Loading...
    Banner Artikel Apa itu Gangguan Kognitif? Kenali Ciri dan Penyebabnya pada Anak
    Tumbuh Kembang

    Apa itu Gangguan Kognitif? Kenali Ciri dan Penyebabnya pada Anak

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Diterbitkan: 08 Februari 2024

    Diperbarui: 05 Oktober 2026


    • Apa itu Gangguan Kognitif?
    • Seperti Apa Tanda Gangguan Kognitif pada Anak?
    • Apa Penyebab Gangguan Kognitif pada Anak?
    • Kondisi Apa yang Bisa Memengaruhi Fungsi Kognitif Anak?
    • Apakah Keterlambatan Perkembangan Pasti Berarti Gangguan Kognitif?
    • Bagaimana Gangguan Kognitif pada Anak Didiagnosis?
    • Bagaimana Cara Menangani Gangguan Kognitif pada Anak?
    • Apakah Nutrisi Berpengaruh terhadap Perkembangan Kognitif Anak?
    • Kapan Anak Perlu Diperiksakan ke Dokter?
    • Dokter atau Ahli Apa yang Bisa Membantu?

    Gangguan kognitif pada anak terjadi saat kemampuan untuk berpikir, mengingat, belajar, dan memahami informasi berkendala hingga memengaruhi proses tumbuh kembang dan aktivitas sehari-hari. Kondisinya tampak dari keterlambatan bicara atau motorik, kesulitan belajar dan berkonsentrasi, perubahan perilaku, hingga mudah lupa dan kesulitan menyelesaikan masalah sederhana.

    Apa itu Gangguan Kognitif?

    Gangguan kognitif adalah kondisi ketika kemampuan otak untuk memproses dan menggunakan informasi terganggu dan tidak berkembang sesuai dengan pertambahan usianya. 

    Pada anak, gangguan ini memengaruhi cara berpikir, belajar, mengingat, dan bernalar. Anak juga bisa kesulitan memecahkan masalah, menjaga fokus, serta memahami dan menggunakan bahasa.

    Apakah Gangguan Kognitif Sama dengan Disabilitas Intelektual?

    Gangguan kognitif tidak sama persis dengan disabilitas intelektual, meski keduanya sama-sama bisa memengaruhi kemampuan berpikir, belajar, dan memecahkan masalah.

    Disabilitas intelektual punya kriteria khusus, yaitu keterbatasan yang cukup serius pada kemampuan berpikir dan perilaku adaptif sejak masa perkembangan.

    Jadi, perbedaannya bukan cuma pada kemampuan berpikir anak, melainkan juga seberapa jauh kondisi tersebut memengaruhi kemampuan si Kecil menjalani fungsi kehidupan sehari-hari.

    Kemampuan adaptif sendiri mencakup komunikasi, bersosialisasi, merawat diri, serta menjalankan aktivitas sehari-hari sesuai usianya.

    Seperti Apa Tanda Gangguan Kognitif pada Anak?

    Yang perlu Mama ketahui yakni gangguan kognitif termasuk masalah yang bisa dideteksi sejak dini dengan mencermati gejalanya. Apa saja?

    1. Kesulitan Belajar dan Memahami Informasi

    Anak mungkin kesulitan menangkap informasi, memahami maksudnya, dan menggunakannya dalam situasi tertentu. Akibatnya, anak bisa menunjukkan tanda-tanda berikut.

    • Sulit memahami instruksi
    • Kesulitan memecahkan masalah
    • Membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami konsep

    2. Kesulitan Memori dan Konsentrasi

    Anak mungkin lebih sulit menyimpan informasi dan mempertahankan fokus, Ma. Tanda-tandanya di bawah ini.

    • Sulit mengingat informasi, misalnya lupa di mana tadi menaruh mainannya
    • Sulit mempertahankan perhatian, misalnya main yang satu belum selesai sudah ganti mainan lainnya
    • Mudah kehilangan fokus, misalnya langsung berhenti bermain ketika mendengar suara atau melihat sesuatu di sekitarnya.

