Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

6 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Anak - Nutriclub
Perkembangan Otak

6 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Anak

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 31 Agustus 2023

Perkembangan kognitif anak perlu terus distimulasi dan dan didukung sebaik mungkin oleh orang tua. Dengan kemampuan kognitif yang optimal, si Kecil akan tumbuh menjadi anak yang unggul di akademis karena ia bisa menikmati tantangan baru dan terus termotivasi untuk belajar. Nah, perkembangan kognitif anak sebetulnya tidak bisa optimal hanya dengan terus-terusan diminta belajar dan menghafal. Apalagi ketika si Kecil masih berusia dini.

Sebab, ada banyak faktor lain yang ikut mempengaruhi perkembangan kognitif anak selain dengan pembelajaran konvensional. Apa saja itu?

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Anak

Menurut data yang disampaikan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang diterbitkan pada tahun 2018, skor kognitif anak Indonesia menempati peringkat yang cukup rendah. 

Dari total 79 negara, skor kognitif anak Indonesia berada pada peringkat ke-74 untuk kemampuan membaca, 73 untuk kemampuan matematika, dan 71 untuk sains. 

Fakta tersebut mungkin membuat Mama prihatin dengan kondisi perkembangan kognitif anak-anak Indonesia. Dan Mama pasti tidak ingin si Kecil menjadi salah satu di antaranya. 

Mari pahami faktor-faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak berikut ini agar Mama dapat membantu si Kecil mengembangkan kemampuan berpikir cerdasnya sedini mungkin!

1. Faktor Genetik

Seperti pada bentuk fisik, warisan gen dari orangtua juga dapat memainkan peran penting dalam menentukan bakat kognitif anak secara alami. Namun, hal ini bukan berarti kemampuan kognitif anak telah ditentukan secara permanen ketika ia terlahir di dunia ya, Ma.

Untungnya, otak merupakan organ yang bisa terus berkembang apabila diberikan stimulasi dan pembelajaran yang tepat sesuai dengan kelompok usianya. 

Jadi, gen yang membentuk kemampuan kognitif si Kecil hanyalah modal awal saja. Selanjutnya perkembangan kemampuan kognitif anak akan ditentukan oleh stimulasi yang didapatkan dari lingkungan di sekitarnya.Termasuk dari cara Mama dan Papa mengasuhnya sehari-hari. 

Oleh karena itu, pengalaman dan pendidikan positif pada usia dini, terutama 1000 hari pertama kehidupan, sangat penting untuk proses adaptasi epigenetik (perubahan dalam ekspresi gen yang terjadi terhadap perubahan lingkungan, bukan perubahan pada DNA inti sel itu sendiri) yang baik. 

Dengan begitu gen di dalam tubuh si Kecil akan mengeluarkan instruksi untuk membangun kapasitas kesehatan, kemampuan kognitif, dan ketangguhan (resilience) si Kecil secara optimal.

2. Stimulasi yang Tepat

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bakat alami saja tidak cukup untuk membuat kemampuan kognitif anak berkembang secara optimal. 

Si Kecil membutuhkan stimulasi yang tepat agar di masa depan dapat bersaing dalam berbagai macam kompetisi kehidupan. Apabila tidak distimulasi, bakat alami yang luar biasa pun perlahan akan mati. 

Lantas, seperti apa sih stimulasi yang tepat? Stimulasi yang tepat haruslah sesuai dengan kelompok usia dan kemampuan si Kecil. Ketika Mama memberikan stimulasi yang tidak tepat si Kecil dapat merasa kewalahan dan kehilangan motivasi untuk mencoba lagi. 

Misalkan untuk anak usia 1-3 tahun, stimulasi kognitif dapat diberikan melalui berbagai kesempatan bermain di lingkungan yang aman seperti menyusun balok, menyusun puzzle sederhana, finger painting, bernyanyi bersama, play-pretend, dan masih banyak lagi. 

Permainan tersebut akan bantu si Kecil mengembangkan kemampuan berpikir, berimajinasi, mengingat, merencanakan, memecahkan masalah, mengenali konsep dasar matematika, dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.  

Baca juga: Perkembangan Kognitif Anak dan Cara Stimulasinya

3. Mindset yang Ditanamkan Orang Tua

Selain stimulasi yang tepat, mindset alias pola pikir yang ditanamkan pada anak juga akan menjadi salah satu hal yang mempengaruhi perkembangan kognitifnya. 

Salah satu contoh pola pikir yang perlu dimiliki anak adalah growth mindset, yaitu prinsip yang mempercayai bahwa kesuksesan tidak hanya bergantung pada bakat atau kecerdasan alami. Anak dengan growth mindset yakin bahwa ia dapat mengembangkan kecerdasannya melalui kerja keras, strategi yang baik, dan dedikasi tanpa kenal menyerah. 

Anak yang memiliki pola pikir ini dapat bertahan saat menghadapi tantangan dan justru melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang sehingga ia dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Untuk menanamkan growth mindset, Mama dan Papa perlu secara konsisten menjadi role model bagi si Kecil dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

4. Sistem Imun Tubuh

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa perkembangan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh saluran pencernaan dan sistem imunitas. Daya tahan tubuh yang kuat akan meningkatkan perkembangan sistem kognitif yang optimal.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, SpA(K) memaparkan bahwa gangguan pada imunitas anak seperti demam, batuk, pilek (ISPA) dapat berefek panjang hingga dapat mengganggu perkembangan anak, termasuk motivasinya untuk belajar.

Salah satu cara yang dapat Mama lakukan untuk mendukung sistem imun yang kuat pada si Kecil adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Pastikan si Kecil mendapatkan waktu tidur yang cukup, bergerak secara aktif minimal 60 menit sehari, mendapatkan sinar matahari, dan mengonsumsi makanan yang sehat seperti prebiotik FOS:GOS dan asam lemak esensial omega-3, omega-6, dan DHA. 

