taboola Expert Advisor - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kembali

Pertanyaan Mama dan Papa

Pola Asuh Resilient

Bagaimana tips membentuk karakter resilient di usia 3,5 tahun

Di usia 3 tahun Mama bisa menstimulasi si Kecil agar dapat membangun karakter resiliensi dengan cara membuat si Kecil menyusun rencana atau memecahkan masalahnya sendiri.

Setelah kemampuan bahasa dan motorik si Kecil sudah mulai lancar dan stabil, di usia ini sudah bisa diberikan tantangan yang lebih memancing kemampuan kreativitasnya. Sehingga untuk kegiatan DIY dan bermain peran sudah sangat lebih elaboratif dapat dilakukan di tahap ini. Karakter resiliensi didapatkan dari keadaptifan anak menggunakan resources di sekitanya dan merangsang kreativitas (banyak akal) untuk menyelesaikan masalah.

Bagaimana cara mengembangkan rasa percaya diri pada anak?

Rasa percaya diri si Kecil dapat terbentuk apabila Mama memberikan kepercayaan kepadanya untuk melakukan sesuatu dalam pantauan Mama. Rasa percaya diri dapat dilatih, berikut beberapa hal yang dapat Mama lakukan untuk mengembangkan rasa percaya diri si Kecil :

1. Bermain peran dengan menciptakan situasi yang Mama tahu dapat dihadapi oleh si Kecil, lalu secara perlahan buatlah menjadi lebih menantang (Pastikan si Kecil sudah berhasil di tahap sebelumnya)

2. Lindungi si Kecil dari kegagalan yang berulang kali, berikan semangat agar Ia mau mencoba kembali

3. Hindari menggunakan pernyataan yang negatif seperti ""kamu memang payah"", ""kamu tidak bisa dipercaya"" atau kamu tidak bisa melakukannya""

4. Tunjukkan bahwa Mama percaya pada si Kecil

5. Sampaikan apresiasi kepada si Kecil, katakan di depan teman atau keluarga bahwa Mama senang dengan prestasinya.

6. Tangani rasa cemburu yang mungkin dimiliki si Kecil karena emosi ini berhubungan erat dengan kurangnya rasa percaya diri

7. Berikan perhatian dan kasih sayang yang konsisten, serta disiplin yang jelas akan melindungi rasa percaya diri si Kecil dan mengarah pada perkembangan perasaan aman

Kalo anak suka menangis karena dia kesal tidak dapat menyelesaikan suatu hal, apakah ini tanda anak kita gak resilient?

Di usia batita banyak perkembangan yang terjadi. Wajar jika si Kecil kesal karena tidak bisa menyelesaikan sesuatu.

Cara mengatasinya kurang lebih sama seperti menenangkan orang lain yang sedang kecewa, yaitu dengan cara memberikan pelukan kepada si Kecil atau memberikan minum agar Ia bisa lebih tenang.

Biarkan si Kecil menyelesaikan masalah yang Ia hadapi dan jangan terlalu sering membantu menyelesaikan masalah agar ketika dewasa nanti si Kecil siap menghadapi masa depan.

Kenapa sosok Ayah sering membuat si Kecil takut dan tidak terbuka?

Beberapa faktor:

a. Hubungan ayah kurang dekat dengan anak

b. Kebiasaan ayah saat bekerja terbawa ke rumah namun tidak cocok diterapkan untuk anak ( sering menegur, bersuara keras )

c. Anggota keluarga lain menakut-nakuti dengan mengatas namakan Ayah

d. Ayah pernah memberikan hukuman fisik

Bagaimana menegur seseorang yang sudah banyak pengalaman mengurus anak namun kurang modern dalam pola pengasuhan?

Beberapa Cara :

a. Ketika menegur tidak terkesan menggurui

b. Menyampaikan ketidak setujuan pola asuh yang diterapkan tidak dengan nada yang keras

Apa yang dimaksud dengan karakter resilience?

Resiliensi merupakan kemampuan untuk menghadapi tantangan serta memiliki mental untuk bangkit jika menemui kegagalan. Sifat Resilient pada si Kecil harus dibentuk sejak dini karena bukan pembawaan dari lahir. Karena itu, si Kecil perlu mencoba berbagai hal baru yang bisa membentuk rasa percaya diri mereka dan bertanggung jawab pada setiap pilihannya.

Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi resilience parents?

