Mengatasi Asma Pada Balita - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Mengatasi Asma Pada Balita

Tentu asma sudah tidak asing lagi di telinga Ibu. Asma merupakan salah satu kondisi kronik yang sering ditemui pada balita. Ibu perlu mengerti dengan jelas mengenai asma, seperti apa gejalanya dan cara mengatasi asma pada balita dengan tindakan tepat.

Asma juga dikenal sebagai "bengek", asma identik dengan gangguan pada saluran pernapasan. Sesak napas merupakan salah satu gejala asma. Asma merupakan gangguan saluran pernapasan kronik yang berhubungan dengan penyempitan saluran pernapasan bagian bawah. Gangguan ini disebabkan adanya respons berlebihan terhadap suatu pencetus. 

Penyempitan saluran napas bagian bawah akan menyebabkan kesulitan bagi seorang anak untuk mengeluarkan udara dari dalam paru sehingga ketika bernafas si Kecil akan mengeluarkan bunyi tertentu, inilah yang akhirnya memunculkan gejala-gejala asma.

 

Gelaja Asma pada Si Kecil

Gejala asma selalu sama, ada 4 karakteristik dari asma, antara lain:

- Variabilitas (selalu muncul menjelang malam atau menghebat saat malam)

- Reversibilitas (membaik bila diberikan obat B2 agonis)

- Periodisitas (berulang),

- Gejala muncul dikarenakan adanya pencetus. 

Did you know?

”Batuk dalam waktu lama dan berulang pada si Kecil sering dikaitkan dengan kemungkinan asma bronkial. Ketahui selengkapnya di sini.“

LIHAT LENGKAP

Faktor Penyebab Asma

Saat serangan asma sudah berat si Kecil akan mengalami kesulitan tidak hanya dalam mengeluarkan nafas tapi juga saat menarik nafas. 

 

Ketika si Kecil terindikasi memiliki asma, penting sekali dilakukan penelusuran riwayat penyakit keluarga dan faktor-faktor yang mencetuskan asma. Asma merupakan salah satu manifestasi alergi yang diturunkan secara genetik. Orangtua dengan riwayat alergi apapun berisiko mempunyai anak dengan penyakit asma. 

 

Riwayat alergi pada orangtua tidak harus berupa asma, tetapi dapat berupa penyakit alergi lain seperti eksim, pilek karena alergi, atau alergi makanan. Asma akan muncul ketika si Kecil terpapar dengan pencetus asma. 

Faktor pencerus asma antara lain:
- Infeksi
- Aktivitas fisik
- Emosi (misal: menangis atau tertawa)
- Debu
- Makanan/minuman, 
- Hewan berbulu
- Perubahan suhu lingkungan atau cuaca
- Aroma parfum yang kuat atau aerosol
- Asap rokok

 

Pencetus asma setiap anak berbeda-beda, sehingga penting sekali untuk mengetahui faktor pencetus spesifik setiap anak. Anak dengan asma harus ditangani secara komprehensif agar tumbuh kembangnya berlangsung optimal. 

 

Target dari penanganan asma yang baik adalah agar si Kecil dapat menjalani aktivitas secara normal termasuk bermain dan olahraga tanpa serangan asma, mengurangi angka tidak masuk sekolah karena asma, tidak mengalami gejala asma baik pada siang maupun malam hari, fungsi paru yang normal, serta kebutuhan obat seminimal mungkin. Penanganan asma yang baik membutuhkan kolaborasi yang sempurna antara dokter, si Kecil, dan kecermatan Ibu.

 

Mengatasi Asma Si Kecil
Anak dengan asma sebaiknya kontrol rutin ke dokter, agar serangan asmanya dapat dideteksi. Obat-obatan asma diberikan untuk mengontrol gejala asma dan mencegah timbulnya serangan asma berulang.

 

Terdapat dua kelompok obat asma, yaitu obat pereda (reliever) yang digunakan untuk meredakan serangan asma, dan obat pengendali (controller) yang digunakan untuk mengendalikan agar serangan asma tidak mudah timbul. Salah satu contoh obat pereda yang umum diberikan adalah salbutamol. 

 

Obat ini paling baik diberikan dalam bentuk hirupan (inhaler), namun obat ini tersedia juga dalam bentuk tablet dan sirup. Salah satu contoh obat pengendali yang sering digunakan adalah budesonid, yang biasa diberikan dalam bentuk hirupan (inhaler).

 

Penting untuk dimengerti bahwa penanganan asma utama adalah  penghindaran (avoidance) terhadap pencetus asma, kemudian apabila belum efektif dibantu dengan obat. Penghindaran pencetus (avoidance) akan berdampak pada berkurangnya serangan asma.  

 

Walaupun telah diberikan obat-obatan yang tepat, serangan asma tetap berisiko muncul jika tidak dibarengi dengan penghindaran faktor pencetus. Dengan demikian peran serta aktif anak dan keluarganya sangat dibutuhkan untuk menjamin keberhasilan pengobatan asma.

 

Kontrol secara teratur sesuai petunjuk dokter akan mengoptimalkan pengobatan asma. Evaluasi pemantauan anak dengan asma meliputi frekuensi munculnya gejala asma, frekuensi penggunaan obat pereda asma, derajat serangan asma, dan partisipasi si Kecil di sekolah, olahraga dan aktivitas lainnya. Keterangan-keterangan Ibu akan dijadikan data bagi dokter untuk menentukan pengobatan lanjutan untuk si Kecil.

 

Penulis: dr. Sem Samuel
Review Expert: dr. Marissa Pudjiadi, Sp.A
 
Sumber
- Global Initiative for Asthma (GINA). Pocket Guide for Asthma Management and Prevention: for children 5 years and younger [internet]. GINA; 2015. [cited 2015 Jul 23]. 
- UKK Pulmonologi PP IDAI. Pedoman Nasional Asma Anak. Jakarta: UKK Pulmonologi PP IDAI; 2004
- Liu AH, Spahn JD, Leung DYM. Childhood Asthma. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF (eds.). Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2010. pp. 760-74 
- Papadopoulos NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R. International Consensus on Pediatric Asthma (ICON). Allergy 2013:67:976-97
- Bacharier LB, Boner A, Carlsen KH, Eigenmann PA, Frischer T, Gotz M, dkk. Diagnosis and treatment of asthma in childhood: a PRACTALL consensus report. Allergy 2008;63:5-34
- Serangan Asma Akut. In: Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED (eds.). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2010. pp. 269-76