Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Kesehatan

Manfaat Vaksin Tifoid untuk Anak dan Jadwal Pemberiannya

Article Oleh : Mauliyana Puspa Adityasari 31 Agustus 2023

Tifus, tipus, atau yang dalam istilah medisnya disebut demam tifoid kerap menjadi sumber kekhawatiran orang tua. Sebab, yang selalu terbayang di pikiran orang tua adalah rawat inap di rumah sakit karena penyakitnya butuh waktu lama untuk sembuh. Namun, demam tifoid dapat dicegah dengan pemberian vaksin tifoid yang tepat waktu. Lalu, seperti apa vaksin tifoid itu? Kapan si Kecil perlu diberikan vaksin tifoid? Yuk, simak selengkapnya pada artikel ini.

Vaksin Tifoid untuk Penyakit Apa?

Vaksin tifoid adalah jenis vaksin untuk mencegah penyakit demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhii. Gejala demam tifoid yakni demam, kelelahan, sakit kepala, penurunan nafsu makan, dan gangguan pencernaan seperti diare, sakit perut, serta mual muntah.

Jika tidak diatasi dengan cepat dan tepat, demam tifoid dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti perdarahan saluran cerna, meningitis, pneumonia dan delirium (kebingungan parah dan penuruan kesadaran yang terjadi secara tiba-tiba).

Demam tifoid sangat erat kaitannya dengan higienitas. Sebab, penyakit ini mudah menular melalui konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh bakteri, atau jika anak beraktivitas dan bertempat tinggal di lingkungan dengan sistem sanitasi yang buruk.

Kelompok usia yang rentan menderita demam tifoid adalah anak usia 5 tahun ke atas. Pada usia tersebut, anak sudah mulai masuk sekolah dan mengenal jajanan di luar rumah. Makanan atau jajanan yang kurang bersih dapat mengandung kuman S. typhii dan masuk ke tubuh anak jika termakan.

Ada dua jenis vaksin tifoid yang bisa Mama berikan pada si Kecil, yaitu vaksin hidup dan dilemahkan. Vaksin tifoid yang telah dilemahkan dapat diberikan pada anak yang berusia 2 tahun ke atas melalui injeksi atau suntikan. Sedangkan untuk anak usia 6 tahun ke atas dapat diberikan vaksin tifoid yang hidup secara oral atau diteteskan melalui mulut.

Setelah masuk ke dalam tubuh, vaksin akan memicu sistem imun membentuk antibodi yang akan melawan bakteri S. typhii apabila di kemudian hari anak terpapar infeksi sehingga tidak terjadi infeksi yang berat.

Baca Juga: Mengenal Weight Faltering, Faktor Risiko Stunting pada Anak

Kapan Vaksin Tifoid Diberikan?

Pemberian vaksin tifoid termasuk dalam jenis imunisasi yang dianjurkan oleh pemerintah, karena kasus penyakit tifus masih terbilang banyak terjadi di Indonesia.

Berdasarkan jadwal imunisasi terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2023, vaksin tifoid dapat diberikan pada anak mulai usia 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun hingga berusia 18 tahun. Pemberian vaksin tifoid sebaiknya ditujukan kepada anak-anak yang berisiko tinggi atau rentan terhadap infeksi demam tifoid. Namun, sebelumnya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan panduan yang sesuai.

Selain itu, vaksin ini juga dapat diberikan kepada orang dewasa yang memiliki risiko tinggi, seperti mereka yang tinggal di sekitar penderita demam tifoid, tenaga medis, dan individu yang berencana bepergian ke daerah dengan angka kasus demam tifoid yang tinggi.

Seperti halnya vaksin-vaksin lain, vaksin tifoid juga memiliki potensi untuk menyebabkan beberapa efek samping pada orang yang menjalani vaksinasi. Namun, penting untuk diingat bahwa efek samping ini biasanya bersifat ringan dan sementara. Mama bisa melakukan berbagai cara untuk menghilangkan rasa sakit pada anak setelah imunisasi.

Baca Juga: Hal yang Perlu Diketahui Sebelum dan Sesudah Imunisasi

Cara Mencegah Demam Tifoid

Demam tifoid berhubungan dengan kebiasaan seseorang dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Jadi selain dengan vaksin, Mama tetap dianjurkan melakukan langkah pencegahan yang tepat di rumah untuk meminimalisir risiko penyebaran bakteri tifoid pada anak.

Berikut beberapa cara pencegahan penyakit tifoid yang perlu Mama ketahui:

1. Menjaga Kebersihan Tubuh

Bakteri penyebab demam tifoid mampu bertahan hidup di alam bebas seperti di dalam air, tanah, atau bahkan pada makanan.

Maka dari itu, salah satu cara untuk mencegah penularan bakteri tersebut dengan sering mencuci tangan secara rutin sebelum atau sesudah makan, setelah beraktivitas, dan setelah batuk atau bersin.

Biasakan si Kecil untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir agar mendapatkan hasil yang lebih baik. 

2. Hindari Kontak dengan Orang Sakit

Pada dasarnya, bakteri memiliki kemampuan yang relatif mudah untuk menular dari satu individu ke individu lainnya.

Oleh karena itu, sangat penting bagi para orang tua, termasuk Mama, untuk menghindari si Kecil berkontak langsung atau terlalu dekat dengan orang yang sedang sakit di sekitarnya. Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko penularan penyakit dari individu yang sakit kepada anak.

Selain itu, perlu diingat juga untuk menghindari berbagi peralatan makan atau mandi dengan orang yang sedang sakit. Tindakan ini dapat membantu mengurangi kemungkinan penularan bakteri dan penyakit pada si Kecil. 

3. Bersihkan Rumah Secara Teratur

Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan juga tidak kalah penting untuk menghindari si Kecil terinfeksi berbagai penyakit, termasuk tifus.

Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan memastikan sampah dibuang pada tempatnya serta menanam pohon di sekitar rumah guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Dengan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat, anak-anak dapat terlindungi dari risiko virus, bakteri, dan parasit penyebab penyakit infeksi.

4. Konsumsi Makanan yang Higienis

Penularan bakteri penyebab demam tifoid memang sering terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Pemberian makanan atau minuman yang tidak higienis memiliki risiko besar mengandung bakteri pembawa penyakit. Oleh karena itu, sangat penting bagi Mama untuk selalu memastikan bahwa makanan dan minuman yang disajikan kepada si Kecil terjamin kebersihannya.

Langkah-langkah seperti mencuci buah dan sayur sampai bersih sebelum dikonsumsi, memasak daging hingga matang dengan baik, dan menggunakan air bersih dalam menyiapkan makanan sangatlah penting. Melakukan kebiasaan ini membantu mengurangi kemungkinan terkontaminasinya makanan dengan bakteri penyebab demam tifoid dan penyakit lainnya.

Mama juga bisa bantu perkuat daya tahan tubuh si Kecil dengan mengoptimalkan asupan gizi hariannya mulai dari sekarang agar ia tidak gampang sakit dengan mengunduh E-Book Nutrisi dan Gizi untuk Imunitas Anak secara gratis, lho!

Referensi:

  1. Rokom. (2022, April 23). Kemenkes Tambah 3 Jenis Vaksin Imunisasi Rutin, Salah Satunya HPV. Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20220423/2939708/39708/
  2. ‌Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2022). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1884/perawatan-penyakit-thypoid
  3. ‌Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2022). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/239/yuk-kenali-vaksin-tifoid
  4. ‌IDAI | Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian I). (2023). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-i
  5. Typhoid Vaccine Information Statement. (2023). https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/typhoid.html
  6. ‌IDAI | Mengenal Demam Tifoid. (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/mengenal-demam-tifoid
comment-icon comment-icon