Gumoh pada bayi adalah hal yang umum dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan, terutama setelah bayi menyusu. Hal ini terjadi karena kapasitas lambung bayi masih terbatas dan otot katup yang menghubungkan lambung dengan kerongkongan belum berkembang sempurna. Akibatnya, sebagian susu yang telah diminum dapat kembali naik ke mulut dengan mudah.
Apa Itu Gumoh?
Gumoh adalah keluarnya kembali sebagian susu atau makanan dari lambung ke mulut bayi secara spontan setelah menyusu atau makan.
Kondisi ini sering disebut sebagai happy spitter karena umumnya tidak menyebabkan rasa tidak nyaman maupun nyeri pada bayi.
Gumoh termasuk hal yang normal terjadi pada bayi usia 0–4 bulan dan biasanya akan berkurang secara bertahap setelah bayi berusia 12 bulan.
Berapa Kali Gumoh pada Bayi yang Masih Normal?
Gumoh sering dialami oleh bayi yang masih menyusu dan biasanya tidak berbahaya. Sebagian besar bayi mengalami gumoh sekitar 1 hingga 4 kali sehari.
Pada usia di bawah 3 bulan, gumoh dapat terjadi lebih sering, bahkan sampai 10–12 kali dalam sehari.
Gumoh masih dianggap normal apabila bayi tetap tumbuh dengan baik serta tidak menunjukkan tanda gangguan kesehatan lainnya.
Kenapa Bayi Sering Gumoh?
Bayi sering gumoh karena sistem pencernaannya belum berkembang sempurna. Otot katup di bagian bawah kerongkongan masih lemah sehingga isi lambung dapat dengan mudah mengalir kembali ke atas. Kondisi ini semakin sering terjadi karena kapasitas lambung bayi masih terbatas, terutama jika bayi minum terlalu banyak dalam satu waktu atau menelan udara saat menyusu.
Selain itu, ada faktor lain seperti posisi bayi saat atau sesudah menyusu. Simak selengkapnya di bawah ini:
1. Lambung dan Katup Pencernaan Bayi Belum Sempurna
Seminggu setelah lahir, ukuran lambung bayi kira-kira baru sebesar buah jeruk peras. Karena itu, ia belum mampu menampung ASI terlalu banyak.
Sedangkan katup pencernaan bayi, yaitu otot di atas lambung (fungsinya menutup dan membuka lambung ketika ada makanan masuk), belum cukup kuat untuk menutup lambung sepenuhnya.
Akibatnya, setelah bayi minum ASI, lambung yang masih kecil serta katup yang masih lemah menyebabkan “kebocoran” susu hingga naik lagi ke atas (alias refluks) dalam bentuk gumoh.
2. Bayi Terlalu Kenyang
Kekenyangan juga bisa membuat bayi gumoh setelah minum ASI. Ini bisa terjadi ketika bayi minum susu lebih banyak dari yang bisa ditampung lambungnya.
Bayi sebetulnya sudah punya refleks untuk berhenti minum ketika sudah kenyang. Namun, kadang orang tua khawatir bayi kurang minum, dan ini adalah perasaan yang wajar.
Karena khawatir inilah kadang orang tua melanjutkan pemberian ASI bagi bayi yang sudah kenyang sehingga ia gumoh. Jadi, Mama sebaiknya perhatikan tanda-tanda dari si Kecil, ya.
3. Bayi Menelan Banyak Udara Saat Menyusu
Kadang bayi menyusu terlalu cepat sehingga ia menelan banyak udara. Ia juga mungkin tak menutup mulut sepenuhnya saat menyedot botol susu maupun menyusu langsung.
Ini semua membuatnya rentan menelan banyak udara yang masuk ke perut. Perut pun jadi terasa penuh sehingga ASI yang baru saja diminum malah naik lagi ke atas berupa gumoh.
4. Posisi Menyusu Kurang Tepat
Posisi atau perlekatan menyusu yang kurang tepat bisa membuat bayi menelan udara atau minum susu kebanyakan. Inilah yang memicu refleks gumoh pada bayi.
Maka, pastikan si Kecil selalu menyusu dengan posisi maupun perlekatan yang baik.
Baca Juga: 8 Cara Menyusui yang Benar dan Nyaman untuk Mama dan Bayi
5. Bayi Langsung Berbaring setelah Menyusu
Kalau bayi sering gumoh setelah menyusu, usahakan untuk tidak langsung menidurkan bayi karena ASI yang ia minum belum benar-benar dicerna sampai ke lambung.