    3. Hambatan Bahasa dan Komunikasi

    Anak mungkin mengalami kesulitan memahami atau menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Berikut tanda-tandanya.

    • Kesulitan memahami makna kata-kata, misalnya tidak bisa menunjuk hidungnya saat ditanya, “Mana hidungmu?”
    • Belum bisa menggabungkan dua atau lebih kata menjadi sebuah kalimat
    • Kesulitan menyampaikan apa yang dipikirkan atau diinginkannya

    Baca Juga: Perkembangan Bahasa Anak 1–5 Tahun

    4. Kesulitan dalam Keterampilan Sehari-hari

    Gangguan kognitif merupakan kondisi yang bisa menghambat keterampilan sehari-hari. Tandanya antara lain sebagai berikut.

    • Membutuhkan bantuan lebih banyak dari anak seusianya
    • Kesulitan mengikuti rutinitas dan jadwal sehari-hari
    • Kesulitan menggunakan keterampilan yang sudah dipelajari

    5. Kesulitan Sosial dan Adaptasi

    Ketika si Kecil bersosialisasi maupun beradaptasi dengan hal baru, ia mungkin menunjukkan kecenderungan-kecenderungan di bawah ini.

    • Menarik diri dari lingkungannya, tidak mau berbaur
    • Emosinya mudah meledak-ledak
    • Kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi tertentu

    Apa Penyebab Gangguan Kognitif pada Anak?

    Gangguan kognitif adalah masalah tumbuh kembang yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut beberapa faktor penyebab gangguan kognitif pada si Kecil.

    1. Faktor Genetik

    Penyebab utama gangguan kognitif adalah kelainan kromosom atau sindrom genetik. Misalnya, kelebihan kromosom 21 menyebabkan Down syndrome.

    Selain itu, terdapat kelainan pada kromosom X yang rapuh atau rentan patah. Kondisi ini dapat diturunkan dari orang tua dan menyebabkan sindrom Fragile X (FXS).

    Anak dengan kelainan genetik ini bisa mengalami hambatan perkembangan fisik dan mental.  

    2. Faktor selama Kehamilan

    Beberapa kondisi selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak janin dan meningkatkan risiko gangguan kognitif pada anak.

    Contohnya infeksi seperti rubella, sitomegalovirus (CMV), dan Zika, serta paparan zat berbahaya seperti alkohol, timbal, dan polusi udara berlebihan.

    Kurangnya gizi selama kehamilan serta kondisi medis seperti anemia dan diabetes juga berkaitan dengan risiko gangguan perkembangan otak anak.

    3. Komplikasi Kelahiran

    Bayi yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah (<2.500 gram) memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif. 

    Kekurangan oksigen saat persalinan atau setelah bayi lahir juga berpengaruh pada perkembangan otak anak, apalagi jika berlangsung cukup lama.

    4. Cedera atau Penyakit yang Memengaruhi Otak

    Cedera di kepala (misalnya karena jatuh atau terbentur) yang menyebabkan cedera otak bisa mengganggu kemampuan kognitif si Kecil. 

    Infeksi yang menyerang otak seperti ensefalitis dan kondisi neurologis tertentu seperti epilepsi juga bisa memengaruhi fungsi kognitif anak.

    5. Faktor Nutrisi dan Lingkungan

    Kekurangan nutrisi tertentu berisiko mengganggu perkembangan otak si Kecil. Namun, nutrisi bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi perkembangan kognitifnya, Ma.

    Kondisi sosial-ekonomi yang buruk juga bisa membatasi akses terhadap nutrisi, lingkungan sehat, dan pelayanan medis. Akibatnya, gangguan perkembangan bisa terlambat terdeteksi dan ditangani.

    Kondisi Apa yang Bisa Memengaruhi Fungsi Kognitif Anak?

    Meski ragam kondisi berikut tak selalu menyebabkan gangguan kognitif pada anak, semuanya bisa menjadi salah satu faktor penting gangguan kognitif yang dialami si Kecil.

    1. Intellectual Disability

    Disabilitas intelektual memengaruhi kemampuan kognitif secara umum, bukan hanya di beberapa aspek. Pada kondisi ini, IQ anak biasanya di bawah 70. 

    Seberapa serius gangguan yang dialami si Kecil tergantung pada kondisi yang jadi penyebabnya.

    2. Autism Spectrum Disorder

    Autisme biasanya tampak dari cara anak berkomunikasi, berinteraksi, belajar, dan berperilaku. Kemungkinan anak juga menunjukkan minat yang terbatas atau terus mengulang perilaku tertentu.

    Ini bisa membuatnya kesulitan mengikuti kegiatan di sekolah dan berinteraksi dengan teman. Ia juga mungkin membutuhkan lebih banyak bantuan untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari.

    3. ADHD

    ADHD bisa membuat si Kecil sulit memusatkan perhatian dan menyelesaikan tugas. Anak juga mungkin berperilaku hiperaktif, misalnya susah duduk diam dan banyak berbicara.

    Perilaku impulsif dapat membuat anak bertindak tanpa berpikir panjang, seperti menyela pembicaraan dan melakukan hal berbahaya atau nekat.

    4. Specific Learning Disorder

    Gangguan belajar spesifik menyebabkan anak kesulitan memperoleh keterampilan akademik tertentu.

    Jenisnya antara lain disleksia yang memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja serta disgrafia yang memengaruhi kemampuan menulis.

    Jenis lainnya yakni diskalkulia yang menyebabkan kesulitan belajar matematika dan disfasia yang memengaruhi kemampuan berbicara dan memahami bahasa lisan.

    5. Kondisi Perkembangan atau Neurologis Lainnya

    Gangguan mental seperti kecemasan dan depresi bisa sebabkan masalah pada fungsi kognitif karena gangguan pada kemampuan konsentrasi, motivasi, dan interaksi sosial anak.

    Riwayat cedera pada kepala seperti gegar otak juga bisa jadi salah satu faktor munculnya gangguan kognitif pada si Kecil, bahkan hingga ia dewasa kelak. 

    Yang perlu diingat, kondisi-kondisi di atas tidak selalu menyebabkan gangguan kognitif pada setiap anak. Dampaknya terhadap fungsi kognitif si Kecil dapat berbeda-beda.

    Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Harus Diwaspadai

    Apakah Keterlambatan Perkembangan Pasti Berarti Gangguan Kognitif?

    Belum tentu. Keterlambatan perkembangan biasanya hanya pada satu-dua aspek tertentu dan sering kali bersifat sementara serta membaik seiring waktu dengan stimulasi yang tepat.

    Pada gangguan kognitif, aspek yang terdampak lebih banyak dan efeknya jangka panjang.

    Untuk memahami kondisi si Kecil, harus dilihat pola perkembangannya secara keseluruhan. Penilaian juga dilakukan secara berkala, bukan hanya dari satu kemampuan yang terlambat.

    Karena itu, jangan menyimpulkan diagnosis sendiri. Konsultasikan dengan dokter agar si Kecil bisa mendapat penilaian dan dukungan yang sesuai sedini mungkin.

    Bagaimana Gangguan Kognitif pada Anak Didiagnosis?

    Untuk memastikan kondisi si Kecil, biasanya dokter spesialis anak atau ahli perkembangan anak akan menjalankan beberapa evaluasi berikut ini.

    1. Developmental Screening

    Dokter spesialis anak akan menggunakan kuesioner atau checklist untuk melihat indikasi adanya keterlambatan perkembangan.

    Mama dan Papa akan banyak ditanya soal milestone si Kecil serta kebiasaannya sehari-hari.

    2. Evaluasi Perkembangan

    Selanjutnya, perkembangan anak akan dinilai secara lebih menyeluruh lewat observasi, wawancara, dan tes tertentu.

    Penilaian ini melihat kemampuan anak dalam beberapa area seperti bahasa, belajar, perilaku, dan motorik.

    3. Tes Kemampuan Intelektual

    Tes IQ pada anak mengukur kemampuan anak dalam belajar, berpikir, memecahkan masalah, dan memahami informasi.

