Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

cegah-dehidrasi-pada-si-kecil_large
Imunitas

Tanda-Tanda Dehidrasi pada Bayi yang Perlu Mama Waspadai

Article Oleh : Febriyani Suryaningrum 15 Januari 2020

Tahukah Mama kalau bayi lebih mudah mengalami dehidrasi daripada orang dewasa? Hal ini disebabkan oleh tubuh mungil bayi yang tidak dapat menampung cairan dalam jumlah besar. Padahal metabolisme bayi berjalan sangat cepat. 

Simak tanda-tanda dehidrasi pada bayi berikut ini supaya dapat menjaga tubuh si Kecil tetap terpenuhi kebutuhan cairannya, yuk, Ma!

Tanda-Tanda Dehidrasi pada Bayi

Ketika bayi mengalami dehidrasi, berarti tubuhnya sedang mengalami kehilangan cairan dalam jumlah yang besar, namun tidak dapat segera meminum ASI atau susu formula untuk mengembalikan jumlah cairan di dalam tubuhnya. 

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), kurangnya jumlah cairan tubuh menyebabkan kondisi dehidrasi yang bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. 

Berikut ini adalah tanda-tanda yang ditunjukkan bayi ketika ia mengalami dehidrasi ringan-sedang:

  • Tidak bermain seaktif biasanya. 

  • Frekuensi buang air kecil kurang dari 6 kali dalam 1 hari. 

  • Urin berwarna pekat. 

  • Mulut dan bibir kering.  

  • Sedikit atau tidak ada air mata ketika menangis.

  • Muncul cekungan lunak pada ubun-ubun bayi.

  • Turgor kulit yang buruk (saat permukaan kulit ditekan, lama kembali rata). 

  • Feses akan terlihat lebih encer apabila dehidrasi disebabkan oleh diare. Apabila dehidrasi disebabkan oleh hal lain (muntah-muntah atau kurang minum) si Kecil akan lebih susah buang air besar karena pergerakan ususnya lebih lambat. 

  • Rewel.

Bayi kecil belum bisa berbicara, Ma. Jadi, umumnya mereka tidak bisa menyampaikan rasa haus dan rasa tidak nyaman yang mereka alami. Oleh karena itu, Mama, Papa, dan pengasuh perlu mengenali tanda-tanda di atas.

Ketika dehidrasi ringan-sedang tidak segera teridentifikasi dan ditangani, si Kecil dapat dengan cepat mengalami dehidrasi berat. Kondisi ini cukup berbahaya dan dapat berlanjut menjadi syok yang sifatnya mengancam nyawa. 

Nah, ketika dehidrasi si Kecil sudah memasuki kategori berat umumnya akan muncul tanda-tanda tambahan, antara lain:

  • Lemas.

  • Cenderung tidur dan susah dibangunkan.

  • Tidak responsif.

  • Mata terlihat cekung.

  • Kaki dan tangan tampak pucat dan terasa dingin. 

  • Kulit kering dan keriput.

  • Buang air kecil hanya 1 atau 2 kali dalam sehari.  

Walau begitu ada beberapa hal yang perlu Mama perhatikan menyangkut frekuensi buang air kecil bayi. Sebab, tidak semua bayi yang buang air kecil kurang dari 6 kali sehari berarti mengalami dehidrasi. 

Bayi yang baru berusia beberapa hari umumnya memang memproduksi urin dengan jumlah yang lebih sedikit dan dengan warna yang lebih pekat: 

  • Usia 1 hingga 2 hari: Pada periode ini sistem pencernaan si Kecil masih beradaptasi. Normal apabila si Kecil hanya memiliki 1 popok basah per hari, dengan warna urin oranye yang pekat.

  • Usia 3 hingga 5 hari: Normal apabila si Kecil memiliki lima popok basah per hari dengan warna urin oranye muda.

Baru pada usia 6 hari ke atas frekuensi buang air kecil bayi menjadi lebih tinggi yaitu hingga sepuluh popok basah per hari dengan warna urin kuning muda. 

Jadi, ketika bayi masih berusia kurang dari 6 hari, normal jika ia buang air kecil kurang dari 6 kali dalam satu hari, ya, Ma. 

Penyebab Dehidrasi pada Bayi

Pada dasarnya bayi memang lebih mudah mengalami dehidrasi daripada orang dewasa karena metabolisme tubuhnya berjalan lebih cepat sehingga membutuhkan lebih banyak cairan. 

Disamping itu, bayi juga lebih mudah mengalami dehidrasi karena memiliki sensibilitas terhadap rasa haus yang lebih rendah dan belum bisa mengekspresikan rasa haus dengan baik. 

Jadi, ketika orang tua atau pengasuh terlewatkan memberi cairan pada bayi, ia benar-benar tidak akan mendapatkan asupan cairan yang dibutuhkan. 

Nah, selain itu ada banyak hal lain yang bisa menjadi penyebab dehidrasi dan perlu Mama ketahui. Jadi, Mama dapat lebih cepat mengambil tindakan preventif: 

  • Si Kecil mengalami demam dengan temperatur 38 derajat celcius atau lebih. 

  • Mengalami infeksi dada. Hal ini dapat membuat si Kecil kesulitan untuk minum maupun makan. 

  • Sedang sakit disertai dengan muntah dan diare. 

  • Berkeringat berlebihan karena bermain atau olahraga.

  • Temperatur udara terlalu panas. 

  • Berada di bawah paparan terik matahari terlalu lama. 

