Komplikasi bayi prematur terjadi karena beberapa organ tubuh belum berkembang secara optimal saat lahir. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti gangguan pernapasan, penyakit kuning, kesulitan menyusu, berat badan yang sulit naik, infeksi, gangguan suhu tubuh, hingga hambatan pertumbuhan dan perkembangan.
Apa yang Dimaksud dengan Bayi Prematur?
Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Normalnya, waktu ideal persalinan ada di rentang 38-42 minggu. Semakin dini bayi lahir, semakin tinggi risiko komplikasi yang dapat terjadi.
Hal ini karena organ-organ tubuh bayi, seperti paru-paru, otak, hati, dan sistem pencernaan, belum berkembang sempurna. Padahal, proses pematangan organ masih berlangsung pada minggu-minggu terakhir kehamilan.
Akibatnya, bayi prematur lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, kesulitan menyusu, berat badan sulit naik, infeksi, serta gangguan tumbuh kembang.
Kenapa Bayi Prematur Lebih Rentan Mengalami Komplikasi?
Bayi prematur lebih rentan mengalami komplikasi karena beberapa organ tubuhnya belum berkembang sempurna saat lahir. Berikut beberapa penyebab bayi prematur lebih rentan mengalami berbagai gangguan kesehatan dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan:
1. Paru-Paru Belum Berkembang Sempurna
Paru-paru merupakan salah satu organ yang berkembang hingga akhir masa kehamilan. Karena lahir lebih awal, sebagian bayi prematur belum memiliki fungsi paru-paru yang optimal.
Akibatnya, bayi dapat mengalami gangguan pernapasan dan membutuhkan bantuan oksigen atau perawatan khusus setelah lahir.
2. Sistem Imun Masih Lemah
Sistem kekebalan tubuh bayi prematur belum berkembang sepenuhnya sehingga kemampuannya melawan infeksi masih terbatas. Kondisi ini membuat bayi lebih mudah terkena infeksi dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.
Itulah mengapa bayi prematur biasanya memerlukan pemantauan lebih ketat untuk membantu mencegah paparan kuman penyebab penyakit.
Baca Juga: Perkembangan Bayi Prematur: Tahap dan Cara Optimalkan
3. Berat Badan Lahir Rendah
Bayi prematur sering kali memiliki berat badan lahir yang lebih rendah karena waktu penambahan berat badan dan pertumbuhan tubuhnya di dalam kandungan belum maksimal.
Padahal, peningkatan berat badan umumnya berlangsung pesat di trimester akhir kehamilan. Berat badan lahir rendah dapat membuat bayi lebih rentan mengalami gangguan kesehatan dan butuh upaya khusus untuk mengejar kebutuhan nutrisinya.
4. Sistem Saraf dan Pencernaan Belum Matang
Beberapa organ tubuh bayi prematur, seperti sistem saraf, otak, dan pencernaan, tidak memiliki cukup waktu untuk berkembang sepenuhnya. Ini berarti organ dan sistem tubuh tertentu mungkin belum siap untuk mendukung kehidupan bayi di luar rahim.
Akibatnya, bayi mungkin mengalami kesulitan mengoordinasikan refleks tertentu seperti mengisap, menelan, dan bernapas saat menyusu.
Selain itu, sistem pencernaannya juga belum bekerja seoptimal bayi yang lahir cukup bulan sehingga lebih sensitif terhadap gangguan pencernaan.
5. Kesulitan Menjaga Suhu Tubuh
Bayi prematur memiliki cadangan lemak tubuh yang lebih sedikit dibandingkan bayi cukup bulan. Padahal, lemak berperan penting dalam membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Ini membuat bayi prematur lebih mudah kehilangan panas tubuh dan cenderung merasa kedinginan. Itu sebabnya di awal kelahiran, bayi prematur biasanya perlu bantuan inkubator atau metode kanguru untuk menjaga agar suhu tubuhnya tetap hangat.
Komplikasi Bayi Prematur yang Paling Sering Terjadi
Setiap bayi prematur dapat mengalami kondisi kesehatan yang berbeda-beda. Berikut komplikasi yang umumnya terjadi bila bayi lahir prematur:
1. Gangguan Pernapasan (Respiratory Distress Syndrome/RDS)
Komplikasi bayi prematur yang sangat mungkin terjadi adalah gangguan pernapasan. Ini karena paru-paru bayi belum matang dan belum menghasilkan cukup surfaktan, yaitu zat yang membantu paru-paru mengembang dengan baik saat bernapas.
