Loading...
    Banner Artikel Mengenal Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK)
    Tumbuh Kembang

    Mengenal Cara Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK)

    Foto Reviewer

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Ditinjau oleh: Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

    Diterbitkan: 02 September 2021

    Diperbarui: 02 Desember 2025


    • Apa Itu DDTK? 
    • Manfaat Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
    • Jenis dan Cara Pemeriksaan DDTK Berdasarkan Aspek yang Dinilai
    • Seberapa Sering Anak Perlu Jalani Pemeriksaan DDTK?
    • Peran Orang Tua dalam Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
    • Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

    DDTK adalah pemeriksaan klinis yang mencakup pengukuran fisik dan pemantauan kemampuan motorik, bahasa, serta interaksi sosial anak untuk mengenali masalah tumbuh kembang maupun perilaku anak sejak dini. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi gangguan lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan tepat waktu.

    Apa Itu DDTK? 

    DDTK singkatan dari deteksi dini tumbuh kembang anak, yakni serangkaian pemeriksaan untuk menemukan penyimpangan atau keterlambatan tumbuh kembang anak sejak dini.

    Pemeriksaan DDTK wajib diikuti oleh semua anak mulai dari usia 0 hingga 6 tahun. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di pos PAUD, posyandu, puskesmas, atau rumah sakit. 

    Melalui DDTK, penanganan bisa segera dilakukan untuk mencegah dampak jangka panjang dan memastikan perkembangan anak tetap optimal.

    Manfaat Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak

    Penting untuk melakukan deteksi dini tumbuh kembang anak secara berkala agar gangguan atau hambatan pada pertumbuhan dan perkembangan si Kecil bisa terdeteksi lebih awal. 

    Beberapa manfaat DDTK meliputi:

    • Mengetahui bila ada masalah pada pertumbuhan melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, serta lingkar kepala anak. 
    • Mengenali bila ada gangguan keterlambatan pada perkembangan anak, penglihatan, serta pendengaran. 
    • Mengetahui bila ada penyimpangan mental emosional, termasuk autisme serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.
    • Menghindari efek jangka panjang akibat keterlambatan tumbuh kembang.
    • Menentukan langkah intervensi medis atau stimulasi dini.

    Baca Juga: Mengenal Fase Penting Pertumbuhan Anak Usia Dini

    Agar Mama tidak melewatkan informasi penting di setiap fase tumbuh kembang si Kecil, pastikan Mama sudah mendaftar sebagai member Nutriclub. Di sini Mama bisa mendapatkan akses panduan lengkap dan tips stimulasi yang disesuaikan sesuai dengan mileston bayi.

    Jenis dan Cara Pemeriksaan DDTK Berdasarkan Aspek yang Dinilai

    Jenis-jenis deteksi dini tumbuh kembang anak mencakup pertumbuhan fisik, perkembangan, dan sosial emosional. Berikut tiga indikator yang dinilai dalam pemeriksaan DDTK:

    1. Deteksi Penyimpangan Pertumbuhan Fisik

    Menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2020, indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan fisik anak adalah berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), tinggi badan menurut usia (TB/U), berat badan menurut usia (BB/U) dan lingkar kepala. 

    Indikator

    Tujuan Pemeriksaan

    Kategori Penilaian

    BB/TB

    Menilai status gizi anak

    Obesitas - gizi baik - gizi kurang - gizi buruk

    TB/U

    Menilai kondisi perawakan

    Sangat pendek - pendek- normal - tinggi

    BB/U

    Menilai berat badan ideal sesuai usia

    Sangat kurang - kurang - normal - lebih 

    Lingkar kepala

    Memantau pertumbuhan otak

    Mikrosefali - normal - makrosefali

    2. Deteksi Penyimpangan Perkembangan

    Selain tubuh yang terus bertambah tinggi dan besar, si Kecil juga mengalami perkembangan kemampuan motorik kasar, motorik halus, bicara, bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. 

    Gangguan pada salah satu sistem tubuh dapat menghambat perkembangan ini. Maka itu, penting bagi Mama untuk memantau perkembangan si Kecil secara rutin, dengan cara:

    • Menggunakan Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) dari Kementerian Kesehatan RI. 
    • Denver Developmental Screening Test (DDST) untuk menilai perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan sosial.

