Serba-Serbi Alergi Susu Sapi - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Serba-Serbi Alergi Susu Sapi

Konsumsi susu sapi pada bayi seringkali memicu reaksi imunitas tubuh yang berlebihan berupa reaksi alergi.

         Sebanyak 2% - 5% populasi anak < 3 tahun pernah menderita alergi susu sapi dengan gejala awal pada usia 2 bulan dan puncaknya terjadi pada anak usia 3 bulan.1,2 Meskipun kerap terjadi, kalangan awam kurang memahami gejala dan dampak yang ditimbulkan dari alergi susu sapi.3

         Alergi susu sapi adalah reaksi tubuh yang terjadi karena respon imun tubuh terhadap protein susu sapi. 3 Kandungan protein susu sapi yang paling sering menimbulkan alergi adalah beta-laktaglobulin, kasein, alpha-lactalbumin.2 Alergi susu sapi lebih sering terjadi pada anak yang mengonsumsi susu sapi secara dini, dimana sistem pencernaan dan imunitas belum matang.4 Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif  dalam 6 bulan pertama kehidupannya sangat jarang menderita alergi susu sapi. Ada sekitar 0,5% - 1% saja dari seluruh populasi bayi dengan asi ekslusif pada usia selanjutnya. Hal ini terjadi karena pada bayi yang mengonsumsi ASI ekslusif, paparan protein dan peptida susu sapi yang dikonsumsi ibu akan tersalurkan dalam ASI secara perlahan sehingga imunitas bayi dapat melakukan adaptasi secara bertahap.2,4

Did you know?

“Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama kehidupannya sangat jarang menderita alergi susu sapi pada usia selanjutnya.”

dr. Daniel Surjadinata, Sp.A

         Gejala yang muncul terkait alergi susu sapi dapat terjadi segera (dalam hitungan menit hingga 2 jam setelah paparan) atau reaksi lambat (48 jam hingga 1 atau 2 minggu setelah paparan). Umumnya, keluhan timbul setidaknya pada dua atau lebih sistem tubuh, paling banyak mengenai sistem pencernaan, kulit, dan sistem pernapasan.1  Gejala pada sistem pencernaan yang sering terjadi diantaranya sulit menelan, muntah, nyeri perut, diare, sembelit, kolik, dan ruam di area sekitar anus. Gejala yang muncul pada kulit berupa ruam kulit, eksim,  bengkak pada mulut dan kelopak mata. Gejala pada sistem pernapasan berupa bersin, sesak, hidung berair, batuk kronis berulang dan nafas berbunyi (mengi). Apabila keluhan alergi susu sapi tidak diwaspadai dan terus berkelanjutan, dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup anak, seperti gangguan tidur, bahkan gangguan tumbuh kembang. Selain keluhan – keluhan tersebut, dapat pula terjadi reaksi alergi yang lebih serius berupa reaksi anafilaksis. Anafilaksis merupakan reaksi alergi berat dan mengancam nyawa dengan gejala berupa syok yang disertai gangguan pernafasan dan jantung.1,4,5

         Alergi susu sapi dapat juga terjadi pada bayi yang mendapatkan asi ekslusif dengan ibu yang rutin mengonsumsi susu sapi atau produknya. Jika hal ini terjadi, maka ibu sebaiknya menghindari susu sapi dan makanan yang mengandung protein susu sapi.1 Pada bayi yang menderita alergi susu sapi namun kesulitan mendapatkan asi ekslusif, sebaiknya tidak mengonsumsi susu mamalia lainnya, seperti kambing ataupun domba.1,2 Alternatif susu formula yang dapat diberikan pada bayi dengan risiko alergi susu sapi, dengan riwayat alergi atau atopi pada ayah, ibu, atau saudara kandung adalah susu formula terhidrolisat parsial. Protein susu sapi pada susu formula terhidrolisat parsial telah dihidrolisis sebagian dengan menggunakan prosedur enzimatik sehingga partikel protein lebih kecil. Pada bayi sudah timbul gejala alergi susu sapi adalah susu hidrolisat ekstensif, dimana protein susu dipecah menjadi partikel yang jauh lebih kecil lagi.1,4,6  

         Alternatif susu formula untuk penderita alergi susu sapi yang berat adalah pemberian susu formula berbasis asam amino, yaitu susu formula yang mengandung rantai asam amino bebas (komponen nitrogen yang paling sederhana). Susu soya dapat diberikan pada bayi usia diatas 6 bulan dengan riwayat alergi susu sapi. Namun, tidak dianjurkan untuk diberikan pada bayi usia dibawah 6 bulan karena bayi dibawah usia 6 bulan yang menderita alergi susu sapi seringkali juga masih rentan alergi terhadap protein susu soya. Durasi pemberian susu formula khusus ini bervariasi minimal 6 – 9 bulan. Namun, pada penderita alergi yang berat, dilanjutkan sampai usia 12 bulan -  18 bulan. Kemudian dilakukan evaluasi kembali pemberian susu sapi dengan jumlah pemberian bertahap sesuai anjuran dokter. Umumnya toleransi terhadap susu sapi akan tercapai pada saat anak berusia 3 tahun (>75%) dan 6 tahun (>90%).1

         Berdasarkan gejala klinis yang ditimbulkan, alergi susu sapi dan intoleransi laktosa seringkali sulit dibedakan, terutama jika keluhan berhubungan dengan sistem pencernaan. Intoleransi laktosa adalah gangguan penyerapan laktosa susu oleh mukosa usus. Keduanya, baik intoleransi laktosa maupun alergi susu sapi, memiliki gejala gangguan pencernaan yang sama, yaitu rasa tidak nyaman atau kolik pada perut, mual, sembelit, dan sebagainya. Namun, yang membedakan,pada intoleransi laktosa disebabkan oleh faktor genetik atau faktor sekunder seperti infeksi saluran cerna. Intoleransi laktosa hanya menimbulkan gejala pada gangguan saluran cerna. Akan tetapi, intoleransi laktosa dapat juga terjadi bersamaan dengan alergi susu sapi. Hal ini disebabkan oleh kerusakan epitel pada mukosa usus terkait reaksi imunitas yang terjadi. Intoleransi laktosa sering terjadi pada anak usia 3 – 4 tahun dan dapat berlangsung seumur hidup ataupun sementara, tergantung dari penyebabnya.


Referensi:

  1. Koletzko S, Niggemann B, Arato A, Dias J, Heuschkel R, Husby S et al. Diagnostic Approach and Management of Cowʼs-Milk Protein Allergy in Infants and Children. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2012;55(2):221-229.
  2. Rangel AHN, Sales DC, Urbano SA, Junior JGBG, Neto JCA, Macedo CS. Lactose Intolerance and Cow’s Milk Protein Allergy. Food Sci. Technol. 2016;36(2):179-187.
  3. Lozinsky A, Meyer R, Anagnostou K, Dziubak R, Reeve K, Godwin H et al. Cow’s Milk Protein Allergy from Diagnosis to Management: A Very Different Journey for General Practitioners and Parents. Children. 2015;2(4):317-329.
  4. Vandenplas Y. Prevention and Management of Cow’s Milk Allergy in Non-Exclusively Breastfed Infants. Nutrients. 2017;9(12):731.
  5. Lifschitz C, Szajewska H. Cow’s milk allergy: evidence-based diagnosis and management for the practitioner. European Journal of Pediatrics. 2014;174(2):141-150.
  6. Susu Formula Alternatif untuk Alergi Susu Sapi [Internet]. IDAI. 2018 [cited 25 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/susu-formula-alternatif-untuk-alergi-susu-sapi