Alergi dan Dampak Psikologisnya pada Anak - Nutriclub - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Alergi dan Dampak Psikologisnya pada Anak

Dalam perkembangan hidup si Kecil, Ibu tentu selalu berharap ia dapat tumbuh sehat dan berkualitas. Namun, alergi dapat menjadi masalah yang mengganggu kesehariannya. Data dari World Allergy Organization (WAO) dalam The WAO White Book on Allergy, Update tahun 2013 menunjukkan bahwa angka prevalensi alergi mencapai 10-40% dari populasi dunia. Oleh karena itu, kami dari tim Ahli Nutriclub akan menjelaskan pada Ibu tentang gangguan alergi dan dampak yang dapat terjadi pada psikologi si Kecil.

Alergi (Fakta Tentang Alergi) adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap benda atau zat yang normalnya tidak berbahaya – atau disebut alergen. Selain berdampak secara fisik seperti gangguan saluran pernapasan, gangguan dermatitis, atau gangguan susunan saraf otak, alergi bisa berdampak pada masalah psikologis, terutama yang mampu memicu perubahan perilaku seperti gangguan konsentrasi dan memori.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Yogyakarta, prevalensi tertinggi penyakit alergi seperti dermatitis atopik (Ruam akibat Alergi), asma, dan rhinitis alergi terdapat pada anak-anak usia sekolah dan prasekolah. Hal tersebut membuat si Kecil banyak kehilangan waktu saat bersekolah dan bermain.

 

Saat si Kecil yang alergi berada di masa prasekolah, alerginya yang sedang kambuh membuatnya tidak bisa merasa tenang karena disibukkan dengan rasa gatal, seperti jadi sibuk menggaruk-garuk, menggerakkan tubuh, atau apapun yang bisa meminimalisir rasa gatalnya. Akibatnya, ia nampak cepat bosan dalam bermain dan cenderung kurang fokus.

 

Di masa sekolah, si Kecil yang alergi cenderung tidak mampu menyelesaikan pekerjaan atau tugas sekolahnya dengan baik. Hal ini menyebabkan prestasi belajarnya menjadi kurang optimal. Alergi juga dapat membuatnya menjadi minder akibat kebiasaan menggaruk dan perubahan fisik yang dialaminya (gatal, bentol-bentol, atau ruam merah pada tubuh).

 

Alergi pada si Kecil yang berkebutuhan khusus, seperti autisme dan ADHD, akan selalu cenderung overaktif dan hiperaktif (banyak bergerak tanpa terkontrol dengan baik), mudah lelah, agresif dan moody (mudah marah, emosi dan menangis), bahkan bisa tantrum dan mengalami kecemasan. Wajar saja seorang anak yang sedang kambuh alerginya merasa kurang nyaman. Ketidaknyamanan inilah yang kemudian memunculkan uring-uringan, sehingga membuatnya menjadi lebih sulit beradaptasi dengan lingkungan dan bersosialisasi dengan teman sebayanya.

 

Alergi juga menyebabkan si Kecil cenderung mengalami masalah gangguan tidur (Kebutuhan Tidur Balita), seperti susah tidur, gelisah saat tidur, dan sering terbangun di tengah malam. Kondisi ini mampu menurunkan kualitas hidup dan kemampuan berkembangnya.

 

Pada si Kecil yang menderita asma, ia bisa mengalami gangguan oral motor (biasanya yang terjadi adalah gagap). Jika si Kecil terlambat bicara, selain harus dicurigai adanya gangguan saraf, Ibu juga perlu mencurigai adanya asma yang tersembunyi.

 

Alergi juga dapat menyebabkan gangguan motorik kasar dan gangguan keseimbangan dan koordinasi pada penderita alergi saraf pusat yang menyebabkan otaknya bengkak. Namun, alergi jenis ini sangat jarang dialami anak sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

 

Alergi pada si Kecil harus diatasi sejak dini dengan mengenali gejala alerginya, kemudian mengidentifikasi alergennya (pencetus alergi) dengan segera. Lindungi si Kecil sebisa mungkin dari alergen (Penyebab Alergi Pada Balita). Jika tidak, dikhawatirkan reaksi alerginya akan semakin parah dan mengganggu produktivitas serta kualitas hidupnya. Ibu, konsultasikan pada dokter atau tenaga kesehatan untuk mencegah timbulnya gangguan psikologis akibat alergi pada si Kecil.

Yuk cari tahu besarnya resiko alergi si Kecil terlebih dahulu untuk melakukan tindakan pencegahan yang tepat dengan Allergy Risk Screener

  • Buku Pintar Kesehatan Anak. Dr Karherine Croom dan dr George Kassianos. Gramedia. 2007
  • Deteksi Dini Masalah-masalah Psikologi Anak. James Le Fanu. THINK. 2006