Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini dan Tips Stimulasinya

Stimulasi

Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini dan Tips Stimulasinya

Article By : Annisa Amalia Ikhsania

Perkembangan bahasa merupakan salah satu aspek milestone anak yang perlu diperhatikan orang tua. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan untuk berpikir, mengekspresikan perasaan, dan menerima pikiran dan perasaan orang lain. Keterampilan ini menjadi modal utama untuk si Kecil bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sampai ia dewasa nanti.

Lantas, bagaimana perkembangan bahasa anak usia 1-5 tahun? Yuk, simak penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut ini!

Seperti Apa Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini? 

Perkembangan bahasa adalah proses yang mencakup kemampuan untuk berkomunikasi secara dua arah dan memahami ucapan lawan bicaranya sesuai tahapan usia anak. Keterampilan berbahasa sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan dan perkembangan otak anak 

Kemampuan bahasa sendiri terbagi menjadi dua, yaitu reseptif dan ekspresif. Kemampuan reseptif adalah kemampuan memahami bahasa dan suara, misalnya anak mampu menggabungkan dua sampai tiga kata. 

Sementara itu, kemampuan bahasa ekspresif adalah kemampuan menggunakan kata dan gerak tubuh secara bersamaan untuk mengomunikasikan sesuatu. Contohnya, ketika anak bicara dengan celoteh panjang yang tidak bisa dipahami, tapi ia mampu menirukan irama, ritme, dan gestur pembicaraan orang dewasa.

Walau begitu, tahapan perkembangan bahasa tiap anak tentu berbeda-beda, Ma. Bahkan, umumnya anak perempuan mengalami perkembangan bahasa yang lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Perbedaan ini sangat dipengaruhi oleh banyak aspek. Maka itu, perlu Mama pahami bahwa tiap anak itu unik dan memiliki cara berkembangnya sendiri.

Bagaimana Tahap Perkembangan Bahasa Anak Usia 1-5 Tahun? 

Aspek perkembangan bahasa anak usia 1-5 tahun cukup kompleks dan fasenya berbeda-beda pada setiap anak. Oleh karena itu, Mama harus mengenali tahap perkembangan bahasa anak usia dini agar bisa memantau perkembangannya dengan baik. 

Beberapa tahap perkembangan bahasa anak usia dini yang Mama wajib ketahui yakni sebagai berikut:

1. Anak Usia 0-12 Bulan

Tahapan perkembangan bahasa anak usia dini yang pertama dimulai dari si Kecil baru lahir hingga memasuki usia 12 bulan. Tahukah, Ma? Sebetulnya, bayi sudah dapat berkomunikasi sejak lahir walaupun masih dalam bentuk tangisan. 

Bayi baru lahir sampai ia berusia di bawah 6 bulan sudah bisa paham apa yang Mama ucapkan padanya. Jadi, bila Mama bersuara atau membunyikan benda bersuara di dekat si Kecil, ia akan langsung menoleh ke arah sumber suara atau sumber bunyi tersebut. 

Ia juga sudah bisa merespon suara Mama dan menunjukkannya dengan memberikan ekspresi tertentu kepada lawan bicaranya, entah itu senang, sedih, kecewa, atau takut. Lalu, menginjak usia 6 bulan, Mama mungkin akan sering mendengarnya mengeluarkan kata-kata, seperti “ma-ma-ma-ma”, “ba-ba-ba-ba”, “da-da-da-da” atau “mi-mi-mi”. 

Namun, ini tidak dihitung bahwa bayi bisa bicara ya, Ma! Karena di usia awal ini ucapan anak belum memiliki makna dan ia juga belum mengerti apa yang ia ucapkan.

Pada usia 7-12 bulan, si Kecil akan mulai lebih sering berceloteh, Ma. Sekarang anak sudah bisa memahami kata-kata sederhana, seperti “tidak” atau “stop”. Di usia ini pula si Kecil akan mulai mengucapkan beberapa kata pertama, seperti Mama atau nama panggilan kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak juga mulai memahami dan melakukan perintah sederhana, seperti “Ayo, tepuk tangan!” atau “Dadah-nya mana?” Jika melihat Mama atau Papanya, ia mungkin akan mengucapkan “Ayah” atau “Ma-ma, ma-ma” untuk Mama.

Selain itu, si Kecil sudah bisa menggunakan gestur tubuhnya untuk berkomunikasi, bahkan menyebut ujung sebuah kata walaupun masih sulit mengucapkannya dengan sempurna. 

