Vaksin anak lanjutan dan booster diberikan untuk mempertahankan perlindungan setelah imunisasi dasar. Jadwalnya perlu disesuaikan dengan usia, riwayat imunisasi, serta rekomendasi IDAI atau Kemenkes terbaru agar perlindungan anak tetap optimal.
Apa Itu Imunisasi Lanjutan?
Imunisasi lanjutan adalah pemberian vaksin setelah imunisasi dasar untuk mempertahankan sistem kekebalan anak. Imunisasi ini membantu memperpanjang perlindungan yang sudah terbentuk sejak bayi.
Sementara itu, booster merupakan dosis tambahan yang diberikan pada interval waktu tertentu untuk menjaga atau meningkatkan respons imun. Tujuannya adalah agar perlindungan anak terhadap penyakit tetap optimal.
Perlindungan perlu dipertahankan karena beberapa vaksin tidak bisa memberikan kekebalan seumur hidup sehingga membutuhkan dosis lanjutan sesuai usia. Dengan begitu, anak tetap terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Apa Bedanya Imunisasi Dasar, Lanjutan, dan Booster?
Imunisasi dasar adalah vaksinasi awal untuk membentuk perlindungan dasar bagi anak terhadap penyakit tertentu. Tahap ini biasanya diberikan sejak bayi sesuai jadwal imunisasi yang berlaku.
Setelah itu, anak butuh imunisasi lanjutan. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menjelaskan imunisasi lanjutan bertujuan untuk mempertahankan kekebalan dan memperpanjang masa perlindungan anak.
Booster adalah dosis tambahan yang diberikan pada waktu tertentu. Dosis ini bantu menjaga atau meningkatkan kembali respons imun, terutama bila perlindungan dari vaksin sebelumnya mulai menurun.
Baca Juga: 5 Imunisasi Anak 1 Tahun yang Wajib dan Tips agar Tidak Rewel
Jadwal Vaksin Anak dan Imunisasi Lanjutan
Jadwal vaksin anak perlu dilihat berdasarkan usia dan riwayat imunisasi sebelumnya. Berikut tabel vaksin anak sesuai usia dan keperluan imunisasi lanjutan/booster, Ma.
|
Usia anak |
Imunisasi/vaksin yang perlu diperhatikan |
Keterangan |
|
12–18 bulan |
PCV, MR/MMR, DPT-HB-Hib sesuai jadwal |
Lanjutan atau booster sesuai riwayat imunisasi anak |
|
18 bulan |
DPT-HB-Hib, polio, dan MR/MMR sesuai jadwal |
Imunisasi lanjutan untuk mempertahankan perlindungan |
|
2 tahun |
Vaksin tertentu sesuai rekomendasi dokter |
Diberikan sesuai jenis vaksin, usia, dan riwayat imunisasi |
|
5–7 tahun |
DPT/DT, MR/MMR, dan vaksin lain sesuai jadwal |
Booster atau imunisasi lanjutan menjelang usia sekolah |
|
Usia sekolah |
Vaksin dalam program BIAS sesuai kelas/usia |
Imunisasi sekolah, seperti MR, DT, Td, dan HPV sesuai sasaran |
|
Remaja |
HPV dan vaksin lain sesuai rekomendasi |
Diberikan sesuai usia, jenis kelamin, indikasi, dan risiko |
Apa Saja Vaksin Lanjutan yang Dibutuhkan Anak?
Vaksin lanjutan yang dibutuhkan anak berbeda sesuai usia, riwayat imunisasi, dan kondisi kesehatan. Jadwal pemberian perlu mengikuti rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atau Kemenkes, serta arahan dokter anak.
1. DPT
Vaksin DPT membantu melindungi anak dari difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin ini berkaitan dengan imunisasi bayi sebelumnya karena seri awal diberikan sejak bayi.
Booster DPT umumnya diberikan kembali pada usia 18 bulan, 5–7 tahun, dan dilanjutkan dengan TD/TdaP pada usia 10–18 tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga perlindungan anak setelah dosis dasar.
2. Polio
Vaksin polio diberikan untuk melindungi anak dari penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Anak perlu melengkapi dosis polio sejak bayi sesuai jadwal imunisasi.
Dosis lanjutan atau booster polio diberikan sesuai jadwal dan riwayat vaksin anak. Bila ada dosis yang terlewat, dokter dapat membantu menyusun imunisasi kejar.
Baca Juga: 16 Cara Meningkatkan Imun Anak agar Daya Tahan Tubuh Kuat
3. PCV
Vaksin PCV membantu melindungi anak dari penyakit akibat infeksi bakteri pneumokokus, seperti pneumonia, radang selaput otak, dan infeksi telinga. Vaksin ini penting karena anak kecil lebih rentan mengalami infeksi serius.
