Loading...
    Banner Artikel Dampak Tidak Imunisasi pada Anak yang Perlu Diketahui
    Imunitas

    Dampak Tidak Imunisasi pada Anak yang Perlu Diketahui

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Diterbitkan: 23 Juni 2025

    Diperbarui: 06 Oktober 2026


    • Mengapa Anak yang Tidak Diimunisasi Lebih Berisiko Terkena Penyakit?
    • Apa Saja Dampak Anak Tidak Mendapatkan Imunisasi?
    • Apakah Anak yang Belum Imunisasi Masih Bisa Mendapatkan Vaksin?
    • Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Belum atau Terlambat Imunisasi?

    Dampak tidak imunisasi membuat memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Jika terinfeksi, penyakit tersebut dapat menyebabkan komplikasi serius, rawat inap, kecacatan, hingga mengancam nyawa. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mengetahui vaksin yang diperlukan dan mendapatkan jadwal kejar imunisasi sesuai usia dan kondisi anak.

    Mengapa Anak yang Tidak Diimunisasi Lebih Berisiko Terkena Penyakit?

    Imunisasi membantu sistem kekebalan mengenali kuman penyebab penyakit dan membentuk respons kekebalan tubuh untuk melawannya. 

    Jika anak belum mendapatkan vaksin, ia belum memiliki perlindungan spesifik sehingga lebih berisiko terkena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. 

    Apa Saja Dampak Anak Tidak Mendapatkan Imunisasi?

    Tanpa imunisasi, anak jadi lebih mudah terserang penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Dampak tidak imunisasi ini tidak hanya membahayakan kesehatan anak, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

    1. Lebih Berisiko Terkena Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Vaksin

    Salah satu dampak tidak vaksin adalah anak lebih berisiko terkena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. 

    Risikonya bergantung pada vaksin yang belum diterima dan kemungkinan anak terpapar penyakit, seperti campak, pertusis, difteri, polio, hepatitis B, dan tetanus. 

    2. Berisiko Mengalami Komplikasi Serius

    Beberapa penyakit yang dapat dicegah imunisasi memiliki komplikasi serius, seperti kelumpuhan akibat polio dan kebutaan akibat gangguan saraf dari campak.

    Dampak tidak imunisasi bisa menyebabkan cacat permanen yang memengaruhi kualitas hidup anak seumur hidup, atau bahkan kematian.

    Pencegahan melalui imunisasi adalah kunci utama menghindari komplikasi berat tersebut. 

    3. Risiko Rawat Inap hingga Kematian Meningkat

    Dampak tidak imunisasi juga dapat berupa risiko penyakit yang lebih berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. 

    Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin bahkan bisa menyebabkan kematian, terutama pada bayi dan kelompok rentan lainnya. 

    4. Dapat Menularkan Penyakit kepada Orang yang Rentan

    Anak yang tidak mendapat imunisasi bisa menjadi carrier tanpa menunjukkan gejala. Artinya, si Kecil bisa membawa kuman tanpa terlihat sakit.

    Ia bisa menularkan penyakit ke anak lain yang lebih rentan, seperti bayi. Tanpa disadari, mereka bisa menjadi penyebar utama penyakit di sekitarnya.

    Hal ini bisa melemahkan kekebalan kelompok dan memicu wabah yang sulit dihentikan.

    5. Meningkatkan Risiko Terjadinya Penularan dan Wabah

    Dampak tidak imunisasi juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit di masyarakat. 

    Jika semakin banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi, kekebalan kelompok atau herd immunity dapat semakin melemah.

    Jadi, penyakit lebih mudah menyebar dan wabah lebih mungkin terjadi.

    Baca Juga: 10 Manfaat Vaksin untuk Anak agar Tumbuh Sehat, Cerdas, dan Terlindungi

    6. Biaya Pengobatan yang Jauh Lebih Mahal daripada Pencegahan

    Dampak tidak imunisasi pun dapat dirasakan dari sisi biaya. Hal ini karena mengobati penyakit infeksi bisa mahal, karena butuh rawat inap dan pengobatan jangka panjang. 