  • Bepergian jauh.

Cara Mencegah Dehidrasi pada Bayi

Untuk mencegah dehidrasi pada bayi, tentu saja Mama perlu memastikan si Kecil mendapatkan asupan cairan harian yang sesuai dengan kategori usia, jenis kelamin, massa otot, dan lemak tubuhnya. 

Berapa sih, Ma, kebutuhan cairan harian si Kecil? Berikut daftarnya: 

  • Usia 0-6 bulan : 700 ml/hari.

  • Usia 7-12 bulan : 800 ml/hari.

Namun perlu diingat ya Ma, satu-satunya cairan yang boleh dikonsumsi bayi usia 0-6 bulan adalah ASI (sufor boleh diberikan apabila Mama benar-benar tidak bisa menyediakan ASI untuk si Kecil). 

Cairan lain seperti air putih, jus buah, air madu, air teh, dan lain sebagainya sama sekali tidak boleh diberikan pada si Kecil ya, Ma. 

Si Kecil hanya boleh minum air putih ketika sudah mulai MPASI. Air putih juga hanya diberikan di waktu makan saja. Bukan untuk pengganti maupun pelengkap ASI.

Cara Mengatasi Dehidrasi pada Bayi

Apabila si Kecil sudah terlanjur mengalami dehidrasi, Mama dapat melakukan beberapa tindakan berikut: 

1. Dehidrasi Ringan

Menurut American Academy of Pediatrics, bayi dengan dehidrasi ringan dapat diberikan asupan cairan secara oral. Jadi, Mama dapat terus memberikan ASI pada si Kecil. 

Jangan memberikan cairan apapun yang tinggi kandungan gula (just atau soft drink) karena akan memperburuk kondisi si Kecil, apalagi kalau ia dehidrasi karena diare. 

Bayi yang sudah mendapatkan MPASI dapat tetap makan, namun dalam porsi yang kecil. Perbanyak pemberian ASI, ya, Ma.  

2. Dehidrasi Sedang

Ketika bayi mengalami dehidrasi sedang, direkomendasikan untuk memberikan 50 ml hingga 100 ml oralit (larutan rehidrasi oral) per kilogram berat badannya. 

Jadi, kalau berat badan si Kecil 5 kilo, Mama bisa memberikan sebanyak 250 - 500 ml oralit untuk bantu mengatasi dehidrasinya. Pemberian oralit dilakukan selama 2-4 jam untuk mengganti jumlah cairan yang telah hilang. 

Jika penyebab dehidrasi masih terus berlangsung, Mama dapat terus memberikan oralit untuk mengganti cairan tubuh yang berkurang secara terus-menerus.

Oralit mengandung air dan garam dengan komposisi yang sudah disesuaikan dan sangat baik untuk mengganti jumlah air dan elektrolit yang hilang saat si Kecil mengalami dehidrasi. 

Apabila Mama merasa ragu memberikan oralit, sangat disarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis anak kepercayaan terlebih dahulu. 

3. Dehidrasi Berat

Ketika si Kecil mengalami dehidrasi berat, jumlah cairan yang hilang harus dipulihkan dengan cepat. Oleh karena itu, si Kecil harus segera dibawa ke unit gawat darurat untuk mendapatkan infus cairan tambahan dan garam (elektrolit). 

Cairan yang dimasukkan melalui pembuluh darah akan lebih cepat menyebar dan diserap oleh tubuh sehingga badan si Kecil dapat segera pulih. 

Kapan Harus Membawa si Kecil ke Dokter?

Mama perlu segera membawa si Kecil ke unit gawat darurat ketika ia menunjukkan beberapa gejala berikut ini:

  • Muncul tanda-tanda dehidrasi berat. 

  • Bayi tidak mau makan atau minum selama lebih dari beberapa jam. 

  • Bayi di bawah usia 12 bulan dan hanya minum oralit (larutan rehidrasi oral) selama 24 jam tanpa konsumsi ASI maupun susu formula. 

  • Muntah lebih dari beberapa kali dalam waktu 24 jam. 

  • Muntah berwarna hijau, merah, atau coklat terang.

  • Bayi yang sudah mulai MPASI tidak bisa makan dalam waktu 3-4 hari.

  • Tidak tampak membaik walaupun sudah diberi pertolongan pertama di rumah. 

Terus waspadai tanda-tanda dehidrasi pada bayi ya, Ma, agar si Kecil dapat tumbuh sehat dengan asupan cairan dan nutrisi harian yang memadai. 

Apabila Mama ingin tahu informasi lebih lanjut soal tumbuh kembang bayi dari bulan ke bulan serta cara mengoptimalkan imunitas si Kecil, yuk kunjungi The Parent’s Guide Academy! Di sini ada berbagai artikel informatif seputar tumbuh kembang bayi yang diverifikasi ahli.

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
  1. Signs of Dehydration in Infants & Children. (2023). HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/injuries-emergencies/Pages/dehydration.aspx

  2. Dehydration in babies and children. (2021). HSE.ie. https://www2.hse.ie/conditions/dehydration/babies-children/

  3. IDAI | Kebutuhan Air pada Anak. (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kebutuhan-air-pada-anak

  4. Vega, R. M., & Avva, U. (2023, August 13). Pediatric Dehydration. Nih.gov; StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK436022/

  5. Dehydration-Dehydration - Diagnosis & treatment - Mayo Clinic. (2021). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dehydration/diagnosis-treatment/drc-203

Artikel Terkait
floating-icon