Mama bisa terus mendukungnya. Namun, jangan lupa untuk tetap mendorongnya melakukan hal-hal yang baru, karena dari situlah sifat Resilient akan tertanam, melalui berbagai tantangan baru yang belum pernah ia hadapi. Apabila si Kecil mengalami kesulitan, janganlah menyerah, biarkan dia maju dan mengatasinya, namun tetaplah menjadi sosok yang selalu membimbingnya dari belakang.

Bagaimana caranya untuk menjadikan anak resilience kids?

Ajak ia bermain diluar rumah dan bereksplorasi dengan lingkungan sekitar, ajari si Kecil bahwa tidak apa-apa jika ia membuat kesalahan dan ajari ia untuk berani dan tangguh.

Apa yang sering menjadi penyebab anak mengalami trantum?

Mama ada beberapa penyebab yang dapat membuat anak tantrum:

1. Temperamen. Reaksi anak terhadap peristiwa yang membuat frustrasi. Anak menjadi mudah marah mungkin lebih cenderung mengamuk.
2. Stres, lapar, kelelahan, dan stimulasi berlebihan. Hal ini dapat mempersulit anak untuk mengekspresikan dan mengelola perasaan dan perilaku.
3. Situasi yang tidak dapat diatasi oleh anak-anak. Misalnya, jika anak yang lebih besar mengambil mainannya.
4. Emosi yang kuat. Misalnya kekhawatiran, ketakutan, rasa malu dan amarah dapat menjadi beban bagi anak-anak.

Hal apa saja yang harus di hindari pada saat si Kecil yang tantrum?

Mama perlu menghindari 3 hal berikut untuk mengatasi si Kecil yang tantrum:

1. Mengabaikan perilaku tantrum si Kecil karena hanya akan membuat perilaku tantrum terus berulang. Oleh karena itu orang tua perlu menggali dan mencari tahu apa penyebab tantrum si Kecil.
2. Meninggalkan si Kecil begitu saja, justru akan membuat ia semakin frustasi dan tidak dimengerti.
3. Langsung memenuhi keinginan si Kecil, dapat membentuk kebiasaan buruk sehingga si Kecil akan menjadikan tantrum sebagai ""senjata"" untuk memenuhi keinginannya.

Pastikan saat menghadapi si Kecil yang sedang tantrum Mama dan anggota keluarga lain tetap tenang tanpa terbawa emosi.

Apakah tantrum bisa mempengaruhi jiwa si Kecil sampai dewasa dan bisa menyebabkan trauma? Bagaimana mengatasinya?

Mama untuk siKecil yang tantrum dan bisa diredam atau dikelola dengan baik serta tidak menggunakan kekerasan seperti memukul, membentak, atau tidak memperdulikannya sama sekali biasanya tidak mempengaruhi jiwa si kecil & tidak akan menimbulkan trauma pada si Kecil.

Mama dapat memberikan perhatian dan bersikap dengan tenang, memahami kebutuhan si Kecil, maka komunikasi Mama dan si Kecil akan terbentuk dengan baik. Seiring bertambahnya usia sikap tantrum akan berkurang, karena si Kecil sudah bisa mengungkapkan emosinya dengan berbicara langsung kepada Mama apa yang ia rasakan.

Bagaimana cara mengajarkan anak usia 1 tahun untuk menyikat gigi dengan baik?

Berikut beberapa tips berlatih menyikat gigi si Kecil di rumah yang dapat Mama terapkan:

1. Siapkan sikat gigi dan pasta gigi khusus untuk anak yang akan digunakan oleh si Kecil. Biasanya pasta gigi ini aman jika tertelan.
2. Bubuhkan pasta gigi hanya sebesar kacang polong saja atau selapis tipis.
3. Berikan contoh gerakan menggosok gigi dan ajak ia meniru gerakan Mama.
4. Untuk permulaan, menggerakkan sikat gigi ke kiri dan ke kanan secara perlahan sudah cukup.
5. Ajak si Kecil untuk berkumur dengan air matang agar terhindar dari kuman jika tertelan.

Jangan lupa berikan pujian dan pelukan kepada si Kecil apabila ia mau sikat gigi dan mengikuti Mama dengan baik. Mama juga harus semangat dan telaten membiasakan si Kecil ya Ma.

Anak saya umur 15 bulan, sudah mulai bisa jalan namun sempat terjatuh dan sepertinya trauma. Bagaimana selanjutnya untuk membuat dia semangat kembali berjalan?

Tugas kita sebagai orangtua untuk mengembalikan kepercayaan diri si Kecil lagi dan tetap memberikan semangat untuk memotifasi siKecil untuk terus berlatih. Stimulasi & semangat yang Mama berikan kepada si Kecil sangat membantu ia dalam proses belajar berjalan.