Sebagai contoh, si Kecil menyebut “Cing” yang berarti “kucing”, “Cak” yang berarti cicak, “Guk” yang berarti “anjing” (guguk).

2. Anak Usia 1-2 Tahun

Perkembangan bahasa anak usia 1-2 tahun mulai mengalami perkembangan. Di rentang usia ini, si Kecil sudah bisa mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Jadi, janget kaget, kalau buah hati mulai bisa mengikuti atau meniru apa yang diucapkan oleh orang tuanya, ya. 

Untuk itu, sebaiknya Mama, Papa, dan anggota keluarga lainnya perlu berhati-hati dalam bertutur kata. 

Koleksi kosakata anak sudah meningkat secara signifikan, yakni 50 kata atau lebih, pada rentang usia 19-24 bulan. Si Kecil mampu memahami kata-kata tunggal atau sederhana, serta mampu memproduksi kata-kata tersebut. Ia sudah bisa berbicara secara jelas walaupun hanya baru mengucapkan frasa atau kalimat pendek, Ma. 

Tak hanya itu, anak sudah bisa menyebutkan bagian-bagian anggota tubuh, seperti hidung, tangan, mata, dan telinga, juga warna benda, dan orang-orang yang dikenal atau sering kali dilihatnya sehari-hari.

Lebih lanjut, dalam tahap perkembangan bahasa pada anak usia 1-2 tahun, si Kecil mampu memahami makna di balik kalimat-kalimat perintah sederhana, seperti kata tepuk tangan dan ambil mainan.

Beberapa ahli mengatakan bahwa perkembangan bahasa anak akan terjadi secara signifikan pada usia 19-20 bulan. Ini karena si Kecil dapat mempelajari beberapa kata-kata baru dalam sehari. Maka itu, pastikan Mama mempersiapkan si Kecil untuk mempelajari kata-kata sederhana pada usia ini.

3. Anak Usia 2-3 Tahun

Bagaimana perkembangan bahasa anak pada usia ini? Memasuki usia 2-3 tahun, si Kecil sudah mampu memahami kata-kata sederhana sebanyak tiga kata atau lebih, seperti “main”, “pergi, “jatuh”. Bahkan, ia sudah bisa mengatakan kalimat sederhana, seperti “Papa pulang”, “Aku senang”.

Tahapan perkembangan bahasa anak di usia 2 tahun juga dapat dilihat dari kemampuannya dalam memahami kata tanya, “siapa,” “apa”, dan “di mana”. Meski begitu, si Kecil belum bisa menjawab pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.

Ia juga mulai menggunakan kata kepunyaan di usia 2 tahun, dan mulai memahami makna “milikku” dan “milikmu” pada tahun ketiga kehidupannya.

Di usia ini pula, si Kecil sudah mampu mengingat nama orang tua, keluarga, hingga nama binatang peliharaannya. Hebat ya, Ma?

4. Anak Usia 3-4 Tahun

Menginjak usia 3 tahun sampai 4 tahun, si Kecil sudah bisa diajak berkomunikasi dan bersosialisasi, Ma. Hal ini ditandai dengan kemampuan bahasa anak yang sudah makin membaik dan pemahaman kosakatanya yang semakin luas. 

Ia sudah bisa mengenal 250 kata atau lebih, berbicara dengan kalimat sederhana yang berisi 3-4 kata, hingga mengingat nama temannya di sekolah. 

Ketika sudah bersosialisasi dengan teman sekitar, si Kecil akan mulai mempertanyakan banyak hal kepada Mama. Ini karena rasa penasarannya semakin tinggi terhadap sesuatu hal, Ma. Oleh karena itu, Mama harus sabar menjawab setiap pertanyaan yang ada agar rasa ingin tahu si Kecil tidak berkurang seiring berjalannya waktu.

Di usia ini pula, si Kecil juga mulai bisa meminta sesuatu pada orang tuanya. 

5. Anak Usia 4-5 Tahun

Memasuki usia 4 tahun menuju 5 tahun, tahapan perkembangan bahasa anak semakin baik, dilihat dari pelafalan dan pengucapan yang sudah sangat jelas. Anak sudah bisa membedakan banyak warna dan bentuk benda. 

Sebagian kecil anak pada usia 4-5 tahun sudah bisa memberikan opini terhadap suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, hingga memberikan saran.

Ia juga mulai senang bercerita dan mampu menjawab pertanyaan tentang apa yang ia ceritakan. Kalimat yang dibuatnya semakin lengkap, memiliki subjek, predikat, dan keterangan yang tepat.