Dampaknya, kadar oksigen bayi rendah dapat mengalami kesulitan bernapas setelah lahir. Maka itu, waspadai bila bayi prematur yang baru lahir mengalami napas cepat dan pendek, kesulitan bernapas, serta kulit, bibir, jari tangan, dan jari kaki berwarna biru.
Jika gejalanya ringan, mereka mungkin hanya membutuhkan oksigen tambahan.
2. Penyakit Kuning (Jaundice)
Penyakit kuning juga rentan jadi komplikasi bayi prematur. Kondisi ini bisa terjadi karena perkembangan organ hati bayi belum optimal, sehingga belum mampu memproses bilirubin
Alhasil, penumpukan bilirubin dalam darah menyebabkan kulit dan bagian putih matanya tampak kekuningan.
3. Infeksi dan Sepsis
Sistem kekebalan tubuh bayi prematur umumnya belum berkembang sempurna saat lahir. Risikonya, bayi prematur lebih rentan terkena infeksi dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.
Pada kondisi tertentu, infeksi pada bayi prematur juga dapat berkembang lebih cepat dan menyebar ke aliran darah. Ini disebut sepsis, yaitu infeksi serius yang dapat mengancam nyawa dan memerlukan penanganan medis segera.
Tanda infeksi pada bayi prematur bisa berupa demam, bayi tampak lemas, sulit menyusu, napas tidak teratur, kulit berubah pucat, serta apnea (henti napas).
4. Hipotermia
Bayi prematur memiliki cadangan lemak tubuh yang lebih sedikit sehingga lebih sulit mempertahankan suhu tubuh tetap hangat. Akibatnya, bayi prematur berisiko mengalami hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu tubuh terlalu rendah.
Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gangguan pernapasan, kadar gula darah rendah, dan membuat bayi menghabiskan lebih banyak energi hanya untuk tetap hangat.
Itu sebabnya, agar suhu tubuhnya bisa tetap stabil dan mencegah komplikasi bayi prematur, si Kecil biasanya perlu berada di dalam inkubator.
Baca Juga: Menguak Mitos dan Fakta Seputar Perawatan Bayi Prematur
5. Masalah Menyusu dan Berat Badan Sulit Naik
Refleks bayi seperti mengisap, menelan, dan bernapas pada bayi prematur biasanya belum terlalu baik. Kondisi ini dapat membuat proses menyusu menjadi lebih sulit.
Alhasil, asupan nutrisi bisa kurang optimal yang berpengaruh pada kenaikan berat badan menjadi lebih lambat dibandingkan bayi cukup bulan.
6. Anemia pada Bayi Prematur
Anemia terjadi ketika jumlah sel darah merah dalam tubuh bayi lebih rendah dari yang dibutuhkan. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada bayi prematur karena produksi sel darah merahnya belum optimal.
Semua bayi umumnya mengalami penurunan jumlah sel darah merah pada beberapa bulan pertama kehidupan. Namun, pada bayi prematur, penurunan ini bisa terjadi lebih besar sehingga risiko anemia menjadi lebih tinggi.
Bayi dengan anemia dapat terlihat lebih pucat, mudah lelah, atau mengalami kenaikan berat badan yang kurang baik.
7. Gangguan Mata (Retinopathy of Prematurity/ROP)
Bayi prematur berisiko mengalami retinopathy of prematurity (ROP), yaitu gangguan pada pembuluh darah retina, bagian mata yang berfungsi menangkap cahaya dan membantu proses penglihatan.
Pada kondisi ini, pembuluh darah di retina dapat tumbuh secara tidak normal dan menimbulkan jaringan parut. Jika semakin parah, retina bisa tertarik atau terlepas dari posisi normalnya (ablasio retina).
Tanpa penanganan yang tepat, ROP dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Bila si Kecil lahir prematur, pastikan ia menjalani pemeriksaan mata sesuai anjuran dokter.
8. Gangguan Pendengaran
Bayi prematur memiliki risiko gangguan pendengaran yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. Risiko ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk infeksi dan komplikasi selama perawatan.
