Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

peran-orang-tua-dalam-mendidik-anak
Tumbuh Kembang

Peran Orang Tua Mendidik Anak agar Memiliki Growth Mindset

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 03 September 2021

Sudah bukan rahasia kalau peran orang tua sebagai pengasuh utama sangat penting dalam mendidik anak berkembang dengan baik. Khususnya peran Mama yang memang cukup besar dalam hidupnya sehari-hari. Maka itu, si Kecil membutuhkan panduan dari Mama untuk mengembangkan pola pikir atau mindset yang benar sejak dini. Pasalnya, memiliki pola pikir yang tepat adalah hal paling krusial untuk menentukan masa depan mereka.

Nah, di sinilah Mama dan Papa mulai bisa mengenalkan dan mencontohkan growth mindset pada anak. Apa itu growth mindset?

Apa itu Growth Mindset?

Growth mindset adalah pola pikir atau prinsip yang diyakini seseorang bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh faktor tetap seperti bakat atau kecerdasan bawaan, melainkan juga sebagai hasil dari usaha, dedikasi, dan ketekunan yang berkelanjutan. 

Skill dan pola pikir growth mindset saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain, Ma. Skill mengacu pada kemampuan nyata atau pengetahuan khusus yang dimiliki seseorang dalam melakukan tugas atau mencapai tujuan tertentu.

Sementara itu, growth mindset adalah sikap mental yang menjadikan anak yakin dan percaya diri bahwa ia bisa menjadi lebih baik dalam apa pun yang ia lakukan dalam hidupnya asalkan ia mau terus berusaha, belajar dari kesalahan, dan tidak takut gagal menghadapi tantangan untuk meningkatkan skill serta wawasan mereka.

Growth mindset mempengaruhi cara anak-anak berpikir tentang kecerdasan dan kemampuan mereka sendiri. Memiliki growth mindset membantu anak meyakini bahwa usaha dan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Sederhananya, si Kecil percaya “I am not only born smart; I become smart because I can do anything”.

Baca Juga: 8 Cara Melatih Anak Berpikir Kritis Sejak Usia Dini

Peran Orang Tua Mendidik Anak agar Memiliki Growth Mindset 

Mama, anak dengan growth mindset umumnya akan tumbuh menjadi sosok yang ingin terus belajar dan memiliki daya juang yang tinggi untuk mencapai sebuah pencapaian besar tanpa harus “ngoyo” dan berpikir negatif tentang dirinya sendiri. 

Sebab si Kecil percaya bahwa ia dapat selalu mengembangkan kecerdasan dan keterampilannya dengan strategi yang baik, ketekunan, kerja keras, keberanian untuk mencoba kembali, dan keterbukaan untuk mendengarkan masukkan dari orang lain. 

Alhasil, ia akan memandang tantangan sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kemampuan diri, bukannya sesuatu yang menakutkan dan memusingkan. 

Tentu saja konsep rumit tersebut tidak bisa langsung dipahami begitu saja oleh si Kecil. Butuh peran besar dari Mama dan Papa agar si Kecil dapat mengembangkan growth mindset. 

Sebab dengan memiliki growth mindset, si Kecil dapat lebih mudah menguasai 8 skill penting yang akan mengantarkannya melangkah jadi pemenang di masa depan, yaitu: 

  1. Perhatian.

  2. Fokus.

  3. Daya ingat.

  4. Berbahasa.

  5. Psikomotor.

  6. Logika.

  7. Penalaran.

  8. Decision-making & problem solving.

Lalu apa yang harus dilakukan? Mama dan Papa perlu mendidik anak dengan pola asuh positif secara konsisten. Berikut ulasannya: 

1. Mengajarkan Arti Kesalahan dan Kegagalan 

Ketika besar nanti, si Kecil akan ada banyak hal yang menjadi hal pertama dalam hidupnya dan Mama tidak mungkin akan selalu ada disampingnya selama 24/7 untuk memberikan semua pertolongan yang dibutuhkan. 

Ia harus menghadapinya seorang diri dan kemungkinan akan membuat kesalahan atau menemui kegagalan. 

Oleh karena itu, Ma, sangat penting bagi anak untuk memahami bahwa kesalahan adalah hal yang wajar dalam proses belajar. Everybody makes mistakes and it’s okay!

Ajarkan pada si Kecil, bahwa dari kesalahan dan kegagalan ia bisa mempelajari banyak hal termasuk mana cara yang harus disingkirkan, cara yang harus dipertahankan, dan cara yang harus dimodifikasi untuk mencapai tujuannya. 

Ada “mantra” yang dapat Mama ajarkan pada si Kecil untuk membantunya memahami arti dari membuat kesalahan dan kegagalan, lho! 

Bunyinya, “Mistakes help my brain grow!” 

Mama dapat mengajak anak untuk mengucapkan “mantra” tersebut ketika ia melakukan kesalahan atau sedang menghadapi kegagalan.

Kalimat di atas, Ma, diciptakan oleh penggagas growth mindset, Dr. Carol Dweck, untuk membantu si Kecil memahami bahwa dari sebuah kesalahan atau kegagalan ia akan belajar banyak hal dan menjadi semakin pintar. 

Jadi, usahanya tidak ada yang sia-sia dan semua orang bisa selalu menjadi lebih pintar dengan belajar. 

Apabila tidak tahu cara menghadapi kesalahan dan kegagalan, si Kecil akan menjadi anak yang rapuh. Sekalinya gagal ia akan merasa sangat kecewa dan mungkin sangat susah untuk menumbuhkan motivasinya agar mau mencoba lagi. 

2. Mengajarkan Berani Coba Hal Baru

Ketika melihat si Kecil berusaha menyelesaikan suatu permasalahan, mungkin Mama sangat ingin membantunya. Namun sebaiknya ditahan ya, Ma. Biarkan ia mencoba menghadapi permasalahannya terlebih dahulu. 

Jika anak benar-benar terlihat kesulitan, Mama dapat memotivasi si Kecil untuk memikirkan ide baru untuk memecahkan masalahnya.

Ajak anak untuk membaca buku, membuka internet, bertanya pada teman, bertanya pada guru, bahkan mungkin bertanya pada ahlinya untuk mendapatkan pendekatan dan cara pandang baru. 

Ketika di lain waktu si Kecil tampak berinisiatif untuk berhenti dan memikirkan strategi permasalahan baru, Mama dapat memberikan pujian atas usahanya dan mendengarkan ceritanya dengan seksama.  

Baca juga: Keterampilan atau Karakter untuk Masa Depan Anak?

3. Biasakan Fokus pada Proses, Bukan Hasil

Mama dapat bantu mengembangkan growth mindset dalam diri si Kecil dengan cara memberikan pujian pada proses dan usaha yang telah dilakukan. 

Hindari memuji hasil akhirnya saja karena hal tersebut membuat anak tidak bisa melihat bahwa proses panjang yang ia lalui merupakan sesuatu yang sangat berharga dan suatu hari akan mengantarkan mereka menuju kesuksesan. 

Memuji hasil dan kepintaran anak akan mengirimkan sinyal bahwa apa yang mereka capai bukanlah sesuatu yang memerlukan usaha namun karena ia “diberkahi bakat” dari lahir. 

Jadi, alih-alih mengatakan, “Adik pintar sekali menggambar gajahnya!” Mama dapat mengatakan, “Wow, nice try! Adik sedang suka menggambar gajah, ya?” atau “Mama tahu kamu berusaha keras buat menggambar gajahnya. Yuk, di pajang di pigura!”

4. Ajak Anak untuk Sering Berdiskusi 

Jangan hanya berhenti pada memberikan positive encouragement, ya, Ma. Untuk menumbuhkan growth mindset, jangan lupa memberikan pertanyaan yang dapat membantu anak merefleksikan proses yang telah ia lalui. 

Diskusi akan membantu si Kecil bahwa membuat kesalahan bukanlah hal yang memalukan dan menakutkan dan ia dapat memikirkan strategi lain untuk mencapai tujuannya. 

Berikut contoh pertanyaan yang dapat Mama sampaikan untuk membuka diskusi dengan si Kecil: 

  • “Bagian apa Nak yang paling sulit? Bagaimana caranya kamu menyelesaikannya?”

  • “Apa cara favorit Adik dalam menyelesaikan permainan tadi?”

  • “Tadi kan sempat tidak bisa memasang legonya, kira-kira kenapa sih Dik?”

  • “Tadi di sekolah belajar apa saja dengan Ibu Guru? (Biarkan anak bercerita. Misalkan ia belajar menggambar itik namun cat airnya habis) “Oh kalau begitu, apa yang Adik lakukan supaya bisa membuat warna kuning kalau cat air Adik habis?”

5. Berbicara Apa Adanya

Oh iya, dalam mengajak anak berbicara atau diskusi, Mama juga disarankan untuk lebih “blak-blakan”. Apabila si Kecil melakukan hal yang kurang tepat Mama dapat menegurnya tanpa terlalu banyak sugar coating atau berbasa-basi. 

