Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
Kesehatan

Penyebab Anak Umur 2 Tahun Belum Bisa Jalan dan Terapi yang Dapat Dilakukan

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 24 Agustus 2022

Perasaan Mama mungkin cemas dan khawatir melihat anak terlambat jalan ketika anak-anak lain seusianya sudah mulai berlarian ke sana kemari. Lantas, apakah wajar jika anak umur 2 tahun belum bisa jalan dan bisakah orang tua melatihnya?

Yuk, cari tahu jawaban lengkapnya di sini, Ma!

Umur Berapa Anak Sudah Bisa Jalan?

Berjalan adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak yang rumit karena melibatkan keterampilan motorik kasar.

Sampai bisa berjalan sendiri, anak harus melalui berbagai tahapan dari belajar tengkurap, berguling, duduk, merangkak, merambat, lalu berdiri dan berjalan.

Anak balita umumnya pertama kali belajar jalan dengan ditatih di usia 9-18 bulan. Setelah berusia 1 tahun, anak biasanya sudah bisa jalan beberapa langkah sendirian dengan merambat dan berpegangan pada tepi perabot.

Lantas, kapan anak dikatakan terlambat berjalan dan mengalami delayed walking?

Normalkah Anak 2 Tahun Belum Bisa Jalan?

Jika si Kecil tampak belum bisa jalan, kekhawatiran Mama sangat bisa dimengerti. 

Setiap orang tua tentu ingin buah hatinya tumbuh sesuai milestone yang tepat, dan tidak ingin si Kecil tertinggal dari anak-anak lain seusianya. 

Namun, perlu Mama pahami juga bahwa perkembangan setiap anak bisa berbeda-beda. Satu anak mungkin tidak mulai berjalan sampai 3-4 bulan setelah bayi lain berjalan. Perbedaan ini tidak selalu menandakan masalah kesehatan atau keterlambatan tumbuh kembang.

Anak di rentang usia 14-18 bulan yang belum menunjukkan tanda-tanda siap jalan sendiri sebetulnya masih dianggap wajar.

Terlebih jika si Kecil di usia ini sudah mampu melakukan keterampilan motorik yang lain tanpa masalah, seperti bisa berdiri sendiri, bisa menarik badan dengan berpegangan pada perabot, atau lompat kecil ke atas dan ke bawah. Ini adalah tanda bahwa kemampuan motorik si Kecil masih terus berkembang. 

Mungkin, yang ia butuhkan hanya lebih banyak waktu. Beberapa anak ada yang mulai berjalan sebelum 12 bulan, sementara yang lain mungkin mulai di usia 16 atau 17 bulan.

Namun umumnya, anak bisa dianggap mengalami delayed walking atau terlambat berjalan bila ia belum bisa jalan sendiri di usia 1,5 sampai 2 tahun.

Baca juga: Perkembangan Anak Usia 2 Tahun, Sudah Bisa Apa?

Apa Penyebab Anak Terlambat Berjalan?

Jika anak 2 tahun ke atas belum bisa jalan sendiri, Mama perlu konsultasi ke dokter untuk mencari tahu penyebab yang mendasarinya. Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab anak terlambat jalan adalah:

1. Kelainan pada Otot

Dalam beberapa kasus, penyebab anak 2 tahun belum bisa jalan bisa jadi karena kelainan pada otot-otot kaki mereka.

Otot kaki anak bisa terlalu kaku dan tegang sehingga tidak fleksibel (disebut hipertonia) atau malah terlalu lemah sehingga sulit ditekuk (disebut hipotonia).

Penyebab kelainan otot ini antara lain adalah genetik atau gangguan pada sistem saraf pusat, seperti akibat cerebral palsy dan sindrom Down.

2. Faktor Genetik

Faktor genetik juga bisa berperan meningkatkan risiko keterlambatan jalan pada anak, Ma.

Salah satu contohnya adalah distrofi otot. Ini adalah penyakit turunan yang mempengaruhi saraf dan otot anak. Distrofi biasanya menyebabkan kelemahan pada otot. Distrofi otot merupakan salah satu penyebab paling umum anak terlambat jalan.   

Selain itu, penyebab anak terlambat jalan yang terkait dengan penyakit otot lainnya adalah atrofi otot. Penyakit ini merupakan kondisi genetik yang menyerang saraf sehingga dapat mengganggu kontrol tubuh.

Keduanya memerlukan penanganan medis sesegera mungkin, Ma.

3. Faktor Lainnya

Selain karena faktor genetik dan kondisi medis, masalah keterlambatan jalan pada anak juga bisa dipengaruhi oleh faktor luar. 

Beberapa hal yang mungkin menyebabkan anak 2 tahun belum bisa jalan meliputi:

  • Terlahir prematur. Bayi yang lahir prematur dapat sedikit mengalami keterlambatan tumbuh kembang 2-3 bulan dibanding bayi yang lahir tepat waktu.

  • Riwayat infeksi yang dialami ibu saat hamil.

  • Riwayat infeksi otak yang menyerang anak, seperti meningitis atau encephalitis.

  • Trauma atau benturan pada kepala yang memengaruhi otak.

  • Malnutrisi.

  • Rickets, gangguan yang menyebabkan tulang anak menjadi lunak karena kekurangan vitamin D.

  • Gangguan belajar pada anak.

Baca Juga: Kenali Tanda-Tanda Keterlambatan Bicara pada Balita

Terapi untuk Anak yang Belum Bisa Jalan di Rumah

Sebuah penelitian terbitan jurnal BMC Pediatrics tahun 2021 melaporkan, keterlambatan jalan berkaitan dengan keterampilan motorik dan keterampilan kognitif anak yang buruk pada usia prasekolah.

Dalam kasus yang sangat ekstrem, keterlambatan jalan juga bisa menjadi salah satu faktor risiko autisme pada anak.

Oleh karena itu, anak sebaiknya dibawa ke dokter jika pada umur 2 tahun ia belum bisa jalan sama sekali. Dokter kemungkinan akan mencoba terapi sebagai salah satu cara melatih anak belajar jalan, di luar dari pemeriksaan lainnya.

Di rumah, Mama dan Papa juga bisa bantu si Kecil mengikuti terapi anak belum bisa jalan dengan beberapa tips berikut ini:

1. Motivasi Anak Berjalan

Mama dapat memberikan motivasi pada anak agar berani berjalan merambat pada perabotan rumah dengan selalu berada di sekitar si Kecil. Tunjukkan bahwa Mama selalu siap membantu dan menangkap si Kecil agar tidak terjatuh dan terbentur terlalu keras. 

Selain itu, Mama juga dapat membantu meningkatkan motivasi anak untuk belajar berjalan dengan memancing si Kecil melangkah sedikit-sedikit menggunakan mainan. 

Beri jarak beberapa langkah di depan anak supaya ia dapat bergerak menuju Mama. Jika sudah berhasil, Mama dapat meningkatkan level kesulitan dengan membuat jarak langkah anak sedikit lebih jauh secara bertahap. 

Berikan pujian saat anak mulai belajar jalan. Misalkan, “Hore, Kakak sudah bisa 2 langkah! Besok kita coba 3 langkah sama-sama, ya!”

2.  Menendang Bola-Bola

Saat si Kecil belajar berjalan dengan merambat pada perabot rumah, Mama dapat meletakkan bola-bola karet di sekitar kakinya sebagai terapi anak belum bisa jalan. 

Mulanya, mungkin si Kecil tidak sengaja menendang bola-bola tersebut. Namun, ketika Mama terus kembali meletakkan bola tersebut di depan kaki si Kecil, ia mungkin akan secara sengaja mengangkat satu kakinya untuk menendang bola. 

Terus sediakan bola-bola karet di kedua sisi tubuhnya agar ia menggunakan kaki kanan dan kirinya secara bergantian untuk menendang bola. 

Dengan melakukan aktivitas ini, Mama membantu si Kecil menstimulasi kekuatan otot dan keseimbangan tubuh si Kecil. 

3. Bantu Anak Berjalan Merambat

Terapi anak belum bisa jalan selanjutnya adalah bantu ia berjalan merambat. Mama dan Papa bisa berdirikan si Kecil di salah satu sudut tempat tidurnya yang sudah dilapisi pelindung. 

Ajarkan ia berpegangan pada pinggiran tempat tidur, meja, atau sofa, lalu biarkan dia berjalan menyusurinya. Selalu siap siaga berdiri di dekatnya untuk mengantisipasi anak terantuk atau jatuh. 

Di lain waktu, Mama bisa berdiri berhadapan dengan si Kecil dan pegang kedua tangannya sambil membantu si Kecil berjalan ke arah Mama.

4. Letakkan Mainan dalam Jangkauannya

Pancing anak melangkah sedikit-sedikit dengan mainan. Beri jarak beberapa langkah di depan anak supaya “memancingnya” agar mau berjalan mengambilnya.

Mama bisa menaruh mainannya di atas meja atau kursi. Apabila anak sudah bisa meraihnya, ambil dan coba pindahkan mainan ke jarak yang agak jauh dengan ketinggian yang sama. Dengan cara itu, anak terpaksa mencoba berjalan untuk meraih mainannya.

5. Hindari Menggunakan Baby Walker

Walaupun banyak yang masih menggunakan baby walker sebagai terapi anak belum bisa jalan, namun sebaiknya Mama tidak mengikuti kebiasaan tersebut. The American Academy of Pediatrics bahwa baby walker tidak membantu si Kecil belajar berjalan, tapi justru berisiko tinggi menyebabkan cedera leher dan kepala. 

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan baby walker dapat menghambat kemampuan berjalan si Kecil. Pasalnya, ketika didudukkan di baby walker anak hanya menggunakan otot kakinya untuk menjejak lantai. 

Ia tidak dapat belajar bagaimana cara berdiri, menahan berat tubuh, dan menyeimbangkan tubuh. Padahal ketiga kemampuan itulah yang sangat penting bagi si Kecil agar ia mampu berjalan dengan baik. 

Penggunaan baby walker juga dapat memunculkan masalah baru dalam perkembangan kemampuan berjalan bernama toe walking, sebuah kelainan berjalan dengan bertumpu pada jari-jari kaki. 

Lebih baik Mama menyediakan mainan beroda yang kokoh dan dapat didorong oleh si Kecil untuk seperti stroller boneka, shopping cart mainan, atau baby push walker.  

6. Biarkan Anak Bertelanjang Kaki

Anak membutuhkan kemampuan mencengkeram permukaan tanah dengan baik agar dapat berjalan tanpa limbung. Untuk menstimulasi kemampuan tersebut, Mama dapat membiarkan si Kecil untuk belajar berjalan di permukaan yang bertekstur dengan bertelanjang kaki. 

Ajak si Kecil belajar berjalan di atas rumput atau lantai yang tidak licin. Ketika si Kecil sudah semakin pintar berjalan, Mama bisa memberikan sepatu dengan sol karet yang rata dan antiselip. 

Oh iya, selain melatih keseimbangan, berjalan tanpa alas kaki juga akan menstimulasi sensori taktil si Kecil.

7. Duduk di Bangku Kecil tanpa Penyangga

Mama dapat menyediakan bangku kecil tanpa penyangga yang sesuai dengan ukuran tubuh anak dan memintanya duduk sendiri untuk melatih anak bertumpu pada kaki. 

Pertama, pastikan kaki anak menyentuh lantai dan lututnya membentuk sudut 90 derajat sehingga ia bisa menjejakkan kakinya, ya. Saat ia berada pada posisi ini, motivasi anak untuk meraih dan mengambil mainan yang Mama letakkan di lantai lalu duduk lagi di bangku. 

Jika si Kecil sudah pintar meraih dan mengambil mainan, buatlah jaraknya semakin jauh secara bertahap. 

Aktivitas ini dapat memperkuat otot kaki, punggung, dan bahu si Kecil. Selain itu, latihan mengambil mainan sambil duduk juga membantu anak untuk memposisikan kaki sebagai penyangga berat tubuh. 

8. Berikan Ruang yang Aman untuk Bergerak

Coba perhatikan lingkungan sekitar si Kecil bermain, apakah tersedia ruang yang cukup lapang dan aman untuk si Kecil bergerak? 