Karena itu, pemeriksaan pendengaran sebelum bayi pulang dari rumah sakit penting untuk membantu mendeteksi gangguan dan mendukung perkembangan bahasa anak.
9. Perdarahan Otak (IVH)
IVH atau intraventricular hemorrhage adalah perdarahan yang terjadi pada area otak bayi prematur, terutama yang lahir sangat dini. Kondisi ini terjadi karena pembuluh darah di otak bayi masih sangat tipis dan belum berkembang sempurna.
Tingkat keparahan IVH dapat berbeda-beda. Kasus perdarahan otak yang sifatnya ringan dapat membaik tanpa menimbulkan masalah serius.
Namun, pada kasus yang lebih berat, perdarahan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang di kemudian hari.
10. Necrotizing Enterocolitis (NEC)
Komplikasi bayi prematur lainnya yang sering tidak diketahui tapi cukup berisiko adalah necrotizing enterocolitis (NEC). NEC merupakan gangguan serius pada usus yang lebih sering terjadi pada bayi prematur.
Kondisi ini menyebabkan peradangan dan kerusakan pada jaringan dinding usus. NEC biasanya muncul setelah bayi mulai menerima asupan makanan. Kondisi ini tergolong serius dan memerlukan penanganan medis segera.
Gejalanya dapat berupa perut kembung, muntah, sulit menyusu, atau BAB berdarah. NEC memerlukan penanganan medis segera karena dapat berkembang menjadi kondisi yang serius.
11. Keterlambatan Tumbuh Kembang
Sebagian bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami keterlambatan tumbuh kembang dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. Dampaknya dapat berbeda pada setiap anak.
Keterlambatan ini dapat terlihat pada perkembangan motorik, kemampuan bicara dan bahasa, serta proses belajar.
Apakah Semua Bayi Prematur Akan Mengalami Komplikasi?
Tidak. Sebagaimana bayi cukup bulan, setiap bayi prematur lahir dengan kondisi yang berbeda-beda. Jadi, tidak semua bayi yang lahir prematur akan mengalami komplikasi kesehatan.
Ada bayi prematur yang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, terutama jika mendapatkan perawatan yang tepat sejak lahir. Risiko komplikasi biasanya dipengaruhi oleh usia kehamilan saat lahir dan berat badan lahir.
Semakin dini bayi lahir dan semakin rendah berat badannya, umumnya risiko komplikasi akan semakin tinggi. Faktor lain seperti kondisi kesehatan bayi, perawatan di NICU, kecukupan nutrisi, dan adanya infeksi juga dapat memengaruhi risiko komplikasi.
Baca Juga: Kelebihan Bayi Lahir Caesar yang Jarang Dibahas
Tanda Bahaya pada Bayi Prematur yang Tidak Boleh Diabaikan
Bayi prematur perlu dipantau lebih ketat karena lebih rentan mengalami masalah kesehatan. Jika si Kecil menunjukkan salah satu tanda berikut, segera konsultasikan ke dokter:
- Kesulitan bernapas, misalnya dada tertarik terlalu ke dalam saat bernapas atau terdapat jeda antar napas yang tidak biasa.
- Kulit, bibir, atau ujung jari tampak kebiruan, yang dapat menandakan tubuh kekurangan oksigen.
- Tidak mau menyusu atau minum. Jika mau, jumlahnya jauh lebih sedikit.
- Demam atau suhu tubuh terlalu rendah (hipotermia).
- Tampak sangat lemas, kurang aktif, atau sulit dibangunkan.
- Mengalami kejang.
- Muntah berwarna hijau tanda adanya gangguan pada saluran pencernaan.
- Berat badan turun terus atau tidak bertambah sesuai yang diharapkan.
Cara Mencegah Komplikasi Bayi Prematur Memburuk
Risiko komplikasi pada bayi prematur tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya. Perawatan yang tepat sejak dini dapat membantu mengurangi risiko komplikasi bayi prematur. Berikut beberapa cara yang dapat Mama lakukan di rumah:
1. Berikan ASI Eksklusif
ASI menjadi salah satu asupan terbaik untuk bayi prematur karena mengandung nutrisi dan antibodi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan melawan infeksi.
Jika bayi belum dapat menyusu langsung, ASI perah tetap dapat diberikan sesuai anjuran dokter atau bidan yang menangani Mama.
2. Rutin Kontrol Tumbuh Kembang
Pemeriksaan rutin membantu dokter memantau pertumbuhan, berat badan, dan perkembangan bayi dari waktu ke waktu. Harapannya, cara ini dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih dini.
Jangan lewatkan jadwal kontrol yang telah disarankan, terutama pada tahun-tahun awal kehidupan bayi.
3. Lengkapi Imunisasi
Imunisasi membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi yang berisiko menimbulkan komplikasi serius. Hal ini sangat penting karena sistem kekebalan bayi prematur masih lebih rentan.
Pastikan bayi mendapat imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh dokter atau tenaga kesehatan.
4. Jaga Kebersihan Tangan dan Lingkungan
Kebersihan yang baik dapat membantu mengurangi risiko infeksi pada bayi prematur. Biasakan mencuci tangan sebelum menggendong, menyusui, atau merawat bayi.
Selain itu, jaga kebersihan perlengkapan bayi dan lingkungan di sekitar tempat tidur si Kecil.
Baca Juga: Cara Menghitung Umur Kronologis dan Koreksi Bayi Prematur
5. Batasi Kontak dengan Orang Sakit
Bayi baru lahir belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sepenuhnya berkembang, sehingga sangat rentan terhadap infeksi. Karena itu, siapa pun yang berada di sekitar bayi harus dalam kondisi sehat.
Sebisa mungkin hindari kontak bayi dengan orang yang sedang batuk, pilek, demam, atau mengalami penyakit menular lainnya guna mengurangi risiko infeksi.
Jika ada anggota keluarga yang sedang sakit, pastikan mereka menjaga jarak atau menggunakan masker saat berada di dekat bayi.
6. Lakukan Kangaroo Care
Kangaroo care atau metode kanguru dilakukan dengan meletakkan bayi di dada Mama atau Papa sehingga terjadi kontak kulit langsung (skin-to-skin). Cara ini membantu menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat.
Selain itu, kangaroo care juga dapat mendukung proses menyusui dan memperkuat ikatan antara orang tua dan bayi.
7. Pantau Berat Badan Bayi
Pemantauan berat badan membantu memastikan kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi dengan baik. Kenaikan berat badan yang sesuai merupakan salah satu tanda pertumbuhan yang baik.
Jika berat badan sulit naik atau justru menurun, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
8. Pastikan Jadwal Tidur Aman
Bayi prematur membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya. Pastikan bayi tidur di tempat yang aman dan nyaman.
Tidurkan bayi dalam posisi telentang dan hindari meletakkan bantal, selimut tebal, atau benda lain yang dapat mengganggu pernapasannya.
9. Perhatikan Tanda Infeksi Sejak Dini
Kenali tanda-tanda infeksi seperti demam, suhu tubuh rendah, sulit menyusu, napas tidak teratur, kulit lebih pucat, atau bayi tampak lebih lemas dari biasanya. Penanganan dini dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih serius.
Jika Mama menemukan gejala yang mengkhawatirkan, segera periksakan si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Kesehatan si Kecil adalah prioritas utama. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama bisa mendapatkan panduan kesehatan terpercaya, artikel expert-verified, serta tips praktis untuk menghadapi berbagai kondisi anak dengan lebih tenang. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Apakah Bayi Prematur Bisa Tumbuh Normal?
Ya, banyak bayi prematur yang bisa tumbuh sehat dan berkembang dengan baik. Peluang ini umumnya lebih besar jika bayi lahir lebih lama atau mendapatkan perawatan, nutrisi, dan pemantauan yang tepat sejak dini.
Nutrisi yang cukup, terutama ASI, berperan penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur. Stimulasi sesuai usia juga membantu mengoptimalkan perkembangan motorik, bahasa, dan kemampuan belajarnya.
Supaya tumbuh kembang bayi prematur tetap optimal dan sesuai usianya, penting untuk melakukan kontrol rutin ke dokter. Pemeriksaan rutin juga dapat mendeteksi dan membantu menurunkan risiko komplikasi bayi prematur.
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
Kunjungi Exclusive Hub Nutriclub untuk menikmati berbagai konten premium gratis, seperti e-book, podcast, dan video edukasi. Temukan segala informasi tepercaya seputar kehamilan, nutrisi tepat, perkembangan kognitif, serta tips menjaga imunitas dan daya tahan tubuh anak langsung dari ahlinya.