Gendong bayi dengan posisi tegak selama setidaknya setengah jam setelah minum ASI dan perhatikan apakah ini mengurangi refleks gumoh pada si Kecil.
6. Bayi Terlalu Aktif Bergerak setelah Menyusu
Meski bayi sebaiknya tidak langsung berbaring setelah menyusu, Mama perlu hindari juga aktivitas berlebihan kalau si Kecil baru selesai menyusu.
Sekitar setengah jam habis minum ASI, jangan mengayun-ayunkan bayi dengan kencang, mengajak tummy time, atau membiarkan bayi naik ayunan atau duduk di kursi goyang bayi maupun bouncer.
7. Produksi ASI Terlalu Deras (Overactive Letdown)
ASI bisa keluar dengan sangat deras. Kondisi ini disebut overactive milk letdown. Saat mengalaminya, bayi mungkin kesulitan mengikuti aliran ASI yang terlalu cepat.
Maka, si Kecil bisa tersedak, batuk, atau terengah-engah saat menyusu. Ini lumrah terjadi, umumnya karena jadwal pumping atau menyusui Mama tak sesuai dengan jadwal makan bayi.
Baca Juga: Proses Keluarnya ASI Saat Menyusui: Cara Kerja Tubuh
8. Pakaian yang Terlalu Ketat
Bila bayi sering gumoh, perhatikan apakah ada baju, bedong, popok, gendongan, sabuk, atau apa pun yang terlalu menekan area perut bayi, terutama setelah ia menyusui.
Tekanan tersebut bisa membuat perut bayi sesak sehingga refleks gumoh muncul, terutama setelah perutnya diisi susu.
Kenapa Bayi Sering Gumoh Padahal Sudah Disendawakan?
Kalau si Kecil sudah sendawa tapi masih ada sedikit gumoh, Mama tak perlu khawatir karena ini masih normal. Sendawa tidak selalu bisa mencegah gumoh.
Sendawa mengeluarkan gas dari perut, sedangkan gumoh mengeluarkan susu. Jadi, bayi tetap bisa gumoh meski sudah sendawa karena isi perutnya terlalu penuh dengan susu.
Nah, bila si Kecil masih sering atau banyak gumohnya padahal sudah sendawa habis minum ASI, kemungkinan penyebabnya antara lain:
- Udara belum keluar seluruhnya
- Posisi lambung masih penuh
- Refluks normal karena sistem pencernaan masih berkembang
Hari-hari pertama bersama newborn bisa terasa menantang. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama dapat mengakses panduan perawatan bayi baru lahir, tips praktis harian, serta insight ahli agar lebih tenang dalam setiap keputusan. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Kenapa Bayi Sering Gumoh Setelah Minum ASI?
Gumoh setelah minum ASI itu wajar sebab bayi, terutama pada awal kehidupannya, masih menyesuaikan dengan pola makan baru yang beda dengan saat ia dalam kandungan Mama.
Perlu dipahami, ASI itu sendiri bukanlah penyebab utama bayi gumoh. ASI adalah makanan tepat dan paling baik bagi sistem pencernaan bayi yang masih berkembang.
Jadi, kalau bayi masih gumoh setelah minum ASI, penyebabnya antara lain:
- Minum terlalu cepat
- Posisi menyusu atau perlekatannya kurang tepat
- ASI terlalu banyak
- Refluks yang normal
Bayi Gumoh Lewat Hidung, Apakah Berbahaya?
Gumoh sebenarnya bisa keluar lewat mulut dan hidung bayi. Umumnya hal ini masih normal, lagi-lagi karena saluran cerna dan napas bayi yang masih berkembang.
Otot-otot dan katup yang mengatur jalur makan dan napas bayi belum kuat. Maka, ketika ASI naik lagi dari lambung, dapat merembes dan ikut keluar melalui hidung juga.
Akan tetapi, kalau ada tanda-tanda berikut, sebaiknya periksakan ke dokter:
- Batuk-batuk
- Tampak tersedak dan susah bernapas
- Cairan yang keluar dari hidung warnanya kuning, kehijauan, atau berdarah
- Demam
Bayi Gumoh tapi Masih Ingin Menyusu, Apakah Normal?
Kalau bayi gumoh, apakah perlu disusui lagi? Mungkin iya, terutama jika bayi masih terlihat lapar dan ingin menyusu lagi. Mama sebaiknya perhatikan tanda lapar dari bayi.
Tidak perlu memaksa bayi menyusu, tapi biasanya juga tidak perlu menunggu lama untuk memberi ASI lagi.
Jadi normal saja kalau bayi gumoh tapi masih mau menyusu lagi. Yang penting, Mama ikuti sinyal dari si Kecil apakah ia sudah kenyang. Sebab, keluar gumoh memang belum tentu artinya ia sudah kenyang.
Apa Bedanya Gumoh dan Muntah pada Bayi?
Gumoh berbeda dengan muntah. Bayi muntah tampak mengeluarkan isi perutnya dengan paksaan seperti mengejan atau mendorong keluar sesuatu dari mulutnya. Gumoh tidak melibatkan kontraksi otot perut yang kuat.
Simak perbedaan gumoh dan muntah pada bayi berikut ini:
|
Aspek |
Gumoh |
Muntah |
|
Pengertian |
Keluarnya sebagian susu setelah bayi menyusui, bisa lewat mulut dan hidung |
Keluarnya isi lambung bayi lewat mulut, bisa terjadi kapan saja, tidak harus setelah menyusui |
|
Cara keluarnya |
Susu mengalir pelan keluar tanpa tenaga atau tekanan |
Menyembur atau keluar dengan dorongan kuat dari perut |
|
Jumlah yang dikeluarkan |
Sedikit, kira-kira 1–2 sdm |
Banyak, bisa hampir seluruh isi lambung |
|
Penyebab |
Refleks normal bayi, terlalu kenyang, atau menelan udara |
Gangguan pencernaan, infeksi, atau GERD |
|
Tanda-tandanya |
|
|
|
Penanganan |
Tak perlu perawatan khusus, cukup dicegah dengan posisi dan porsi menyusu yang tepat |
Perlu dibawa ke dokter kalau sering terjadi atau disertai gejala lain |
Dalam beberapa kasus, bayi mungkin muntah menyembur dengan sangat kuat. Kondisi ini disebut muntah proyektil (projectile vomiting) dan butuh penanganan medis secepatnya.
Penyebabnya bisa jadi pyloric stenosis, yaitu saat otot di saluran antara lambung dan usus halus bayi menebal sehingga jalan makanan menyempit. Akibatnya, susu atau makanan sulit masuk ke usus dan akhirnya dimuntahkan kembali.
Karena itu, Mama harus jeli membedakan mana gumoh yang masih wajar dan perlu diwaspadai agar tidak salah penanganan.
Ciri Gumoh yang Normal
Gumoh yang normal tanda-tandanya yaitu:
- Gumoh mengalir keluar secara perlahan
- Bayi tidak menangis atau rewel
- Terjadi beberapa saat setelah minum susu
- Umumnya gumoh berwarna putih dan teksturnya bisa agak menggumpal, tergantung berapa lama sesudah si Kecil menyusui
- Tidak diikuti gejala dan keluhan lain seperti batuk-batuk atau sesak napas
Ciri Gumoh yang Harus Diwaspadai
Gumoh yang harus diwaspadai tanda-tandanya antara lain:
- Gumoh atau muntah keluar secara tiba-tiba dengan dorongan kuat
- Bayi menangis dan rewel
- Bisa terjadi kapan saja, bahkan ketika perutnya belum terisi
- Gumoh atau muntah berwarna kekuningan, kehijauan, atau ada darahnya
- Diikuti gejala lain seperti batuk, kesulitan bernapas, demam, diare, atau bayi sangat lemas
Baca Juga: Penyebab Bayi Muntah Setelah Minum ASI dan Pencegahannya
Cara Mengatasi Bayi Sering Gumoh
Untuk mencegah gumoh berlebih pada bayi, Mama bisa mencoba hal-hal di bawah ini.
1. Sendawakan Bayi dengan Benar
Pastikan bayi sudah sendawa sampai tuntas setelah minum susu. Bila perutnya masih kembung, bayi mungkin akan lebih rewel.
Topang kepala dan leher bayi, pastikan posisi perut dan punggungnya tegak lurus (tidak membungkuk), lalu usap atau tepuk punggungnya dengan lembut sampai bersendawa.
2. Posisikan Bayi Tegak Setelah Menyusu
Jangan langsung membaringkan bayi setelah menyusu karena susu yang baru saja masuk bisa mengalir keluar lagi dari lambung. Gendong dulu selama beberapa saat atau biarkan ia duduk tegak.