    Jika muncul indikasi keterlambatan, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak agar si Kecil mendapat diagnosis dan penanganan yang tepat.

    Baca Juga: Waspadai Red Flag Perkembangan Bayi Sesuai Usianya

    3. Deteksi Penyimpangan Sosial dan Emosional

    Penelitian dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa secara global sekitar 9% anak memiliki gangguan kecemasan, 11-15% gangguan emosi, dan 9-15% gangguan perilaku. 

    Sayangnya, anak dengan penyimpangan sosial emosional sering kali justru diberi label negatif oleh orang tua. 

    Padahal, langkah pertama yang seharusnya dilakukan adalah membawa si Kecil ke tenaga kesehatan ahli untuk mendapatkan deteksi dini. 

    Menurut Permenkes Nomor 66 Tahun 2014, masalah penyimpangan sosial dan emosional pada anak usia 3–6 tahun dapat dideteksi lebih awal menggunakan Kuesioner Masalah Mental dan Emosi (KMME). 

    Berikut beberapa contoh penilaian perilaku anak sosial dan emosional dalam KMME:

    Perilaku yang Perlu Dipantau

    Kapan Perlu Konsultasi

    Anak sulit fokus, tidak bisa duduk diam, atau sering melamun

    Jika berlangsung lebih dari 2 minggu dan mengganggu aktivitas belajar atau bermain 

    Anak sering tantrum, marah berlebihan, atau mudah tersinggung

    Jika frekuensi lebih dari 3 kali per minggu atau sulit dikendalikan

    Anak sering menarik diri, enggan bermain, atau tampak murung

    Jika tidak membaik setelah lebih dari 2 minggu, terutama bila disertai perubahan nafsu makan/tidur

    Anak tidak menunjukkan ekspresi emosi (tidak tersenyum, tidak menatap mata)

    Jika tetap terjadi setelah usia 12 bulan, bisa menjadi tanda keterlambatan sosial atau autisme

    Anak agresif (memukul, menggigit, merusak barang)

    Jika sering dilakukan tanpa alasan jelas dan tidak sesuai usia

    Anak kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya

    Jika anak selalu bermain sendiri atau tidak merespons ajakan bermain

    Anak memperlihatkan perilaku obsesif atau berulang (menyusun benda terus-menerus dengan urutan tertentu)

    Jika perilaku berulang ini mengganggu aktivitas harian

    Anak mudah cemas atau takut terhadap hal yang tidak wajar (misalnya suara keras, keramaian) 

    Jika rasa takut membuatnya enggan sekolah, tidur sendiri, atau makan

    Anak tampak kehilangan minat bermain, belajar, atau aktivitas favoritnya

    Jika berlangsung lebih dari 2 minggu tanpa penyebab jelas

    Anak belum bisa berbagi perhatian (joint attention) — misalnya tidak menunjuk benda yang menarik baginya pada usia >18 bulan

    Jika tidak ada respons sosial ini hingga usia 2 tahun

    Anak menunjukkan perilaku seksual yang tidak sesuai usia

    Jika sering terjadi dan tidak bisa dialihkan

    Anak sering berbohong, menyalahkan orang lain, atau tidak menunjukkan empati 

    Jika perilaku ini menjadi kebiasaan dan makin sering terjadi 

    Ingat ya, Ma, tabel ini hanya panduan awal. Diagnosis tetap harus dilakukan oleh psikolog atau dokter anak.

    Seberapa Sering Anak Perlu Jalani Pemeriksaan DDTK?

    DDTK adalah pemeriksaan rutin sejak lahir hingga usia sekolah untuk memastikan tumbuh kembang anak sesuai usianya dan mendeteksi penyimpangan sedini mungkin. 

    Pemeriksaan rutin membantu penanganan lebih cepat dan efektif. Menurut IDAI, frekuensi anak usia dini perlu menjalani deteksi dini tumbuh kembang anak yakni:

    • Usia 0-12 bulan: 1 bulan sekali
    • Usia 1-3 tahun: 3 bulan sekali
    • Usia 3-6 tahun: 6 bulan sekali
    • Usia 6 tahun ke atas: 1 tahun sekali

    Masa 1000 hari pertama kehidupan adalah periode emas yang tidak bisa diulang. Dengan pemeriksaan rutin, Mama dapat memastikan tumbuh kembang si Kecil optimal sejak dini.

    Baca Juga: 8 Rekomendasi Mainan untuk Stimulasi Bayi 10 Bulan

     

    Peran Orang Tua dalam Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak

    Kebanyakan waktu anak dihabiskan bersama orang tua. Itu sebabnya, orang tua punya peran penting dalam mendeteksi gangguan pada tumbuh kembang si Kecil. 

    Berikut beberapa upaya yang bisa orang tua lakukan dalam deteksi dini tumbuh kembang anak:

    • Rutin melakukan penimbangan berat badan, serta pengukuran panjang/tinggi badan dan lingkar kepala
    • Mencatat semua hasil pengukuran ke dalam kurva pertumbuhan sesuai umur dan jenis kelamin anak di buku KIA atau kartu menuju sehat (KMS).
    • Observasi perilaku dan perkembangan anak di rumah.
    • Aktif berdiskusi dengan tenaga kesehatan bila ada hal yang mengkhawatirkan, khususnya terkait perkembangan anak. 
    • Melakukan pemeriksaan perkembangan melalui pengamatan langsung oleh petugas kesehatan dan menggunakan kuesioner/lembar jawaban oleh orang tua. 

    Pastikan Mama terus mendukung 1000 hari pertama kehidupan si Kecil dengan download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama. Mama bisa dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini!

    Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

    Melakukan deteksi dini tumbuh kembang anak lebih awal memang penting, Ma. Namun, jangan abaikan bila si Kecil mengalami tanda ia butuh segera diperiksakan ke dokter, seperti:

    • Hasil Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) atau Kuesioner Masalah Mental dan Emosi (KMME) menunjukkan skor mencurigakan.
    • Pertumbuhan berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala cenderung stagnan bahkan tidak bertambah lebih dari 2 bulan.
    • Anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai (regresi perkembangan).

    Jangan abaikan sekecil apa pun kecurigaan Mama Papa terkait tumbuh kembang anak. Masa emas tumbuh kembang anak tidak bisa diulang dan akan lebih sulit diperbaiki bila terjadi keterlambatan.

    Segera bawa si Kecil ke dokter spesialis anak untuk melakukan pengukuran berkala sehingga tidak akan ada gangguan pertumbuhan yang luput dari deteksi.

    Butuh insight dari ahli di tengah kesibukan? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor – tim ahli terpercaya di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. SKRINING DDTK (DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG). (2025). Madiunkota.go.id. https://puskesmasdemangan.madiunkota.go.id/?p=2393
    2. ‌Direktorat, P., Pendidikan, A., Usia, D., Direktorat, J., Nonformal, Kementerian, I., & Nasional, P. (2011). Manfaat Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak SERI BACAAN ORANG TUA 03 Milik Negara Tidak Diperjualbelikan. https://repositori.kemdikbud.go.id/506/1/03%20DETEKSI%20DINI.pdf
    3. ‌Ratna Pratiwi, S.AP. (2019, March 13). DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG (DDTK). Tanjungpinangkota.go.id. https://puskesmasseijang.tanjungpinangkota.go.id/index.php/13-berita/60-deteksi-dini-tumbuh-kembang-anak-ddtk
    4. IDAI | Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak. (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak
    5. Permenkes No. 2 Tahun 2020. (2020). Database Peraturan | JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/152505/permenkes-no-2-tahun-2020
    6. PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN KESEHATAN GRATIS HARI ULANG TAHUN. (2025, January 22). Kemkes.go.id. https://kemkes.go.id/id/petunjuk-teknis-pemeriksaan-kesehatan-gratis-hari-ulang-tahun
    7. Karim, Abdul. Dkk. METODE DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST UNTUK ANAMNESA PERKEMBAGAN ANAK USIA DINI ‌https://journal.ajbnews.com/index.php/akiratech/article/download/153/159/942
    Artikel Terkait