Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

mpasi-dengan-metode-baby-led-weaning-blw_1
Nutrisi

Baby Led Weaning, Benarkah Lebih Baik untuk Belajar Makan?

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 10 Februari 2020

Jika si Kecil sudah siap MPASI dan Mama sedang mempertimbangkan baby led weaning atau BLW sebagai cara mengenalkan makanan pertama pada bayi, simak penjelasan lengkap tentang kelebihan, kekurangan, dan tips memulainya di artikel ini.

Apa Itu Baby Led Weaning?

Baby Led Weaning atau BLW adalah metode memperkenalkan MPASI dengan membiarkan bayi makan sendiri menggunakan tangannya. Dengan metode BLW, bayi akan memilih dan mengambil sendiri semua makanannya, kemudian menyuapkan makanan menggunakan tangannya sendiri (alias tidak disuapi) sejak awal pemberian MPASI.

Metode baby led weaning sendiri mulai dikenalkan oleh Rapley dan Murkett pada tahun 2005 silam melalui bukunya yang berjudul “Baby Led Weaning: Essential Guide to Introducing Solid Foods and Helping your Baby to Grow Up a Happy and Confident Eater.”

Rapley dan Market menyarankan orang tua menyajikan variasi menu makanan di piring kemudian biarkan bayi meraih sendiri makanan apa yang akan mereka masukkan ke mulut untuk dimakan. 

Ini juga termasuk ukuran porsi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan si Kecil untuk menyelesaikan makanannya. Itu kenapa metode ini dinamakan dengan baby led weaning, yang artinya bayi “memimpin” sendiri cara makannya.

Meskipun pemberian makanan secara tradisional memudahkan bayi dalam memilih makanan, tetapi ini tidak berlaku untuk semua makanan dan sering kali tidak dilakukan pada awal masa pemberian MPASI.

Lalu, apa yang bisa diberikan pada bayi? Pada MPASI tradisional (Mama menyuapkan si Kecil dengan sendok) umumnya dimulai dari bubur cair atau puree. Kemudian, lewat metode BLW bayi akan langsung diperkenalkan pada finger food sejak berusia 6 bulan, tanpa melalui tahap pemberian makanan berkonsistensi lunak (bentuk puree atau lumat).

Finger food adalah makanan padat yang dipotong atau dibentuk sedemikian rupa agar dapat dipegang oleh bayi tanpa bantuan Mama.

Baca Juga: Manfaat MPASI dan Tahap Pemberiannya pada Bayi

Tanda Bayi Siap BLW

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, hal paling pertama yang harus dipertimbangkan sebelum mulai BLW adalah kesiapan bayi untuk makan. 

Ada beberapa tanda-tanda bayi siap makan dan mulai MPASI adalah:

  • Bayi mampu duduk sendiri tanpa disangga atau bantuan orang lain.

  • Bayi mampu mengontrol kepala dan lehernya.

  • Bayi cenderung memasukkan benda-benda ke dalam mulut.

  • Membuka mulut ketika Mama menawarkan makanan.

  • Bayi dapat menelan makanan dan sudah tidak memiliki tongue-thrust reflex (gerakan otomatis bayi untuk menggunakan lidahnya untuk mendorong dan melepeh makanan dari mulut).

  • Bayi mulai mengambil dan menggenggam benda-benda kecil seperti mainan atau makanan.

  • Bayi mampu menggerakkan makanan dari depan ke belakang lidahnya untuk menelan makanan .

Untuk menerapkan metode baby led weaning, Mama benar-benar perlu menunggu hingga si Kecil menunjukkan tanda-tanda kesiapan makan. Dengan begitu ia dapat makan sendiri secara efektif.

Namun apabila si Kecil mengalami keterlambatan perkembangan keterampilan motorik atau mengalami gangguan fungsi oral, penerapan metode bayi makan sendiri sebagai cara mengenalkan makanan tidak disarankan. 

Tips Memulai Baby Led Weaning

Apabila Mama ingin memulai memperkenalkan metode ini, ada beberapa tips yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko bayi tersedak. Berikut daftarnya: 

1. Memastikan Bayi Sudah Siap BLW

Sebelum memulai BLW, Mama harus memastikan si Kecil siap untuk melakukan proses belajar makan secara mandiri. Salah satunya adalah dari kemampuan duduk bayi. 

