Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Flu singapura pada bayi  - Nutriclub.
Imunitas

Flu Singapura pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 04 April 2023

Flu Singapura pada bayi umumnya tidak berbahaya, tapi bisa buat bayi demam dan rewel yang sulit ditenangkan. Ketahui penyebab, gejala, sampai cara mengatasi dan mencegahnya!

Penyebab Flu Singapura pada Bayi

Penyebab flu Singapura adalah virus coxsackievirus a16 dan enterovirus 71. Penyakit ini atau dikenal juga dengan nama hand, foot, and mouth disease (HFMD).

Bayi berisiko tinggi tertular karena infeksi menyebar lewat kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi virus, seperti air liur, dan cairan dari lepuhan pada kulit.

Bayi lebih rentan tertular infeksi penyakit ini karena sistem imunnya masih berkembang.

Apa Ciri-Ciri Flu Singapura pada Bayi?

Bayi yang terinfeksi flu Singapura umumnya mengalami gejala ringan selama 7 hingga 10 hari. Berikut ciri-ciri umum yang ditunjukkan bayi setelah terjangkit flu Singapura:.

  • Menangis terus.
  • Demam
  • Muncul ruam bintik merah di telapak tangan dan telapak kaki. Ruamnya tidak menyebabkan gatal, tapi terkadang melepuh. 
  • Muncul bintik-bintik merah di rongga tenggorokannya.
  • Tidak mau menyusu karena sakit tenggorokan.

Gejala flu Singapura biasanya terjadi secara bertahap. Pertama diawali dengan demam, kemudian si Kecil merasa nyeri pada tenggorokannya. 

Demam biasanya berlangsung 1-2 hari, lalu muncul bintik-bintik ruam merah di rongga mulut yang sebabkan sariawan. Setelahnya, muncul lagi gejala ruam di kulit telapak tangan dan kaki. 

Pengobatan Flu Singapura pada Bayi

Tidak ada pengobatan khusus seperti antibiotik untuk menyembuhkan flu Singapura. Namun, berikut beberapa cara untuk meringankan gejala flu singapura pada bayi: 

1. Memberikan Obat Demam

Mama dapat memberikan obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen. Selain untuk menurunkan demam, kedua obat tersebut juga dapat meredakan nyeri yang dirasakan si Kecil. 

Perlu diingat untuk tidak memberikan aspirin pada bayi, karena dapat menimbulkan penyakit serius seperti Reye’s Syndrome. 

2. Kompres Air Hangat

Tempelkan kompres air hangat untuk bantu menurunkan demam bayi dan membantunya lebih nyaman.

Hindari memberikan kompres air dingin atau kompres gel es karena dapat memicu suhu tubuh si Kecil melonjak tiba-tiba karena panas terjebak di dalam tubuh. 

Jika demam si Kecil belum juga turun, Mama bisa cari tahu solusi lainnya untuk menurunkan demam si Kecil melalui tools Health Immune Checker, lho!

3. Oleskan Losion

Mama dapat oleskan losion yang mengandung calamine untuk menenangkan ruam kulit si Kecil. Sebelum mengoleskannya, pastikan permukaan kulit si Kecil bersih dan kering. 

Untuk mendapatkannya, Mama bisa membeli di apotek atau meminta resep dari dokter. Selain losion, Mama juga dapat mengoleskan bedak dingin. 

4. Cukupi Cairan si Kecil

Pastikan anak mendapat cairan yang cukup. Apabila bayi masih minum ASI, tambah durasi dan frekuensi menyusui. Untuk usia 6 bulan ke atas, pemberian ASI boleh diselingi dengan air putih. 

Untuk sementara waktu, hindari memberikan makanan atau minuman dengan suhu panas dan rasa yang asam karena dapat mengiritasi gejala sariawan yang dialami si Kecil. 

Baca Juga: Efektifkah Skin to Skin Contact Saat Bayi Demam?

5. Mandikan si Kecil dengan Air Dingin

Agar mengurangi sensasi gatal yang disebabkan oleh lenting-lenting di tangan dan kaki, disarankan untuk memandikan si Kecil dengan air dingin. 

Setelah selesai mandi, keringkan badan si Kecil dengan menepuk-nepuk pelan permukaan kulit si Kecil menggunakan handuk yang bersih dan lembut. 

Hindari menggosokkan handuk pada permukaan kulit supaya lentingnya tidak pecah. Sebab, cairan dalam lenting mengandung virus yang dapat tertinggal di handuk. 

6. Sisihkan Pakaian Bayi yang Sedang Sakit

Setiap baju, celana, atau handuk yang digunakan bayi sebaiknya dipisahkan dari anggota keluarga lain.

Kemungkinan ada residu lenting yang pecah dan menempel di baju atau handuk bekas bayi, yang jika tersentuh atau digunakan anggota keluarga lain, risiko penularannya akan meningkat. 

7. Berikan Camilan Dingin

Jika bayi sudah berusia di atas 6 bulan atau sudah mulai MPASI, berikan camilan dingin (bukan beku) untuk meredakan nyeri tenggorokannya. 

Mama dapat memberikan seperti puree buah, yogurt tawar, atau potongan buah bertekstur lembut yang telah didinginkan di dalam kulkas. 

Baca Juga: 15 Cara Mengatasi Batuk Pilek pada Bayi Tanpa Obat

Bahayakah Flu Singapura pada Bayi?

Flu singapura biasanya dapat sembuh sendiri tanpa penanganan medis setelah 7 - 10 hari. Namun, luka pada bagian mulut bisa membuat si Kecil kesulitan menelan ASI. 

