Loading...
    Banner Artikel Infeksi Usus pada Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
    Kesehatan

    Infeksi Usus pada Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Diterbitkan: 15 Januari 2020

    Diperbarui: 05 November 2026


    • Apa Itu Infeksi Usus pada Anak?
    • Penyebab Infeksi Usus pada Anak
    • Gejala Infeksi Usus pada Anak
    • Infeksi Usus pada Anak Apakah Berbahaya?
    • Apakah Infeksi Usus pada Anak Bisa Sembuh Sendiri?
    • Cara Mengobati Infeksi Usus pada Anak
    • Cara Mencegah Infeksi Usus pada Anak

    Infeksi usus pada anak dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit dengan gejala berupa diare, muntah, sakit perut, dan demam. Sebagian kasus sembuh sendiri dalam beberapa hari, tetapi risiko dehidrasi tetap perlu diwaspadai. Berikan oralit, ASI, dan makanan sesuai kondisi anak, serta segera cari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya.

    Apa Itu Infeksi Usus pada Anak?

    Infeksi usus pada anak adalah kondisi ketika mikroorganisme, seperti virus, bakteri, atau parasit, masuk dan menginfeksi saluran pencernaan. 

    Infeksi ini dapat menyebabkan peradangan pada lambung dan usus, yang dikenal sebagai gastroenteritis.

    Infeksi usus tidak sama dengan perubahan pola buang air besar (BAB). Perubahan frekuensi atau konsistensi tinja dapat dipengaruhi oleh makanan dan faktor lainnya, sedangkan infeksi usus terjadi akibat masuknya kuman penyebab infeksi. 

    Diare merupakan salah satu gejala utama infeksi usus, tetapi tidak semua perubahan BAB menandakan infeksi, dan tidak semua infeksi usus selalu menimbulkan diare.

    Penyebab Infeksi Usus pada Anak

    Infeksi usus pada anak dapat disebabkan oleh beberapa jenis mikroorganisme. Jenis penyebabnya turut menentukan gejala yang muncul dan penanganan yang dibutuhkan.

    Infeksi Virus

    Virus merupakan salah satu penyebab umum gastroenteritis pada anak. Beberapa jenis virus yang dapat memicu infeksi saluran pencernaan meliputi:

    • Rotavirus, yaitu virus yang dapat menyebabkan diare berair, muntah, demam, dan dehidrasi. Infeksi ini perlu diwaspadai terutama pada bayi dan anak kecil.
    • Norovirus, yaitu virus yang dapat menyebabkan muntah, diare, mual, dan kram perut. Penularannya dapat terjadi melalui makanan, minuman, atau permukaan yang terkontaminasi.

    Infeksi Bakteri

    Infeksi bakteri dapat terjadi ketika si Kecil mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri penyebab penyakit. Beberapa bakteri yang dapat menginfeksi saluran pencernaan adalah:

    • Escherichia coli (E. coli) yang jenis tertentu dapat menyebabkan diare, kram perut, dan terkadang diare berdarah.
    • Salmonella yang dapat menimbulkan diare, demam, dan sakit perut.
    • Campylobacter yang dapat menyebabkan diare, kram perut, dan demam.
    • Shigella yang dapat menyebabkan diare, termasuk diare berdarah pada sebagian kasus.

    Infeksi Parasit

    Parasit tertentu juga dapat menginfeksi saluran pencernaan, misalnya Giardia dan Entamoeba histolytica. Infeksi dapat terjadi melalui air atau makanan yang terkontaminasi.

    Infeksi parasit pada anak dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan menyebabkan gangguan pencernaan. Risiko infeksi dapat dikurangi dengan menjaga kebersihan tangan, makanan, dan air minum.

    Bagaimana Infeksi Usus Menular?

    Infeksi usus dapat menular ketika kuman masuk ke tubuh melalui mulut. Beberapa jalur penularannya meliputi:

    • Makanan dan minuman terkontaminasi. Kuman dapat masuk melalui makanan yang tidak dimasak dengan baik atau air yang tidak aman dikonsumsi.
    • Tangan yang kotor. Tangan yang tidak dicuci setelah menggunakan toilet atau mengganti popok dapat memindahkan kuman ke mulut dan makanan.
    • Permukaan atau benda yang terkontaminasi. Mainan, gagang pintu, dan peralatan makan dapat menjadi perantara penularan jika terpapar kuman.
    • Sanitasi dan kebersihan yang buruk. Pembuangan tinja yang tidak aman serta keterbatasan akses air bersih dapat meningkatkan risiko penyebaran infeksi.

    WHO juga menempatkan makanan/minuman terkontaminasi, kebersihan yang buruk, air tidak aman, dan sanitasi sebagai faktor penting dalam penularan diare infeksi.

    Baca Juga: 7 Penyebab Anak Demam dan Muntah + Cara Mengatasinya

    Gejala Infeksi Usus pada Anak

    Gejala infeksi usus dapat berbeda-beda, tergantung pada penyebab dan kondisi si Kecil. Berikut beberapa tanda yang perlu Mama perhatikan:

    Diare

    Pada infeksi usus, diare dapat terjadi berulang kali dalam sehari dan menyebabkan tubuh kehilangan cairan serta elektrolit.

    Diare akibat infeksi virus umumnya berair dan tidak berdarah. Sementara itu, tinja yang mengandung darah dapat mengindikasikan infeksi tertentu yang lebih serius sehingga perlu diperiksa oleh dokter.

    Muntah

    Muntah dapat terjadi bersamaan dengan diare karena infeksi mengganggu saluran pencernaan. Gejala ini dapat membuat anak kesulitan mempertahankan asupan cairan dan makanan.

    Muntah yang terjadi berulang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan anak kehilangan banyak cairan. Pastikan anak tetap mendapat asupan cairan sedikit demi sedikit untuk membantu mencegah dehidrasi.

    Sakit atau kram perut

    Peradangan dan kontraksi usus selama infeksi dapat menyebabkan sakit atau kram perut. Si Kecil mungkin terlihat gelisah, rewel, atau menangis karena merasa tidak nyaman.

    Keluhan ini bisa terasa hilang timbul, terutama saat usus bergerak lebih aktif. Perhatikan intensitas dan durasi nyeri, serta segera periksakan si Kecil jika sakit perut terasa hebat atau menetap.

    Demam

    Mama sebaiknya memantau suhu tubuh dan kondisi umum si Kecil. Sebab, demam pada anak akan muncul ketika tubuh melawan infeksi. 

    Suhu tubuhnya dapat meningkat, terutama pada infeksi tertentu yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Jika demam disertai gejala lain yang memburuk, segera konsultasikan dengan dokter.

    Nafsu makan berkurang

    Anak yang mengalami infeksi usus mungkin tidak tertarik makan karena mual, muntah, sakit perut, atau merasa tidak nyaman. Kondisi ini dapat membuat asupan makanan dan cairan berkurang.

    Tawarkan makanan dalam porsi kecil dan cairan secara bertahap agar kebutuhan cairan dan nutrisinya tetap terpenuhi.

    Lemas

    Diare dan muntah dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Akibatnya, anak mungkin tampak lebih lesu, kurang aktif, atau lebih banyak tidur daripada biasanya.

    Terutama kehilangan kalium yang dapat membuat lemas. Kalium membantu menghantarkan sinyal listrik ke sel saraf dan sel otot.

    Jika si Kecil sulit dibangunkan atau tampak sangat lemah, segera bawa ke fasilitas kesehatan karena bisa menjadi tanda dehidrasi berat.

    Apakah Diare Berdarah Termasuk Tanda Infeksi Usus?

    IDAI mencatat darah dalam tinja kemungkinan menjadi tanda infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri patogen. 

    Namun, darah pada tinja juga dapat disebabkan oleh kondisi lain sehingga penyebabnya perlu diperiksa oleh dokter. Terutama, jika tinja berdarah disertai diare, demam, atau sakit perut. 

    Mama juga perlu memperhatikan frekuensi BAB dan perubahan kondisi umum si Kecil.

    Infeksi Usus pada Anak Apakah Berbahaya?

    Infeksi usus pada anak tidak selalu berbahaya. Sebagian kasus dapat membaik dalam beberapa hari, terutama jika disebabkan oleh virus, serta kebutuhan cairan si Kecil tetap terpenuhi.

    Meski begitu, diare dan muntah dapat menyebabkan tubuh kehilangan air serta elektrolit dalam jumlah cukup banyak. Kondisi ini bisa memicu dehidrasi yang berbahaya jika tidak segera ditangani.

    Baca juga: Peran Pencernaan Sehat bagi Imunitas Anak

    Tanda Anak Mengalami Dehidrasi

    Berikut beberapa tanda dehidrasi yang perlu Mama waspadai:

    • Si Kecil lebih sering merasa haus.
    • Mulut dan bibir terlihat kering.
    • Air mata berkurang saat menangis.
    • Buang air kecil lebih jarang atau jumlah urine berkurang.
    • Mata terlihat cekung.
    • Tubuh tampak lemas atau anak lebih mengantuk dari biasanya.
    • Si Kecil sulit minum atau tidak mampu mempertahankan cairan karena muntah.

    Jika anak sulit dibangunkan, mengalami penurunan kesadaran, atau tidak mampu minum, segera cari pertolongan medis.

    Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Dokter?

    Mama perlu segera membawa si Kecil ke dokter jika mengalami salah satu dari kondisi berikut:

    • Tidak bisa minum atau menyusu.
    • Muntah berulang hingga cairan sulit masuk.
    • Menunjukkan tanda dehidrasi.
    • Mengalami diare berdarah.
    • Sangat lemas, sulit dibangunkan, atau mengalami perubahan kesadaran.
    • Mengalami sakit perut berat atau nyeri yang semakin memburuk.
    • Gejala terus memburuk atau diare berlangsung berkepanjangan.

    Bayi, terutama yang masih sangat kecil, memerlukan perhatian lebih karena dapat mengalami dehidrasi lebih cepat.

    WHO juga merekomendasikan konsultasi ke tenaga kesehatan bila terdapat darah dalam tinja, tanda dehidrasi, atau diare yang berlangsung terus-menerus.

    “Pada anak, infeksi akibat radang usus buntu lebih sulit dibatasi oleh jaringan di sekitar usus, sehingga risiko usus buntu pecah lebih tinggi dibandingkan orang dewasa,” ungkap dokter spesialis bedah dr Dion Ade Putra, Sp.BS.

    Apakah Infeksi Usus pada Anak Bisa Sembuh Sendiri?

    Infeksi usus pada anak dapat sembuh sendiri, tetapi hal ini bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan anak.

    Infeksi Virus

    Sebagian besar infeksi usus akibat virus dapat membaik dalam beberapa hari tanpa pengobatan khusus. Penanganan utamanya adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang serta memastikan anak tetap mendapatkan asupan nutrisi.

    Meski bisa sembuh sendiri, Mama tetap perlu memantau frekuensi diare, muntah, buang air kecil, dan kondisi umum si Kecil. Infeksi virus yang menyebabkan dehidrasi tetap membutuhkan penanganan medis.

    Kapan Tidak Boleh Hanya Menunggu di Rumah?

    Jangan hanya mengandalkan perawatan di rumah jika si Kecil menunjukkan tanda dehidrasi, tidak mampu minum, mengalami nyeri perut berat, atau mengeluarkan tinja berdarah.

    Pemeriksaan dokter juga diperlukan jika gejala menetap atau memburuk. Infeksi akibat bakteri atau parasit tertentu dapat membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan khusus.

    Cara Mengobati Infeksi Usus pada Anak

    Mengatasi infeksi usus pada anak tergantung penyebab dan gejala yang dialami. Pada banyak kasus diare akut, penanganan utama berfokus pada pencegahan dehidrasi dan pemenuhan nutrisi selama masa pemulihan.

    Berikan Oralit untuk Mengganti Cairan

    Oralit merupakan larutan yang mengandung air, gula, dan elektrolit dalam komposisi yang tepat untuk membantu mengganti cairan serta garam tubuh yang hilang akibat diare dan muntah.

    Berikan oralit sedikit demi sedikit, terutama setelah si Kecil mengalami diare atau muntah. Pastikan oralit dilarutkan sesuai petunjuk kemasan agar komposisinya tetap tepat.

    Tetap Berikan ASI dan Makanan

    Mama sebaiknya tetap menyusui si Kecil selama mengalami diare. ASI membantu memenuhi kebutuhan cairan dan zat gizi, sekaligus mendukung pemulihan.

    Jika si Kecil sudah mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI) atau makanan keluarga, WHO merekomendasikan melanjutkan pemberian makanan bernutrisi dan ASI selama diare. 

    Berikan Zinc Sesuai Anjuran

    Zinc dapat direkomendasikan untuk membantu penanganan diare pada anak. Mineral ini berperan dalam fungsi kekebalan tubuh dan pemeliharaan lapisan saluran pencernaan.

    WHO merekomendasikan pemberian zinc untuk diare anak, tetapi perlu dicatat ada perubahan rekomendasi WHO terbaru pada dosis. 

    Pedoman WHO 2024 menyarankan dosis 5 mg/hari hingga 14 hari untuk anak sampai 10 tahun dengan diare akut/persisten.

    Apakah Anak Perlu Antibiotik?

    Tidak semua infeksi usus pada anak membutuhkan antibiotik. Obat ini bekerja terhadap bakteri tertentu, bukan virus, sehingga tidak tepat diberikan secara rutin untuk setiap kasus diare.

    WHO 2024 menyarankan antibiotik tidak digunakan pada diare akut berair pada anak hingga 10 tahun, sedangkan diare berdarah merupakan kondisi yang membutuhkan pendekatan berbeda.

    Antibiotik juga harus diberikan sesuai penilaian dokter. Hindari penggunaan tanpa resep atau memakai sisa obat sebelumnya.

    Apakah Probiotik Diperlukan?

    Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan dalam kondisi tertentu.

    Namun, pedoman WHO terbaru justru menyarankan tidak menggunakan probiotik secara rutin untuk diare akut berair pada anak. Konsultasikan dengan dokter sebelum memberikan suplemen, terutama pada bayi atau anak dengan kondisi kesehatan tertentu.

    Baca juga: Cara Menjaga Kesehatan Pencernaan Balita

    Cara Mencegah Infeksi Usus pada Anak

    Umumnya, infeksi usus pada anak bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, rehidrasi atau terapi cairan juga bisa menjadi kunci penanganan infeksi usus. Berikut yang bisa Mama lakukan untuk mengatasi infeksi usus pada si Kecil, di antaranya:

    1. Cuci Tangan dengan Sabun

    Infeksi usus pada anak ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi atau dari lingkungan yang kotor. 

    Tingkatkan kebersihan lingkungan anak dan biasakan anak untuk sering cuci tangan dengan sabun. Hal sederhana ini dapat mengurangi risiko kejadian infeksi usus sebesar 30-50%.

    1. Pastikan Air Minum Aman

    Si Kecil bisa saja mengalami dehidrasi akibat infeksi usus. Sebaiknya Mama memberikan minum pada si Kecil lebih sering dari biasanya. Berikan variasi selain susu seperti jus buah atau air mineral.

    Pastikan air minum si Kecil aman dan bersih untuk mengurangi risiko infeksi berulang. Berikan air putih lebih sering untuk membantu memenuhi kebutuhan cairannya, terutama saat diare atau muntah.

    1. Masak Makanan hingga Matang

    Sebelum Mama memberi makan untuk si Kecil, hal yang perlu Mama perlu memastikan bahan makanan seperti sayur, daging, dan sumber makanan lain dimasak sampai benar-benar matang.

    Makanan yang matang dapat membantu mengurangi risiko paparan kuman penyebab infeksi usus. Hindari memberikan makanan setengah matang atau mentah kepada si Kecil karena masih berisiko mengandung kuman penyebab infeksi.

    1. Jaga Kebersihan Peralatan Makan

    Kemenkes memberikan anjuran untuk menjaga dan memastikan kebersihan dapur beserta alat-alatnya, termasuk peralatan makan si Kecil untuk mencegah kontaminasi bakteri penyebab infeksi usus, seperti salmonella.

    Cuci piring, sendok, botol minum, dan peralatan makan si Kecil dengan sabun serta air bersih setelah digunakan. Simpan peralatan di tempat kering dan terlindung dari kotoran agar tidak mudah terkontaminasi kembali.

    1. Berikan ASI Eksklusif hingga 6 Bulan

    Memberikan ASI eksklusif hingga anak berusia enam bulan serta nutrisi yang baik juga mengurangi risiko diare. Hal ini karena ASI eksklusif pada bayi dan nutrisi yang baik secara umum meningkatkan imunitas pasif anak terhadap patogen.

    Setelah usia enam bulan, lanjutkan pemberian ASI bersama MPASI bergizi seimbang untuk mendukung daya tahan tubuh si Kecil.

    1. Lengkapi Imunisasi, Termasuk Rotavirus

    Kini di Indonesia telah tersedia vaksin untuk mencegah infeksi rotavirus sebagai salah satu penyebab infeksi usus tersering, meski ini tidak mencegah infeksi usus akibat patogen lainnya.

    Dosis pertama vaksin rotavirus diberikan pada saat bayi berusia enam hingga empat belas minggu. Konsultasikan kepada dokter kepercayaan Mama mengenai pemberian vaksin rotavirus untuk si Kecil.

    Ma, menjaga kesehatan pencernaan si Kecil dimulai dari kebiasaan hidup bersih, pemenuhan nutrisi, dan perhatian terhadap gejala yang muncul.

    Kesehatan si Kecil adalah prioritas utama. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama bisa mendapatkan panduan kesehatan terpercaya, artikel expert-verified, serta tips praktis untuk menghadapi berbagai kondisi anak dengan lebih tenang. Mama juga bisa mengunjungi NutriShop untuk dapatkan exclusive shopping experience dengan produk Nutrilon terlengkap.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. Editorial Team. (2022). Gastroenteritis. Medlineplus; National Library of Medicine. https://medlineplus.gov/gastroenteritis.html
    2. Editorial Team. (2026). Intestinal Infections. Childrenswi.Org. https://childrenswi.org/find-care/gastroenterology-liver-nutrition/intestinal-infections
    3. Editorial Team. (2025). Symptoms & Causes of Viral Gastroenteritis (“Stomach Flu”). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases; NIDDK - National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/viral-gastroenteritis/symptoms-causes
    4. Editorial Team. (2026). Gastroenteritis in children and babies | NHS inform. NHS Inform. https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/stomach-liver-and-gastrointestinal-tract/gastroenteritis-in-children-and-babies/
    5. Editorial Team. (2023). Gastroenteritis: What It Is, Symptoms, Causes & Treatment. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/gastroenteritis
    6. Fletcher, J. (2022). Gastroenteritis in children: Causes, duration, remedies, and more. Medicalnewstoday.Com. https://www.medicalnewstoday.com/articles/gastroenteritis-in-children
    7. IDAI | Masalah Saluran Cerna Anak: Penyebab dan Mengatasinya. (2019). Idai.Or.Id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/masalah-saluran-cerna-anak-penyebab-dan-mengatasinya
    8. IDAI | Bagaimana Menangani Diare pada Anak. (2019). Idai.Or.Id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-menangani-diare-pada-anak
    9. ‌Mayo Clinic Staff. (2025). Viral gastroenteritis (stomach flu) - Symptoms & causes - Mayo Clinic. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/viral-gastroenteritis/symptoms-causes/syc-20378847
    10. World Health Organization: WHO. (2024). Diarrhoeal disease. Who.Int; World Health Organization: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease
    11. ‌
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Hadiah Eksklusif

    Hadiah Eksklusif

    Beragam hadiah eksklusif untuk dukung si Kecil jadi juara, siap Mama dapatkan!

    Icon Winning Parenting Content

    Winning Parenting Content

    Ratusan artikel dan konten tumbuh kembang untuk dukung si Kecil jadi juara

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Icon Belanja di Nutrishop

    Belanja di Nutrishop

    Nikmati kemudahan belanja Nutrilon Royal di website NutriShop dengan layanan tepercaya dan benefit eksklusif untuk Mama

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun