Jenis sistem kekebalan tubuh terbagi menjadi kekebalan bawaan (sudah ada sejak lahir dan tidak spesifik) serta kekebalan adaptif (berkembang seiring waktu dan spesifik). Kekebalan adaptif dibagi lagi menjadi kekebalan aktif (tubuh memproduksi antibodi sendiri) dan kekebalan pasif (menerima antibodi dari luar).
Apa Itu Sistem Kekebalan Tubuh?
Sistem kekebalan tubuh adalah kumpulan sel, zat kimia, dan proses yang bekerja sama untuk melindungi tubuh dari bakteri, jamur, parasit, virus, sel kanker, dan racun.
Dalam Allergy, Asthma & Clinical Immunolgy (2018) dijelaskan bahwa sistem kekebalan tubuh penting untuk membantu melindungi tubuh dari penyakit.
Jika sistem ini tidak bekerja dengan baik, tubuh bisa lebih mudah terkena penyakit. Begitu juga jika sistem imun terlalu kuat atau berlebihan, tubuh dapat mengalami gangguan.
Apa Saja Jenis Kekebalan Tubuh?
Secara umum, ada dua jenis kekebalan tubuh yang akan dimiliki anak hingga ia dewasa nanti, yaitu:
1. Kekebalan Bawaan (Innate Immunity)
Kekebalan bawaan adalah jenis kekebalan tubuh yang sudah ada sejak lahir sebagai perlindungan pertama dalam melawan penyakit.
Ini meliputi kulit, air mata, lapisan mukosa atau selaput lendir (dapat ditemukan di mulut, hidung, paru-paru, dan lain-lain), serta sel darah putih (neutrofil).
Kekebalan bawaan ini mencegah kuman penyebab penyakit masuk ke tubuh. Innate immunity bekerja cepat untuk menghalangi segala jenis kuman penyebab penyakit (tidak spesifik).
2. Kekebalan Adaptif (Adaptive Immunity)
Berbeda dengan kekebalan bawaan, jenis kekebalan tubuh adaptif baru didapatkan atau terbentuk ketika tubuh terpapar patogen (kuman penyebab penyakit) hingga membentuk antibodi.
Jenis kekebalan tubuh adaptif membuat tubuh “mengingat” penyebab penyakit dan membentuk antibodi sehingga mengurangi risiko penyakit dan mencegah keparahan penyakit di kemudian hari.
Dibanding jenis kekebalan tubuh bawaan, kekebalan adaptif lebih lambat mulai bekerjanya, tapi efeknya lebih kuat.
Selain dengan terpapar kuman penyebab penyakit secara langsung, seperti cacar air, vaksinasi juga bisa membentuk jenis kekebalan tubuh adaptif pada anak.
Kekebalan adaptif dibagi lagi menjadi kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Berikut tabel perbedaan jenis kekebalan tubuh aktif dan pasif yang perlu Mama tahu:
|
Jenis-Jenis Kekebalan Adaptif |
Cara Terbentuk |
Contoh |
|
Kekebalan aktif |
Tubuh membentuk antibodi sendiri |
|
|
Kekebalan pasif |
Antibodi berasal dari luar (tidak produksi sendiri) |
|
Baca Juga: Panduan Imunisasi Bayi Lengkap 2026 dari IDAI (0–12 Bulan)
Apa itu Imunitas Bawaan (Innate Immunity / Imunitas Non-Spesifik)?
Lalu, bagaimana cara kerja dan apa saja komponen imunitas bawaan, Ma? Simak selengkapnya.
Cara Kerja Imunitas Bawaan
Cara kerja jenis kekebalan tubuh bawaan (innate immunity) dimulai dengan mencegah kuman masuk melalui penghalang seperti kulit dan mukosa.
Jika kuman berhasil masuk, sistem imun akan mengenalinya dan segera mengaktifkan sel-sel pertahanan untuk melawan kuman tersebut.
Komponen Imunitas Bawaan
Imunitas bawaan memiliki beberapa lapisan pertahanan, berikut komponennya:
- Kulit: menjadi penghalang fisik yang membantu menghambat masuknya mikroba.
- Mukosa: membantu menangkap kuman dan mengeluarkannya dari tubuh melalui lendir dan gerakan silia.
- Neutrofil: menangkap, membunuh, dan mencerna mikroorganisme melalui proses fagositosis.
- Makrofag: menangkap dan menghancurkan mikroorganisme serta membantu membersihkan sisa-sisa sel.
Contoh Imunitas Bawaan
Contoh kekebalan bawaan adalah kulit dan lendir yang menghalangi kuman, demam dan peradangan saat infeksi, serta neutrofil dan makrofag yang menghancurkan kuman.
Apa itu Imunitas Adaptif (Adaptive Immunity / Imunitas Spesifik)?
Nah, bagaimana tubuh membentuk imunitas adaptif dan melawan kuman secara spesifik? Berikut penjelasannya, Ma.
Cara kerja Imunitas Adaptif
Imunitas adaptif bekerja dengan mengenali antigen tertentu, kemudian mengaktifkan sel imun untuk melawan patogen.
Setelah infeksi teratasi, sebagian sel akan menjadi sel memori sehingga tubuh dapat merespons lebih cepat jika menghadapi patogen yang sama.
Komponen Imunitas Adaptif
Jenis kekebalan tubuh adaptif melibatkan sel B dan sel T. Sel B dapat berkembang menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi.
Sedangkan sebagian sel B dan T dapat menjadi sel memori untuk membantu tubuh menghadapi paparan antigen yang sama di kemudian hari.
Perbedaan Imunitas Bawaan dan Adaptif
Berikut perbandingan jenis kekebalan tubuh agar Mama lebih mudah memahami perbedaan imunitas bawaan dan adaptif.
|
Aspek |
Imunitas Bawaan (Innate Immunity) |
Imunitas Adaptif (Adaptive Immunity) |
|
Nama lain |
Imunitas bawaan, imunitas non-spesifik |
Imunitas adaptif, imunitas spesifik |
|
Kapan terbentuk? |
Sudah ada sejak lahir |
Terbentuk setelah tubuh terpapar antigen, termasuk melalui vaksinasi |
|
Kecepatan respons |
Cepat, dalam hitungan menit hingga jam |
Lebih lambat saat paparan pertama, tetapi lebih cepat saat paparan berikutnya |
|
Target |
Melawan berbagai patogen secara umum |
Melawan patogen atau antigen tertentu secara spesifik |
|
Memiliki memori imun? |
Tidak memiliki memori imun spesifik |
Ya, dapat membentuk sel memori |
|
Komponen utama |
Kulit, mukosa, neutrofil, makrofag, dan komponen pertahanan lainnya |
Sel B, sel T, antibodi, dan sel memori |
|
Contoh |
Kulit menghalangi kuman masuk dan neutrofil serta makrofag menghancurkan kuman |
Antibodi terbentuk setelah vaksinasi atau setelah tubuh sembuh dari infeksi |
|
Peran utama |
Menjadi pertahanan awal tubuh terhadap kuman |
Memberikan perlindungan spesifik dan membantu tubuh merespons lebih cepat saat terpapar patogen yang sama |
Jenis Imunitas Berdasarkan Cara Terbentuk
Selain jenis kekebalan tubuh yang telah disebutkan di atas, kekebalan tubuh juga dibedakan lagi berdasarkan cara imunitas itu didapatkan, yaitu kekebalan aktif dan pasif.
1. Kekebalan Aktif
Kekebalan aktif adalah jenis kekebalan tubuh yang muncul karena tubuh memproduksi antibodi saat terpapar kuman. Menurut CDC (2024), kekebalan aktif terdiri atas 2 jenis, yaitu:
- Kekebalan aktif alami: didapat dari paparan kuman penyakit.
- Kekebalan aktif buatan: terbentuk dari imunisasi, yaitu proses memasukkan bagian dari kuman yang telah dilemahkan.
Contoh kekebalan aktif adalah anak akan kebal dari cacar air atau campak setelah sembuh dari infeksinya.
Contoh lain, anak kebal polio setelah mendapatkan vaksin polio. Kekebalan aktif bersifat jangka panjang, bahkan seumur hidup si Kecil.
2. Kekebalan Pasif
Kekebalan pasif adalah jenis kekebalan tubuh yang muncul karena si Kecil atau seseorang “diberikan” antibodi dari luar, bukan diproduksi sendiri oleh tubuh.
Contoh imunitas pasif adalah ketika si Kecil mendapatkan antibodi Mama dari ASI ataupun melalui plasenta saat masih dalam kandungan.
Transfusi darah, khususnya imunoglobulin juga merupakan contoh imunitas pasif. Imunitas pasif umumnya bersifat jangka pendek, alias hanya sementara, hitungan minggu atau bulan.
Namun, ini sangat berguna dalam situasi darurat karena terlalu lama jika harus menunggu kekebalan aktif terbentuk.
Baca Juga: Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh Anak
Perbedaan Kekebalan Aktif dan Pasif
Meski sama-sama memberikan perlindungan, jenis kekebalan tubuh aktif dan pasif memiliki cara kerja yang berbeda. Berikut perbandingan keduanya yang perlu Mama ketahui.
|
Aspek |
Kekebalan Aktif |
Kekebalan Pasif |
|
Cara diperoleh |
Tubuh membuat antibodi sendiri |
Menerima antibodi dari luar tubuh |
|
Bagaimana terbentuk? |
Setelah terkena infeksi atau menerima vaksin |
Melalui plasenta, ASI, atau suntikan imunoglobulin |
|
Kecepatan perlindungan |
Membutuhkan waktu untuk terbentuk |
Memberikan perlindungan lebih cepat |
|
Daya tahan |
Umumnya lebih lama |
Bersifat sementara |
|
Memiliki memori imun? |
Ya |
Tidak |
|
Contoh |
Vaksin campak, vaksin polio, atau setelah sembuh dari cacar air |
Antibodi dari ibu melalui plasenta dan ASI, serta suntikan imunoglobulin |
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
Bagaimana Cara Kerja Sistem Imun?
Selain memahami apa saja jenis kekebalan tubuh, penting juga buat Mama memahami cara kerja sistem imun.
Jadi, saat anak sakit ataupun setelah si Kecil vaksin, Mama bisa terhindar dari salah kaprah yang umum muncul. Cara kerja sistem imun, yaitu:
- Tubuh terpapar patogen dari luar → dikenali sebagai antigen
- Kekebalan bawaan akan bereaksi lebih dulu, berusaha mengeluarkannya
- Jika patogen lolos dan berhasil masuk ke tubuh, sistem imun adaptif merespons
- Limfosit B (bagian dari sistem imun) akan “berkenalan” dengan penyakit dan membentuk antibodi
- Limfosit T menghancurkan kuman penyebab penyakit
- Antibodi yang terbentuk akan bertahan di tubuh dan “mengingat” patogen yang tadi masuk
Saat anak mengalami demam atau peradangan, biasanya ini adalah saat ketika sistem imunnya tengah berusaha menghancurkan kuman penyebab penyakit.
Organ yang Berperan dalam Sistem Imun
Sistem imun melibatkan berbagai organ yang bekerja sama untuk membantu tubuh melawan kuman dan penyakit, antara lain:
- Kulit: lapisan pelindung terluar tubuh dari paparan patogen sekaligus menjadi tempat berbagai sel imun yang berperan dalam respons kekebalan
- Limpa: membantu memulai dan mengatur respons imun adaptif, terutama terhadap antigen yang beredar dalam darah
- Timus: membentuk dan mematangkan sel T yang penting untuk melawan benda asing dan menjaga sistem imun tetap seimbang
- Sumsum tulang belakang: tempat produksi sel darah putih yang berperan dalam sistem imun
- Usus: salah satu organ imun terbesar dan memiliki jaringan serta sel imun yang membantu melindungi tubuh dari patogen
Mengapa Anak Lebih Rentan Sakit?
Mama mungkin bertanya-tanya, mengapa anak lebih rentan sakit? Berikut beberapa faktor yang dapat memengaruhi daya tahan tubuh Si Kecil.
1. Sistem Imun Belum Matang
American Journal of Physiology-Endocrinology and Metabolism (2020) menjelaskan, sistem imun bayi dan anak masih berkembang sehingga belum sepenuhnya matang saat lahir.
Tenang saja, Ma. Seiring pertumbuhan, sistem imun akan berkembang dan membentuk memori untuk mengenali kuman dengan lebih baik sehingga tidak rentan sakit.
2. Pentingnya Vaksin
Vaksin membantu melatih sistem imun Si Kecil untuk mengenali kuman penyebab penyakit dan membentuk antibodi untuk melawannya.
Dengan vaksinasi sesuai jadwal, tubuh Si Kecil memiliki perlindungan yang lebih baik saat terpapar penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
3. Nutrisi
Nutrisi yang cukup penting untuk membantu sistem imun Si Kecil bekerja dengan baik.
Sebaliknya, kekurangan gizi dapat mengganggu fungsi sistem imun sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi dan anak menjadi lebih rentan sakit.
4. Kualitas Tidur
Tidur dan sistem imun saling berkaitan, karena tidur dapat memengaruhi berbagai fungsi sistem imun dan membantu tubuh mempertahankan pertahanan terhadap infeksi.
Tidur yang cukup dan berkualitas juga membantu menjaga keseimbangan sistem imun serta mengurangi risiko gangguan inflamasi dalam tubuh.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak
Apa yang Terjadi Jika Sistem Imun Tidak Berfungsi?
Setiap jenis kekebalan tubuh berfungsi melindungi tubuh dari infeksi, zat, atau sel yang berbahaya. Jika sistem imun tidak bekerja dengan baik, anak dapat mengalami beberapa kondisi, seperti:
1. Risiko Autoimun
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem imun anak yang seharusnya menyerang kuman penyebab penyakit malah menyerang sel-sel sehat dan menyebabkan penyakit.
Beberapa jenis penyakit autoimun pada anak yang dapat terjadi, yaitu:
- Diabetes tipe 1
- Lupus
- Rheumatoid arthritis
2. Alergi
Alergi terjadi ketika sistem imun memberikan respons berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya bagi sebagian besar orang.
Zat pemicu reaksi alergi disebut alergen, misalnya makanan tertentu, serbuk sari, tungau debu, atau protein dari hewan.
Beberapa contoh penyakit alergi yang dapat muncul, yaitu:
- Asma alergi
- Eksim (dermatitis atopik)
- Rinitis alergi
- Alergi makanan, seperti alergi susu sapi atau alergi kacang
3. Penyakit Defisiensi Imun (Imunodefisiensi)
Imunodefisiensi terjadi ketika satu atau beberapa bagian sistem imun tidak berfungsi dengan baik sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan sejak lahir maupun faktor lain yang memengaruhi sistem imun.
Contoh imunodefisiensi berat adalah Severe Combined Immunodeficiency (SCID) yang membuat anak rentan mengalami infeksi serius dan berulang.
Tanpa penanganan tepat, infeksi ini dapat mengancam nyawa.
4. Infeksi Berulang
Anak memang dapat mengalami infeksi beberapa kali dalam setahun. Namun, infeksi yang terlalu sering, lama, berat, atau sulit diatasi dapat menjadi tanda gangguan sistem imun.
Beberapa tanda yang dapat ditemukan pada anak dengan gangguan sistem imun antara lain:
- Mengalami infeksi berulang atau lebih sering dibandingkan anak seusianya
- Infeksi berlangsung lebih lama atau sulit sembuh
- Mengalami infeksi yang berat atau tidak biasa
- Membutuhkan antibiotik berulang atau perawatan di rumah sakit akibat infeksi
- Pertumbuhan atau berat badan sulit bertambah pada kondisi tertentu
Cara Mendukung Sistem Imun Anak
Dibanding orang dewasa, anak-anak memang lebih rentan sakit karena sistem imunnya masih terus berkembang. Berikut beberapa cara untuk meningkatkan sistem imun anak, seperti:
- Memberikan vaksinasi dasar lengkap
- Tidur cukup
- Menjaga kebersihan dalam keluarga lewat cuci tangan dengan benar
- Berikan ASI eksklusif minimal 6 bulan
- Berikan MPASI bayi dengan nutrisi lengkap untuk imun, seperti protein, zinc, omega-3, vitamin A dan D
- Jaga si Kecil tetap aktif
Dukung daya tahan tubuh si Kecil sejak dini dengan informasi yang tepat. Daftar sebagai member Nutriclub agar bisa akses panduan imunitas anak, rekomendasi nutrisi pendukung, serta insight terkait daya tahan tubuh anak dari ahli sesuai tahapan usianya. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