    Hasilnya membantu dokter menilai kemampuan intelektual anak dibandingkan anak seusianya. Umumnya, skor IQ di bawah 75 menunjukkan adanya keterbatasan kemampuan intelektual. 

    4. Penilaian Adaptive Functioning

    Penilaian ini melihat seberapa baik si Kecil dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri sesuai usianya. Kemampuan ini disebut perilaku adaptif.

    Perilaku adaptif mencakup tiga area utama di bawah ini.

    • Konseptual: kemampuan belajar dan memahami informasi.
    • Sosial: kemampuan berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain.
    • Praktis: kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

    5. Evaluasi Bahasa, Pendengaran, atau Kondisi Lain Bila Diperlukan

    Pemeriksaan tambahan dilakukan bila ada tanda masalah bahasa, pendengaran, atau kondisi lain.

    Misalnya, anak dengan keterlambatan bahasa mungkin perlu pemeriksaan pendengaran dan evaluasi kemampuan bahasanya.

    Bagaimana Cara Menangani Gangguan Kognitif pada Anak?

    Gangguan kognitif adalah kondisi yang bisa ditangani lewat berbagai pendekatan strategis demi perkembangan si Kecil. Di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Intervensi Dini

    Deteksi dan intervensi dini membantu anak mendapatkan penanganan lebih cepat sehingga peluang hasil yang lebih baik meningkat.

    Dengan begitu, kebutuhan pendidikan dan adaptasinya bisa dikenali lebih awal sehingga dukungan yang tepat bisa diberikan bagi si Kecil.

    2. Terapi Wicara dan Bahasa

    Speech therapy atau terapi wicara membantu meningkatkan keterampilan berbahasa dan komunikasi pada anak dengan autisme atau speech delay. 

    Si Kecil akan distimulasi bicara lewat media seperti buku, gambar, dan kejadian tertentu. Ia juga mungkin diajak memperbaiki pelafalannya dengan melatih gerakan lidah dan bentuk mulut. 

    Baca Juga: Anak Terlambat Bicara: Tanda dan Cara Stimulasi

    3. Terapi Okupasi

    Seorang terapis okupasi akan membantu anak-anak dengan gangguan perkembangan motorik atau koordinasi. 

    Terapi dilakukan melalui latihan dan aktivitas sehari-hari yang melibatkan motorik halus, motorik kasar, dan koordinasi mata-tangan. 

    4. Dukungan Pendidikan

    Anak-anak dengan gangguan fungsi kognitif mungkin memerlukan pendidikan khusus yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

    Ini bisa mencakup program pembelajaran individual, dukungan guru tambahan, atau penyesuaian dalam metode pengajaran.

    5. Terapi Perilaku atau Psikologis Sesuai Kondisi

    Beberapa gangguan kognitif, seperti ADHD atau gangguan perilaku, bisa merespons terapi perilaku dengan baik. 

    Terapi ini tujuannya yaitu membentuk pola perilaku positif dan membantu mengelola tantangan perilaku yang muncul.

    Konseling atau terapi psikologis juga dapat membantunya mengembangkan keterampilan sosial dan mengatasi masalah emosional dan sosial si Kecil.

    6. Pengobatan Jika Diperlukan

    Dalam beberapa kasus gangguan kognitif pada anak, pengobatan mungkin diperlukan, terutama untuk ADHD yang melibatkan gangguan perilaku dan fokus.

    Penggunaan obat-obatan harus diawasi secara ketat oleh tim dokter dan harus jadi bagian dari pendekatan lainnya, bukan jadi satu-satunya cara.

    7. Peran Orang Tua dan Keluarga

    Gangguan kognitif adalah kondisi yang perlu keterlibatan keluarga, terutama Mama Papa dan pengasuh anak. 

    Anak dengan kondisi ini butuh cara dan perhatian khusus agar bisa berkembang optimal. Jadi, Mama dan Papa mesti rajin ikut kelas dan pelatihan dari berbagai instansi tepercaya. 

