Bayi Sering Kentut Belum Tentu Pertanda Adanya Gangguan Pencernaan - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Bayi Sering Kentut Belum Tentu Pertanda Adanya Gangguan Pencernaan

Ibu akan selalu ingin memberikan hal yang terbaik bagi bayinya. Perubahan yang terjadi pada bayi biasanya akan membuat ibu menjadi was-was. Ketika bayi seringkali kentut karena perutnya kembung, ibu sering merasa panik dan takut terjadi sesuatu pada bayinya.

         Ibu akan selalu ingin memberikan hal yang terbaik bagi bayinya. Perubahan yang terjadi pada bayi biasanya akan membuat ibu menjadi was-was. Ketika bayi seringkali kentut karena perutnya kembung, ibu sering merasa panik dan takut terjadi sesuatu pada bayinya.

Kondisi perut yang kembung

         Kentut, atau disebut juga sebagai flatus adalah hal yang sering terjadi pada kehidupan manusia. Jika bayi sering kentut, biasanya anda akan berpikir bahwa anak kembung atau masuk angin, padahal bayi yang sering buang angin adalah hal wajar atau mungkin disebabkan karena kondisi lainnya. Bayi yang sering kentut tidak selalu berarti bahwa bayi sedang menderita sakit perut ataupun terjadi masalah pada sistem pencernaannya.

            Perut kembung yang dialami oleh bayi diakibatkan karena produksi gas di dalam usus besar yang berlebihan atau karena bayi menelan udara ketika menghisap air susu ibu (ASI). Selain itu, penyebab lain dari perut kembung adalah adanya beberapa macam gas yang diproduksi oleh kuman komensal yang tidak berbahaya di usus besar. Kuman tersebut melakukan proses fermentasi karbohidrat yang tidak diserap oleh usus halus. Gas akan dikeluarkan melalui usus ke luar sebagai kentut1.

Did you know?

“Cegah kejadian kembung pada bayi dengan pemberian ASI, waspadai kembung yang disertai dengan gejala gangguan pencernaan seperti muntah, diare, sakit perut, atau susah buang air besar.”

dr Vicka Farah Diba, Msc., Sp.A

Udara yang terjebak dalam perut bayi

           Udara yang terkumpul di dalam saluran pencernaan bayi dapat disebabkan oleh berbagai hal.  Bayi yang mengalami sumbatan pada usus dapat menyebabkan terhambatnya pengeluaran gas melalui anus. Apabila ada kelainan di dalam saluran pencernaan, harus dilakukan penanganan lebih lanjut lagi. Penyebab lain terkumpulnya udara pada saluran pencernaan bayi adalah kebiasaan bayi menelan banyak udara pada saat menangis atau batuk. Selain itu, puting susu yang kurang pas di mulut dapat menyebabkan bayi menelan udara.

         Kemudian, pembentukan gas yang berlebihan di dalam usus dapat menyebabkan udara terkumpul di dalam usus. Bayi dengan gangguan pencernaan dan penyerapan makanan,  atau infeksi mengakibatkan fermentasi makanan tidak diserap oleh bakteri usus secara berlebihan. Beberapa MPASI yang flatugenik (membentuk gas), seperti ubi, keju, kol, dan sawi menyebabkan pembentukan gas di dalam usus akan meningkat. Lalu, peristaltik usus yang melemah akibat diare, ataupun pemberian obat yang dapat melemahkan gerakan peristaltik usus dapat menyebabkan peningkatan gas di dalam usus. Selanjutnya, intoleransi laktosa karena kadar enzim pencernaan di dalam usus belum sempurna atau adanya gangguan produksi enzim pencernaan, menyebabkan gas yang dihasilkan berlebihan. Keadaan ini juga akan menyebabkan nyeri perut pada bayi. Keadaan ini dapat menghilang seiring dengan bertambahnya usia bayi2.

Kurangi gas dalam perut bayi

            Bantulah bayi untuk bersendawa agar dapat mengurangi gas yang ada di dalam perutnya. Cobalah untuk memposisikan bayi seperti berdiri dengan kepalanya di bahu Anda, lalu tepuk – tepuk lembut punggungnya dengan frekuensi tertentu. Lakukan ini setiap Anda selesai memberikan susu pada bayi. Saat menyusui bayi, usahakan agar kepala bayi berada lebih tinggi daripada perutnya.

Pilih dot bayi yang sesuai

            Cobalah untuk mencari ukuran dot bayi yang sesuai, serta pelajarilah teknik menyusui dengan benar. Hal keliru seperti ini dapat memudahkan gas masuk ke dalam saluran pencernaan bayi. Cobalah untuk memilih ukuran dot yang tidak terlalu kecil dibandingkan mulut bayi sehingga tidak ada udara yang ikut masuk saat bayi menyusu. Hindari pula memberikan ukuran dot yang terlalu besar karena akan membuat bayi tidak nyaman saat menyusu. Agar anak merasa lebih nyaman, Anda dapat membalurkan minyak telon di area sekitar perutnya. Hal ini bertujuan untuk menstimulasi keluarnya gas di dalam usus bayi. Pembaluran minyak telon dapat dibarengi dengan melakukan teknik pemijatan yang sederhana kepada bayi3,4.

Hindari makanan flatugenik

            Jika Anda sedang memberikan ASI eksklusif, hindarilah makanan yang mengandung gas. Jika bayi Anda sudah mulai mendapatkan makanan pendamping ASI, perhatikanlah konsumsi makanan yang diperolehnya. Hindari memberikan makanan pembentuk gas (flatugenik) kepada bayi Anda. Bayi juga dapat mengalami akumulasi gas saat ia pertama kali diperkenalkan dengan makanan padat3.

            Kembung bukanlah suatu penyakit yang harus diatasi atau diobati, dan masih merupakan hal yang wajar, maka Anda tidak perlu khawatir akan hal ini. Kecuali jika kentut disertai oleh gejala lain, seperti nyeri perut, muntah, susah makan, rewel, demam, jumlah feses yang lebih banyak, ataupun kesulitan buang air besar, maka Anda harus membawa anak Anda ke dokter agar tata laksana yang tepat dapat diberikan.

Sumber :

  1. Lacy BE, Gabbard SL, D. Crowell M. Pathophysiology, evaluation, and treatment of bloating:hope, hype or hot air. Journal of Gastroenterology and Hepatology. 2011;7(11).
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Kembung pada Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) [internet]. 2015 [cited 2017 Apr 7]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kembung-pada-anak
  3. Infante D, Segarra O, Le luyer B. Dietary treatment of colic caused by excess gas in infants: biochemical evidence. World Journal of Gastroenterology. 2011. 28; 17(16): 2104-2108.
  4. Lawrence TA. The cause and treatment of infant, newborn, and baby gas problem internet].[cited 22nd Augustus 2017]. Available from: http://www.neighborhoodpediatrics.com/_content/resources/resource-pages/gas.pdf.