Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Menu dan Jadwal MPASI yang Tepat untuk Bayi Usia 6 Bulan

Rutinitas Anak

Menu dan Jadwal MPASI yang Tepat untuk Bayi Usia 6 Bulan

Article By : Febriyani Suryaningrum

Pada usia 6 bulan, nutrisi dan energi yang diperoleh bayi dari ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuhnya yang sedang berkembang pesat. Untuk itu, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat sangat diperlukan. 

Pemberian MPASI dengan menu yang kurang tepat dan jadwal yang tidak beraturan dapat membuat tumbuh kembang si Kecil terganggu. Padahal pada 1000 Hari Pertama Kehidupan anak, perkembangan otak bayi seharusnya terjadi sangat cepat.

Mama tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menciptakan seorang anak yang cerdas, unggul, dan sehat, bukan? Untuk itu, langsung saja yuk, Ma, simak jadwal MPASI untuk bayi usia 6 bulan beserta ide menu yang sehat dan tepat pada artikel berikut ini!

Kenapa MPASI Penting?

Perkembangan anak paling pesat terjadi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), yaitu sejak mulai dari dalam kandungan sampai usia 2 tahun nanti.

Gizi yang optimal sangat penting untuk pertumbuhan normal serta perkembangan fisik dan kecerdasan anak yang optimal. Dengan pemenuhan gizi yang tepat dan seimbang, anak bisa bertumbuh sehat, tidak mudah terserang penyakit infeksi, dan lain sebagainya.

Semua gizi penting yang paling dibutuhkan bayi untuk bertumbuh kembang bisa didapatkan dari ASI. Akan tetapi, umumnya setelah usia 6 bulan, kebutuhan nutrisi bayi tidak lagi dapat terpenuhi sepenuhnya hanya dari ASI. Selain itu, keterampilan makan bayi (oromotor skills) terus berkembang seiring dengan pertumbuhannya.

Oleh karena itu, memulai pemberian MPASI akan sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan mengoptimalkan tumbuh kembang bayi. Periode ini dikenal pula sebagai masa penyapihan (weaning) yang merupakan masa rawan pertumbuhan anak. Sebab, si Kecil sangat berisiko terhadap malnutrisi jika tidak diberi makanan yang tepat, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Apabila pada masa ini asupan nutrisi anak tidak optimal, malnutrisi dapat menempatkan si Kecil akan pada risiko yang lebih tinggi terhadap keterlambatan tumbuh kembang atau kondisi gagal tumbuh serius seperti stunting. 

Baca juga: 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak Periode Emas

Jadwal MPASI Bayi 6 Bulan

Prinsip keberhasilan MPASI pada anak yang perlu Mama ingat adalah beri anak makan saat ia merasa lapar. Untuk itu, Mama perlu mengatur jadwal makan si Kecil dengan seksama. Pengaturan jadwal makan ini sangat diperlukan untuk melatih anak dalam menimbulkan kesadaran akan rasa lapar dan kenyang. 

Selain itu, jadwal makan yang teratur dianggap penting karena berhubungan dengan kecepatan pengosongan lambung anak. Untuk makanan padat, lambung anak akan kosong separuhnya dalam waktu 100 menit. Sedangkan untuk makanan cair, lambung anak akan kosong separuhnya dalam waktu 75 menit.  

Dilihat dari waktu pengosongan lambung tersebut, sekarang Mama bisa mengetahui frekuensi MPASI yang tepat untuk anak usia 6 bulan yaitu 2-3 kali makan besar, 1-2 kali makanan selingan, dan ASI 2-3 kali. 

Berikut contoh jadwal MPASI menurut Ikatan Dokter Indonesia yang dapat Mama jadikan panduan: 

  1. Pukul 06.00 (bangun tidur): ASI.

  2. Pukul 09.00 (makan pagi): Jadwal MPASI 6 bulan dimulai dengan makan bubur.

  3. Pukul 11.00 (camilan): ASI.

  4. Pukul 12.00 (makan siang): Menu MPASI 6 bulan salah satunya adalah buah.

  5. Pukul 14.00 (sebelum tidur siang): ASI.

  6. Pukul  16.00 (camilan): Biskuit/buah.

  7. Pukul 18.00 (makan malam): ASI.

  8. Pukul 21.00 (sebelum tidur): ASI.

Baca juga: 5 Tanda Bayi Siap MPASI yang Wajib Mama Perhatikan

Tips Memulai MPASI di Usia 6 Bulan

Ada beberapa hal yang perlu Mama perhatikan dalam membuat menu MPASI, agar makanan memiliki tekstur yang tepat dan menggunakan bahan dasar yang disarankan. 

1. Mulai dengan Tekstur Lumat (Puree)

Mulai dari usia 6 bulan, berikan MPASI berupa makanan yang dihaluskan menjadi bubur kental seperti bubur susu atau makanan encer yang sudah disaring (puree). Tujuannya agar si Kecil bisa lebih mudah menelan MPASI tersebut selama ia masih dalam masa adaptasi.

Jika terlalu kental, Mama dapat encerkan dengan sedikit ASI/susu, air kaldu bekas merebus, atau air matang. Namun jika terlalu encer, Mama dapat menambahkan sedikit bubur beras.

2. Berikan Sedikit-Sedikit Dulu

Karena bayi masih beradaptasi dengan cara makan yang baru, jangan langsung berikan porsi makan langsung banyak dan terlalu sering. Idealnya, mulai MPASI pertama hanya sebanyak 2-3 sendok makan untuk 2 kali sehari.

Jangan pula memaksa si Kecil untuk menghabiskan makanan pertamanya.

3. Utamakan Protein Hewani

Sebagai langkah pencegahan stunting, protein hewani harus ada dalam MPASI pertama bayi. Protein hewani memiliki kandungan asam amino lebih lengkap daripada protein nabati yang dibutuhkan anak untuk mencapai tinggi optimalnya.

Protein dalam pangan hewani berfungsi sebagai pembangun sel-sel tubuh yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan anak, memperbaiki serta mengganti

jaringan tubuh yang rusak atau mati, juga membantu pembentukan antibodi yang berperan melawan penyakit.

Berbagai penelitian pun melaporkan, kekurangan asupan protein dari pangan hewani sejak usia bayi dapat sangat meningkatkan risiko stunting pada usia balita — bahkan hingga 17,5 kali lipat. Sebaliknya, anak yang rutin mengonsumsi protein hewani sejak masa MPASI pertama memiliki tubuh yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang hanya mengonsumsi protein nabati.

Sumber protein hewani antara lain ikan, daging sapi, daging ayam, dan telur. Adanya kandungan zat besi pada daging sapi bahkan juga bisa membantu mencegah anemia yang berisiko menyebabkan stunting.

Meski demikian, bukan berarti protein nabati tidak boleh dimasukkan ke dalam menu MPASI bayi. Protein nabati seperti dari tahu, tempe, dan kacang-kacangan boleh diberikan sebagai pelengkap variasi makanan untuk menunjang kebutuhan nutrisi anak.

4. Berikan Makanan yang Matang Sempurna 

Bahan makanan seperti telur, daging, dan ikan harus dimasak hingga matang sempurna untuk menghindari risiko kontaminasi bakteri atau parasit yang dapat menyebabkan keracunan. Telur yang belum matang dapat mengandung bakteri Salmonella, sementara daging sapi yang belum matang dapat mengandung Salmonella dan Escherichia coli. 

Selain untuk menghindarkan si Kecil dari berbagai macam bakteri dan parasit berbahaya, nutrisi dalam makanan yang dimasak matang sempurna juga lebih optimal untuk diserap tubuh bayi. 

5. Jaga Kebersihan Makanan

Untuk mempersiapkan MPASI, Mama perlu memperhatikan kebersihan tempat, peralatan, hingga tangan saat mengolah makanan. Termasuk kebersihan buah dan sayur sebelum diolah dan diberikan pada si Kecil. Bahkan, talenan yang digunakan untuk memotong bahan mentah harus dibedakan dengan talenan yang digunakan untuk memotong bahan makanan matang. 

6. Beri Penambah Kalori

Secara kualitas, MPASI harus mengandung gizi seimbang, yakni mencakup karbohidrat, protein (terutama sumber hewani), hingga serat dan vitamin serta mineral dari buah atau sayur.

Namun, jangan lupa juga asupan lemak sehat untuk menambah nilai kalorinya, misalnya dari minyak zaitun, santan, dan mentega agar makanan pendamping ASI semakin bernutrisi.

7. Hindari Memberikan Makanan dengan Penyedap Rasa

Memberikan makanan dengan penyedap rasa dan pemanis buatan sangat tidak disarankan untuk untuk bayi usia 6 bulan. Untuk menambah cita rasa makanannya, Mama bisa mengganti rasa asin pada MPASI dengan keju, daging, atau kaldu daging asli. Sementara untuk menambah rasa manis, Mama bisa mengganti asupan gula dengan sari buah-buahan yang memiliki cita rasa manis alami.

8. Hindari Pemberian Jus Buah

Jus buah tidak disarankan untuk anak di bawah usia 1 tahun karena jus buah sangat rendah serat dan memiliki kandungan gula yang sangat tinggi. Hal ini meningkatkan potensi malnutrisi dan diare pada anak. 

9. Jangan Memberikan Madu

Pemberian madu pada bayi di bawah 1 tahun sangat dilarang karena dapat menyebabkan penyakit Infant Botulism. Penyakit ini timbul karena bayi di bawah satu tahun belum memiliki ketahan tubuh untuk melawan toksin yang diproduksi oleh kuman Clostridium botulinum. 

Botulisme sangat berbahaya karena akan membuat bayi lesu, lemas, sesak nafas, sulit menelan, sembelit, mulut kering, hingga kematian karena kelemahan otot saluran napas. 

Jadi, hanya berikan madu pada si Kecil setelah ia berusia di atas 1 tahun ya, Ma!

Kunci keberhasilan lain dari MPASI adalah melakukan responsive feeding. Saat memberikan makan pada anak, Mama perlu sekaligus mengajak si Kecil untuk melakukan kontak mata dan berbicara. Selain itu, ajarkan bagaimana cara menggenggam makanan atau menggenggam sendok untuk kemudian memasukkannya ke dalam mulut. 

Ide Menu MPASI Bayi 6 Bulan 

Saat ini Mama sudah tahu apa saja yang harus diperhatikan saat membuat menu MPASI. Yuk, lanjutkan dengan mengintip beberapa Ide Menu MPASI sehat dan bergizi untuk si Kecil. 

1. Millet Porridge (Bubur Jewawut)

Millet atau dalam Bahasa Indonesia disebut Jewawut merupakan bahan pangan yang kurang populer di Indonesia. Namun menurut buku panduan Complementary Feeding: Family foods for breastfed children yang diterbitkan oleh WHO, millet memiliki nilai gizi yang cukup sebagai makanan MPASI bayi 6 bulan. 

Buat bubur kental dari tepung millet, kemudian tambahkan gula dan minyak. Untuk tambahan nutrisinya, Mama bisa mengencerkan bubur dengan ASI dan menambahkan topping daging sapi, ikan, atau ayam yang dilumatkan hingga halus. 

2. Soya Porridge

Selanjutnya Mama dapat membuat bubur berbahan dasar tepung kedelai yang kaya akan protein nabati. Campur soya porridge dengan minyak, gula, dan susu atau pounded groundnut untuk menambah kandungan nutrisi di dalamnya. Jangan lupa, tambahkan protein hewani seperti potongan daging sapi, telur, ayam, atau ikan yang dilumatkan sampai halus.

3. Mashed Potato

Menu berikutnya yang dapat Mama buat sebagai menu MPASI untuk bayi yang berusia 6 bulan adalah mashed potato yang dilumatkan dengan susu dan diberi topping ikan, daging ayam, atau ikan.  

Baca juga: MPASI Bayi 8 Bulan yang Dapat Meningkatkan Kecerdasan Otak Si Kecil

Kemudian, untuk memastikan bahwa si Kecil tidak memiliki risiko alergi terhadap setiap menu MPASI yang Mama sajikan, Mama bisa cek melalui tools Deteksi Risiko Keturunan Alergi Si Kecil yang disediakan oleh Nutriclub. Terlebih jika di keluarga Mama ada riwayat keturunan alergi makanan.

Risiko alergi pada anak penting diketahui untuk menentukan tindakan pencegahan dan perawatan yang tepat.

Semoga artikel ini membantu!

  1. “Complementary Feeding: Family Foods for Breastfed Children.” Who.int, World Health Organization, 3 Mar. 2000, www.who.int/publications/i/item/complementary-feeding-family-foods-for-breastfed-children. Accessed 2 Dec. 2022.
     
  2. “IDAI | Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak.” Idai.or.id, 2017, www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak#:~:text=Yang%20disebut%201.000%20hari%20pertama,mencapai%2080%25%20dari%20otak%20dewasa.. Accessed 2 Dec. 2022.
     
  3. “IDAI | Tepatkah Madu Diberikan Pada Bayi?” Idai.or.id, 2016, www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/tepatkah-madu-diberikan-pada-bayi. Accessed 2 Dec. 2022.
     
  4. “IDAI | Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).” Idai.or.id, 2018, www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-makanan-pendamping-air-susu-ibu-mpasi. Accessed 2 Dec. 2022.
     
  5. ‌“IDAI | Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak.” Idai.or.id, 2015, www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pentingnya-mengatur-jadwal-makan-anak. Accessed 2 Dec. 2022.
     
comment-icon comment-icon