Mama juga bisa optimalkan asupan FOS:GOS dan asam lemak esensial si Kecil untuk perkuat imunitasnya dengan susu Nutrilon Royal 3. Nutrilon Royal 3 hadir dengan formula Actiduobio+, yaitu kombinasi prebiotik FOS:GOS dengan rasio 1:9 yang paling tinggi dan telah teruji klinis serta Omega 3, 6, dan DHA yang lebih tinggi untuk bantu dukung imunitas dan daya tangkap si Kecil.

Baca juga: Nutrisi Tepat untuk Optimalkan Daya Tahan Tubuh Si Kecil

5. Kesehatan Sistem Pencernaan 

Tahukah Mama bahwa sistem pencernaan disebut sebagai otak kedua? Sistem pencernaan ternyata memiliki sel-sel saraf yang “dapat berkomunikasi” secara langsung dengan otak. 

Oleh karena itu, apabila sistem pencernaan anak mengalami gangguan, ia dapat mengirimkan sinyal “negatif” kepada otak. Dan ketika terjadi secara berkelanjutan, hal ini dapat menghambat proses perkembangan kognitif anak. 

Di sini, tugas Mama adalah membantu si Kecil untuk memiliki sistem pencernaan yang sehat. Salah satu caranya adalah dengan memberikan asupan makanan kaya probiotik dan prebiotik dengan takaran yang memadai. 

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, SpA(K) memaparkan bahwa prebiotik FOS:GOS memiliki peran untuk menunjang pertumbuhan probiotik seperti Bifidobacteria. Orang tua perlu memahami terkait penyediaan nutrisi yang baik dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan sistem imunitas anak. Daya tahan tubuh yang kuat akan meningkatkan perkembangan sistem kognitif yang optimal.

6. Kecukupan Asupan Nutrisi Harian

Bukan hanya dari stimulasi saja, namun Si Kecil perlu mendapatkan asupan nutrisi yang memadai dan seimbang agar otaknya berkembang dan bekerja secara optimal.  

Pemenuhan nutrisi ini bukan hanya dilakukan ketika si Kecil sudah terlahir di dunia ya, Ma. Pemenuhan nutrisi ini perlu diberikan sejak si Kecil masih dalam kandungan. 

Pasalnya, pada 1000 hari pertama kehidupan si Kecil (sejak masa konsepsi kehamilan hingga anak usia 2 tahun) perkembangan otak sedang terjadi sangat pesat. Jauh lebih cepat daripada fase kehidupan lainnya. 

Oleh karena itu, apabila pada periode usia ini si Kecil kekurangan asupan nutrisi esensial,  perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisiknya dapat terganggu. Akibatnya si Kecil mengalami gagal tumbuh. 

Agar pertumbuhan otak si Kecil berjalan dengan optimal, Mama bahkan perlu mengkonsumsi asam folat 3 bulan sejak masa perencanaan kehamilan. 

Baca juga: 6 Vitamin Penting untuk Dukung Perkembangan Otak Anak

Jadi, mulai saat ini Mama perlu memastikan menu makan si Kecil selalu terdiri dari makanan sumber karbohidrat, protein (terutama protein hewani), vitamin, dan mineral secara seimbang. 

Itulah 6 faktor utama yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Semoga artikel membantu ya, Ma.

Memiliki kemampuan kognitif yang optimal bisa membuat si Kecil unggul di bidang akademis. Untuk mengoptimalkan kemampuan ini, Mama bisa mengunduh 8 Winning Skills Stimulation Kit yang sudah diverifikasi para ahli, lho!

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
  1. (2023). Age UK. https://www.ageuk.org.uk/information-advice/health-wellbeing/mind-body/staying-sharp/thinking-skills-change-with-age/genes-and-thinking-skills/

  2. Bueno, D. (2019). Genetics and Learning: How the Genes Influence Educational Attainment. Frontiers in Psychology, 10. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.01622

  3. What is Epigenetics? The Answer to the Nature vs. Nurture Debate. (2020, October 30). Center on the Developing Child at Harvard University. https://developingchild.harvard.edu/resources/what-is-epigenetics-and-how-does-it-relate-to-child-development/

  4. Thinking and play: toddlers. (2022, December 20). Raising Children Network. https://raisingchildren.net.au/toddlers/play-learning/play-toddler-development/thinking-play-toddlers#:~:text=Toddlers%20learn%20best%20when%20they,drawing%2C%20sorting%20and%20playing%20outside.

  5. Ford, N. D., & Stein, A. D. (2015). Risk factors affecting child cognitive development: a summary of nutrition, environment, and maternal–child interaction indicators for sub-Saharan Africa. Journal of Developmental Origins of Health and Disease, 7(2), 197–217. https://doi.org/10.1017/s2040174415001427

  6. Morin, A. (2019, August 5). Growth Mindset: How to Develop Growth Mindset. Understood; Understood. https://www.understood.org/en/articles/growth-mindset

  7. How to get more probiotics - Harvard Health. (2020, September 12). Harvard Health; Harvard Health. https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/how-to-get-more-probiotics#:~:text=The%20most%20common%20fermented%20foods,sourdough%20bread%20and%20some%20cheeses.

  8. WebMD Editorial Contributors. (2020, November 11). Foods High in Prebiotics. WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/diet/foods-high-in-prebiotic

  9. Clinic, C. (2020). Gut-Brain Connection: What It is, Behavioral Treatments - Cleveland Clinic. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/16358-gut-brain-connection

Artikel Terkait
floating-icon