Mama mungkin khawatir melihat anak tidak bisa jalan selancar anak-anak lain seusianya. Lantas, apa penyebab dan ciri-ciri anak tidak bisa berjalan di usianya, serta bagaimana cara stimulasi yang tepat?
Kapan Anak Seharusnya Bisa Berjalan?
Anak umumnya mulai belajar berjalan sendiri pada usia sekitar 12-15 bulan. Di usia ini, anak biasanya masih melatih keseimbangan tubuhnya agar mampu berjalan dengan stabil.
Setiap anak memiliki kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Bila anak belum bisa berjalan saat mendekati usia 18 bulan, pastikan Mama Papa tetap melatih dan memantau perkembangannya.
Namun, jika setelah usia 18 bulan anak belum bisa berjalan mandiri sama sekali, ini tanda keterlambatan berjalan (delay walking).
Sebaiknya Mama dan Papa berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan stimulasi yang tepat.
Apakah Normal Jika Anak Umur 2 Tahun Belum Bisa Jalan?
Tidak normal, anak usia 2 tahun seharusnya sudah lancar berjalan bahkan berlari. Anak 2 tahun yang belum bisa berjalan sama sekali merupakan tanda bahaya (red flag) serius yang perlu Mama Papa tindak lanjuti.
Usia 2 tahun merupakan batas penting perkembangan berjalan. Jika belum bisa berjalan, anak perlu segera dibawa ke dokter untuk dicek lebih lanjut.
Dokter atau fisioterapis anak akan menilai kekuatan otot, fungsi saraf, kondisi tulang, serta perkembangan motorik anak secara menyeluruh untuk menentukan penyebab anak terlambat jalan dan memberikan penanganan yang tepat.
Ciri-Ciri Anak Tidak Bisa Berjalan
Jika Mama khawatir dengan perkembangan si Kecil, perhatikan apakah ia memiliki ciri-ciri anak tidak bisa berjalan.
Tanda Fisik dan Motorik Anak Terlambat Berjalan (Delayed Walking)
Ciri-ciri anak tidak bisa berjalan dari aspek fisik dan motorik:
- Anak belum bisa duduk tanpa bantuan di usia 9 bulan.
- Anak belum bisa berdiri dengan dibantu orang tua di usia 12 bulan.
- Anak tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan pada 15 bulan.
- Anak berusia 18 bulan dan belum bisa berjalan tanpa ditatih orang tua.
- Anak berjalan dengan jinjit atau enggan menapakkan kakinya.
- Tubuh tampak lemas (hipotonia) atau terlalu kaku (hipertonia).
Tanda Keterlambatan Perkembangan Umum (Global Developmental Delay)
Berikut ciri anak mengalami keterlambatan perkembangan:
- Anak terlambat mencapai milestone awal seperti mengangkat kepalanya, berguling dari posisi telentang ke tengkurap, dan duduk.
- Anak kurang merespons terhadap stimulasi gerak.
- Takut berdiri atau hanya bisa berdiri selama beberapa detik
- Anak selalu minta digendong, tidak mau diturunkan
Jika anak Mama berusia 16-23 bulan dan Mama mencurigai adanya ciri-ciri anak tidak bisa berjalan, Mama perlu konsultasi ke dokter untuk cari tahu penyebab yang mendasarinya.
Baca Juga: Perkembangan Anak 2 Tahun: Milestone, Stimulasi, dan Tipsnya
Penyebab Anak Terlambat Jalan
Setelah memperhatikan ciri-ciri anak tidak bisa berjalan, penting untuk mencari tahu penyebab kondisi ini. Beberapa hal yang mungkin menyebabkan delayed walking adalah:
1. Keterlambatan Perkembangan Motorik
Penyebab ciri-ciri anak tidak bisa berjalan bisa karena keterlambatan perkembangan untuk mencapai keterampilan motorik yang meliputi kemampuan berjalan dan berlari.
Keterlambatan perkembangan dapat disebabkan oleh gangguan genetik atau kromosom seperti sindrom Down atau gangguan sistem saraf seperti cerebral palsy.
Dalam kasus tertentu, autisme juga bisa menjadi salah satu faktor risiko keterlambatan jalan pada anak.
2. Kelainan Otot dan Saraf
Pada beberapa kasus, penyebab keterlambatan jalan pada anak bisa jadi karena kelainan pada otot-otot kaki.
Otot kaki anak bisa terlalu kaku dan tegang sehingga tidak fleksibel (disebut hipertonia), atau malah terlalu lemah sehingga sulit ditekuk (disebut hipotonia).
Distrofi otot juga menjadi salah satu penyebab paling umum anak lambat berjalan karena kelemahan pada otot.
3. Kurang Stimulasi
Anak terlambat jalan di usia 2 tahun mungkin karena kurang mendapat stimulasi motorik yang sesuai tahapan usianya.
Sebagai contoh, anak masih sering digendong atau jarang bermain di lantai, sehingga tidak ada kesempatan untuk berdiri, merambat, maupun melangkahkan kaki.
Sebagian anak mungkin juga merasa kurang percaya diri untuk belajar berjalan. Hal inilah yang dapat menghambat si Kecil untuk melakukan langkah pertamanya.
4. Riwayat Lahir Prematur
Anak yang lahir prematur umumnya mungkin butuh waktu sekitar 2-3 bulan lebih lambat untuk mencapai milestone.
Adapun tingkat keterlambatan yang dialami bisa bervariasi bergantung pada sejauh mana prematuritas si Kecil.
5. Penyakit Tertentu
Masalah anak terlambat jalan juga bisa dipengaruhi oleh penyakit tertentu, seperti:
- Hipotiroid, yaitu kondisi saat hormon tiroid rendah sehingga memengaruhi kerja otot dan sistem saraf anak.
- Rickets, yakni kekurangan vitamin D membuat tulang menjadi lunak dan lemah, sehingga anak kesulitan menopang tubuh saat belajar berjalan.
- Infeksi otak, seperti meningitis atau ensefalitis, dapat mengganggu fungsi otak dan koordinasi gerak.
- Malnutrisi dapat menghambat pertumbuhan otot, tulang, dan perkembangan motorik secara keseluruhan.
Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Perkembangan yang Umum pada Anak
Cara Supaya Anak Cepat Jalan
Melihat ciri-ciri anak tidak bisa berjalan tentu membuat Mama dan Papa khawatir. Supaya anak cepat bisa jalan, Mama dan Papa bisa melakukan berbagai cara melatih jalan berikut ini:
1. Latihan Merambat di Sofa/Meja
Ajarkan ia berpegangan pada pinggiran tempat tidur, meja, atau sofa, lalu biarkan ia berjalan menyusurinya.
Mama dan Papa bisa berdirikan si Kecil di salah satu sudut perabot meja dan pastikan semua furnitur ini sudah dilapisi oleh pelindung.
Agar si Kecil lebih termotivasi untuk bergerak, coba letakkan mainan atau benda favoritnya di ujung sofa. Selalu siap siaga berdiri di dekatnya untuk antisipasi anak terantuk atau jatuh.
2. Gunakan Mainan Dorong
Motivasi anak agar berani berjalan sendiri dengan memberikan mainan edukatif yang bisa didorong atau ditarik. Misalnya stroller boneka, keranjang belanja mainan, atau push walker bayi.
Pastikan mainan tersebut dilengkapi pemberat agar si Kecil tidak mudah jatuh ya, Ma. Minta si Kecil berjalan 1-2 langkah menuju Mama dengan berpegangan pada mainan tersebut.
Jika sudah berhasil, tingkatkan level kesulitan dengan membuat jarak yang sedikit lebih jauh. Mama juga bisa berdiri di hadapan si Kecil, lalu pegang kedua tangannya sambil menariknya pelan-pelan melangkah ke arah Mama.
3. Biarkan Anak Bertelanjang Kaki
Anak terlambat jalan membutuhkan kemampuan mencengkram permukaan tanah dengan baik agar dapat berjalan tanpa limbung.
Untuk menstimulasi kemampuan tersebut, Mama dapat membiarkan si Kecil untuk belajar berjalan di permukaan bertekstur dengan bertelanjang kaki.
Tak hanya melatih keseimbangan, berjalan tanpa alas kaki dapat merangsang sensori taktil si Kecil.
4. Bermain Bola
Saat si Kecil belajar berjalan merambat, coba letakkan 1-2 boneka bola di sekitar kakinya untuk memancing anak agar cepat jalan.
Mulanya, ia mungkin akan menendang bola-bola tersebut. Namun, lama kelamaan anak secara sengaja akan mengangkat salah satu kaki untuk menendang bola dan melatih keseimbangan tubuhnya.
Jangan berikan bola karet atau plastik karena licin dan berisiko terpeleset. Lakukan cara ini ketika Mama Papa menyadari adanya ciri-ciri anak tidak bisa berjalan.
5. Latihan Naik-Turun Tangga
Jika si Kecil sudah mahir berjalan di jalan yang datar, Mama bisa meningkatkan latihannya dengan melatih ia berjalan di bidang yang agak naik dan turun.
Sebagai contoh, turunan atau tanjakan yang tidak terjal, naik-turun satu anak tangga, atau berlatih di permukaan yang tidak rata.
Latihan naik turun dan di jalanan yang tidak rata ini bisa membantu menstimulasi keseimbangan, koordinasi, serta kekuatan otot dan tungkai kakinya.
Baca Juga: Penyebab Kaki O pada Anak, Ciri-Ciri, dan Cara Mencegahnya
Cara Mengajari Anak yang Takut Berjalan
Jika anak belum bisa berjalan karena masih merasa takut, bantu bangun percaya dirinya dan terus dampingi ia sampai bisa berjalan mandiri, Ma. Berikut cara mengajarkannya:
- Pegang kedua tangan anak saat berjalan, kemudian lepas satu per satu saat ia sudah lebih mahir.
- Beri pujian setiap kali ia mencoba melangkah.
- Tenangkan anak saat terjatuh, dan hindari memarahinya.
- Lakukan permainan peran, seperti robot berjalan, hewan melangkah, dan lainnya.
- Biarkan anak sering bermain di lantai sejak awal perkembangannya, seperti tummy time, merangkak, berdiri, sampai berjalan.
- Ajak anak berjalan dari Mama ke arah Papa dan sebaliknya, mulai dari jarak yang dekat sampai perlahan agak jauh.
Baca Juga: 10 Jenis Olahraga yang Baik untuk Tumbuh Kembang Anak
Kapan Harus ke Dokter?
Selain memperhatikan ciri-ciri anak tidak bisa berjalan, Mama Papa harus segera bawa anak ke dokter bila ia memiliki gejala berikut ini:
- Belum bisa berjalan di usia 18 tahun.
- Belum bisa berjalan mandiri sama sekali di usia 2 tahun.
- Berjalan jinjit terus-menerus.
- Kaki terlihat lemah, bengkok, atau kaku.
- Sering jatuh dan tak mampu menahan tubuh.
- Tidak bisa berdiri sama sekali.
Dokter anak biasanya akan mengecek sistem saraf, refleks, postur tubuh, dan kekuatan otot, serta menilai perkembangan lain seperti bicara, motorik halus, dan kemampuan sosial.
Untuk mengejar ketertinggalan perkembangan si Kecil, dokter mungkin akan menyarankan anak agar dirujuk ke dokter spesialis tumbuh kembang dan dokter spesialis saraf, serta menjalani terapi fisik maupun stimulasi khusus.
Butuh insight dari ahli di tengah kesibukan? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor – tim ahli terpercaya di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.
Gabung jadi member Nutriclub untuk dapatkan ratusan expert-verified parenting content yang terkurasi sesuai usia si Kecil, akses ke call center yang terhubung langsung dengan ahli seputar nutrisi dan tumbuh kembang anak, serta beragam exclusive rewards khusus untuk Mama dan si Kecil dari setiap pembelian produk Nutrilon. Daftar gratis, sekarang!