Katakan apa adanya dengan suara tegas namun tetap lembut dan tidak menjatuhkan contohnya, “Sepertinya cara tadi kurang tepat, ya, Dik. Sampai sekarang rodanya belum bisa berputar. Yuk cari cara baru untuk menyelesaikan permainan ini!”

Baca juga: 13 Ciri-Ciri Anak Ber-IQ Tinggi yang Perlu Mama Tahu

6. Perkenalkan Pengalaman Baru

Memiliki tradisi keluarga untuk mengisi liburan memang baik, namun tidak ada salahnya kita memperkenalkan si Kecil pada berbagai aktivitas baru. 

Memperkenalkan si Kecil pada banyak hal baru akan membuatnya belajar banyak hal. Jadi, ia bisa berpikir melalui sudut pandang yang lebih beragam dalam menghadapi tantangan di dalam hidupnya. 

Misalnya, biasanya setiap weekend Mama dan Papa mengajak si Kecil main ke kids cafe. Mulai minggu depan mungkin Mama bisa mengajak si Kecil main ke Kebun teh atau memancing di danau. 

Kalau di kids cafe, mungkin si Kecil sudah terbiasa menyusun strategi untuk menyelesaikan permainan favoritnya. Namun saat memancing di danau, ia akan keluar dari zona nyaman dan belajar menyusun strategi bagaimana cara memasang umpan yang benar atau menarik kail yang telah termakan. 

7. Jelaskan Bahwa Otak si Kecil Masih Terus Berkembang 

Pembicaraan ini tidak terlalu rumit kok, Ma, untuk anak. Mama bisa memberi tahu anak bahwa mereka memiliki kontrol atas perkembangan otaknya melalui segala tindakan yang mereka lakukan. 

Katakan pada anak bahwa ketika mereka mencoba hal baru dan berusaha menyelesaikannya dengan baik saat itu sel-sel otaknya saling terkoneksi sehingga terbentuklah otak yang kuat.

Untuk membuat otaknya semakin kuat, ia perlu berlatih, mengajukan pertanyaan, dan berpartisipasi secara aktif saat belajar. Bukan hanya diam mendengarkan dan melihat.

Pemahaman tersebut akan meningkatkan motivasi dan pencapaian anak dalam berbagai bidang, Ma.  

Ketika anak memiliki kemauan untuk berkembang, ia yakin dapat memperoleh pengetahuan dan menguasai 8 keterampilan penting yang diperlukan untuk menjadi pemenang.

8. Ajak Anak Memahami Emosinya

Dalam proses belajar, terkadang kita merasa senang, semangat, takut, kesal, marah, bahkan mungkin sedih. Perubahan emosi tersebut dapat terjadi kapan saja bahkan secara tiba-tiba. 

Ketika emosi negatif yang menyeruak ke permukaan, gejolak emosi tersebut dapat membuat otak anak tidak dapat bekerja dengan maksimal dan mungkin membuat anak merasa frustasi. 

Oleh karena itu Mama perlu mengajarkan bahwa perubahan emosi itu normal, namun ia harus belajar mengendalikannya. 

Salah satu cara yang dapat Mama lakukan adalah dengan mengajari anak untuk menarik nafas panjang sambil berhitung 1-5 di dalam hati. Kemudian, menghembuskannya perlahan sambil menghitung 1 sampai 3 di dalam hati. Ulangi terus hingga ia merasa lebih tenang. 

Latihan pernafasan tersebut akan membantu memecah adrenalin yang mengalir dalam darah si Kecil. 

9. Menjadi Role Model untuk Anak

Growth mindset tidak bisa serta merta dikuasai si Kecil, terutama di usianya yang masih sekecil itu. Maka, hal terpenting untuk menumbuhkan mindset ini pada anak sebenarnya adalah Mama dan Papa yang juga harus bisa memiliki mindset sama.

Artinya, sangat penting bagi Mama dan Papa sebagai role model si Kecil sama-sama memiliki keyakinan yang kuat bahwa anak bisa terus berkembang dan menjadi sukses melalui proses belajar. 

Jika Mama dan Papa bisa menerapkan growth mindset sebagai contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, si Kecil akan meniru apa yang ia lihat dan mengingatnya sebagai pembelajaran.

Misalkan saat mencoba resep kue baru dan rasanya tidak terlalu enak. Mungkin memang ada rasa kecewa, namun Mama tidak perlu marah berlebihan ketika Papa mengemukakan pendapat tentang rasa kue yang belum pas. 

Mama dapat menanggapi pendapat Papa dengan meminta saran atau mengucapkan kalimat yang membangun seperti, “Hmm, belum pas ya rasa kuenya. Menurut Papa kurang apa sih?”

