Loading...
burger menu

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kenali Tanda-Tanda Perilaku ADHD Pada Balita

Rutinitas Anak

Kenali Tanda-Tanda Perilaku ADHD Pada Balita

Article By : dr. Kristian WG

Reviewer : dr. Marisa Pudjiadi, Sp.A

Apa itu ADHD? ADHD adalah kondisi gangguan perilaku berupa ketidakmampuan memusatkan perhatikan, perhatian mudah teralih, impulsif dan hiperaktif.

Perubahan perilaku yang timbul akibat gangguan sistem saraf perlu penanganan lebih spesifik dibandingkan perubahan perilaku yang diakibatkan oleh faktor sosial dan lingkungan. Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan kondisi gangguan perilaku yang terbagi pada perilaku terkait kemampuan konsentrasi dan tindakan hiperaktif. Anak ADHD adalah anugerah yang dititipkan kepada orang tua.

Yuk, kenali tanda-tanda Perilaku ADHD sejak dini pada balita dari Tim Ahli Nutriclub.

Gejala ADHD pada Anak

ADHD ditemukan pada 6,5% anak-anak dan 2,7% pada remaja. Insiden ADHD 2-3 kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Jumlah penderita ADHD semakin berkurang pada usia yang lebih dewasa. Apakah ADHD adalah penyakit? Tentu tidak, karena hal ini terjadi karena genetik dan faktor lingkungan. Berikut ini adalah gejala ADHD yang muncul pada anak, yaitu:

1. Kesulitan fokus

Gejala ini meliputi si Kecil yang mudah terdistraksi, tidak menghiraukan lawan bicara, tidak mengikuti petunjuk, sulit menyelesaikan tugas, mudah teralihkan, dan pelupa. Hal ini biasanya akan mengganggu anak dalam proses belajar.

2. Hiperaktif

Gejala ini meliputi anak selalu tampak bersemangat, bicara berlebihan, tidak dapat duduk tenang, sulit dalam menunggu giliran, selalu gelisah, tidak dapat diajak duduk untuk waktu lama, berlarian atau memanjat di situasi yang tidak sesuai, menghentakkan tangan atau kaki dan tidak dapat bermain dengan tenang. Hal ini membuat anak dengan ADHD menjadi lebih mudah cedera karena mereka cenderung tidak bisa diam.

3. Impulsif

Gejala ini ditandai dengan perilaku berisiko tanpa memikirkan konsekuensi dari tindakannya. Hal ini membuat anak dengan ADHD sering melakukan sesuatu tanpa izin sehingga dapat membahayakan dirinya dan orang lain. 

Penyebab ADHD

ADHD pada anak diduga terjadi akibat gabungan interaksi genetik dan lingkungan luar, misalnya Mama dengan kehamilannya yang terpapar dengan nikotin, berat badan lahir bayi rendah, atau paparan terhadap timbal dan racun lingkungan lainnya.

Penelitian menunjukkan adanya pengurangan volume pada beberapa bagian otak penderita anak ADHD bila dibandingkan dengan bukan penderita ADHD. Selain masalah volume otak, penderita ADHD juga mengalami gangguan pada regulasi zat-zat kimia di otak. Penderita ADHD memiliki gangguan dalam menghambat respon, sehingga cenderung sulit untuk menghentikan responnya terhadap sesuatu.

Diagnosis ADHD tidak memerlukan berbagai tes laboratorium yang rumit. Diagnosis ADHD pada anak cukup dilakukan dengan mengamati gejala si Kecil. Walaupun demikian, diagnosis ADHD bukan berarti mudah. Salah satu panduan kriteria diagnosis yang banyak digunakan dokter spesialis kesehatan jiwa dan dokter spesialis anak dalam mendiagnosis ADHD adalah American Psychiatric Association's Diagnostic and Statistical Manual  edisi V (DSM-5).

Did you know?

”Sistem saraf bertanggung jawab untuk mengirim, menerima, dan menafsirkan informasi dari semua bagian tubuh.“

Jenis dan Diagnosis ADHD

Berdasarkan American Psychiatric Association's Diagnostic and Statistical Manual  edisi V (DSM-5), ADHD dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu:

1. ADHD dengan dominan ketidakmampuan memberikan perhatian

  • Sering gagal dalam memberikan perhatian ketat terhadap hal-hal kecil atau membuat kecerobohan dalam beraktivitas
  • Memiliki masalah dalam mempertahankan perhatian saat menjalankan tugas tertentu
  • Sering tidak terlihat mendengar saat sedang berbicara secara langsung
  • Sering tidak mengikuti perintah dengan lengkap dan gagal dalam mengerjakan tugas
  • Memiliki masalah dalam mengatur jadwal kegiatan
  • Sering menghindari atau tidak menyukai melakukan tugas yang memerlukan usaha mental yang cukup lama (misalkan mengerjakan pekerjaan rumah)
  • Sering kehilangan barang-barang yang penting untuk menjalankan tugas
  • Mudah terpecah konsentrasi
  • Pelupa dalam menjalankan kegiatan sehari-hari

2. ADHD dengan dominan hiperaktivitas dan impulsivitas

Gejala berikut harus dialami setidaknya enam bulan untuk dikatakan positif dan khusus bagi remaja yang berusia hingga 16 tahun harus memenuhi setidaknya enam gejala atau setidaknya lima gejala bila berusia di atas 17 tahun.

  • Sering membuat gerakan-gerakan kecil atau menepuk-nepukkan tangan atau kaki, atau gelisah bila duduk
  • Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi yang mengharuskannya duduk
  • Sering berlari atau memanjat pada situasi yang tidak seharusnya (atau merasa gelisah saat remaja atau dewasa)
  • Sering tidak dapat bermain atau melakukan hobi dengan tenang
  • Sering banyak gerak seperti dikendalikan dinamo
  • Sering banyak berbicara
  • Sering menjawab sebelum selesai diberikan pertanyaan
  • Sering bermasalah dalam menunggu giliran
  • Sering menginterupsi orang lain

3. ADHD tipe campuran

Selain menilai gejala yang muncul, beberapa ketentuan berikut harus turut diperhatikan, yaitu:

  • Gejala harus sudah ada sebelum anak berusia dua belas tahun
  • Muncul dalam dua atau lebih situasi (misalkan rumah, sekolah, tempat kerja, pergaulan)
  • Terdapat bukti yang jelas bahwa gejala tadi mempengaruhi fungsi hidup sehari-hari

Walaupun nampaknya mudah, namun dokter spesialis anak atau dokter spesialis kesehatan jiwa harus ekstra hati-hati dalam mendiagnosis si Kecil dengan ADHD. Mereka harus memastikan bahwa tidak ada gangguan mental lain pada si Kecil. Si Kecil dengan gangguan cemas akan menunjukkan gejala-gejala yang mirip dengan ADHD. Jadi, sebaiknya Ibu pahami dahulu ciri ciri anak ADHD sebelum melakukan treatment khusus.          

Bila si Kecil terbukti menderita gangguan mental lain, misalkan gangguan cemas, maka diagnosis ADHD dapat langsung disingkirkan. Oleh karena perlunya akurasi yang tinggi, maka diagnosis ini sebaiknya diputuskan oleh dokter.

Tiga metode terapi yang diperlukan oleh si Kecil dengan ADHD adalah: edukasi psikologi, penanganan orang tua, serta obat-obatan. Pemilihan obat dilakukan dengan hati-hati sambil memerhatikan gejala yang menonjol pada si Kecil serta efek samping dari masing-masing obat.

Diperkirakan 70-80% pasien anak dengan ADHD akan memperlihatkan gejala yang sama hingga remaja. Gejala ini biasanya akan mereda seiring dengan bertambahnya umur. Hanya 10-20% anak ADHD yang dapat mencapai usia dewasa tanpa membawa gejala-gejala ini serta dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan apapun. Pada keadaan tertentu, terapi obat perlu dilanjutkan hingga si Kecil mencapai usia dewasa.

Kenali lebih dekat tools Nutriclub agar Mama menjadi orang tua terbaik!

  1. Tschudy M, Arcara K. The Harriet Lane handbook. 20Th ed. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2012.
  2. Tasker R, McClure R, Acerini C. Oxford handbook of paediatrics. 2Nd ed. Oxford: Oxford University Press; 2013.
  3. Soreff S. Attention Deficit Hyperactivity Disorder Medscape. 2015
  4. Division of Human Development, National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities. Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD). Centers for Disease Control and Prevention. 2015
  5. Hill P. Attention-deficit hyperactivity disorder in children and adolescents: assessment and treatment. Advances in Psychiatric Treatment. 2015;21(1):23-30.
comment-icon comment-icon