Dampak tidak imunisasi membuat memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Jika terinfeksi, penyakit tersebut dapat menyebabkan komplikasi serius, rawat inap, kecacatan, hingga mengancam nyawa. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mengetahui vaksin yang diperlukan dan mendapatkan jadwal kejar imunisasi sesuai usia dan kondisi anak.
Mengapa Anak yang Tidak Diimunisasi Lebih Berisiko Terkena Penyakit?
Imunisasi membantu sistem kekebalan mengenali kuman penyebab penyakit dan membentuk respons kekebalan tubuh untuk melawannya.
Jika anak belum mendapatkan vaksin, ia belum memiliki perlindungan spesifik sehingga lebih berisiko terkena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Apa Saja Dampak Anak Tidak Mendapatkan Imunisasi?
Tanpa imunisasi, anak jadi lebih mudah terserang penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Dampak tidak imunisasi ini tidak hanya membahayakan kesehatan anak, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
1. Lebih Berisiko Terkena Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Vaksin
Salah satu dampak tidak vaksin adalah anak lebih berisiko terkena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi.
Risikonya bergantung pada vaksin yang belum diterima dan kemungkinan anak terpapar penyakit, seperti campak, pertusis, difteri, polio, hepatitis B, dan tetanus.
2. Berisiko Mengalami Komplikasi Serius
Beberapa penyakit yang dapat dicegah imunisasi memiliki komplikasi serius, seperti kelumpuhan akibat polio dan kebutaan akibat gangguan saraf dari campak.
Dampak tidak imunisasi bisa menyebabkan cacat permanen yang memengaruhi kualitas hidup anak seumur hidup, atau bahkan kematian.
Pencegahan melalui imunisasi adalah kunci utama menghindari komplikasi berat tersebut.
3. Risiko Rawat Inap hingga Kematian Meningkat
Dampak tidak imunisasi juga dapat berupa risiko penyakit yang lebih berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin bahkan bisa menyebabkan kematian, terutama pada bayi dan kelompok rentan lainnya.
4. Dapat Menularkan Penyakit kepada Orang yang Rentan
Anak yang tidak mendapat imunisasi bisa menjadi carrier tanpa menunjukkan gejala. Artinya, si Kecil bisa membawa kuman tanpa terlihat sakit.
Ia bisa menularkan penyakit ke anak lain yang lebih rentan, seperti bayi. Tanpa disadari, mereka bisa menjadi penyebar utama penyakit di sekitarnya.
Hal ini bisa melemahkan kekebalan kelompok dan memicu wabah yang sulit dihentikan.
5. Meningkatkan Risiko Terjadinya Penularan dan Wabah
Dampak tidak imunisasi juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit di masyarakat.
Jika semakin banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi, kekebalan kelompok atau herd immunity dapat semakin melemah.
Jadi, penyakit lebih mudah menyebar dan wabah lebih mungkin terjadi.
Baca Juga: 10 Manfaat Vaksin untuk Anak agar Tumbuh Sehat, Cerdas, dan Terlindungi
6. Biaya Pengobatan yang Jauh Lebih Mahal daripada Pencegahan
Dampak tidak imunisasi pun dapat dirasakan dari sisi biaya. Hal ini karena mengobati penyakit infeksi bisa mahal, karena butuh rawat inap dan pengobatan jangka panjang.
Sementara imunisasi biasanya gratis atau biayanya jauh lebih murah.
7. Penyakit yang Sudah Jarang Terjadi Dapat Kembali Menyebar
Dampak tidak imunisasi yang nyata lainnya yaitu kembalinya penyakit yang sudah punah. Contoh, kejadian luar biasa (KLB) polio muncul lagi di beberapa daerah di Indonesia akibat penurunan cakupan imunisasi.
Ketika imunisasi berkurang, risiko penyebaran penyakit meningkat dan dapat mengancam keberhasilan program eliminasi penyakit menular.
8. Dapat Mengganggu Tumbuh Kembang Anak jika Mengalami Infeksi Berat
Dampak tidak imunisasi dapat berkaitan dengan tumbuh kembang jika anak mengalami infeksi berat atau komplikasi yang membutuhkan perawatan lama.
Misalnya, penyakit polio yang berisiko bagi si Kecil bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan permanen.
Sementara itu, dalam Journal of Paediatrics and Child Health (2026) disebutkan bahwa meningitis dapat menimbulkan gangguan jangka panjang pada sistem saraf.
Apakah Anak yang Belum Imunisasi Masih Bisa Mendapatkan Vaksin?
Ya, anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi masih dapat mengikuti imunisasi kejar.
Tenaga kesehatan akan menyesuaikan jadwal vaksin berdasarkan usia anak, jenis vaksin yang dibutuhkan, riwayat imunisasi, serta kondisi kesehatannya.
Jadi, keterlambatan imunisasi bukan berarti anak harus mengulang semua vaksin dari awal. Selain itu, melakukannya walau terlambat berarti menghindarkan si Kecil dari dampak tidak imunisasi.
Sistem imun yang kuat membantu si Kecil tetap aktif belajar, bermain, dan bereksplorasi setiap hari. Jadi member Nutriclub untuk mendapatkan berbagai informasi expert-verified seputar daya tahan tubuh anak dan cara mendukung kesehatannya secara optimal. Nikmati juga berbagai keuntungan member eksklusif, mulai dari akses ke konten expert-verified, penawaran spesial, hingga kesempatan mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai exclusive rewards dari Nutriclub.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Belum atau Terlambat Imunisasi?
Jika anak belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, Mama dan Papa tidak perlu panik. Berikut beberapa hal yang harus dilakukan.
1. Cek Riwayat Imunisasi Anak
Langkah pertama adalah memeriksa riwayat imunisasi anak melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), kartu imunisasi, atau catatan dari fasilitas kesehatan.
Catat vaksin dan dosis yang sudah diterima agar tenaga kesehatan dapat menentukan imunisasi yang masih diperlukan.
2. Konsultasikan dengan Dokter atau Tenaga Kesehatan
Orang tua bisa berkonsultasi gratis di Puskesmas atau Posyandu untuk menanyakan jenis interval imunisasi serta jadwal selanjutnya yang harus diikuti.
Konsultasi ini juga penting mengidentifikasi apakah ada kontraindikasi atau kondisi medis vaksin yang dibutuhkan anak.
Di sana, petugas kesehatan akan membantu menjelaskan secara khusus bagi anak yang memerlukan penyesuaian jadwal imunisasi.
Baca Juga: Jadwal Imunisasi Anak Sekolah Sesuai Program BIAS
3. Ikuti Jadwal Imunisasi Kejar
Anak yang terlambat imunisasi dapat mengikuti imunisasi kejar untuk melengkapi dosis yang belum didapatkan. Jadwal imunisasi kejar disesuaikan dengan usia dan riwayat imunisasi anak.
Hal ini diperlukan karena tanpa dosis imunisasi yang lengkap, efek perlindungannya belum optimal dan tidak bertahan lama sesuai ekspektasi.
4. Simpan Catatan Imunisasi Setelah Setiap Dosis
Buku KIA berperan penting sebagai catatan resmi riwayat imunisasi anak. Orang tua bisa memeriksa kolom khusus yang tersedia untuk mengetahui vaksin mana saja yang sudah dan belum diberikan.
Catatan imunisasi merupakan bukti saat anak pindah layanan kesehatan atau masuk sekolah. Pastikan data di buku KIA diisi dengan benar agar perawatan anak tetap berjalan lancar.
Satu hal yang tak kalah penting adalah teruskan memberikan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan usia si Kecil.
Selain makanan utama dan camilan bernutrisi, Mama juga dapat melengkapi asupan hariannya dengan susu pertumbuhan sebagai bagian dari pola makan yang beragam.
Nutrilon Royal 3 satu-satunya formula teruji klinis yang dirancang secara saintifik dengan Double Biotics FOS:GOS dan DHA EPA yang lebih tinggi, menjadikannya nutrisi optimal sebagai "The Formula to Win". Dukung daya tahan tubuh dan kemampuan berpikir si Kecil demi persiapkan anak untuk menang. Dapatkan produk Nutrilon terlengkap hanya di NutriShop.