    Sementara imunisasi biasanya gratis atau biayanya jauh lebih murah. 

    7. Penyakit yang Sudah Jarang Terjadi Dapat Kembali Menyebar

    Dampak tidak imunisasi yang nyata lainnya yaitu kembalinya penyakit yang sudah punah. Contoh, kejadian luar biasa (KLB) polio muncul lagi di beberapa daerah di Indonesia akibat penurunan cakupan imunisasi.

    Ketika imunisasi berkurang, risiko penyebaran penyakit meningkat dan dapat mengancam keberhasilan program eliminasi penyakit menular.

    8. Dapat Mengganggu Tumbuh Kembang Anak jika Mengalami Infeksi Berat

    Dampak tidak imunisasi dapat berkaitan dengan tumbuh kembang jika anak mengalami infeksi berat atau komplikasi yang membutuhkan perawatan lama. 

    Misalnya, penyakit polio yang berisiko bagi si Kecil bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan permanen.

    Sementara itu, dalam Journal of Paediatrics and Child Health (2026) disebutkan bahwa meningitis dapat menimbulkan gangguan jangka panjang pada sistem saraf. 

    Apakah Anak yang Belum Imunisasi Masih Bisa Mendapatkan Vaksin?

    Ya, anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi masih dapat mengikuti imunisasi kejar. 

    Tenaga kesehatan akan menyesuaikan jadwal vaksin berdasarkan usia anak, jenis vaksin yang dibutuhkan, riwayat imunisasi, serta kondisi kesehatannya.

    Jadi, keterlambatan imunisasi bukan berarti anak harus mengulang semua vaksin dari awal. Selain itu, melakukannya walau terlambat berarti menghindarkan si Kecil dari dampak tidak imunisasi.

    Sistem imun yang kuat membantu si Kecil tetap aktif belajar, bermain, dan bereksplorasi setiap hari. Jadi member Nutriclub untuk mendapatkan berbagai informasi expert-verified seputar daya tahan tubuh anak dan cara mendukung kesehatannya secara optimal. Nikmati juga berbagai keuntungan member eksklusif, mulai dari akses ke konten expert-verified, penawaran spesial, hingga kesempatan mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai exclusive rewards dari Nutriclub.

    Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Belum atau Terlambat Imunisasi?

    Jika anak belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, Mama dan Papa tidak perlu panik. Berikut beberapa hal yang harus dilakukan.

    1. Cek Riwayat Imunisasi Anak

    Langkah pertama adalah memeriksa riwayat imunisasi anak melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), kartu imunisasi, atau catatan dari fasilitas kesehatan. 

    Catat vaksin dan dosis yang sudah diterima agar tenaga kesehatan dapat menentukan imunisasi yang masih diperlukan. 

    2. Konsultasikan dengan Dokter atau Tenaga Kesehatan

    Orang tua bisa berkonsultasi gratis di Puskesmas atau Posyandu untuk menanyakan jenis interval imunisasi serta jadwal selanjutnya yang harus diikuti. 

    Konsultasi ini juga penting mengidentifikasi apakah ada kontraindikasi atau kondisi medis vaksin yang dibutuhkan anak.

    Di sana, petugas kesehatan akan membantu menjelaskan secara khusus bagi anak yang memerlukan penyesuaian jadwal imunisasi.

    Baca Juga: Jadwal Imunisasi Anak Sekolah Sesuai Program BIAS

    3. Ikuti Jadwal Imunisasi Kejar

    Anak yang terlambat imunisasi dapat mengikuti imunisasi kejar untuk melengkapi dosis yang belum didapatkan. Jadwal imunisasi kejar disesuaikan dengan usia dan riwayat imunisasi anak.

    Hal ini diperlukan karena tanpa dosis imunisasi yang lengkap, efek perlindungannya belum optimal dan tidak bertahan lama sesuai ekspektasi.

    4. Simpan Catatan Imunisasi Setelah Setiap Dosis

    Buku KIA berperan penting sebagai catatan resmi riwayat imunisasi anak. Orang tua bisa memeriksa kolom khusus yang tersedia untuk mengetahui vaksin mana saja yang sudah dan belum diberikan.