Pastikan si Kecil mampu duduk dalam posisi menegakkan dada dan selama proses makan berlangsung ia dapat mempertahankan posisi tersebut. 

Jika bayi belum bisa duduk dalam posisi tersebut, sebaiknya tunda pelaksanaan metode ini untuk menghindari risiko bayi tersedak, ya, Ma.

2. Menyingkirkan Distraksi

Supaya proses BLW berjalan dengan efektif, Mama perlu menyingkirkan benda-benda yang dapat mengalihkan perhatian si Kecil dari makanannya seperti televisi yang menyala, tablet yang memutar film, atau mainan yang berisik. 

Apabila tidak disingkirkan, benda-benda tersebut dapat mengganggu konsentrasi bayi dan membuat “lupa” kalau ia sedang makan. 

Dengan begitu, bayi mungkin mengemut makanannya atau tidak dapat memproses dengan baik tekstur dan rasa masing-masing makanan yang masuk ke mulutnya. 

3. Perhatikan Bentuk Makanan

Karena si Kecil baru belajar makan, maka Mama perlu memastikan memberikan makanan dengan tekstur yang cukup lembut sehingga mudah hancur di dalam mulut si Kecil. 

Kemudian, pastikan Mama memberikan makanan tersebut dalam bentuk memanjang seukuran jari orang dewasa sehingga mudah diambil, digenggam, dan dimasukkan ke dalam mulut si Kecil. 

Satu lagi yang perlu dicatat, yaitu Mama harus menghindari pemberian makanan yang berisiko membuat si Kecil tersedak. 

Makanan yang mudah membuat tersedak adalah makanan berbentuk bulat atau koin seperti buah anggur utuh, buah blueberry utuh, pisang berdiameter kecil yang dipotong melingkar, kacang, popcorn, dan lain sebagainya. 

4. Perhatikan Kematangan Makanan

Bayi masih rentan terhadap serangan bakteri dan virus jahat karena imun tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna. Oleh karena itu, Mama perlu menghindari pemberian makanan mentah maupun makanan setengah matang pada si Kecil. 

Pastikan semua makanannya matang dengan sempurna dan diolah dengan memperhatikan kebersihan bahan makanan maupun alat masaknya. 

5. Mengenalkan Berbagai Makanan

Supaya si Kecil tidak tumbuh menjadi picky eater dan tercukupi kebutuhan nutrisi hariannya, Mama perlu memberikan menu yang bervariasi mulai dari protein hewani, karbohidrat, buah, hingga sayur.

6. Hindari Fast Food

Mama sebaiknya memperhatikan jenis makanan yang akan disajikan untuk si Kecil. Hindari menyajikan makanan cepat saji atau makanan yang mengandung banyak gula dan garam. 

Makanan cepat saji cenderung memiliki kandungan nutrisi yang rendah namun tinggi akan lemak jahat dan zat aditif seperti penyedap rasa dan pewarna makanan. 

Hal tersebut tentu sangat tidak baik bagi tubuh bayi yang sedang membutuhkan banyak nutrisi untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. 

Selain itu, ginjal bayi masih belum berkembang dengan sempurna. Dengan begitu, konsumsi masakan yang tinggi garam dapat membuat ginjalnya bekerja terlalu keras dan mengalami gangguan. 

Tubuh bayi juga belum membutuhkan gula tambahan. Asupan gula tambahan akan meningkatkan risiko penolakan terhadap makanan sehat, obesitas, dan kerusakan gigi di kemudian hari. 

Apabila ingin menambah rasa gurih dan manis pada makanan, Mama bisa memanfaatkan bahan alami seperti buah, kayu manis, ketumbar, bawang, dan lain sebagainya. 

7. Mengajak Bayi Makan Bersama Keluarga

Selain meningkatkan keharmonisan di dalam keluarga, ternyata makan bersama juga menjadi kesempatan yang baik bagi bayi untuk belajar cara makan secara langsung. 

Saat makan bersama, si Kecil akan diam-diam memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitarnya mulai makan dari cara mengambil makanan, memasukkan ke mulut, hingga mengunyahnya. 

Selain belajar makan, bayi akan lebih termotivasi untuk mencoba berbagai makanan baru saat makan bersama.

Saat makan bersama di meja, Mama bisa mendudukkan si Kecil di high chair atau memangkunya. 

8. Jangan Berikan Madu

Khusus untuk bayi di bawah usia 12 bulan Mama perlu memastikan makanan yang disajikan bebas madu sebab madu dapat menimbulkan penyakit bernama infant botulism. 

Kondisi yang muncul karena bayi keracunan zat toksik yang diproduksi oleh bakteri Clostridium botulinum. Bakteri tersebut kerap ada di dalam madu dan bayi di bawah usia 12 bulan belum memiliki imun tubuh yang cukup kuat untuk melawannya. 

Baca Juga: Panduan MPASI 7 Bulan dan Resep Praktisnya

Kelebihan Metode Baby Led Weaning

Hingga artikel ini ditulis, masih banyak diskusi pro dan kontra terkait keamanan dan keefektifan metode BLW. 

Walau menimbulkan berbagai perbincangan, penelitian menunjukkan beberapa sisi positif yang akan didapatkan si Kecil, dan juga Mama, ketika belajar makan menggunakan metode ini, antara lain: 

1. Bantu Mengenal Rasa Lapar dan Kenyang

Pada BLW, bayi dimotivasi untuk makan sendiri sesuai dengan keinginannya. Metode ini ternyata mampu membantu si Kecil untuk lebih mengenal dirinya sendiri, terutama soal kapan ia lapar sehingga butuh makan dan kapan ia bisa berhenti makan karena merasa kenyang.

Kemampuan mengenali kapan lapar dan kenyang seiring waktu membantu si Kecil menumbuhkan pola makan yang sehat dan teratur, sehingga terhindar dari kebiasaan makan berlebihan.

2. Mengasah Motorik Halus

Ketika dibiasakan makan sendiri, bayi perlahan-lahan juga akan belajar memantapkan kekuatan genggamannya setiap kali berusaha mengambil atau meraih makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.

Proses makan ini juga melibatkan pergerakan matanya, untuk melihat di mana makanannya dan memperkirakan jarak dengan mulutnya, sehingga BLW turut membantu si Kecil melatih koordinasi mata dan dan otot-otot tangannya agar lebih luwes bergerak. 

Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu, keterampilan motorik halusnya akan semakin baik dan perkembangannya lebih cepat daripada bayi yang terbiasa disuapi. 

Keterampilan motorik halus kelak akan sangat bermanfaat untuk keberhasilan si Kecil dalam menjalani kegiatan sehari-hari lho, Ma. Contohnya adalah untuk menulis, menggambar, menggunting, mengancingkan baju, gosok gigi, dan lain sebagainya. 

3. Belajar Mengunyah Makanan

Sementara itu, saat bayi memasukkan finger food ke dalam mulut, ia akan terstimulasi untuk mengunyah dan mencicipi tekstur makanan yang berbeda.

Proses mengunyah dan merasakan tersebut ternyata membantu memperkuat otot-otot wajah dan rahang si Kecil sehingga dapat membuat kemampuan oromotor (motorik oral) si Kecil semakin baik. 

Nah, keterampilan oromotor yang baik akan mempengaruhi kemampuan si Kecil dalam menerima berbagai jenis makanan hingga berbicara. 

4. Belajar Cara Makan yang Benar

Salah satu fokus dalam BLW adalah mengajak si Kecil untuk makan bersama keluarga sehingga ia dapat melihat secara langsung bagaimana cara makan yang baik dan benar dari anggota keluarga yang lain. 

Bayi akan belajar mengunyah dan menelan yang benar dengan memperhatikan anggota keluarga lainnya makan. Maka itu, sebetulnya tanpa disadari banyak orang tua yang sudah menjalani penerapan bayi makan sendiri.

Biasanya hal ini terjadi pada anak kedua atau setelahnya. Karena bayi cenderung suka meniru kakaknya, mereka sering kali mencoba mengambil makanan dari piring kakaknya dan memakannya sendiri seperti yang kakaknya lakukan.

Selain itu, makan bersama keluarga juga memberikan pengaruh yang positif terhadap pengalaman interaksi sosial si Kecil. 

5. Mengenal Berbagai Jenis Makanan

Dengan mengajarkan bayi makan sendiri, secara tidak langsung ia memiliki kesempatan untuk mengenal berbagai jenis, variasi, dan tekstur makanan. Lebih luas daripada saat ia hanya memakan dalam bentuk puree atau mashed. 

Proses penerimaan makanan tersebut mungkin membutuhkan waktu yang lama, namun dengan mengenal berbagai jenis makanan sejak dini, bayi akan tumbuh menjadi individu yang tidak pemilih pada makanan. 

Apabila Mama memperkenalkan banyak makan sehat pada si Kecil, ia cenderung tumbuh dengan pola makan yang lebih sehat. 

6. Lebih Hemat Biaya 

Meskipun kami yakin Mama tidak akan keberatan mengeluarkan uang berapa pun untuk memberikan kualitas makanan yang terbaik bagi si Kecil, salah satu kelebihan BLW adalah pengeluaran biaya yang lebih hemat. 

Ini karena salah satu prinsip dalam membiarkan bayi makan sendiri adalah menawarkan makanan padat sama atau setidaknya mirip dengan apa yang Mama dan Papa makan. Maka, secara tidak langsung biaya yang perlu dikeluarkan Mama untuk mempersiapkan makanan jadi lebih efisien. 

Baca Juga: Nutrisi untuk Mendukung Perkembangan Otak Bayi

Kekurangan Metode Baby Led Weaning

Nah, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, masih ada banyak diskusi mengenai baby led weaning sebagai metode pemberian MPASI pertama bagi bayi. Diskusi tersebut muncul karena metode ini memiliki beberapa sisi negatif seperti:

1. Prosesnya Berantakan

Semua Mama yang pernah mencoba metode BLW setuju bahwa proses ini akan berantakan dan dapat membuang banyak makanan.

Si Kecil yang makan sendiri tanpa bantuan Mama pasti akan menodai seluruh tubuhnya dan ia akan menjatuhkan banyak makanan ke lantai. Jadi, Mama perlu menyisihkan lebih banyak tenaga dan waktu untuk membereskan kekacauan kecil yang ditimbulkan bayi. 

Selain itu, karena si Kecil masih dalam proses belajar makan, pasti akan banyak makanan yang terbuang sehingga Mama perlu menyiapkan makanan dalam jumlah yang lebih banyak daripada jika Mama memberikan makanan dalam bentuk mashed atau puree.

2. Ada Risiko Bayi Tersedak

Banyak pihak yang menentang metode ini karena bayi memiliki risiko untuk tersedak lebih tinggi daripada saat mengonsumsi makanan berbentuk puree atau mashed, termasuk dua penelitian kecil yang dilakukan oleh Cameron (2013) dan Morrison (2016) yang diterbitkan oleh situs IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). 

Bisa dimaklumi jika Mama khawatir tentang bahaya tersedak. Namun, selama bayi sudah bisa duduk tegak saat makan risikonya termasuk minim. Hal yang paling pasti Mama ingat adalah jangan tinggalkan bayi makan tanpa diawasi.

3. Sulit Menakar Porsi Makan

Prinsip mengenalkan bayi makan sendiri mirip dengan metode responsive feeding di mana penentu banyaknya porsi makan adalah si Kecil. 

Dalam responsive feeding, Mama perlu memperhatikan tanda-tanda lapar kenyang si Kecil kemudian menanggapinya dengan tepat, yaitu melanjutkan atau berhenti menyuapi. 

Bedanya, di dalam metode BLW, bayi tidak disuapi oleh Mama sehingga pemantauan seberapa banyak makanan yang berhasil masuk mulut si Kecil dan yang terbuang memang tidak mudah. 

Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang lebih terhadap penghitungan jumlah makanan yang disajikan dan yang berhasil masuk ke mulut si Kecil. 

4. Berisiko Kekurangan Gizi

Bayi Mama mungkin akan menemukan kesulitan untuk mengunyah beberapa jenis makanan, apalagi ketika belum tumbuh gigi. Contoh, daging merah yang merupakan sumber zat besi terbaik. 

Padahal, sejak usia 6 bulan zat besi yang terkandung dalam ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan asupan harian si Kecil sehingga ia membutuhkan asupan nutrisi tersebut dari MPASI. 

Selain itu, penting bagi si Kecil untuk diperkenalkan dengan berbagai makanan kaya zat besi sejak usia 6 bulan karena pemberian makanan pendamping ASI tidak boleh ditunda lebih dari 180 hari.

Meskipun pada saat artikel ini ditulis, belum ada penelitian yang menunjukkan metode bayi makan sendiri membuat ia kekurangan asupan zat besi, risikonya tetap ada. 

Baca Juga: Nutrisi Terbaik untuk Perkembangan Daya Tahan Tubuh Si Kecil

Apakah BLW Lebih Baik dari Metode Lain?

Perlu diketahui, IDAI menyatakan bahwa sampai saat ini metode BLW belum dapat dibuktikan sebagai cara pemberian MPASI yang lebih aman dan unggul dibandingkan menyuapi makanan seperti biasa. Namun, bukan berarti metode ini tidak berpotensi manfaat.

Hal pertama yang perlu Mama perhatikan dalam memilih suatu metode adalah kondisi kesehatan si Kecil dan tujuan apa yang ingin Mama capai. Maka sebaiknya Mama mempertimbangkan lagi penerapan metode bayi makan sendiri jika si Kecil mengalami masalah kesehatan atau tumbuh kembang, seperti:

  • bayi terlahir prematur. 

  • memiliki alergi.

  • memiliki masalah pencernaan.

  • atau mengalami keterlambatan perkembangan keterampilan motorik.

Solusi terbaik bagi Mama yang ingin mencoba BLW adalah dengan menggabungkan metode yang disarankan WHO dengan membiarkan bayi makan sendiri. 

Mama dapat menyendokkan bubur puree di sendok si Kecil dan bantu ia untuk menggenggamnya dan menyuapkan sendiri ke dalam mulut. Kemudian, Mama bisa perlahan mengenalkan bayi pada finger food dan membiarkan ia makan sendiri menggunakan tangan. 

Walaupun praktik ini berjalan lambat atau malah tidak berhasil, itu adalah hal yang wajar, Ma. Sebab metode pemberian makan tidak selalu cocok untuk semua bayi dan memerlukan beberapa kali percobaan. 

Mama tidak harus melakukan sesuatu saklek sesuai cara tertentu. Akan tetapi, Mama dan Papa sangat disarankan untuk berkonsultasi dahulu dengan dokter spesialis anak kepercayaan setiap kali ingin mencoba suatu hal yang baru.   

Jika ingin dapatkan lebih banyak insight menarik seputar tips mengoptimalkan tumbuh kembang bayi usia MPASI, Mama bisa mengakses The Parent’s Guide Academy untuk dapatkan ebook eksklusif dan konsultasi 24 jam dengan para expert tanpa perlu membuat janji!

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
  1. IDAI | Betulkah Baby Led Weaning Lebih Baik? (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/betulkah-baby-led-weaning-lebih-baik

  2. CDC. (2021, August 24). When, What, and How to Introduce Solid Foods. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/nutrition/infantandtoddlernutrition/foods-and-drinks/when-to-introduce-solid-foods.html

  3. zaleska. (2021, October 27). Baby-Led Weaning: What You Need to Know. Cleveland Clinic; Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/baby-led-weaning/

  4. Cameron, S., Heath, A.-L., & Taylor, R. (2012). How Feasible Is Baby-Led Weaning as an Approach to Infant Feeding? A Review of the Evidence. Nutrients, 4(11), 1575–1609. https://doi.org/10.3390/nu4111575

  5. Infant Botulism: Information for Clinicians. (2023). https://www.cdc.gov/botulism/infant-botulism.html

  6. When Can My Baby Have Salt? Verywell Family. (2022) https://www.verywellfamily.com/when-can-my-baby-have-salt-5236633

  7. NHS Choices. (2023). Salt in your diet. https://www.nhs.uk/live-well/eat-well/food-types/salt-in-your-diet/

  8. Sugar for Baby - First Foods for Baby - Solid Starts. (2023). Solidstarts.com. https://solidstarts.com/foods/sugar/

Artikel Terkait
floating-icon