Beberapa kasus flu Singapura juga bisa menyebabkan keadaan darurat, meskipun jarang terjadi. Berbagai potensi komplikasi flu Singapura yang terjadi pada bayi meliputi:

  • Kehilangan kuku tangan atau kuku kaki.
  • Virus meningitis.
  • Radang otak.
  • Kelumpuhan.

Jadi, jangan pernah ragu untuk segera pergi ke dokter jika Mama merasa gejala si Kecil tak kunjung membaik atau justru semakin parah.

Cara Mencegah Flu Singapura

Merangkum dari Kemenkes, berikut ini cara mencegah flu Singapura agar terhindar dari proses penularannya yang cepat:

1. Rajin Mencuci Tangan

Mencuci tangan di bawah air mengalir dan menggunakan sabun merupakan salah satu cara utama ampuh untuk mencegah penyebaran penyakit, termasuk flu Singapura pada bayi. 

Jadi, selalu ingatkan Papa dan anggota keluarga lain untuk selalu rajin mencuci tangan setelah dari kamar mandi, sebelum makan, dan setelah batuk atau bersin.

2. Tidak Saling Pakai Alat Makan dan Minum yang Sama

Pastikan Mama dan Papa tidak berbagi barang seperti peralatan makan, gelas, handuk, sampai sisir dengan si Kecil. 

Virus flu Singapura dapat mudah bertahan di permukaan benda, sehingga dapat menularkan kepada si Kecil.

3. Menutup Mulut dan Hidung 

Biasakan untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu saat bersin dan batuk di dekat bayi. 

Akan lebih baik lagi jika Mama, Papa, anggota keluarga terdekat bisa memakai masker ketika sakit dan sedang berada di dekat bayi.

Sebab, ada banyak penyakit yang mudah menular lewat air liur atau cairan di hidung, termasuk flu Singapura.

4. Rutin Bersihkan Rumah

Cara mencegah penularan flu Singapura pada bayi juga bisa dengan membersihkan benda yang sering digunakan banyak orang, misalnya gagang pintu, remote televisi, dan meja. 

Jangan lupa juga selalu rutin membersihkan mainan bayi agar tidak ada virus atau bakteri yang menempel.

Baca Juga: 10 Penyakit Kulit pada Bayi dan Cara Tepat Mengatasinya

Kapan Harus ke Dokter?

Penyakit flu Singapura pada bayi memang bisa sembuh dengan sendirinya, namun jika si Kecil memiliki tanda di bawah ini, Mama perlu segera bawa ke dokter anak:

  • Si Kecil tidak bisa minum dengan normal, karena bisa mengalami dehidrasi.
  • Tidak ada respon dari si Kecil.
  • Demam berlangsung lebih dari 3 hari.
  • Gejala tidak membaik setelah 10 hari.
  • Gejalanya semakin parah.
  • Bayi masih berusia di bawah 6 bulan.

Dengan membawanya ke dokter, Mama dapat menghindari risiko komplikasi yang membahayakan si Kecil. 

Itu dia informasi dasar seputar flu Singapura pada bayi serta cara pengobatan dan pencegahan yang perlu Mama ketahui. 

Apabila masih memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai penyakit ini atau kondisi kesehatan bayi lainnya, Mama juga bisa ketahui penanganannya dengan berkonsultasi pada tim Nutriclub Expert Advisor

Tim ahli Nutriclub siap diandalkan untuk menjawab semua kekhawatiran Mama selama 24/7 tanpa perlu membuat janji terlebih dahulu. Yuk, hubungi sekarang juga!

 

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
  1. IDAI | Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD). (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd
  2.  CDC. (2022, August 10). Symptoms and Diagnosis of Hand, Foot, and Mouth Disease. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/signs-symptoms.html
  3. ‌Guerra, A. M., Orille, E., & Waseem, M. (2022, October 9). Hand Foot And Mouth Disease. Nih.gov; StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431082/
  4. ‌Kids Health Information : Hand, foot and mouth disease. (2018). Rch.org.au. https://www.rch.org.au/kidsinfo/fact_sheets/Hand_foot_and_mouth_disease/
  5. Rachel Reiff Ellis. (2014, September 9). Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD). WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/children/guide/hand-foot-mouth-disease
  6. ‌WebMD Editorial Contributors. (2020, November 20). Remedies for Hand-Foot-and-Mouth Disease. WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/remedies-for-hand-and-foot-and-mouth-disease
  7.  ‌Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2023). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2023/kenali-penyakit-hand-foot-and-mouth-disease-hfmd-pada-anak-di-masa-peralihan-musim
  8.  ‌Hand-foot-and-mouth disease - Symptoms and causes. (2022). Mayo Clinic; https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hand-foot-and-mouth-disease/symptoms-causes/syc-20353035
  9. Reye’s syndrome - Symptoms and causes. (2023). Mayo Clinic; https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/reyes-syndrome/symptoms-causes/syc-20377255#:~:text=Aspirin%20has%20been%20linked%20with,symptoms%20should%20never%20take%20aspirin.
  10. Health. (2022). Fever. Vic.gov.au. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/fever
  11. Roopashri Rajesh Kashyap, & Rajesh Shanker Kashyap. (2015). Hand, foot and mouth disease - a short case report. Journal of Clinical and Experimental Dentistry, e336–e338. https://doi.org/10.4317/jced.52031
Artikel Terkait
floating-icon