Anak demam dan muntah umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Kebanyakan kasus ini dapat membaik dengan istirahat dan perawatan di rumah. Jika demam tinggi disertai muntah berulang hingga muncul tanda dehidrasi, segera periksakan ke dokter untuk memperoleh penanganan yang tepat.
Penyebab Anak Demam dan Muntah
Sebagian besar kasus anak demam dan muntah tidak berbahaya apabila si Kecil menunjukkan tanda-tanda di bawah ini.
- Anak masih mau minum
- Tetap aktif
- Tidak mengalami dehidrasi
- Muntah membaik dalam 24 jam
Segera periksakan anak ke dokter apabila ia mengalami kondisi di bawah ini.
- Demam lebih dari 39°C atau sulit turun.
- Muntah terus-menerus
- Anak tampak lemas
- Muncul tanda dehidrasi
- Kejang
- Sesak napas
Apa Saja Penyebab Anak Demam dan Muntah?
Demam adalah reaksi tubuh saat melawan infeksi. Sementara muntah ialah refleks alami tubuh untuk mengeluarkan zat asing dan kuman penyebab infeksi dari pencernaan.
Lalu, apa penyebab demam dan muntah?
1. Gastroenteritis (Muntaber)
Gastroenteritis atau muntaber adalah infeksi pencernaan yang sering disebabkan oleh rotavirus dan norovirus. Infeksi bakteri Salmonella, E.coli, dan Campylobacter juga bisa menyebabkan muntaber.
Selain diare dan muntah-muntah, muntaber juga dapat menyebabkan demam. Jika muntaber disebabkan virus, demamnya cenderung ringan sampai sekitar 39°C.
Kondisi muntaber yang disertai demam tinggi (lebih dari 39°C) biasanya disebabkan infeksi bakteri. Terutama jika diare anak juga berdarah.
2. Infeksi Saluran Pernapasan
Tidak semua anak demam dan muntah mengalami gangguan pencernaan. Infeksi saluran napas, seperti flu, batuk pilek, dan radang tenggorokan juga dapat menyebabkan muntah.
Pada infeksi saluran pernapasan, muntah umumnya terjadi karena dua mekanisme, yakni lendir yang tertelan ke lambung memicu iritasi atau batuk yang terlalu kuat menstimulasi refleks muntah.
Demam biasanya muncul lebih dahulu sebagai respons imun tubuh terhadap virus seperti influenza atau rhinovirus. Kemudian diikuti pilek, batuk, atau sakit tenggorokan.
Baca Juga: ISPA pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan
3. Keracunan Makanan
Anak bisa keracunan makanan setelah mengonsumsi minuman atau makanan yang terkontaminasi kuman (bakteri, jamur, parasit, atau virus) akibat proses pembuatan yang tidak higienis.
Gejala utamanya adalah muntah berulang yang disertai nyeri perut, mual, diare, dan demam tinggi. Pada beberapa kasus, muntah terjadi sangat sering sehingga anak kesulitan mempertahankan asupan cairan.
Bila anak tampak lemas, muntah terus-menerus, atau muncul tanda dehidrasi, segera bawa ke dokter ya, Ma.
4. Demam Berdarah (DBD)
Demam berdarah dapat menyebabkan demam tinggi (hingga 40°C) yang muncul mendadak. Demam DBD dapat berlangsung selama 2–7 hari, yang tidak cepat turun meski sudah diberikan obat penurun panas.
Demam adalah gejala DBD yang paling umum dengan disertai beberapa gejala seperti sakit di belakang mata, sakit kepala, nyeri tulang, linu otot dan persendian (pegal-pegal), dan ruam.
Selain itu, World Health Organization menegaskan bawah DBD juga ditandai dengan muntah terus-menerus. Kondisi ini memerlukan penanganan dokter karena dapat menandakan risiko komplikasi yang lebih berat.
5. Demam Tifoid (Tipes)
Tipes adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Gejala awal tipes pada anak adalah demam 39,5°C atau lebih tinggi, sakit perut, dan diare.
Tipes juga bisa menyebabkan anak mual dan muntah-muntah karena infeksinya menyerang sel-sel di organ pencernaan.
Baca Juga: Tanda Gangguan Kesehatan pada Anak yang Harus Diwaspadai
6. Infeksi Telinga atau Infeksi Saluran Kemih
Infeksi telinga tengah (otitis media) maupun infeksi saluran kemih juga dapat menyebabkan anak mengalami demam dan muntah, terutama pada bayi dan balita.
Pada infeksi telinga, anak biasanya rewel, sering menarik telinga, atau menangis saat berbaring.
Sementara itu, infeksi saluran kemih dapat menimbulkan demam tanpa penyebab yang jelas, nyeri saat buang air kecil, urine berdarah, atau frekuensi buang air kecil berubah.
7. Radang Usus Buntu (Apendisitis)
Pada beberapa kasus, anak demam dan muntah bisa jadi karena radang usus buntu atau apendisitis.
Kondisi ini kerap menimbulkan rasa sakit pada area pusar yang menjalar ke perut bagian kanan bawah, rasa tidak nyaman saat berdiri atau duduk, dan sakit saat tubuhnya digerakkan.
Radang usus buntu termasuk kondisi medis yang darurat. Jadi, bila si Kecil menunjukkan gejala usus buntu, segera bawa ke rumah sakit.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Demam dan Muntah?
Bila anak demam dan muntah, Mama harus tetap tenang. Selanjutnya, Mama bisa ikuti langkah-langkah pertolongan pertama berikut ini.
1. Berikan Cairan Sedikit Demi Sedikit
Saat anak demam dan muntah, ia akan lebih rentan dehidrasi karena kehilangan banyak cairan. Namun, ia mungkin belum bisa minum langsung banyak. Jadi, coba Mama tawarkan cairan sedikit demi sedikit.
Berikan 1–2 sendok makan (sdm) air putih setiap 15–20 menit selama beberapa jam ke depan. Mama bisa selingi pemberian air putih dengan oralit atau ASI. Hindari jus dan teh, ya, Ma.
Jika anak kembali muntah setelah diberi minum, tunggu sekitar 20 menit dulu sebelum coba memberikannya air lagi. Setelah itu, berikan 1–2 sdm cairan setiap 30–60 menit.
2. Istirahat yang Cukup
Saat melawan infeksi, tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk proses pemulihan. Batasi aktivitas fisik selama anak masih demam dan muntah.
Ciptakan suasana tidur yang nyaman seperti suhu ruangan yang sejuk, pencahayaan redup, dan pakaian longgar menyerap keringat.
3. Kompres Hangat untuk Menurunkan Demam
Pertolongan pertama untuk menurunkan demam pada anak yang paling mudah adalah menempelkan kompres hangat di leher dan ketiak.
Caranya, Mama cukup basahi waslap dengan air hangat, peras, kemudian tempelkan di leher dan ketiak anak selama 15–20 menit.
Jangan gunakan kompres dingin karena justru membuat anak menggigil dan suhu tubuhnya makin naik.
Baca Juga: Ciri Demam karena Kecapekan dan Cara Mengatasinya
4. Berikan Obat Penurun Panas Sesuai Anjuran Dokter
Jika suhu tubuh anak mencapai 38,5°C atau lebih dan membuatnya tidak nyaman, Mama bisa berikan obat penurun panas seperti paracetamol atau ibuprofen sesuai usia anak.
Namun, pastikan Mama berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu sebelum memberikan parasetamol atau obat apa pun sebagai pertolongan pertama anak demam dan muntah, ya.
5. Berikan Makanan yang Mudah Dicerna
Saat anak sudah bisa menerima makanan tanpa muntah, Mama bisa mulai tawarkan makanan ringan yang mudah dicerna dan tidak memberatkan lambung.
Pilihan yang baik antara lain bubur atau nasi lembek, sup bening, pisang, roti tawar, atau crackers plain. Hindari makanan berlemak, berminyak, atau berbumbu kuat yang dapat memperburuk mual.
Setelah si Kecil dipastikan sudah benar-benar sembuh, Mama bisa lanjutkan pemberian makanan seperti biasa didampingi dengan asupan susu untuk daya tahan tubuh anak.
6. Posisikan Anak Miring Saat Muntah
Posisikan anak untuk berbaring miring ke kiri. Berbaring miring ke kiri mencegah asam lambung mengalir balik ke atas dan menyebabkan rasa mual atau ingin muntah.