    Baca Juga: Bagaimana Pola Asuh Orang Tua Berdampak Bagi Perkembangan Anak?

    Apakah Nutrisi Berpengaruh terhadap Perkembangan Kognitif Anak?

    Ya, nutrisi dari makanan dan minuman berpengaruh pada perkembangan kognitif anak. Namun, faktor penentu perkembangan kognitif anak ada banyak sekali, bukan cuma dari gizinya.

    Zat gizi yang penting bagi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak di antaranya: protein, lemak sehat, karbohidrat, zat besi, zinc, iodine, vitamin dan mineral, serta omega-3/DHA.

    Perlu Mama Papa ingat, nutrisi yang tepat memang mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak. Namun, makanan atau suplemen tertentu bukanlah pengganti evaluasi dan terapi.

    Kapan Anak Perlu Diperiksakan ke Dokter?

    Meski ada tandanya pada anak-anak, gangguan kognitif adalah salah satu kondisi yang sulit dipastikan langsung. Karena itu, konsultasikan dengan dokter bila anak mengalami kondisi di bawah ini.

    • Ada milestone yang belum tercapai atau mengalami kemunduran
    • Sulit memahami instruksi sederhana
    • Kemampuan bicara/komunikasi jauh berbeda dari anak seusianya
    • Ada kesulitan belajar yang menetap
    • Kemampuan sehari-hari tertinggal dari anak seusianya

    Percayakan insting Mama Papa, ya. Bila ada kekhawatiran tertentu terhadap perkembangan si Kecil, segera periksakan ke dokter.

    Dokter atau Ahli Apa yang Bisa Membantu?

    Untuk memeriksa serta mendampingi Mama dan Papa dalam mengasuh anak dengan gangguan kognitif, silakan konsultasikan dengan:

    • dokter spesialis anak
    • dokter anak tumbuh kembang jika tersedia
    • psikolog anak
    • psikiater anak
    • terapis wicara
    • terapis okupasi
    • dokter spesialis saraf (neurolog) anak sesuai indikasi

    Ahli mana saja yang tepat untuk si Kecil akan kembali lagi pada kondisi dan kebutuhan dari masing-masing anak. 

    Itulah penjelasan lengkap soal gangguan kognitif pada anak, bedanya dengan keterlambatan perkembangan, serta berbagai langkah penanganannya. 

    Masa awal kehidupan merupakan periode penting bagi perkembangan otak anak. Bergabunglah dengan Nutriclub untuk dapat insight expert-verified tentang stimulasi, nutrisi, dan berbagai faktor yang mendukung kemampuan belajar serta perkembangan kognitif si Kecil.

    Nikmati juga berbagai keuntungan member eksklusif, mulai dari akses ke konten expert-verified, penawaran spesial, hingga kesempatan mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai exclusive rewards dari Nutriclub.

    Yuk, kunjungi Nutrishop untuk dapatkan exclusive shopping experience dengan produk Nutrilon terlengkap!

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. ‌Lévesque, D. J. (2026, September 9). Cognitive disorders in children: Types, signs, and solutions. Neurodezign. https://neurodezign.com/en/cognitive-disorders-in-children/
    2. Hu, M., Truong, T., Zhu, S., Vidiella-Martin, J., Johnson, S., Quigley, M. A., & Petrou, S. (2026). Cognitive and Educational Outcomes After Preterm Birth or Low Birth Weight: An Umbrella Review and Meta-Analysis. JAMA pediatrics, 180(6), 628–638. https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2026.0533
    3. Schreglmann, M., Ground, A., Vollmer, B., & Johnson, M. J. (2020). Systematic review: long-term cognitive and behavioural outcomes of neonatal hypoxic-ischaemic encephalopathy in children without cerebral palsy. Acta paediatrica (Oslo, Norway : 1992), 109(1), 20–30. https://doi.org/10.1111/apa.14821
    4. Pöyhönen, H., Setänen, S., Isaksson, N., Nyman, M., Nyman, A., Peltola, V., & Lähdesmäki, T. (2021). Neurological and Cognitive Performance After Childhood Encephalitis. Frontiers in pediatrics, 9, 646684. https://doi.org/10.3389/fped.2021.646684
    5. Auvin S. (2022). Paediatric epilepsy and cognition. Developmental medicine and child neurology, 64(12), 1444–1452. https://doi.org/10.1111/dmcn.15337
    6. Rosen, M. L., Hagen, M. P., Lurie, L. A., Miles, Z. E., Sheridan, M. A., Meltzoff, A. N., & McLaughlin, K. A. (2020). Cognitive Stimulation as a Mechanism Linking Socioeconomic Status With Executive Function: A Longitudinal Investigation. Child development, 91(4), e762–e779. https://doi.org/10.1111/cdev.13315
    7. Tuersunjiang, T., Wang, Q., Yang, H., Feng, G., & Wang, Z. (2025). Long-term effects of mild traumatic brain injury in pediatrics. Acta Psychologica, 258, 105260. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.105260
    8. Galler, J. R., Bringas-Vega, M. L., Tang, Q., Rabinowitz, A. G., Musa, K. I., Chai, W. J., Omar, H., Abdul Rahman, M. R., Abd Hamid, A. I., Abdullah, J. M., & Valdés-Sosa, P. A. (2021). Neurodevelopmental effects of childhood malnutrition: A neuroimaging perspective. NeuroImage, 231, 117828. https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2021.117828
    9. Carlsson, T., Molander, F., Taylor, M. J., Jonsson, U., & Bölte, S. (2021). Early environmental risk factors for neurodevelopmental disorders - a systematic review of twin and sibling studies. Development and psychopathology, 33(4), 1448–1495. https://doi.org/10.1017/S0954579420000620
    10. UHS-Meridell. (2025). Cognitive impairments in children: Signs & treatment. Meridell.Com. https://meridell.com/blog/cognitive-impairments-in-children-signs-and-treatment/
    11. Eske , J. (2020, March 6). Fragile X syndrome: Causes, treatment, and diagnosis. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/fragile-x-syndrome
    12. Editorial Team. (2024). Defining Criteria for Intellectual Disability. American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD). https://aaidd.org/intellectual-disability/definition
    13. CDC. (2024, May 16). Developmental disability basics. Child Development. https://www.cdc.gov/child-development/about/developmental-disability-basics.html
    14. CDC. (2024a, May 7). Facts about TBI. Traumatic Brain Injury & Concussion. https://www.cdc.gov/traumatic-brain-injury/data-research/facts-stats/index.html
    15. European Association for the Study of Diabetes. (2025, September 15). Gestational diabetes poses substantial cognitive dysfunction risks for both mothers and offspring. News Medical Life Sciences. https://www.news-medical.net/news/20250915/Gestational-diabetes-poses-substantial-cognitive-dysfunction-risks-for-both-mothers-and-offspring.aspx
    16. Shapiro, K. A. (2019). Assessment of learning difficulty and cognitive delay - differential diagnosis of symptoms. BMJ Best Practice. https://bestpractice.bmj.com/topics/en-gb/884
    17. CDC. (2025, September 5). Developmental monitoring and screening. Learn the Signs. Act Early. https://www.cdc.gov/act-early/about/developmental-monitoring-and-screening.html
    18. ECCM. (2022). The basics of adaptive functioning assessments . Erie County Care Management. https://www.eccm.org/blog/the-basics-of-adaptive-funtioning-assessments
    19. Richards, L. (2021, April 13). What foods are good for brain development in kids? Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/brain-food-for-kids
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Hadiah Eksklusif

    Hadiah Eksklusif

    Beragam hadiah eksklusif untuk dukung si Kecil jadi juara, siap Mama dapatkan!

    Icon Winning Parenting Content

    Winning Parenting Content

    Ratusan artikel dan konten tumbuh kembang untuk dukung si Kecil jadi juara

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Icon Belanja di Nutrishop

    Belanja di Nutrishop

    Nikmati kemudahan belanja Nutrilon Royal di website NutriShop dengan layanan tepercaya dan benefit eksklusif untuk Mama

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun