Mencegah alergi pada bayi dapat dilakukan sejak kehamilan hingga 1.000 HPK. Risiko alergi memang lebih tinggi pada bayi karena genetik, tetapi banyak faktor lain yang juga berperan. Dengan langkah pencegahan yang tepat sejak dini, risiko alergi dapat dikelola dengan lebih baik.
Apa Itu Alergi?
Alergi pada bayi adalah reaksi berlebihan sistem imun terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti makanan, debu, atau protein tertentu.
Reaksi alergi ini terjadi ketika zat alergen masuk ke dalam tubuh, memicu respons antibodi yang akhirnya melepaskan zat-zat lain, salah satunya histamin. Histamin pun menyebabkan pembengkakan, peradangan, atau gatal-gatal.
Reaksi alergi berbeda dengan intoleransi. Alergi pada makanan melibatkan sistem kekebalan tubuh dan bisa sangat berbahaya meskipun hanya terpapar sedikit.
Sedangkan intoleransi makanan terjadi karena sistem pencernaan tidak mampu mencerna makanan dengan benar, bisa karena sensitivitas terhadap zat tertentu atau kekurangan enzim tertentu.
Jenis Alergi yang Paling Sering Dialami Bayi
Mama perlu tahu berbagai jenis alergi yang paling sering dialami bayi agar bisa mendeteksinya sedini mungkin.
1. Alergi Makanan
Anak-anak Indonesia paling banyak mengalami alergi produk telur, susu sapi, udang, serta makanan laut lainnya. Alergi terhadap kacang tanah juga kerap dialami bayi di Amerika Serikat.
Kebanyakan reaksi alergi berupa bengkak di bibir atau wajah, mata merah dan gatal, batuk, hingga hidung berair
Tetapi, reaksi alergi berat atau anafilaksis bisa terjadi dan menyebabkan masalah pernapasan hingga ruam parah.
2. Eksim
Eksim atau dermatitis atopik, adalah salah satu macam-macam alergi kulit pada bayi yang terjadi ketika zat alergen memicu respons imun.
Bagi banyak bayi, kondisi ini bersifat genetik. Mereka lahir tanpa protein khusus yang cukup untuk menghasilkan penghalang antara kulit dan lingkungannya.
Tanda khas eksim bayi adalah ruam bergelombang di area tertentu. Pada bayi di bawah 6 bulan biasanya menyerang kulit kepala dan wajah. Setelah 6 bulan, ruam biasanya muncul di siku dan lutut.
Baca Juga: Ciri Alergi pada Bayi dan Cara Deteksi
3. Rhinitis
Alergi rhinitis adalah kondisi saat hidung bayi terkena iritasi akibat menghirup zat alergen, contohnya serbuk sari dari pohon, tungau dan debu, serta serpihan kulit mati dari bulu hewan.
Gejalanya meliputi hidung tersumbat, berair, gatal di hidung atau tenggorokan, dan bersin. Rhinitis terkadang juga disertai mata gatal, berair, atau bengkak.
4. Alergi Asma
Alergi asma berbeda dengan penyakit asma. Penyakit asma menyerang paru-paru yang berdampak pada pernapasan, seperti sesak napas dan batuk.
Biasanya disebabkan oleh faktor non-alergen, seperti stres, obat-obatan, rokok, dan polusi.
Sedangkan alergi asma disebabkan oleh zat alergen seperti yang terjadi pada rhinitis. Tetapi, gejalanya sama dengan penyakit asma.
Apa Penyebab Bayi Mudah Alergi?
Alergi pada bayi bisa disebabkan oleh genetik, paparan lingkungan, serta sistem imun yang masih berkembang. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.
1. Genetik
Genetik menjadi salah satu faktor alergi pada bayi. Menurut riset dari Paediatrics Child Health, risiko alergi bayi meningkat menjadi 30–50% jika salah satu orang tua memiliki alergi.
Beberapa jenis alergi yang dipengaruhi oleh genetik dan bisa diturunkan ke bayi adalah alergi asma, rhinitis, dan eksim.
2. Paparan Lingkungan
Alergi dapat terbentuk dan berkembang saat lahir karena paparan lingkungan, seperti polusi udara, tungau dan debu, bahkan paparan asap rokok dari bayi masih di dalam kandungan.
Berbagai riset menunjukkan bahwa paparan asap rokok pasif saat bayi masih di dalam kandungan berkaitan dengan peningkatan risiko eksim dan alergi rhinitis.
Padahal, lingkungan yang bersih merupakan faktor penting untuk kesehatan bayi di 1.000 hari pertamanya.
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
3. Sistem Imun
Sistem imun bayi masih dalam tahap belajar membedakan mana zat yang berbahaya dan mana yang aman. Inilah sebabnya alergi makanan bisa berkembang setelah bayi lahir.
Alergi makanan biasanya terjadi jika menunda memperkenalkan makanan yang umum menimbulkan alergi seperti susu dan telur ke dalam makanan bayi saat MPASI.
Gejala eksim pada bayi juga bisa disebabkan oleh sistem imun bayi yang abnormal sehingga memicu iritasi kulit apabila terkena benda asing.
4. Gangguan Skin Barrier
Tubuh memiliki skin barrier yaitu lapisan terluar kulit yang melindungi tubuh. Salah satu faktor pemicu alergi adalah skin barrier yang terganggu.
Pasalnya, kulit bayi lebih tipis dan belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap iritasi, infeksi, dan dehidrasi.
Menurut riset di tahun 2014, kerusakan skin barrier bisa jadi penyebab utama dermatitis atopik atau eksim.
Cara Mencegah Alergi Pada Bayi Sejak Dini
Ada berbagai cara untuk Mama mencegah alergi pada bayi sejak dini. Selain itu, alergi pada bayi juga bisa berubah atau berkembang seiring bertambahnya usia, yang disebut dengan allergic march.
1. Berikan ASI Eksklusif
ASI mengenalkan bayi pada berbagai zat dari makanan dan lingkungan sehingga mendukung pembentukan toleransi alergen. WHO menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.
Selain itu, ASI juga berperan dalam membentuk microbiome usus, yaitu kumpulan bakteri baik yang membantu melatih sistem imun supaya tidak bereaksi berlebihan terhadap alergen.
Kolostrum, atau ASI pertama yang keluar sejak melahirkan hingga 5 hari pertama, terbukti bisa mencegah alergi makanan. Berbagai riset lainnya juga menunjukkan bahwa ASI menurunkan risiko alergi asma.
Baca Juga: 12 Manfaat Menyusui ASI Eksklusif Bagi Kesehatan Bayi
2. Jaga Kesehatan Kulit Bayi
Gunakan pelembap secara rutin yang diformulasikan khusus untuk bayi. Menurut riset, terapi emolien pada bayi sejak lahir bisa jadi cara yang aman dan efektif untuk mencegah eksim.
Emolien adalah kandungan di pelembap yang membentuk lapisan minyak pada permukaan kulit. Lapisan ini berfungsi menjaga kelembapan kulit, mengurangi gatal, serta mencegah kulit mengelupas.
Gunakan sabun cair yang diformulasikan khusus bayi karena lebih lembut, mengandung pH netral, dan aman untuk kulit bayi yang sensitif. Cara ini bisa mencegah alergi pada bayi.
3. Hindari Paparan Asap Rokok
Berbagai riset menunjukkan bahwa paparan asap rokok, bahkan saat bayi masih dalam kandungan, dapat memicu berbagai alergi, seperti eksim dan rhinitis, serta inflamasi saluran napas dan infeksi paru-paru.
Paparan asap rokok dapat berdampak buruk bagi bayi karena paru-paru mereka masih dalam pertumbuhan serta cara bernapas bayi yang cenderung dari mulut dan tidak tersaring hidung.
4. Perkenalkan MPASI Secara Bertahap
Meskipun faktor genetik mungkin berpengaruh, bayi sebenarnya tidak terlahir dengan alergi makanan. Alergi makanan bisa terjadi karena menunda memperkenalkan makanan tertentu.
Berikan makanan bayi yang umumnya menyebabkan alergi sedini mungkin saat memulai MPASI. Makanan yang kerap menyebabkan alergi yakni telur, udang, ikan, serta kacang-kacangan.
Setelah bayi mengonsumsi makanan tersebut dan tidak ada reaksi alergi, terus berikan makanan itu setidaknya sekali seminggu untuk mencegah alergi makanan pada bayi.
5. Jaga Kebersihan Rumah
Tungau adalah serangga sangat kecil yang hidup di kasur, bantal, karpet, atau perabot berlapis kain. Debu dan tungau merupakan penyebab utama alergi rhinitis.
Jadi, jaga kebersihan rumah dengan baik untuk mencegah alergi pada bayi. Namun, Mama tidak perlu berlebihan dalam membersihkan rumah.
Hindari penggunaan produk antibakteri secara rutin jika tidak diperlukan, karena dapat mengurangi paparan mikroba yang bermanfaat bagi perkembangan sistem imun anak.
Ini berhubungan dengan hygiene hypothesis (hipotesis kebersihan) yang menyatakan bahwa paparan mikroorganisme tertentu pada masa kecil justru mencegah alergi dengan cara mengatur sistem kekebalan tubuh seimbang.
6. Hindari Penggunaan Antibiotik Sembarangan
Ma, hati-hati dalam memberikan bayi antibiotik jika si Kecil sakit. Pasalnya, beberapa riset mengaitkan penggunaan antibiotik pada bayi dengan risiko alergi.
Penggunaan antibiotik pada bayi diduga mengubah mikrobiota usus, memengaruhi disregulasi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan alergi.
Pastikan hanya memberikan si Kecil antibiotik jika diwajibkan oleh dokter dan ikuti resepnya dengan benar untuk mencegah disregulasi kekebalan tubuh.
Baca Juga: 15 Penyakit pada Bayi Usia 0-6 Bulan yang Umum & Solusinya
7. Lengkapi Imunisasi Bayi
Untuk mencegah alergi pada bayi, lengkapi imunisasi bayi. Imunisasi melindungi bayi dengan membangun sistem imun tubuh yang kuat sehingga terlindungi dari berbagai penyakit infeksi maupun risiko alergi.
Dengan mencegah infeksi sejak dini, tubuh bayi dapat terhindar dari inflamasi berkepanjangan yang tentunya memengaruhi tumbuh kembang anak.
8. Perhatikan Nutrisi Saat Hamil dan Menyusui
Saat hamil dan menyusui, cobalah untuk tetap mengonsumsi makanan yang umumnya menyebabkan alergi agar bayi juga ikut dikenalkan dengan bahan makanan tersebut.
Selain itu, pastikan Mama selalu memenuhi kebutuhan nutrisi saat hamil dan menyusui.
Contohnya, omega-3 dan vitamin D untuk meningkatkan pertumbuhan sel, kekebalan tubuh, hingga perkembangan otak yang optimal pada bayi.
Kesehatan si Kecil adalah prioritas utama. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama bisa mendapatkan panduan kesehatan terpercaya, artikel expert-verified, serta tips praktis untuk menghadapi berbagai kondisi anak dengan lebih tenang. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Apakah Alergi pada Bayi Bisa Dicegah Total?
Mama bisa mencoba berbagai cara untuk mencegah alergi pada bayi. Tetapi jangan lupa bahwa genetik adalah faktor penting penyebab alergi, sehingga tidak bisa dicegah seutuhnya.
Namun, bukan berarti cara mencegah alergi pada bayi di atas sia-sia untuk dilakukan. Penting untuk deteksi dini agar alergi si Kecil bisa ditangani dengan baik dan menurunkan risiko alergi kambuh atau semakin parah.
Kapan Harus Dibawa ke Dokter?
Beberapa gejala alergi bisa sangat membahayakan nyawa bayi, seperti:
- Sesak napas
- Pembengkakan di wajah, bibir, atau lidah, ruam yang menyebar ke seluruh tubuh
- Muntah-muntah
- Diare berulang
Jika si Kecil mengalami hal-hal di atas, langsung datangi Unit Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Selain itu, jika si Kecil tidak mengalami gejala parah tapi berat badannya terpengaruh hingga turun tanpa sebab yang pasti, coba konsultasikan dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Kunjungi Exclusive Hub Nutriclub untuk menikmati berbagai konten premium gratis, seperti e-book, podcast, dan video edukasi. Temukan segala informasi tepercaya seputar kehamilan, nutrisi tepat, perkembangan kognitif, serta tips menjaga imunitas dan daya tahan tubuh anak langsung dari ahlinya.