Booster PCV umumnya diberikan pada usia 12–15 bulan setelah dosis awal saat bayi. Jika anak terlambat atau belum lengkap, dokter dapat menentukan jadwal catch-up sesuai usia dan kondisi anak.
4. MR/MMR
Vaksin MR melindungi anak dari campak dan rubella, sedangkan vaksin MMR melindungi dari campak, gondongan, dan rubella. Keduanya diberikan sesuai jadwal dan ketersediaan vaksin.
Dosis lanjutan MR/MMR biasanya diberikan pada usia 15–18 bulan dan 5–7 tahun. Jika anak belum mendapat MR pada usia 9 bulan, dokter dapat menyesuaikan jadwal pemberiannya.
5. Varisela
Vaksin varisela diberikan untuk membantu mencegah penyakit cacar air. Menurut jadwal IDAI, vaksin ini dapat mulai diberikan sejak usia 12 bulan.
Anak usia 1–12 tahun umumnya membutuhkan 2 dosis dengan jarak tertentu. Jika belum pernah mendapatkan vaksin varisela, dokter dapat membantu menentukan jadwal catch-up.
6. Hepatitis A
Vaksin hepatitis A membantu melindungi anak dari infeksi virus hepatitis A yang menyerang hati. Vaksin ini dapat mulai diberikan sejak usia 12 bulan.
Pemberiannya terdiri dari 2 dosis dengan interval sekitar 6–18 bulan. Pastikan dosis kedua tidak terlewat agar perlindungan anak lebih optimal.
7. Influenza
Vaksin influenza membantu melindungi anak dari infeksi flu dan komplikasinya. Vaksin ini dapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan.
Vaksin influenza perlu diulang setiap tahun. Pada anak usia 6 bulan sampai 8 tahun yang baru pertama kali mendapat vaksin influenza, dokter dapat merekomendasikan 2 dosis awal dengan jarak sekitar 4 minggu.
Apakah Semua Vaksin Anak Perlu Diulang?
Tidak semua vaksin anak perlu diulang dengan pola booster yang sama. Ada vaksin yang butuh dosis lanjutan, ada yang diberikan sesuai usia, dan ada yang hanya diperlukan pada kondisi atau risiko tertentu.
Beberapa vaksin seperti DPT, PCV, polio, MR/MMR, dan influenza perlu dilanjutkan sesuai jadwal. Tujuannya untuk menjaga perlindungan yang sudah terbentuk dari imunisasi sebelumnya.
Sementara itu, vaksin seperti varisela, hepatitis A, HPV, tifoid, dengue, atau Japanese Encephalitis diberikan sesuai usia, riwayat imunisasi, lokasi, dan kondisi anak. Maka itu, jadwal sebaiknya dikonfirmasi ke dokter.
Imunisasi Lanjutan Anak Menurut Usia
Imunisasi lanjutan anak perlu dicek berdasarkan usia dan riwayat vaksin sebelumnya. Jadwalnya dapat mengacu pada rekomendasi IDAI serta program imunisasi Kemenkes yang berlaku.
1. Imunisasi Anak Usia 1 Tahun
Pada usia 12–18 bulan, orang tua perlu mengecek kelengkapan PCV, DPT-HB-Hib, dan MR/MMR. Kemenkes mencantumkan PCV dosis lanjutan pada usia 12 bulan, lalu DPT-HB-Hib dan Campak-Rubella pada usia 18 bulan.
Pada usia ini, dokter juga dapat menilai kebutuhan vaksin lain sesuai rekomendasi IDAI, seperti varisela, hepatitis A, atau influenza tahunan.
Pemeriksaan riwayat imunisasi membantu menentukan apakah anak perlu melakukan catch-up.
2. Imunisasi Anak Usia 2 Tahun
Pada usia 2 tahun, fokus utama adalah memastikan imunisasi dasar dan lanjutan sebelumnya sudah lengkap. Jika ada dosis yang tertinggal, dokter dapat menyusun jadwal imunisasi kejar.
Beberapa vaksin juga mulai relevan pada usia ini sesuai rekomendasi, misalnya tifoid atau vaksin lanjutan yang belum selesai. Jenisnya tetap perlu disesuaikan dengan jadwal IDAI/Kemenkes dan kondisi anak.
3. Imunisasi Anak Usia 3 Tahun
Pada usia 3 tahun, tidak semua anak membutuhkan vaksin yang sama. Namun, orang tua tetap perlu mengecek vaksin tahunan, jadwal yang tertunda, atau vaksin khusus sesuai risiko.
Influenza termasuk vaksin yang perlu diperhatikan karena diberikan setiap tahun. Jika anak belum melengkapi vaksin tertentu, konsultasikan dengan dokter agar jadwalnya tidak tumpang tindih.