Untuk memotivasi dan memberikan semangat lagi, mama bisa mengajak si Kecil ke playground atau bermain dengan anak-anak lain yang seumuran, bergembira dan berlarian. Itu dapat memacunya untuk berjalan. Untuk menstimulasi kemampuan berjalan si Kecil, Mama dapat berikan mainan yang dapat didorong seperti kursi plastik dan berikan mainan favoritnya atau mainan yang berwarna menarik di depannya agar ia semangat untuk bergerak, cara ini dapat membantu menguatkan otot-otot kaki dan tungkai si Kecil Ma.

Selain memberikan stimulasi, Mama juga perlu selalu memperhastikan asupan si kecil dengan gizi seimbang dan tinggi akan kalsium seperti brokoli atau sup ceker yang dapat membantu untuk pertumbuhan dan menguatkan tulang serta pertumbuhan gigi si Kecil.

Anak saya delay development atau perkembangannya lambat. Saat pandemi tempat terapi ditutup untuk sementara. Apa ada saran untuk saya agar anak saya bisa cepat jalan dan bicara?

Mama dapat mengajak si Kecil berbicara atau mengucapkan kata untuk meningkatkan perkembangan bahasa dan kosa katanya. Seringlah mengajak si Kecil berbicara dan mengulang kata-kata sederhana serta pastikan dia melihat gerakan mulut Mama saat bicara. Mengulang kata seperti ‘ba ba ba’ atau ‘ma ma ma’ akan mempermudah mereka untuk belajar bicara. Sahuti mereka saat babbling atau mengoceh dengan penyebutan kata yang tepat ya Ma.

Agar si Kecil yang sedang belajar berjalan bisa lancar berjalan secara bertahap,  Mama bisa terus menstimulasinya dengan cara memberikan kursi kecil untuk didorong oleh si Kecil, meletakkan mainan favoritnya dalam jarak tertentu di atas kursi atau ujung sofa sehingga si Kecil termotivasi untuk mengambil sambil berdiri.

Di masa pandemi seperti saat ini memang ada rasa khawatir untuk pergi keluar rumah ya Ma, namun Mama bisa coba menghubungi Klinik Tumbuh Kembang yang biasa Mama datangi untuk meminta panduan jenis latihan apa yang bisa dilakukan bersama Mama di rumah.

Tetap semangat mendampingi si Kecil di setiap fase tumbuh kembang si Kecil ya Ma :)

Anak saya masih balita, kalau minta sesuatu inginnya harus dituruti, suka ngambek dan menangis keras sekali apabila tidak diberikan keinginannya. Bagaimana solusi menghadapinya?

Mama, perilaku marah pada si Kecil memang umum terjadi di usia balita karena si Kecil belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi dan kesal saat tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, di usianya saat ini Mama sudah mulai dapat membiasakan si Kecil untuk mengontrol rasa emosinya dan sebaiknya menghindari seketika menuruti atau malah langsung menolak keinginan si Kecil. 

Salah satu cara mengajak si Kecil mengontrol emosinya adalah dengan memberikan waktu pada si kecil ketika mengalami emosi besar dengan membawanya ke tempat aman dan sepi untuk meluapkan emosi sambil ditemani Mama. Perlahan-lahan ketika konsisten dilakukan anak akan punya dan menyesuaikan sendiri strategi untuk mengelola perasaannya, namun perlu diingat tahapan usia ini sangat wajar kalau anak cukup kesulitan mengelola emosi besarnya.

Tetap semangat dampingi si Kecil menjadi anak Resilient ya Ma :)

Anak saya usia 2 tahun, mempunyai cara sendiri untuk menyantap makanannya. Kalau makan suka dipisah makan nasinya terlebih dahulu kemudian baru lauknya atau sebaliknya. Kalau dicampur dia tidak suka. Bagaimana cara menghadapi anak yang seperti ini?

Mama, terima kasih atas sharingnya. Di usia 1-5 tahun umumnya si Kecil lebih suka makanan yang bisa dipegang sendiri atau mudah diambil menggunakan sendok atau garpu. Mama bisa menyajikan nasi dengan lauk yang kering dan bisa dipegang sendiri atau lauknya ditaruh di mangkok yang terpisah. Yang terpenting seluruh makanan dihabiskan oleh si Kecil. Mama juga bisa memberikan jenis makanan lengkap dalam 1 porsi tidak selalu nasi sebagai karbohidratnya, seperti macaroni panggang, sandwich dengan isi sayuran dan daging, sup jagung dengan tambahan potongan daging ayam dan sayuran di dalamnya, dll.

comment-icon comment-icon