    Catatan imunisasi merupakan bukti saat anak pindah layanan kesehatan atau masuk sekolah. Pastikan data di buku KIA diisi dengan benar agar perawatan anak tetap berjalan lancar.

    Satu hal yang tak kalah penting adalah teruskan memberikan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan usia si Kecil. 

    Selain makanan utama dan camilan bernutrisi, Mama juga dapat melengkapi asupan hariannya dengan susu pertumbuhan sebagai bagian dari pola makan yang beragam. 

    Nutrilon Royal 3 satu-satunya formula teruji klinis yang dirancang secara saintifik dengan Double Biotics FOS:GOS dan DHA EPA yang lebih tinggi, menjadikannya nutrisi optimal sebagai "The Formula to Win". Dukung daya tahan tubuh dan kemampuan berpikir si Kecil demi persiapkan anak untuk menang. Dapatkan produk Nutrilon terlengkap hanya di NutriShop.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. Seputar Imunisasi. (2026). Kemkes.Go.Id. https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi
    2. ‌Imunisasi Kejar, Lengkapi Imunisasi Dasar Anak yang Tertunda. (2022, April 11). Kemkes.Go.Id. https://kemkes.go.id/id/imunisasi-kejar-lengkapi-imunisasi-dasar-anak-yang-tertunda
    3. ‌World Health Organization: WHO. (2025, February 25). How do vaccines work? Who.Int; World Health Organization: WHO. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/how-do-vaccines-work
    4. ‌Vaccines and immunization: What is vaccination?. (2025). Who.Int. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/vaccines-and-immunization-what-is-vaccination
    5. ‌CDC. (2025, June 6). Diseases that Vaccines Help Protect Against. Vaccines for Your Children. https://www.cdc.gov/vaccines-children/diseases/index.html
    6. ‌World Health Organization: WHO. (2026, July 21). More children receive lifesaving vaccines as Indonesia advances immunization coverage and works to close remaining gaps. Who.Int; World Health Organization: WHO. https://www.who.int/indonesia/news/detail/21-07-2026-more-children-receive-lifesaving-vaccines-as-indonesia-advances-immunization-coverage-and-works-to-close-remaining-gaps
    7. ‌Araújo, R. D., Diniz, L. M. O., Teixeira, D. C., Viana, A. C. V. F., Franco, L. P., Carvalho, S. A. da S., Liboredo, R., & de Castro Romanelli, R. M. (2026). Long‐Term Outcomes Following Bacterial Meningitis in Childhood: A Systematic Review and Meta‐Analysis. Journal of Paediatrics and Child Health, 62(8), 1335–1345. https://doi.org/10.1111/jpc.70469
    8. ‌World Health Organization: WHO. (2025, April 2). Poliomyelitis. Who.Int; World Health Organization: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/poliomyelitis
    9. ‌Permenkes No. 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit - JDIH BPK. (2026). Database Peraturan | JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/350854/permenkes-no-3-tahun-2026
    10. ‌Hasil Utama SKI 2023 - Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan | BKPK Kemenkes. (2024, June 7). Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan | BKPK Kemenkes. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/
    11. ‌CDC. (2026, May 15). Catch-up Immunization Schedule for Children and Adolescents (Addendum updated July 2, 2025). Vaccines & Immunizations. https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-schedules/child-adolescent-catch-up.html
    12. ‌World Health Organization: WHO. (2025, April). Meningitis. Who.Int; World Health Organization: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/meningitis
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Hadiah Eksklusif

    Hadiah Eksklusif

    Beragam hadiah eksklusif untuk dukung si Kecil jadi juara, siap Mama dapatkan!

    Icon Winning Parenting Content

    Winning Parenting Content

    Ratusan artikel dan konten tumbuh kembang untuk dukung si Kecil jadi juara

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Icon Belanja di Nutrishop

    Belanja di Nutrishop

    Nikmati kemudahan belanja Nutrilon Royal di website NutriShop dengan layanan tepercaya dan benefit eksklusif untuk Mama

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun