Loading...

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

burger menu
5 Cara Melatih Mental Anak Usia Dini agar Tumbuh Mandiri dan Berani

Stimulasi

5 Cara Melatih Mental Anak Usia Dini agar Tumbuh Mandiri dan Berani

Article By : Febriyani Suryaningrum

Bagi anak, dunia dan lingkungan sekitarnya menawarkan segala sesuatu yang baru setiap harinya untuk dilihat dan dipelajari. Nah, untuk menghadapi dunia yang sering berubah arah tanpa aba-aba, Mama perlu mendidik anak dengan cara yang tepat sehingga ia memiliki mental yang tangguh sehingga ia tumbuh menjadi anak yang resilien dan pintar beradaptasi.

Lantas, bagaimana cara melatih mental anak usia dini agar dapat tumbuh jadi mandiri dan berani? Mama dapat menemukan jawabannya pada artikel di bawah ini!

Cara Melatih Mental Anak agar Mandiri dan Berani

Anak dengan mental tangguh bukan berarti ia tidak pernah sedih dan dapat menyimpan segala gejolak emosinya di dalam diri. Mental yang tangguh juga bukan berarti anak harus selalu menunjukkan sikap defensif dan agresif terhadap hal-hal yang dianggap mengancam prinsip serta keinginannya. 

Sebaliknya, anak yang bermental tangguh lebih mudah beradaptasi, mampu mengakui dan mengolah emosi yang dirasakan, memiliki keberanian serta kepercayaan diri untuk mencapai potensi penuh mereka. 

Berikut cara melatih mental anak usia dini agar ia memiliki kepribadian tangguh dan siap menjadi pemenang di masa depan: 

1. Latih si Kecil Menentukan Pilihan 

Cara melatih mental tangguh yang pertama adalah dengan membiarkan si Kecil untuk menentukan pilihan sendiri. Dengan membiarkan si Kecil menentukan pilihan, Mama membantunya memiliki “sense of power and control” atas suatu situasi dalam hidupnya. 

Dengan terekspos pada “sense of power and control” rasa percaya diri si Kecil akan meningkat. Sehingga, di dalam kehidupannya kelak ia dapat mengambil berbagai keputusan penting dengan lebih logis, mandiri, dan berani. 

Mama dapat mulai memberikan kesempatan pada si Kecil untuk menentukan pilihan dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. 

Kunci sukses dari cara satu ini adalah pastikan Mama menyediakan 2-3 pilihan yang apa pun jawabannya dapat ditoleransi oleh aturan dan norma yang berlaku serta memiliki batasan yang jelas. Contohnya:

  • Kita mau jalan-jalan ke mall, Adik mau memakai sepatu warna merah atau biru?

  • Mana yang Adik lebih suka, mandi bersama mainan bebek atau lumba-lumba?

  • Adik mau sarapan sereal, roti isi coklat, atau telur dadar? 

  • Mainan apa yang ingin Adik berikan untuk Alisha? Boneka beruang atau boneka Barbie?

Baca juga: Mendidik Anak Siap Menghadapi Era VUCA

2. Ajarkan Keterampilan Sosial

Salah satu alasan si Kecil menjadi pribadi yang mudah malu dan takut adalah ia tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain. 

Untuk mengurangi stranger anxiety, penting bagi Mama mengajarkan si Kecil cara bersosialisasi yang baik agar si Kecil lebih berani untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Caranya adalah:

  • Membuat bonding yang baik dengan si Kecil. Ketika anak memiliki ikatan yang baik dengan pengasuh utama, yang biasanya adalah Mama, ia akan memiliki attachment alias kedekatan yang baik.

  • Kedekatan yang baik dengan pengasuh utama akan menimbulkan rasa aman dan nyaman pada anak saat harus berinteraksi dengan orang baru.

  • Mempertahankan kontak fisik pada anak dengan menggandeng tangan atau memangku si Kecil saat bertemu dengan orang baru. 

  • Sapa orang baru dengan hangat sebagai contoh nyata dan baik cara berinteraksi dengan orang baru.  

  • Jika si Kecil memiliki “lovey” seperti mainan favorit atau selimut lembut, biarkan si Kecil membawa benda tersebut untuk memberikan rasa familiar, aman, serta nyaman saat berada di tempat baru dan bertemu orang baru. 

  • Apabila memungkinkan, pertemukan anak dengan orang baru di tempat yang familiar. Untuk itu, Mama bisa menjadwalkan playdate dengan mengundang teman yang memiliki anak sebaya ke rumah atau kids cafe yang sering dikunjungi si Kecil. 

  • Beri intro pada anak bahwa hari ini ia akan bertemu dengan teman baru atau orang baru lainnya. 

  • Motivasi anak untuk melakukan interaksi sosial di tempat umum seperti menyerahkan kartu kredit untuk membayar di kasir atau memberikan hadiah yang ia pilih sendiri untuk teman barunya. 

3. Bantu si Kecil untuk Mengelola Emosi dengan Sehat

Tidak seperti orang dewasa, umumnya anak-anak masih kesulitan dalam mengenali emosi apa yang sedang mereka rasakan.

Oleh karena itu, anak-anak di usia dini masih suka tantrum atau rewel ketika mengalami suatu perubahan yang membuatnya tidak nyaman.

Contohnya, saat ia tidak bisa mendapatkan mainan yang diinginkan saat mengunjungi supermarket bersama Mama. Anak yang belum bisa mengenali dan mengekspresikan perasaannya biasanya akan merasa frustasi dan berakhir dengan tantrum. 

Itu kenapa si Kecil akan butuh banyak dukungan dari Mama dan Papa sampai mereka dapat mengenali dan mengekspresikan perasaannya dengan cara yang sehat.

Anak yang sudah mampu mengenali dan mengekspresikan perasaannya akan lebih terampil membawa diri dan dapat beradaptasi dengan lebih baik. 

Mama dapat membantu anak untuk dapat mengenali perasaannya dengan memberikan “label” terhadap apa yang ia rasakan juga terhadap ekspresi wajah tertentu. Misalnya:

  • Tanyakan bagaimana perasaan anak hari ini dengan memperhatikan ekspresi muka si Kecil. Ketika ekspresi anak muram Mama bisa menginisiasi percakapan dengan pertanyaan seperti, “Sepertinya Adik sedang sedih, ada apa? Apakah mainan adik rusak?”

  • Mengenalkan berbagai macam emosi saat membacakan buku cerita pada anak dengan menunjukkan gambar ekspresi wajah tokoh-tokoh dalam dongeng sambil menyebutkan nama emosinya. 

  • Memberi label dan membantu anak mendefinisikan emosinya apabila ia terlihat tidak memahami apa yang sedang ia rasakan. Misalnya saat anak mengantri beli es krim namun toko tampak akan segera tutup dan ia menunjukkan kegelisahan. Untuk menghadapi situasi ini Mama bisa mengatakan, “Adik takut tidak bisa mendapatkan es krim karena toko sudah mau tutup padahal antrian masih panjang, ya? Adik tahu tidak kalau perasaan yang sedang adik alami sekarang namanya gelisah?”. “Supaya adik tidak gelisah lagi, yuk bertanya ke kakak yang berjualan jam berapa toko es krim akan tutup. Kalau akan segera tutup, ayo kita cari toko es krim lain.”

Ketika si Kecil tampak sedang mengalami emosi yang kuat, bantu anak untuk menenangkan diri dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Jika anak sudah lebih tenang, perlahan ajak anak untuk mencari solusi dari masalahnya. 

Jika si Kecil sudah terbiasa melakukan hal tersebut, ia akan memiliki pola pikir yang lebih fleksibel dan berkepala dingin dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi, baik saat ini maupun di masa depan. 

Nah, hal tersebut juga akan menambah rasa percaya diri dan berani pada anak. Ia percaya bahwa apapun masalahnya mereka memiliki rasa “It’s okay, aku bisa kok menghadapi ini!”

Baca juga: Cara Mendidik Anak yang Baik Usia 3 Tahun dan Stimulasinya

4. Ajari Cara Menghadapi Kegagalan

Mulai dari gagal menyusun tower dari balok, belum berhasil menggunting dengan rapi, atau kalah saat bermain board game dengan teman, kegagalan selalu terasa tidak menyenangkan. Terlebih lagi bagi anak-anak. 

Nah, orang tua memiliki peran yang sangat penting untuk membantu anak menghadapi kegagalan. Sehingga, anak memahami konsep bahwa kegagalan bukan hal yang buruk dan memalukan. Semua orang dapat mengalami kegagalan. 

Untuk melatih anak dalam menghadapi kegagalan secara positif, Mama dapat: 

Biarkan anak melakukan kesalahan - Kegagalan dan kesalahan adalah proses alami yang dialami manusia ketika mempelajari hal-hal baru. Jadi, berikan ruang aman bagi anak untuk melakukan kesalahan dan berikan tanggapan yang positif. 

Contohnya ketika anak masih belajar minum sendiri dan tanpa sengaja menumpahkan segelas susu. Alih-alih memarahi si Kecil, Mama dapat mengatakan.

“Wah susunya tumpah ya, tidak apa-apa. Bagaimana ya cara membersihkan susu yang tumpah? Ah benar, pakai lap meja ya. Ini lap mejanya Nak, ayo kita bersihkan bersama!” 

Setelah itu, Mama dapat membiarkan si Kecil membersihkan tumpahan susu walaupun berantakan dan tidak sempurna. 

Jangan memotong atau mengganggu proses berpikir anak untuk menangani kesalahan yang ia lakukan, ya. Jangan pula terburu-buru untuk mengambil alih tindakannya dengan cara Mama sendiri. Biarkanlah ia berproses supaya rasa percaya dirinya dapat tumbuh sehingga di lain waktu ia berani mencoba kembali. 

Membiarkan anak melakukan kesalahan dan menanganinya juga merupakan proses anak dalam belajar menghadapi konsekuensi dan bertanggung jawab atas perbuatan. 

Menekankan pada anak bahwa proses lebih penting daripada hasil - Mama dapat mengajak si Kecil untuk membicarakan proses pencapaian sesuatu, misalkan menyusun rumah dari Lego. 

Mama dapat menanyakan hal apa saja yang menyenangkan dalam bermain Lego, hal apa saja yang ia tidak suka, apa bagian favoritnya, dan apa yang akan dilakukan supaya rumah Legonya dapat lebih bagus daripada yang sekarang.

Ajak anak untuk fokus pada pembangunan Lego dan perencanaan ke depan agar ia mendapatkan hasil yang lebih baik alih-alih membahas rumah Legonya yang gagal.

Melakukan kegiatan lain yang menyenangkan bersama - Setelah mengalami kegagalan, jangan langsung mengajak anak untuk mencoba kembali hal tersebut. Lakukan hal lain yang mereka sukai dan mereka kuasai untuk menaikkan kepercayaan diri si Kecil. 

Mengambil jeda akan membantu si Kecil dalam menyusun strategi dan memunculkan ide-ide baru untuk menghadapi permasalahan tersebut. 

5. Ajarkan Anak untuk Bersyukur

Menurut penelitian yang dirangkum dalam Journal of Happiness Studies, dinyatakan bahwa rasa bersyukur berhubungan erat dengan rasa bahagia pada anak berusia 5 tahun. 

Ma, pernyataan tersebut berarti, kemampuan untuk bersyukur sejak dini dapat membantu si Kecil untuk tumbuh sebagai orang dewasa yang bahagia dan optimis dalam menjalani kehidupan. 

Yah, walaupun kita tahu bahwa bersyukur merupakan konsep level tinggi yang cukup sulit untuk diajarkan kepada anak yang umumnya masih fokus pada keinginan dan sudut pandang mereka sendiri. 

Untuk itu, Mama perlu menerapkan rutinitas berikut ini untuk menumbuhkan rasa bersyukur pada anak: 

Membiasakan anak untuk mengucapkan terima kasih - Untuk membantu anak menumbuhkan rasa syukur, Mama dapat memotivasi anak untuk mengucapkan terima kasih disertai dengan alasan kenapa mereka berterima kasih atas suatu hal. 

Mama dapat menjadi role model utama bagi anak untuk melakukan hal ini, contohnya berterima kasih pada anak karena sudah membereskan mainannya tanpa diingatkan atau berterima kasih karena tetangga sebelah memberi oleh-oleh. 

“Terima kasih ya, Adik sudah membereskan mainan tanpa harus Mama ingatkan.” 

“Terima kasih Tante Nita sudah membawakan oleh-oleh untuk kami sekeluarga. Kuenya terlihat sangat lezat.” 

“Ayo kita ucapkan terima kasih kepada Ayah karena sudah bekerja keras untuk mengajak Mama dan Adik liburan ke Bali.” (Contohkan cara berterima kasih pada Ayah dan biarkan si Kecil melakukannya.)

Mensyukuri apa yang terjadi hari ini - Mama dapat membiasakan anak untuk merefleksikan apa saja yang terjadi hari ini dan mensyukurinya. Obrolan ini dapat Mama lakukan saat makan malam bersama keluarga atau menjelang waktu tidur. 

Motivasi anak untuk mencari hal apa saja yang dapat disyukuri dengan memintanya menceritakan kegiatannya hari ini. Contohnya tadi pagi di taman ia mendapat teman baru yang sangat asyik diajak bermain. Ajak anak untuk mensyukuri hal tersebut. 

Mama dan Papa dapat menjadi role model utama bagi si Kecill untuk melakukan ini. Syukuri hal-hal kecil seperti kesehatan, teman baik, dan apa makanan yang tersaji di meja sepanjang hari. Contohnya: 

“Mama bersyukur sekali hari ini Pak Ali bersedia mengantar Mama ke rumah nenek. Jadi, Mama tidak kerepotan untuk bolak-balik membawa barang-barang titipan nenek.”

“Hari ini jalanan lancar, tidak macet seperti biasanya. Papa bersyukur tidak telat menghadiri meeting pagi.”

“Mama sangat bersyukur kita masih punya waktu untuk makan malam bersama Adik, Kakek, dan Papa.”

6. Ajarkan Anak Cara Mengapresiasi Orang Lain

Mama juga dapat menumbuhkan rasa bersyukur si Kecil dengan memberikan bantuan atau hadiah kepada orang lain. 

Ajak si Kecil untuk membantu melakukan pekerjaan rumah sederhana seperti menata piring atau membantu Oma sebelah rumah membawa belanjaan (walaupun nantinya si Kecil hanya menenteng sekarton susu atau sebungkus roti). 

Kemudian, Mama dapat mengajak anak memilih baju-baju yang sudah kekecilan atau mainan yang sudah tidak dipakai untuk diberikan kepada adik, teman, atau siapa pun yang lebih membutuhkan.

Aktivitas tersebut akan menumbuhkan moral kompas yang baik dan rasa empati pada diri si Kecil. Sehingga, mereka menyadari apa yang mereka miliki dan apa yang dapat mereka lakukan merupakan hal yang sangat berarti karena dapat memberikan rasa bahagia pada orang lain.  

Baca Juga: Cara Mendidik Anak agar Cerdas Sejak Bayi dan Nutrisi Otak Pendukungnya

Itulah 6 cara melatih mental anak usia dini agar ia tangguh, mandiri, dan berani. Alhasil, si Kecil tumbuh menjadi anak Resilient, dimana ia dapat bangkit kembali setelah menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan seperti melakukan kesalahan di depan umum, kalah dalam perlombaan, gagal dalam mencoba hal baru, dan lain sebagainya.

Untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil agar optimal secara fisik dan mental, Mama harus memberikan nutrisi yang seimbang agar si Kecil bisa sehat, aktif, dan berdaya pikir cemerlang. 

Salah satu pilihan terbaik untuk melengkapi kebutuhan nutrisi si Kecil adalah dengan memberikan susu Nutrilon Royal 3 yang telah difortifikasi dengan 9 vitamin dan 12 mineral penting sebanyak tiga kali sehari untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil. 

Tak hanya itu, susu Nutrilon juga dilengkapi dengan Omega 3 & 6 serta zat besi dan DHA, juga  formula ACTIDUOBIO+ (perpaduan FOS:GOS rasio 1:9) untuk bantu mendukung tumbuh kembang anak dengan dukungan nutrisi dan stimulasi yang tepat. 

Yuk, Ma, daftar sekarang di MyNutriclub untuk dapatkan penawaran dan promo menarik seputar susu Nutrilon. Mama juga bisa dapatkan konten-konten digital eksklusif seperti Podcast, Parenting E-book, hingga Kulwap yang dimoderatori oleh ahli di bidangnya untuk mendukung si Kecil tumbuh besar menjadi pemenang!

 

 

Referensi tambahan: 

  1. “Giving Children Choices (Better Kid Care).” Better Kid Care (Penn State Extension), 2019, extension.psu.edu/programs/betterkidcare/early-care/tip-pages/all/giving-children-choices#:~:text=Giving%20children%20choices%20helps%20them,to%20do%20all%20the%20planning.. Accessed 6 Jan. 2023.

  2. Elaine. “What to Do If Baby Has a Fear of Strangers - Pathways.org.” Pathways.org, 4 Mar. 2022, pathways.org/fear-of-strangers/. Accessed 6 Jan. 2023.

  3. “Talking with Preschoolers about Emotions (Better Kid Care).” Better Kid Care (Penn State Extension), 2019, extension.psu.edu/programs/betterkidcare/early-care/tip-pages/all/talking-with-preschoolers-about-emotions. Accessed 6  Jan. 2023.

  4. “Allowing Your Child to Make Mistakes.” Aidtolife.org, 2023, aidtolife.org/discipline/making-mistakes. Accessed 6 Jan. 2023.

  5. https://www.facebook.com/verywell. “How Should You React When Your Child Makes a Mistake?” Verywell Family, 2016, www.verywellfamily.com/what-to-do-when-your-child-makes-a-mistake-4050012. Accessed 6 Jan. 2023.‌

  6. Nguyen, Simone P., and Cameron L. Gordon. “The Relationship between Gratitude and Happiness in Young Children.” Journal of Happiness Studies, vol. 21, no. 8, 11 Nov. 2019, pp. 2773–2787, link.springer.com/article/10.1007/s10902-019-00188-6, 10.1007/s10902-019-00188-6. Accessed 6 Jan. 2023.

  7. “Raising Grateful Children | Andrea Hussong.” Unc.edu, 2018, hussong.web.unc.edu/drrl/rgc/. Accessed 6 Jan. 2023.

  8. “5 Ways to Teach Children Gratitude.” Uofmhealth.org, 2021, healthblog.uofmhealth.org/childrens-health/5-ways-to-teach-children-gratitude. Accessed 6 Jan. 2023.

comment-icon comment-icon