3. Berikan ASI Sedikit tapi Lebih Sering
Karena lambung bayi belum bisa menampung ASI terlalu banyak, berikan sedikit-sedikit saja tapi sering.
Mama juga harus cermat menilai apakah bayi sudah kenyang, karena si Kecil pasti memberikan sinyal-sinyalnya. Jangan dipaksa minum kalau si Kecil masih atau sudah kenyang.
4. Perbaiki Perlekatan Menyusu
Supaya bayi tidak minum terlalu banyak atau menelan udara saat menyusu, pastikan perlekatan bayi sudah cukup baik.
Jangan ragu untuk menyesuaikan posisinya di tengah-tengah menyusui, atau jeda sebentar saja untuk memperbaiki perlekatan si Kecil.
Baca Juga: Agar ASI Berkualitas dan Banyak, Cek 7 Cara Mudah Berikut Ini!
5. Hindari Menekan Perut Bayi
Hindari tekanan apa pun di area perut bayi, terutama setelah ia makan. Pakaikan baju yang longgar dan nyaman. Pastikan popoknya dipasang dengan pas, tidak terlalu kencang.
6. Jangan Langsung Mengajak Bayi Aktif Bermain
Biarkan bayi tenang dulu sambil mencerna susunya, jangan langsung diajak bermain atau tummy time.
Terlalu banyak gerakan habis menyusui bisa membuat perut bayi terasa penuh dan sesak.
Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Bayi Gumoh
Ketika bayi sedang gumoh dan susunya mengalir keluar, Mama tidak perlu melakukan banyak hal. Cukup siapkan kain untuk mengeringkan dan pastikan gumohnya bisa mengalir lancar, tidak terhalang sehingga ia bisa tersedak.
Sedangkan, yang sebaiknya Mama hindari ketika bayi gumoh antara lain:
- Langsung menidurkan bayi telentang atau tengkurap.
- Mengguncang-guncang bayi.
- Memaksa bayi minum lebih banyak.
- Menyangga kepala bayi dengan bantal tinggi.
- Mengganti ASI ke susu lain tanpa konsultasi ke dokter.
Apakah Gumoh Bisa Dicegah?
Gumoh itu wajar dan bukan sesuatu yang harus ditakutkan, Ma. Memang kondisi ini tidak selalu bisa dicegah, tapi Mama bisa mengurangi frekuensinya dan membantu bayi agar lebih nyaman.
Yang penting itu menjaga konsistensi jadwal, pola, dan posisi menyusui. Cocokkan waktu di mana Mama mengeluarkan ASI dengan jadwal makan bayi. Perhatikan tanda bayi masih lapar atau sudah kenyang.
Kunjungi Exclusive Hub Nutriclub untuk menikmati berbagai konten premium gratis seputar menyusui dan perkembangan si Kecil. Ada e-book, podcast, dan video edukasi, gratis!
Segala informasi tepercaya seputar nutrisi tepat, perkembangan kognitif, serta tips menjaga imunitas dan daya tahan tubuh anak langsung dari ahlinya, dirancang khusus untuk Mama.
Apakah Gumoh Berbahaya untuk Bayi?
Gumoh umumnya tidak bahaya. Inilah mengapa kondisi ini dikenal dengan istilah happy spitter karena memang bayi akan tetap tenang, ceria, dan tidak kesakitan sama sekali.
Gumoh baru akan jadi suatu masalah serius apabila diikuti gejala-gejala lain yang mengkhawatirkan, bayi menolak menyusui sampai dehidrasi, dan berat badannya turun terus.
Kapan Gumoh pada Bayi Harus Diperiksakan ke Dokter?
Pada kasus tertentu, meskipun jarang, bayi yang gumoh menandakan hal yang lebih serius. Tanda-tanda bahaya pada gumoh yang harus diperiksa dokter adalah:
- Muntah warna kekuningan, kehijauan, atau ada darahnya
- Berat badan tidak naik atau malah turun terus
- Dehidrasi (lemas, bibir kering)
- Sesak napas
- Gumoh menyembur (muntah proyektil)
- Bayi tampak kesakitan
- Demam
Demikian penjelasan lengkap seputar gumoh. Perawatan bayi newborn membutuhkan informasi yang akurat dan sesuai tahapan usianya. Daftar sebagai member Nutriclub sekarang untuk mendapatkan akses panduan perawatan newborn yang telah expert-verified, serta dukungan terpercaya agar Mama lebih tenang dan percaya diri sejak hari pertama bersama si Kecil. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