Jika tidak, Mama dapat mulai berbenah seperti menyingkirkan mainan dari lantai atau perabotan yang membahayakan keselamatan si Kecil. 

Saat melihat ruangan yang lapang dan aman, si Kecil akan cenderung termotivasi untuk berjalan menuju benda atau ruangan yang diinginkan daripada merangkak atau menyeret badannya.

9. Belajar Berjalan Menggunakan Tongkat atau Scarf

Mama dapat bantu anak belajar berjalan dengan bantuan scarf atau tongkat pendek. Mama dapat memegang ujung scarf atau tongkat dan membiarkan si Kecil memegang ujung lainnya sebagai tumpuan. 

10. Latihan Naik Turun

Jika si Kecil sudah mahir berjalan di jalan yang datar, Mama bisa meningkatkan latihannya dengan melatih anak berjalan di bidang yang agak naik dan turun, misalnya turunan atau tanjakan yang tidak terjal atau naik-turun satu anak tangga. Bisa juga dengan melatihnya berjalan di permukaan yang tidak rata.

Latihan ini dapat membantu merangsang koordinasi, keseimbangan, dan kekuatan otot kaki dan tungkainya.

Kapan Harus Bawa Anak yang Terlambat Jalan ke Dokter?

Melihat anak yang belum bisa jalan sendiri sedangkan teman-teman lainnya sudah, tentu bikin khawatir ya, Ma?

Meski setiap progres tumbuh kembang anak bisa berbeda-beda, Mama dan Papa tetap perlu mewaspadai beberapa tanda di bawah ini jika umur anak sudah 2 tahun dan masih belum bisa jalan:

  • Tidak bisa berdiri sendiri.

  • Tidak bisa bangkit berdiri dari duduk.

  • Tidak bisa mendorong mainan sambil berdiri.

  • Anak berjalan dengan tumit.

Akan tetapi, keterlambatan jalan juga tidak selalu menandakan gangguan kesehatan atau penyakit serius, Ma. Mungkin ada banyak alasan lain yang berkaitan dengan kepribadian atau kebiasaan si Kecil.

Sebagai contoh, beberapa anak mungkin lebih suka menunggu sampai mereka merasa percaya diri dan yakin mampu berjalan sendiri.

Anak lainnya mungkin sudah terlalu terbiasa ke mana-mana digendong atau menggunakan baby walker dan stroller. Oleh karena itu, mereka tidak punya kesempatan untuk mencoba belajar jalan sendiri.

Baca Juga: Kenali Gejala Gangguan Gagal Tumbuh pada Anak

Apabila Mama merasa ada keterlambatan perkembangan pada anak atau gangguan belajar yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mencari tahu penyebab dan penanganan selanjutnya. 

Mama juga bisa langsung berkonsultasi gratis dengan tim Nutriclub Expert Advisor yang siap 24 jam menjawab pertanyaan Mama seputar tumbuh kembang anak.

Yuk, daftar MyNutriclub sekarang!

  1. kaputk. (2021, July 22). When Do Babies Start Walking? Cleveland Clinic; Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/when-do-babies-start-walking/
     
  2. Rebecca Buffum Taylor. (2008, August 4). Delayed Walking and Other Foot and Leg Problems in Babies. WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/delayed-walking-and-other-baby-foot-and-leg-problems
     
  3. ‌Higuera, V. (2016, October 24). 14-Month-Old Not Walking: Should You Worry? Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/parenting/14-month-old-not-walking#should-i-worry
     
  4. What Causes Delayed Walking in Babies? (2021, June 16). MedicineNet; MedicineNet. https://www.medicinenet.com/what_causes_delay_in_walking_in_babies/article.htm
     
  5. CDC https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/pdf/parents_pdfs/milestonemomentseng508.pdf
     
  6. Dr Hayley Willacy. (2019, April 26). Delay In Walking. Patient.info. https://patient.info/doctor/delay-in-walking
     
  7. Messerli-Bürgy, N., Kakebeeke, T.H., Meyer, A.H. et al. Walking onset: a poor predictor for motor and cognitive skills in healthy preschool children. BMC Pediatr 21, 367 (2021). https://doi.org/10.1186/s12887-021-02828-4
     
comment-icon comment-icon