Kenali Faktor Penyebab Alergi pada Bayi - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Rutinitas Anak

Kenali Faktor Penyebab Alergi pada Bayi

Si Kecil yang berulang kali terkena serangan alergi, seperti asma atau muncul ruam-ruam yang sangat gatal dan bahkan terinfeksi, dapat menimbulkan kecemasan tersendiri bagi Ibu.

Saat si Kecil alergi (Fakta Tentang Alergi), ia memiliki sensitivitas terhadap zat tertentu, misalnya makanan, debu, udara, atau perubahan cuaca. Jika alergi menjadi semakin berat, si Kecil harus bolak-balik diperiksakan ke dokter atau memerlukan perawatan di rumah sakit.

Risiko tersebut dapat dikurangi (Cegah Terjadinya Alergi Pada Bayi) jika Ibu mengetahui caranya. Langkah terbaik untuk meminimalisir terjadinya alergi adalah dengan menghindari atau mencegah kontak dengan zat alergen. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengenali penyebab alergi si Kecil sehingga dapat mengurangi timbulnya alergi yang dialami olehnya.

Menurut World Allergy Organization, alergi dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu keturunan (genetik), sumber atau jenis alergen tertentu, lingkungan (polusi di dalam dan/atau luar ruangan), sosial ekonomi, serta perubahan cuaca dan migrasi. Faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, penanganan penyakit alergi memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk keluarga sebagai bagian terkecil dari sistem di lingkungan Ibu.

 

Faktor Genetik

Faktor genetik dapat menimbulkan alergi melalui berbagai mekanisme kompleks yang melibatkan sistem kekebalan tubuh dan pengaturannya. Faktor ini berperan penting pada munculnya penyakit, bentuk dan tingkat keparahannya, serta riwayat penyakit alergi. Si Kecil akan berisiko lebih besar mengalami alergi apabila anggota keluarganya – terutama garis pertama – memiliki riwayat alergi. Namun, jika kedua orangtua tidak memiliki alergi, si Kecil tetap berisiko 1-11 % terkena alergi.

 

Sumber atau Jenis Alergen

Penyakit alergi tertentu, seperti asma, rhinitis, dan eksim atopik, sangat tergantung pada proses paparan dengan alergennya. Sumber atau jenis alergen tertentu dapat sangat memicu reaksi alergi pada orang tertentu, sementara bagi sebagian lainnya tidak sama sekali. Alergen ini mungkin dapat menimbulkan reaksi alergi berat pada orang yang rentan, sementara tidak menyebabkan reaksi apapun pada orang lain. Contohnya adalah serbuk sari, jamur, tungau, dan kecoa.

Sumber alergen lain dapat berasal dari makanan (Alergi dan Makanan yang Harus Dihindari Bayi), misalnya telur, ayam, kacang tanah, kedelai, gandum; atau bahan-bahan kimia tertentu, seperti deterjen dan produk kebersihan, lateks, dan obat-obatan (terutama golongan antibiotik); hingga gigitan atau sengatan hewan tertentu, misalnya golongan Hymenoptera, seperti lebah, tawon, semut, dan lain-lain.

 

Lingkungan

Lingkungan sangat berperan dalam memicu penyakit alergi. Bahkan, di negara dengan tingkat polusi tinggi seperti Cina, lingkungan turut menjadi penyebab kematian. Tingkat polusi di kota-kota besar di Indonesia pun sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Alergen yang berasal dari lingkungan dapat dibagi menjadi:

  • Polutan luar ruangan seperti debu, asap (termasuk asap rokok), jamur, serbuk sari, alga, dan lain-lain
  • Polutan dalam ruangan dapat berasal dari hewan jenis mamalia (anjing, kucing, dan lain-lain), serangga (kecoa, dan lain-lain), dan askarida (tungau, dan lain-lain).

Alergen-alergen lingkungan ini erat kaitannya dengan penyakit asma, rhinitis alergi, dan infeksi saluran napas akut.

 

Sosial Ekonomi

Keluarga dengan kemampuan sosial dan ekonomi yang rendah selama ini dipercaya cenderung memiliki risiko alergi yang lebih besar. Rendahnya kondisi sosial ekonomi menyebabkan penurunan kondisi fisik, mental, dan psikososial, yang menyebabkan penurunan sistem imunitas tubuh. Di sisi lain, kondisi sosial ekonomi yang rendah akan meningkatkan kepadatan penduduk dan menurunkan kualitas lingkungan hunian. Akibatnya, mereka menjadi rentan terhadap paparan alergen. 

Apakah benar seperti itu? Sebuah penelitian terbaru di Makassar, Indonesia, menunjukkan sebaliknya. Risiko alergi justru banyak ditemukan pada orang-orang dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi. Hal ini terkait dengan kemudahan kelompok ini dalam mengakses makanan (Manajemen Alergi Pada Bayi dengan Sistem Pelabelan Makanan) yang memicu peradangan, seperti makanan cepat saji, makanan kaleng, dan lain-lain.

 

Perubahan Cuaca dan Migrasi

Perubahan dan faktor cuaca seperti suhu, kecepatan angin, kelembapan, dan lain-lain dapat meningkatkan polusi di lingkungan sehingga memicu risiko alergi pada si Kecil. Komponen biologi dan kimia dari serbuk sari juga sering dihubungkan dengan alergi pada saluran pernapasan (misalnya rhinitis alergi (Pilek Akibat Alergi) dan asma).

Migrasi (perpindahan) manusia dari suatu tempat ke tempat lain dapat berdampak pada meningkatnya risiko alergi. Perpindahan manusia membawa potensi genetik terhadap alergi tertentu, membawa beberapa set polutan dan alergen serta perubahan struktur (misalnya meningkatkan kepadatan) yang dapat berdampak pada buruknya lingkungan sosial. Migrasi juga akan membawa budaya baru ke dalam suatu lingkungan beserta dengan kebiasaan makan dan diet yang dapat berdampak pada kesehatan individu dan masyarakatnya.

Kesadaran akan pentingnya memerhatikan seluruh faktor tersebut dapat menghindarkan dan mengurangi serangan alergi yang dialami si Kecil.

 

Tahukah Ibu?

Saat persalinan normal, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses persalinan yang lama yang melibatkan kontraksi berjam-jam, sehingga memungkinkan bayi melakukan kontak secara alami dengan mirkobiota (flora) normal ibu. Mikrobiota tersebut berkembang di usus bayi yang akan sangat membantu proses perkembangan dan pematangan sistem kekebalan tubuhnya. Mikrobiota yang mengalami transfer selama persalinan normal ini terutama berasal dari jenis Lactobacillus dan Bifidobacterium spp.

 

Referensi:

  • Allergy Prevention In Children. The Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy, 2010. (Accessed 2 Maret, 2012, at http://www.allergy.org.au/content/view/182/1.)
  • Juan Miguel Rodrı´guez, Kiera Murphy, Catherine Stanton, R. Paul Ross, Olivia I. Kober, Nathalie Juge, Ekaterina Avershina, Knut Rudi, Arjan Narbad, Maria C. Jenmalm, Julian R. Marchesi dan Maria Carmen Collado. The composition of the gut microbiota throughout life, with an emphasis on early life. Microbial Ecology in Health & Disease 2015, 26: 26050 - http://dx.doi.org/10.3402/mehd.v26.26050
  • Pawankar R, Canonica GW, Holgate ST, Lockey RF. Introduction and Executive Summary. In: Pawankar R, Holgate ST, Canonica GW, Lockey RF, eds. White Book on Allergy. UK: World Allergy Organization; 2011:11-2.