Mengingat nasi merupakan makanan pokok kebanyakan orang Indonesia, tak heran jika banyak Ibu penasaran bolehkah bayi 10 bulan makan nasi utuh? Simak artikel ini untuk tahu jawabannya!
Bolehkah Bayi 10 Bulan Makan Nasi Utuh?
Nasi adalah salah satu sumber karbohidrat dan energi yang dibutuhkan bayi untuk bertumbuh kembang. Sebenarnya, si Kecil sudah bisa dikenalkan nasi sejak awal MPASI, saat berusia 6 bulan.
Namun teksturnya halus seperti bubur, agar mudah dikonsumsi. Seiring bertambah usia, tekstur MPASI perlu ditingkatkan untuk mendukung si Kecil belajar mengunyah.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi 10 bulan sudah bisa dikenalkan dengan tekstur makanan yang dicincang halus atau dicincang kasar. Lantas, bolehkah bayi 10 bulan makan nasi utuh?
Jawabannya, boleh saja, asalkan ia sudah memiliki refleks menelan yang baik. Mama juga bisa mencampurkan nasi utuh dan nasi lembek untuk membantunya belajar mengunyah, sekaligus mengenalkan aneka tekstur.
Selain itu, nasi dapat diratakan menggunakan bagian belakang sendok agar butiran nasi saling menempel, sehingga mempermudah bayi makan sendiri.
Berapa Takaran Nasi untuk Bayi 10 Bulan?
Untuk MPASI 10 bulan, takaran nasi yang dibutuhkan sekitar 25-40 gram nasi per porsi sekali makan.
Perlu Mama ingat, nasi perlu disajikan bersama dengan lauk pauk bergizi lengkap dan seimbang untuk memenuhi kebutuhan energi bayi.
Baca Juga: 9 Manfaat Teri Nasi untuk MPASI, Tips Mengolah, dan Resepnya
Bagaimana Tanda Bayi Siap Makan Nasi Utuh?
Sebelum memberi nasi utuh, perhatikan dulu apakah si Kecil sudah siap dari segi keterampilan makan. Berikut tanda-tanda bayi sudah bisa dikenalkan nasi utuh:
- Sudah bisa duduk tegak sendiri tanpa bantuan
- Mampu menggenggam dan memindahkan makanan ke mulut
- Memiliki refleks mengunyah dan menelan yang baik
- Tidak mudah tersedak saat makan tekstur kasar
- Tertarik melihat atau ingin ikut makan makanan orang dewasa
Jika bayi belum menunjukkan tanda-tanda di atas, sebaiknya tetap berikan nasi lembek atau nasi tim hingga ia lebih siap.
Makanan Apa Saja yang Boleh untuk Bayi 10 Bulan?
Pada usia 10 bulan, bayi memang sudah bisa menikmati berbagai variasi rasa dan tekstur makanan. Umumnya, bayi juga sudah memiliki sekitar empat gigi seri di atas dan bawah mulut.
Meskipun sudah bisa menggigit, masih sulit baginya mengunyah dengan baik. Sebaiknya tekstur MPASI 10 bulan dibuat cukup lunak, agar bisa dihaluskan dengan gigi depan dan gusinya.
Berikut adalah daftar makanan yang boleh dikonsumsi oleh bayi berusia 10 bulan.
- Protein hewani: telur, daging ayam, ikan, udang, hati ayam yang dimasak hingga matang dan dicincang.
- Karbohidrat: nasi, pasta, mie, roti, kentang, jagung.
- Sayuran matang: termasuk wortel, kacang polong, buncis, bayam, labu siam yang sudah dihaluskan atau dipotong kecil-kecil.
- Buah-buahan lunak dan matang: seperti pisang, pir, semangka, mangga, buah naga, apel.
- Protein nabati: tempe, tahu, berbagai jenis kacang-kacangan dan biji-bijian.
- Lemak tambahan: santan, butter, keju, yogurt.
Untuk frekuensi makan bayi 10 bulan, Mama disarankan memberikan tiga kali makan utama serta dua kali camilan atau snack, bisa berupa finger food di antara waktu makan utama.
Tetap berikan ASI meski bayi 10 bulan sudah boleh makan nasi utuh dan berbagai makanan lainnya.
Pemberian diberikan setidaknya dalam 3-4 kali sehari agar bayi mendapatkan nutrisi penting untuk mendukung pertumbuhannya.
Baca Juga: Kebutuhan Gizi Bayi 10-12 Bulan yang Perlu Mama Ketahui
Apa Saja yang Tidak Boleh Dimakan Bayi 10 Bulan?
Setelah tahu jawaban bolehkah bayi 10 bulan makan nasi utuh dan makanan apa saja yang boleh dikonsumsi, tidak jarang Mama ingin mencoba memberikan semua jenis makanan pada si Kecil.
Perlu diingat bahwa tubuh bayi masih sangat sensitif dan rentan terhadap bahan-bahan tertentu. Berikut jenis makanan yang perlu dihindari karena berisiko bagi kesehatan si Kecil.
- Madu: madu sebaiknya dihindari karena mengandung spora bakteri yang dapat menyebabkan penyakit botulisme pada bayi di bawah 12 bulan.
- Jus buah kemasan: karena kandungan gulanya yang tinggi dan kurangnya lemak, protein, kalsium, vitamin, atau serat yang dibutuhkan bayi. Bayi 10 bulan cukup diberikan ASI atau air putih.
- Ikan dengan potensi merkuri tinggi: hindari ikan seperti hiu, ikan todak, king mackerel, dan tuna segar, karena potensi tingginya kandungan merkuri yang berisiko bagi perkembangan bayi.
- Kacang utuh: tidak boleh diberikan pada bayi di bawah 12 bulan karena berisiko tersedak. Boleh diberikan jika sudah dihancurkan, digiling, atau dalam bentuk selai.
- Telur setengah matang: telur setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella. Telur sebaiknya dimasak hingga benar-benar matang sebelum diberikan pada bayi.
- Kerang yang dimasak sebentar: konsumsi kerang yang hanya dimasak sebentar dapat meningkatkan risiko keracunan makanan pada bayi.
- Makanan terlalu banyak garam: hindari makanan yang mengandung terlalu banyak garam seperti sosis, biskuit, keripik, makanan siap saji, dan daging asap karena dapat berdampak buruk pada ginjal bayi.
- Camilan manis: hindari camilan manis seperti permen dan jeli karena dapat merusak gigi bayi. Lebih baik pilih buah potong manis yang lebih alami sebagai alternatif.
- Buah utuh berukuran kecil dan berbiji: seperti anggur, kismis, beri, dan tomat ceri, untuk terhindar dari risiko tersedak.
- Sayuran mentah yang keras: seperti wortel dan paprika. Boleh dikonsumsi selama sudah direbus dan dicincang kecil-kecil.
Penting diingat, selalu berikan makanan dengan tekstur sesuai usia bayi ya, Ma. Jika pengenalan tekstur terlambat, ada potensi risiko bayi mengalami kesulitan saat makan ke depannya
Di antaranya yakni bayi cenderung menelan makanan secara langsung tanpa mengunyah dulu, atau bahkan mengemutnya jika teksturnya tidak sesuai.
Itulah penjelasan lengkap untuk menjawab pertanyaan bolehkah bayi 10 bulan makan nasi utuh.
Mama juga bisa download E-book Kreasi MPASI untuk Imunitas si Kecil untuk dapatkan inspirasi menu MPASI kaya nutrisi! Inspirasi menunya variatif, jadi si Kecil tidak cepat bosan.
Download sekarang, yuk!