Mencegah Alergi Makanan atau Menghindari? - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Rutinitas Anak

Lebih Efektif Mencegah Alergi Makanan dengan Konsumsi Dini atau Menghindari?

Angka alergi makanan, termasuk alergi susu, mengalami peningkatan di Indonesia dan seluruh dunia. Untuk mencegah alergi, cara yang berkembang di masyarakat adalah antara dengan mengonsumsi dini atau menghindarinya. Mana yang lebih baik?

Sekitar tahun 2000, kelompok ahli anak di Amerika Serikat merekomendasikan para ibu untuk menunda pemberian makanan yang berpotensi menimbulkan alergi (Kenali Potensi Alergi Dalam Makanan Bayi) pada anak yang berisiko tinggi. Para ibu juga disarankan untuk membatasi atau restriksi diet selama masa menyusui.

Namun, sekitar tahun 2008, rekomendasi ini berubah karena strategi tersebut dinilai tidak efektif mencegah alergi pada si Kecil. Hal ini diungkapkan oleh Du Toit, dkk. (2008) yang meneliti angka kejadian alergi kacang tanah pada anak keturunan Yahudi yang tinggal di Israel dan Inggris, serta mengevaluasi hubungan antara alergi kacang tanah dan asupan kacang tanah sejak anak masih di dalam kandungan hingga masa bayi. Du Toit, dkk. menemukan bahwa insiden alergi kacang tanah 10x lebih rendah pada anak Israel yang lebih banyak mengonsumsi makanan mengandung kacang tanah di tahun pertama kehidupannya.

 

Penelitian lain yang dilaporkan pada tahun 2015 oleh gabungan peneliti Learning Early about Peanut Allergy (LEAP) trial membandingkan konsumsi dini dan restriksi produk makanan yang mengandung kacang pada 640 anak berisiko tinggi alergi (Fakta Tentang Alergi) di Inggris berdasarkan adanya eksim, alergi telur, atau keduanya. Temuan menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang mengandung kacang menurunkan risiko alergi kacang sebesar 81% pada anak usia 5 tahun. Penurunan risiko ini mencapai angka 86% pada anak dengan hasil uji kulit awal yang negatif, dan sedikit menurun menjadi 70% pada anak dengan hasil uji kulit yang positif. Hasil ini memberikan pengaruh yang sangat positif untuk pencegahan alergi makanan pada si Kecil.

 

Studi lain yang mendukung pengenalan dini makanan alergenik (Alergi dan Makanan yang Harus Dihindari Bayi) pada bayi tergabung dalam kelompok studi Enquiring about Tolerance (EAT). Studi ini meneliti 1.303 anak usia 3 bulan di Inggris dan Wales yang mendapat ASI eksklusif. Anak-anak ini dipilih dari masyarakat secara umum, berbeda dengan studi LEAP yang meneliti kejadian alergi pada anak berisiko tinggi. Anak-anak ini dikelompokkan secara acak menjadi kelompok anak yang menerima enam jenis alergen makanan (kacang tanah, telur matang, susu sapi, minyak wijen, ikan, dan gandum), sebelum (pengenalan dini) dan sesudah usia 6 bulan (standar).

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi terjadinya alergi makanan di usia 1-3 tahun pada kelompok anak pengenalan dini lebih rendah dibandingkan dengan yang standar, yakni 5,6% vs 7,1%, meski tidak berbeda makna apabila dinilai secara statistik. Namun, kepatuhan terhadap pemberian makanan lebih rendah pada kelompok pengenalan dini dibandingkan dengan yang standar, sehingga hal ini dapat memengaruhi hasil penelitian.

 

Pada anak-anak yang mengikuti penelitian hingga selesai, diperoleh hasil bahwa angka kejadian alergi makanan lebih rendah secara signifikan pada kelompok anak pengenalan dini dibandingkan dengan yang standar, yakni 2,4% vs 7,3%. Manfaat pengenalan dini makanan sangat baik pada alergi kacang tanah, dan netral untuk alergi telur.

 

Praktik pemberian makanan dini pada anak alergi diperkuat dengan catatan editorial oleh Dr. Gary Wong di New England Journal of Medicine baru-baru ini. Dr. Wong menyarankan untuk mengubah praktik lama dalam pencegahan alergi (Cegah Terjadinya Alergi Pada Bayi), yaitu menunda pemberian makanan alergenik, dan menganjurkan untuk memberikan si Kecil makanan secara bebas. Menurutnya, si Kecil akan toleran terhadap makanan tersebut. Dalam editorial tersebut, Dr. Wong menyatakan, “Feed your children, and hope that they will EAT.”

 

Pencegahan Primer Untuk si Kecil yang Alergi

Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2015 telah mengeluarkan panduan pencegahan primer alergi dan merekomendasikan:

  1. Pemberian ASI eksklusif hingga si Kecil berusia 6 bulan, bermanfaat untuk pencegahan penyakit alergi.
  2. Jika si Kecil sudah didiagnosis alergi oleh dokter, berikan ia formula hidrolisat parsial atau ekstensif sampai usia 4-6 bulan untuk memberikan efek pencegahan terhadap dermatitis atopik, tetapi tidak pada asma.
  3. Pemberian makanan padat untuk si Kecil dapat mulai saat ia berusia 6 bulan secara bertahap sesuai usianya.
  4. Restriksi diet terhadap makanan tertentu tidak diperlukan untuk pencegahan penyakit alergi.

Cari tahu lebih dalam mengenai formula terhidrolisa parsial 

  • Du Toit G, Katz Y, Sasieni P, et al. Early consumption of peanuts in infancy is associated with a low prevalence of peanut allergy. J Allergy Clin Immunol. 2008;122:984-991.
  • Du Toit G, Roberts G, Sayre PH, et al. Randomized trial of peanut consumption in infants at risk for peanut allergy. N Engl J Med 2015; 372: 803-13.
  • Fleischer DM, Sicherer S, Greenhawt M, dkk. Consensus communication on early peanut introduction and the prevention of peanut allergy in high-risk infants. J Allergy Clin Immunol 2015; 136: 258-61.
  • National Institute of Allergy and Infectious Diseases. Guidelines for Clinicians and Patients for Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Last updated April 18, 2016.
  • Perkin MR, Logan K, Tseng A, et al. Randomized trial of introduction of allergenic foods in breast-fed infants. N Engl J Med 2016; 374:1733-43.
  • Sumardiono, Muktiari D, Setiabudiawan B, dkk. Unit Kerja Koordinasi Alergi Imunologi, IDAI. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tentang Pencegahan Primer Alergi. 2015.
  • Wong GW. Preventing food allergy in infancy—early consumption or avoidance? N Engl J Med. 2016;374:1783-1784.