Cara Stimulasi Kemampuan Bahasa Anak Usia 1-5 Tahun

Perlu diingat, Ma. Perkembangan bahasa anak antara yang satu dan lainnya tentu berbeda-beda. Jadi, kemampuan bahasa anak yang dijelaskan di atas hanyalah berfungsi sebagai panduan, tapi bukan jadi sesuatu yang harus dimiliki setiap anak pada usia ini. 

Maka itu, di sinilah tugas Mama dan Papa untuk mengoptimalkan perkembangan anak. Selain melakukan permainan edukasi dan mendengarkan lagu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menstimulasi kemampuan bahasa anak, yakni: 

1. Stimulasi Anak Usia 0-12 Bulan

Salah satu cara melatih anak berbicara tentu saja dengan rutin mengajaknya ngobrol. Sebetulnya, langkah ini sudah bisa Mama dan Papa lakukan sejak bayi baru lahir.

Ya! Hanya karena anak belum bisa bicara, bukan berarti ia belum mengerti apa yang Mama maksud, lho. Padahal, semakin banyak Mama berbicara dan mengekspresikan diri, semakin mudah bagi anak untuk belajar bicara dan berinteraksi.

Untuk itu, Mama bisa mengajaknya berbicara kapan pun dan di mana pun, seperti tiap kali menyiapkan dan memberikan makan, memandikan, memakaikan pakaian, mengganti popok, serta kegiatan sehari-hari lainnya. 

Bicarakan apa saja yang terlintas di pikiran atau benak Mama, pastikan untuk menggunakan kata-kata sederhana dan kalimat pendek jika memungkinkan.

Jika si Kecil mengeluarkan suara atau ocehan, Mama bisa menanggapinya. Bila perlu, gunakan gestur atau mimik muka seekspresif mungkin untuk memancing respons gelak tawa si Kecil.

2. Stimulasi Anak Usia 1-2 Tahun

Menghindari penggunaan bahasa bayi saat berbicara dengan anak juga bisa menjadi cara menstimulasi kemampuan bahasa anak usia 1-2 tahun.

Jadi, bila si Kecil menggunakan bahasa bayi yang salah, Mama jangan merasa perlu mengoreksinya. Cukup tanggapi dengan penggunaan kata yang tepat. 

Selain itu, di usia ini ia mungkin masih mengandalkan gestur tubuhnya untuk berkomunikasi. Ketika anak sulit mengatakan apa yang diinginkan, ia akan menunjuknya.

Sebagai contoh, ia sangat rewel sambil menunjuk kulkas, Mama bisa mengatakan padanya “Adik mau makan buah? Atau mau minum jus?” sambil membuka kulkas.

Biarkan ia mengambil apa yang dia inginkan, lalu beri tahu si Kecil apa yang ia ambil, “Ini buah apel, sini Mama kupas dulu, ya.”

3. Stimulasi Anak Usia 2-3 Tahun

Jika anak sudah menginjak usia 2-3 tahun dan perkembangan bahasa ingin dilatih sejak usia dini, tahapan yang bisa dilakukan adalah mengajaknya membaca buku bersama.

Membacakan cerita kepada si Kecil sebanyak mungkin setiap harinya, ternyata terbukti dapat mendorong perkembangan bahasanya, lho.

Hal tersebut didukung oleh sebuah studi yang dimuat pada pada Journal of Literacy Research. Penelitian itu menemukan bahwa anak-anak bisa memiliki kosakata yang lebih banyak bila dibacakan buku cerita bergambar daripada mendengar ucapan orang dewasa. 

Pada studi lainnya yang dipublikasikan dalam Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics mengungkapkan, membacakan satu buku tiap hari bisa membuat anak terpapar 1,4 juta kata lebih banyak dibandingkan anak-anak yang semasa kecilnya tidak pernah dibacakan cerita.

Mama bisa memintanya untuk memilih buku mana yang ingin dibacakan. Lalu, ajak ia ngobrol sejenak mengenai gambar-gambar di dalam buku. Misalnya, “Lihat, Dik! Kudanya lari sangat kencang. Lalu, di mana Si Kancil bersembunyi, ya?”

Interaksi yang menyenangkan ini bisa meningkatkan kemampuan sosial dan bahasa si Kecil serta membantunya memahami beragam hal ke depannya.

Baca Juga: Manfaat Membacakan Dongeng Sebelum Tidur untuk Perkembangan Otak Anak

4. Stimulasi Anak Usia 3-4 Tahun

Perkembangan anak 3 tahun dari sisi komunikasi ini membuat anak dapat menjawab pertanyaan yang dimulai dengan siapa, apa, dan di mana. Jadi, Mama dan si Kecil sudah bisa berdialog secara bergantian. Pasti seru ya, bisa ngobrol banyak dengan si Kecil?

Nah, untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak usia dini, pancing anak bicara dengan memberinya pilihan sebagai tahapan awal. Pastikan pilihan yang Anda berikan sama baik dan bermanfaat.

Misalkan, “Adik mau berenang atau main sepeda?” Pancing anak untuk memberi alasan dari pilihan yang dia tentukan.

5. Stimulasi Anak Usia 4-5 Tahun

Untuk membantu tahapan perkembangan bahasa di usia dini berjalan dengan baik, American Academy of Pediatrics menyarankan agar anak-anak di atas usia 2 tahun tidak menonton layar televisi dan gadget lebih dari 1 jam per hari. 

Sebab, komunikasi yang dilakukan dengan gadget hanya satu arah, anak hanya mendengarkan tanpa berinteraksi dengan layar. Padahal, perkembangan bahasa anak perlu dilatih dengan interaktif.

Baca Juga: Anak Mulai Aktif? Yuk, Pantau Tahap Perkembangan Motorik Halusnya!

Itulah 5 tahap perkembangan bahasa anak di usia dini serta cara stimulasinya yang bisa Mama lakukan di rumah. Ingat ya, Ma, langkah pertama si Kecil jadi pemenang dimulai dari stimulasi yang tepat. Lakukan dengan penuh kasih sayang dan kesabaran untuk terus merangsang kemampuan si Kecil berkomunikasi dengan fasih. 

Baca Juga: Cara Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Sejak Dini

Mama juga bisa, lho, cari tahu sejauh mana perkembangan bahasa anak melalui tes 8 Winning Skills si Kecil yang diidentifikasi dari kesehariannya. Dapatkan gratis Stimulation Kit Gratis di akhir tesnya.

Namun selain dari stimulasi, tetap penting untuk bisa mengoptimalkan kecerdasan berbahasa si Kecil dengan asupan nutrisi yang optimal dari makanan bergizi dan tambahan susu pertumbuhan seperti Nutrilon Royal 3 ActiDuobio+ sebanyak tiga kali sehari untuk mendukung perkembangan otaknya. 

Susu Nutrilon Royal 3 dilengkapi dengan Omega 3 & 6 serta zat besi dan DHA yang lebih tinggi untuk bantu mendukung perkembangan kemampuan daya tangkap, memori, dan proses pembelajaran si Kecil. 

Tak hanya itu, susu Nutrilon diperkaya dengan formula ACTIDUOBIO+, yaitu perpaduan FOS:GOS prebiotik rasio 1:9 yang paling tinggi untuk membantu menjaga sistem pencernaan si Kecil di atas 1 tahun serta mendukung daya tahan tubuh dan daya tangkapnya.

Mama juga bisa dapatkan berbagai informasi terbaru seputar cara menstimulasi tumbuh kembang anak dan tips parenting lainnya dengan mendaftarkan diri Mama di MyNutriclub sekarang juga!

Semoga artikel ini dapat membantu ya, Ma!

  1. Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-teach-toddler-to-talk#tips-and-activities. Diakses pada 13 Desember 2022.
  2. Mott Children’s Hospital University of Michigan Health. https://www.mottchildren.org/posts/your-child/speech-and-language-development. Diakses pada 13 Desember 2022.
  3. American Academy of Pediatrics. https://publications.aap.org/pediatrics/article/138/5/e20162591/60503/Media-and-Young-Minds. Diakses pada 13 Desember 2022.
  4. Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6382042/. Diakses pada 13 Desember 2022.
  5. Journal of Literacy Research. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/1086296X15627528. Diakses pada 13 Desember 2022.
  6. Baby Center. https://www.babycenter.com/baby/baby-development/baby-milestone-talking_6573. Diakses Diakses pada 13 Desember 2022.
  7. Health of Children. http://www.healthofchildren.com/L/Language-Development.html. Diakses Diakses pada 13 Desember 2022.
  8. Raising Children. https://raisingchildren.net.au/toddlers/development/language-development/language-2-3-years. Diakses pada 13 Desember 2022.
  9. Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/c12yr.html. Diakses pada 13 Desember 2022.
comment-icon comment-icon