Posisi ini juga akan meminimalkan kemungkinan terhirupnya muntahan secara tidak sengaja ke saluran napas bagian atas dan paru-paru.
Jika si Kecil tidak betah rebahan terlalu lama, ajak ia duduk bersandar. Jangan sampai si Kecil membungkukkan badan.
Menjaga kesehatan si Kecil dimulai dari informasi yang tepat dan terpercaya. Bergabunglah dengan Nutriclub untuk mengakses berbagai artikel kesehatan anak yang expert-verified serta panduan praktis yang relevan dengan kebutuhan keluarga modern.
Nikmati juga berbagai keuntungan member eksklusif, mulai dari akses ke konten expert-verified, penawaran spesial, hingga kesempatan mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai exclusive rewards dari Nutriclub. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Tanda-Tanda Dehidrasi yang Harus Diwaspadai
Anak umumnya bisa mengalami dehidrasi lebih cepat daripada orang dewasa. Untuk itu, awasi si Kecil jika menunjukkan tanda-tanda dehidrasi di bawah ini.
- Mulut dan bibir kering
- Menangis tanpa air mata
- Kulit tubuh si Kecil terasa dingin
- Lebih cepat lelah
- Mengantuk terus-menerus dan sulit dibangunkan
- Rewel
- Mata tampak cekung
- Tidak buang air kecil seperti biasanya
- Ubun-ubun cekung (pada bayi)
Kapan Anak Demam dan Muntah Harus Dibawa ke Dokter?
Sebagian besar kasus anak demam dan muntah bisa ditangani di rumah. Namun, ada kondisi yang perlu evaluasi medis. Segera bawa ke dokter atau IGD bila hal-hal di bawah ini terjadi pada si Kecil.
- Demam lebih dari 24 jam pada anak usia kurang dari 2 tahun
- Demam lebih dari 3 hari pada anak usia 2 tahun atau lebih
- Muntah lebih dari 24 jam
- Tidak bisa minum sama sekali
- Kejang
- Sesak napas
- Nyeri perut hebat
- Muntah hijau atau berdarah
- Menunjukkan tanda dehidrasi berat
- Mengeluh sakit kepala dan leher kaku
Baca Juga: Penyebab Biduran pada Anak dan Cara Mengatasinya
Cara Mencegah Anak Demam dan Muntah
Banyak kasus anak demam dan muntah yang disebabkan infeksi sebenarnya bisa dicegah dengan langkah kebersihan. Berikut beberapa caranya.
1. Biasakan Cuci Tangan
Cuci tangan adalah salah satu langkah pencegahan paling efektif untuk mencegah penularan virus dan bakteri penyebab gastroenteritis dan infeksi saluran pernapasan.
Ajarkan anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik terutama sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bermain di luar, dan setelah bersin atau batuk.
2. Pastikan Makanan Matang Sempurna
Makanan yang tidak matang sempurna atau disimpan tidak higienis adalah sumber utama keracunan makanan dan infeksi bakteri pada anak.
Pastikan daging, telur, dan seafood dimasak hingga suhu aman. Simpan makanan yang mudah basi dalam lemari pendingin dan jangan biarkan makanan matang berada di suhu ruang lebih dari 2 jam.
Baca Juga: Cara Menurunkan Panas dan Pusing Anak
3. Lengkapi Imunisasi Rotavirus
Menurut CDC, vaksin rotavirus adalah langkah paling efektif melindungi si Kecil dari infeksi gastroenteritis berat.
WHO dan IDAI merekomendasikan vaksin rotavirus diberikan mulai usia 6–12 minggu.
4. Jaga Kebersihan Peralatan Makan
Piring, sendok, botol susu, dan dot yang tidak dibersihkan dengan benar dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri dan virus penyebab infeksi saluran cerna.
Cuci peralatan makan bayi dengan sabun dan air panas, lalu sterilkan botol dan dot secara rutin terutama untuk bayi di bawah 6 bulan.
Itu dia informasi mengenai penyebab anak demam dan muntah serta penanganannya. Semoga si Kecil sehat terus, ya!
Butuh insight dari ahli di tengah kesibukan, Ma? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor, tim ahli terpercaya kami di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.

