Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
informasi-lengkap-mengenai-campak-pada-si-kecil_large
Kesehatan

Campak pada Bayi: Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengobatinya

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 15 Januari 2020

Campak adalah infeksi virus akut yang sangat menular dan dapat menjadi masalah serius pada bayi. Campak pada bayi dapat menyebabkan komplikasi yang sifatnya fatal jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Lalu, apa penyebab dan ciri-ciri sakit campak pada si Kecil? Cari tahu juga cara mengobati campak si Kecil di artikel ini!

Penyebab Campak pada Bayi

Campak (measles) disebabkan oleh infeksi virus famili Paramyxovirus, seperti Rubella. Virus penyebab penyakit campak sangat mudah melalui droplet liur yang beterbangan di udara.

Bayi dapat tertular dari orang sekitarnya yang sedang sakit campak dan batuk atau bersin tanpa menutup mulutnya. Droplet liur yang beterbangan di udara dapat terhirup bayi sehingga virus ikut masuk ke dalam tubuh.

Bayi juga bisa tertular campak melalui kontak langsung dengan benda-benda yang terkontaminasi virus campak karena droplet liur pembawa virus bisa “mendarat” di permukaan benda sekitar bayi. Ketika bayi meraih benda tersebut dan kemudian memasukkan tangannya ke mulut, virus dapat masuk ke dalam tubuhnya.

Virus penyebab campak mampu bertahan hidup hingga 2 jam di luar tubuh inangnya (orang yang sakit campak. Dalam 2 jam tersebut udara dan permukaan benda di sekitarnya masih terkontaminasi virus sehingga bayi masih sangat rentan terpapar. Apalagi jika si Kecil berada di ruangan tertutup yang sirkulasi udaranya buruk. 

Bayi dapat tertular campak hanya dengan berada di dalam sebuah ruangan yang pernah disinggahi seseorang yang sudah terinfeksi campak. Bahkan, setelah lebih dari 2 jam orang tersebut meninggalkan ruangan. 

Apabila si Kecil belum mendapatkan imunisasi campak dan menghirup droplet atau kontak langsung dengan percikan liur yang menempel di sofa, maka peluang untuk tertular akan jauh lebih besar.  

Ciri-Ciri Campak pada Bayi

Gejala campak biasanya akan muncul dalam 7-14 hari setelah si Kecil terinfeksi Paramyxovirus. Pada umumnya campak pada bayi akan diawali dengan gejala mirip flu, seperti: 

  • Demam tinggi lebih dari 38°C selama 3 hari atau lebih. 

  • Batuk.

  • Pilek.

  • Mata merah dan berair (konjungtivitis).

Gejala awal tersebut akan berlangsung selama 2-3 hari. Kemudian akan diikuti dengan kemunculan Koplik’s spot, yaitu bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam. 

Pada hari ke-3 hingga hari ke-5 setelah gejala akan muncul ruam. Biasanya ruam dimulai dengan bercak-bercak kemerahan di sekitar garis rambut wajah si Kecil. Bercak kemudian akan menyebar ke area leher, punggung, dada, perut, lengan, hingga kaki. 

Karena telah menyebar ke seluruh tubuh, bercak kemerahan tersebut dapat menyatu. Selain itu,  mungkin juga akan muncul bintik kemerahan di atas bercak.

Nah, saat ruam muncul, suhu tubuh si Kecil dapat melonjak hingga lebih dari 40°Celsius. Ruam umumnya akan berakhir dalam 5 sampai 6 hari, dan menjadi berwarna seperti tembaga atau kehitaman.

Baca juga: Muncul Bintik-Bintik Merah pada Kulit Bayi, Apa Penyebabnya?

Apakah Campak pada Bayi Berbahaya?

Pada anak berusia di bawah 5 tahun, campak bisa jadi berbahaya karena risiko komplikasinya bisa lebih tinggi. 

Terlebih, bayi yang sakit campak dapat menularkan penyakitnya sejak kurang lebih 3-5 hari sebelum sakit, selama sakit, sampai seluruh ruam benar-benar berubah jadi hiperpigmentasi. Maka, hindari dulu membawa si Kecil keluar rumah selama ia sedang sakit campak. 

Komplikasi campak yang sering terjadi pada bayi adalah: 

  • Diare berat.

  • Gizi buruk.

  • Infeksi telinga yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. 

  • Campak juga dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti kebutaan.

  • Komplikasi berat dapat menyebabkan radang paru-paru (pneumonia). Radang paru-paru merupakan penyebab kematian tersering pada anak-anak akibat campak.

  • 1 dari 1000 anak dapat mengalami ensefalitis (radang otak). Ketika dalam kondisi ini, si Kecil dapat mengalami kejang-kejang yang dapat menyebabkan ketulian, cacat intelektual.

Selain itu, ada pula risiko komplikasi campak pada bayi yang termasuk sangat jarang tapi berakibat sangat fatal, yaitu subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). Ini adalah penyakit sistem saraf pusat yang fatal akibat infeksi virus campak yang diderita pada saat kanak-kanak.

SSPE umumnya terjadi 7-10 tahun setelah anak sembuh dari campak. Risiko SSPE sendiri lebih besar pada anak yang menderita campak pada usia kurang dari 2 tahun. 

Oleh karena itu, penyakit campak pada bayi tidak boleh Mama dan Papa sepelekan. Jika si Kecil menunjukan gejala-gejala campak seperti di atas sebaiknya segera bawa ke pusat layanan kesehatan terdekat atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cara Mengobati Campak pada Bayi

Sebenarnya tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit campak. Pengobatan campak sifatnya hanya membantu mengurangi gejala dan mencegah komplikasi. 

Pada bayi yang mengalami infeksi campak ringan, obat-obatan dapat diberikan untuk membantu mengurangi gejalanya, misalnya:

  • Obat penurun panas sesuai dosis dan umur si Kecil untuk menurunkan demam.

  • Obat batuk-pilek sesuai dosis dan umur si Kecil untuk mengatasi batuk-pilek.

  • Pastikan si Kecil terus mendapat cairan baik dari ASI atau air putih (jika usianya sudah lebih dari 6 bulan).

  • Antibiotik hanya akan diberikan saat ada indikasi infeksi bakterial sekunder atau terdapat radang telinga tengah dan pneumonia. 

Selain itu, pemberian vitamin A dengan dosis tepat oleh dokter juga dapat membantu mengurangi komplikasi dan kematian. Sebab, Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa terjadinya komplikasi pada campak berhubungan dengan kondisi kekurangan vitamin A.

Maka, menjadi penting pula untuk Mama bisa terus memberikan makanan MPASI yang mengandung vitamin A jika si Kecil sudah berusia 6 bulan ke atas, untuk bantu memenuhi kebutuhan vitamin A hariannya.

Apakah Bayi Boleh Mandi saat Terkena Campak?

Jawabannya boleh, ya, Ma. Bayi yang terkena campak boleh mandi karena justru harus lebih menjaga kebersihan kulitnya. Namun, Mama sebaiknya memandikan si Kecil dengan air hangat.

Selain membuat badan si Kecil lebih bersih, mandi air hangat juga akan bantu meredakan demam dan mengurangi rasa gatal. 

Untuk meredakan rasa gatal, air mandi si Kecil juga bisa ditambah dengan mineral salts atau oatmeal giling.

Cara Pencegahan Campak pada Bayi

Agar si Kecil terhindar dari campak, ia perlu mendapatkan imunisasi MR. Imunisasi ini sebenarnya dapat digunakan untuk mencegah dua jenis penyakit sekaligus yaitu Measles (campak) dan Rubella (campak jerman). 

Menurut peraturan IDAI tahun 2023 (Ikatan Dokter Anak Indonesia), bayi perlu mendapatkan 3 dosis vaksin MR secara bertahap agar efek perlindungannya optimal.

Imunisasi MR dosis pertama akan diberikan di usia 9 bulan. Kemudian, imunisasi dosis kedua akan diberikan pada rentang usia 15-18 bulan dan dosis ketiga diberikan saat si Kecil berusia usia 5-7 tahun. 

Apabila sampai usia 12 bulan si Kecil belum mendapatkan imunisasi MR, ia bisa mendapatkan vaksin MMR. Vaksin MMR dosis pertama  akan mulai diberikan pada rentang usia 12-15 bulan. Kemudian akan dilanjutkan dengan vaksin MMR dosis kedua pada usia 5-7 tahun. Selanjutnya, vaksin MMRV (Measles, Mumps, Rubella, dan Varicella) akan diberikan pada usia 2 tahun untuk mengurangi risiko kejang demam. 

Lalu, bagaimana dengan bayi yang pernah terinfeksi campak sebelumnya, perlukah mendapatkan imunisasi campak

Menurut IDAI, bayi yang pernah terinfeksi campak boleh mendapatkan imunisasi vaksin MR. Sebab kekebalan tubuh alami yang didapatkan bayi setelah terinfeksi campak hanya akan bertahan selama beberapa tahun saja. 

Selain itu, ada beberapa jenis penyakit yang gejalanya mirip dengan campak. Hal tersebut bisa jadi membuat orang tua atau dokter salah dalam mengenali penyakit apa yang diderita si Kecil dan mengira ia sedang terinfeksi campak.

Baca Juga: Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasi Eksim pada Bayi

Semoga artikel ini membantu Mama lebih memahami pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit campak pada bayi, ya. Dapatkan juga berbagai artikel informatif lain dari ahlinya seputar imunitas, kesehatan, dan tumbuh kembang bayi di The Parents’ Guide Academy!

  1. What you need to know about measles. (2022). Unicef.org. https://www.unicef.org/southafrica/parents-frequently-asked-questions-measles

  2. CDC. (2020, November 5). Measles Signs and Symptoms. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/measles/symptoms/signs-symptoms.html

  3. CDC. (2022, November 28). Measles Complications. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/measles/symptoms/complications.html

  4. IDAI | Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2023. (2023). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-anak-idai

  5. IDAI | Tanya Jawab Campak dan MMR. (2023). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/tanya-jawab-campak-dan-mmr

  6. IDAI | Apakah Infeksi Campak? (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/apakah-infeksi-campak

  7. Measles (Holistic) – Health Information Library | PeaceHealth. (2015). Peacehealth.org. https://www.peacehealth.org/medical-topics/id/hn-3572006

  8. Measles (Holistic) – Health Information Library | PeaceHealth. (2015). Peacehealth.org. https://www.peacehealth.org/medical-topics/id/hn-3572006

comment-icon comment-icon