Tunjukkan Mama mendengarkan pendapat Papa dengan seksama dan mengambil saran atau kritik yang dianggap sesuai. Jangan lupa juga tekankan kalau Mama bisa selalu mencoba lagi sampai mendapatkan rasa kue sesuai dengan keinginan. 

“Iya sih, Pa, kuenya kurang empuk. Tapi kalau manisnya sepertinya sudah pas. Makanan yang terlalu manis tidak baik untuk kesehatan, Pa. Besok Mama akan coba buat kuenya lagi, ya. Semoga rasanya lebih enak.” 

Baca juga: Apa ya Tanda – Tanda Anak yang Percaya Diri?

10. Selalu Penuhi Kebutuhan Gizi Anak

Selain dari pola asuh yang baik, si Kecil memerlukan asupan nutrisi yang memadai. Asupan nutrisi yang baik dan seimbang dari makanan sehari-hari memainkan peran kunci dalam mendukung pertumbuhan dan fungsi otak yang optimal, terutama pada periode emas perkembangan kognitif.

Salah satu contoh jenis gizi yang penting untuk mengoptimalkan perkembangan kognitif dan daya pikir anak adalah asam lemak omega-3, terutama DHA (asam dokosaheksaenoat). DHA merupakan komponen penting dalam pembentukan struktur otak dan transmisi sinyal saraf telah dikaitkan dengan peningkatan fungsi kognitif, kemampuan belajar, dan penyimpanan memori.

Selain itu, memenuhi kebutuhan gizi anak juga sangat penting untuk mengoptimalkan sistem imun si Kecil. 

Sebab, dalam dua dekade terakhir ini berbagai penelitian menyatakan bahwa sistem kekebalan ternyata memainkan peran penting untuk mendukung proses pembelajaran, penguatan memori, dan plastisitas otak.

Plastisitas otak itu sendiri adalah kemampuan kapasitas otak untuk berubah dan beradaptasi mengikuti perkembangan anak. Ini adalah salah satu kemampuan otak yang penting dalam pembelajaran dan memori. Selain itu, sistem kekebalan juga sangat berperan dalam pemeliharaan fungsi neurokognitif yang sehat.

Baca juga: 6 Ciri-Ciri Anak Sehat dan Punya Imunitas yang Baik

Oleh karena itu, pastikan Mama selalu memberikan aneka ragam makanan bergizi seimbang dan lengkapi dengan pemberian nutrisi optimal dari Nutrilon Royal ACTIDUOBIO+ untuk mengoptimalkan sistem imunnya.  Karena, Nutrilon Royal dilengkapi dengan kandungan FOS GOS 1:9 yang lebih tinggi serta omega 3, 6, dan DHA yang sudah teruji klinis untuk dukung imunitas si Kecil.

Dengan daya tahan tubuh yang optimal, si Kecil juga jadi lebih siap menerima semua informasi baru untuk terus belajar meningkatkan skill dan mengoptimalkan kemampuan berpikirnya.

Semoga artikel ini dapat membantu ya, Ma!

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
  1. Growth Mindset in Early Learners | Nebraska Extension. (2023). Unl.edu. https://extension.unl.edu/statewide/knox/growth-mindset-in-early-learners/

  2. How to Teach Your Child to Have a Growth Mindset. (2016) Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/tips-for-teaching-your-child-to-have-a-growth-mindset-4014842#toc-2-teach-them-to-try-out-new-ideas-and-approaches-to-problem-solving

  3. Campbell, J. A., & Løkken, I. M. (2022). Inside Out: A Scoping Review on Optimism, Growth Mindsets, and Positive Psychology for Child Well-Being in ECEC. Education Sciences, 13(1), 29. https://doi.org/10.3390/educsci13010029

  4. ‌Song, Y., Barger, M. A., & Bub, K. L. (2022). The Association Between Parents’ Growth Mindset and Children’s Persistence and Academic Skills. 6. https://doi.org/10.3389/feduc.2021.791652

  5. Sauber, T. (2021, December 29). How to Nurture a Growth Mindset in Kids: 8 Best Activities. PositivePsychology.com. https://positivepsychology.com/growth-mindset-for-kids/#nurturing

  6. Kit. (2023). Mindset Kit - Three ways parents can instill a growth mindset, Growth Mindset for Parents. Mindset Kit. https://www.mindsetkit.org/growth-mindset-parents/how-parents-can-instill-growth-mindset/3-ways-parents-can-instill-growth-mindset

Artikel Terkait
floating-icon