4. Imunisasi Anak Usia 4–6 Tahun
Usia 4–6 tahun menjadi waktu penting untuk mengecek persiapan booster sebelum anak masuk sekolah. Beberapa vaksin seperti DPT dan MR/MMR perlu dipantau sesuai jadwal lanjutan.
Selain booster, orang tua juga bisa mulai menyiapkan rekam imunisasi anak untuk kebutuhan sekolah. Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) atau catatan vaksin membantu dokter melihat dosis yang sudah dan belum diterima.
5. Imunisasi Anak Usia Sekolah
Pada usia sekolah, imunisasi lanjutan diberikan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) sesuai kelas atau usia sasaran. Program ini mencakup vaksin Campak-Rubella (MR), DT, Td, dan HPV sesuai ketentuan Kemenkes.
BIAS membantu memastikan anak tetap mendapat imunisasi lanjutan setelah masa bayi dan baduta. Jika anak melewatkan jadwal di sekolah, imunisasi dapat diberikan di puskesmas atau fasilitas kesehatan.
Baca Juga: 10 Dampak Nyata Jika Anak Tidak Imunisasi
Bagaimana Jika Anak Terlambat Mendapatkan Imunisasi Lanjutan?
Jika anak terlambat imunisasi lanjutan, jangan langsung mengulang seluruh rangkaian tanpa arahan dokter. Pada banyak kasus, vaksin yang terlewat dapat dikejar sesuai usia dan riwayat imunisasi anak.
Dokter akan menyesuaikan jadwal imunisasi kejar berdasarkan vaksin yang sudah diterima, usia anak, dan jarak minimal antar dosis.
Bawa buku KIA atau rekam imunisasi agar dokter bisa mengecek dosis yang masih kurang.
Apa Risiko Jika Anak Tidak Mendapatkan Imunisasi Lanjutan?
Jika anak tidak mendapatkan vaksin lanjutan, perlindungan terhadap penyakit dapat menjadi tidak optimal. Beberapa vaksin membutuhkan dosis lanjutan untuk mempertahankan kekebalan yang sudah terbentuk.
Anak juga tetap berisiko terinfeksi penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Bila tertular, ia berpotensi menularkan penyakit kepada bayi kecil atau orang lain yang belum bisa divaksinasi.
Pada beberapa penyakit, infeksi dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia, meningitis, kelumpuhan, atau gangguan kesehatan jangka panjang.
Maka itu, jadwal imunisasi dan vaksin lanjutan sebaiknya dilengkapi sesuai anjuran dokter atau tenaga kesehatan.
Bagaimana Mengetahui Vaksin Anak yang Masih Kurang?
Mama bisa mulai dengan mengecek buku KIA atau rekam imunisasi anak. Catat semua vaksin yang sudah diterima, termasuk tanggal pemberian dan dosis terakhir.
Setelah itu, bandingkan catatan tersebut dengan jadwal imunisasi terbaru dari IDAI atau Kemenkes. Jika ada dosis yang terlewat, konsultasikan ke dokter agar jadwal bisa disesuaikan.
Jangan memberikan dosis tambahan sendiri tanpa rekomendasi tenaga kesehatan. Dokter akan menilai usia anak, riwayat vaksin, dan jarak antardosis sebelum menentukan imunisasi lanjutan.
Tips agar Jadwal Imunisasi Anak Tidak Terlewat
Simpan buku KIA atau rekam imunisasi anak di tempat yang mudah ditemukan. Buku ini perlu dibawa saat imunisasi agar riwayat vaksin anak tercatat dengan rapi.
Catat tanggal dosis berikutnya, lalu aktifkan reminder di ponsel atau SATUSEHAT bila tersedia. Kemenkes juga menyediakan fitur riwayat dan rekomendasi imunisasi rutin anak di aplikasi SATUSEHAT Mobile.
Saat imunisasi, tanyakan jenis vaksin yang diberikan dan jadwal berikutnya. Jika ada jadwal terlewat, segera konsultasikan ke dokter untuk imunisasi kejar.
Itulah informasi lengkap seputar vaksin anak termasuk imunisasi lanjutan dan imunisasi booster. Pastikan Mama memantau jadwal imunisasi si Kecil!
Dukung daya tahan tubuh si Kecil sejak dini dengan informasi yang tepat. Daftar sebagai member Nutriclub agar bisa akses panduan imunitas anak, rekomendasi nutrisi pendukung, serta insight terkait daya tahan tubuh anak dari ahli sesuai tahapan usianya. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah. Temukan Nutrilon Royal 3 hanya di NutriShop, official store dengan pengalaman belanja terpercaya.
