakit Celiac

Penyakit Celiac adalah penyakit autoimun yang paling sering didiagnosis pada anak-anak – lebih sering dikaitkan dengan anak berusia 3 tahun ke bawah.

Penting juga untuk dicatat bahwa penyakit ini biasanya terjadi setelah gandum atau gluten diperkenalkan kepada anak, biasanya saat anak berusia antara enam hingga sembilan bulan. Namun, beberapa anak dapat mengembangkan kondisi tersebut beberapa tahun kemudian.

Jika Mama mencurigai si Kecil mengalami penyakit Celiac, ia mungkin menunjukkan satu atau kombinasi dari gejala berikut:

  • Nafsu makan menurun
  • Sembelit
  • Sakit perut
  • Diare
  • Kembung
  • Sakit perut (kram)
  • Mual
  • Muntah
  • Kelelahan

Kasus penyakit Celiac yang parah pada anak-anak dapat dimulai dengan diare yang berlangsung hari demi hari, dan biasanya diikuti penurunan berat badan atau dehidrasi.

Jika demikian, penting bagi Mama dan Papa segera membawa si Kecil ke dokter karena mungkin ada faktor mendasar lainnya yang dapat berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

5. Thrombocytopenic Purpura (ITP)

Immune thrombocytopenic purpura (ITP) atau purpura trombositopenik autoimun adalah kelainan darah yang ditandai dengan penurunan jumlah trombosit dalam darah.

Penyakit ini disebabkan oleh reaksi kekebalan yang menyerang trombosit sehat. Trombosit adalah sel dalam darah yang membantu menghentikan pendarahan. Penurunan trombosit dapat menyebabkan anak mudah mengalami memar, gusi berdarah, dan pendarahan internal. 

Pada ITP, sistem kekebalan dirangsang untuk menyerang trombosit tubuh Anda sendiri. Paling sering ini adalah hasil dari produksi antibodi terhadap trombosit. Dalam sejumlah kecil kasus, sejenis sel darah putih yang disebut sel-T akan langsung menyerang trombosit. 

ITP mungkin disebabkan oleh efek samping obat-obatan (termasuk obat bebas), infeksi virus (termasuk virus penyebab cacar air, hepatitis C), dan gangguan kekebalan (seperti rheumatoid arthritis dan lupus). Terkadang penyebab purpura trombositopenik imun tidak diketahui.

Baca Juga: 10 Penyebab Anak Gampang Sakit dan Penyakit Umum Balita

Selain lima jenis yang paling umum di atas, ada banyak lagi penyakit autoimun yang dapat terjadi pada anak, seperti hepatitis autoimun (ketika sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyerang virus, bakteri dan patogen lainnya, malah menyerang hati) dan penyakit Kawasaki (penyakit peradangan pada pembuluh darah yang dapat berkembang menjadi penyakit jantung). 

Tidak ada yang tahu persis apa yang menyebabkan penyakit autoimun, tetapi tampaknya banyak faktor yang terlibat. Jika anak Mama memiliki kelainan sistem kekebalan, penting untuk belajar sebanyak mungkin dan bekerja sama dengan dokter keluarga untuk mengelolanya.

Cara Mengobati Penyakit Autoimun pada Anak

Sebagian besar penyakit yang tergolong penyakit autoimun belum dapat disembuhkan. Pada tahap ini, belum ada obat yang diketahui untuk penyakit autoimun dan belum ada vaksin yang terbukti dapat mencegahnya.

Akan tetapi, gejala yang timbul dapat diringankan dan dicegah agar tidak terjadi flare atau kekambuhan.

Berikut beberapa cara untuk mengendalikan penyakit autoimun pada anak:

1. Obat-obatan

Obat-obatan yang dapat diberikan untuk menangani penyakit autoimun meliputi:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen atau aspirin, untuk mengatasi nyeri.
  • Obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid, untuk menghambat perkembangat penyakit fan memelihara fungsi organ tubuh.
  • Obat anti-TNF, seperti infliximab, untuk mencegah peradangan akibat penyakit autoimun rheumatoid arthritis dan psoriasis.

2. Terapi Pengganti Hormon

Terapi pengganti hormon dilakukan jika anak menderita penyakit autoimun yang menghambat produksi hormon di dalam tubuh. Contohnya, pemberian suntik insulin pada penderita diabetes tipe 1 untuk mengatur kadar gula darah atau pemberian hormon tiroid bagi anak penderita tiroiditis.

Gejala penyakit autoimun anak dapat berubah seiring waktu. Mereka mungkin mengalami remisi, di mana si Kecil memiliki gejala minimal atau tanpa gejala, atau bisa kambuh (flare up) dan memperburuk penyakitnya. Meski tidak bisa disembuhkan, beberapa gejalanya bisa diobati sehingga anak-anak dengan penyakit autoimun dapat hidup normal.

Beberapa ahli mengatakan bahwa makanan dan olahraga dapat bantu mengelola penyakit autoimun. Bicaralah dengan dokter anak Mama tentang rencana perubahan gaya hidup yang ideal bagi si Kecil, termasuk seputar asupan nutrisi yang ideal serta jenis dan jumlah olahraga yang tepat untuk kondisinya.

Semoga informasi ini mencerahkan Mama mengenai penyakit autoimun pada anak, ya. Untuk informasi lebih lengkap seputar kesehatan dan panduan tumbuh kembang anak, Mama bisa konsultasikan lebih lanjut dengan Nutriclub Expert Advisor yang siap 24/7 menjawab pertanyaan Mama. Yuk, buat janji konsultasinya sekarang!

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
  1. Immune Disorders in Kids | Children’s Healthcare of Atlanta. (2021). Children’s Healthcare of Atlanta. https://www.choa.org/parent-resources/immune-systems/immune-system-disorders-in-kids
  2. Type 1 diabetes - Symptoms and causes. (2023). Mayo Clinic; https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-1-diabetes/symptoms-causes/syc-20353011
  3. Juvenile Rheumatoid Arthritis. (2021, April 5). Hopkinsmedicine.org. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/arthritis/juvenile-idiopathic-arthritis
  4. CDC. (2023, January 31). Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/lupus/facts/detailed.html
  5. ‌NHS Choices. (2023). Overview - Coeliac disease. https://www.nhs.uk/conditions/coeliac-disease/
  6. Clinic, C. (2021). Autoimmune Diseases: Causes, Symptoms, What Is It & Treatment - Cleveland Clinic. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21624-autoimmune-diseases#management-and-treatment
Artikel Terkait
floating-icon