taboola Batuk Alergi pada Anak - Nutriclub - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Batuk Alergi pada Anak

Penyakit alergi hanya diderita anak yang memiliki potensi alergi, yang disebut atopik. (dr. Zakiudin Munasir, SpA(K))

Batuk yang dialami si Kecil dalam jangka waktu lama dan berulang sering kali mengganggu aktivitas dan pola tidurnya. Salah satu penyebab batuk tersebut adalah alergi. Kami dari Tim Ahli Nutriclub akan menjelaskan kepada Ibu tentang batuk alergi. 

Proses Terjadinya Alergi

Alergi terjadi saat sistem imunitas tubuh bereaksi terhadap benda asing, yang bagi orang lain mungkin tidak berbahaya. Saat benda asing masuk ke dalam tubuh, tubuh memproduksi antibodi agar benda asing tersebut tidak menyebabkan penyakit. Pada orang yang alergi, antibodi diproduksi meski benda asing itu tidak berbahaya. Saat terjadi kontak dengan alergen (bahan yang menyebabkan alergi), tubuh bereaksi dengan membuat kulit meradang, juga menimbulkan gangguan sinus, pernapasan, atau pencernaan.

Alergi disebabkan oleh respon tubuh terhadap suatu substansi yang secara umum tidak berbahaya. Misalnya, serbuk sari, tungau debu, spora jamur, kacang, telur, susu, kedelai, gandum, gigitan lebah, obat-obatan, dan lain-lain. Sistem imunitas tubuh merespon dengan membentuk antibodi yang akan tetap siaga jika Si Kecil mengalami kontak lagi dengan alergen tersebut. Saat hal itu terjadi, bahan kimia histamin terbentuk dalam tubuh, sehingga menimbulkan reaksi alergi.

Jenis Batuk

Terdapat dua macam batuk pada si Kecil, yaitu batuk akut dan batuk kronik. Batuk akut terjadi selama kurang dari dua minggu, sedangkan batuk kronik terjadi selama lebih dari dua minggu. Batuk akut bisa disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan atas atau common cold. Si Kecil dapat terkena common cold hingga 8 kali sepanjang tahun, dan lamanya bisa mencapai 10 hari. Batuk akut juga bisa disebabkan oleh benda asing yang tertelan. Sedangkan, batuk kronik bisa disebabkan oleh asma, rhinosinusitis, GERD, infeksi bakteri pada saluran napas bawah, paska infeksi virus, dan batuk iritasi.

Batuk alergi pada si Kecil merupakan batuk yang timbul akibat paparan dengan kandungan alergen. Batuk jenis ini biasanya bersifat kronis dan berulang. Sering kali, Ibu tidak menyadari bahwa penyebab batuk berulang pada si Kecil adalah karena alergi, sehingga si Kecil dikira menderita batuk pilek biasa.

Ketika si Kecil terpapar alergen yang menyebabkan batuk akibat reaksi alergi, saluran napasnya jadi menyempit, kemudian lendir yang dihasilkan menjadi berlebihan, dan terjadi pembengkakan saluran napas. Batuk merupakan suatu reaksi tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari dalam saluran napas. Jadi, ketika saluran napas terpapar bahan alergen, reaksi tubuh adalah batuk. Alergen yang dapat memicu batuk alergi di antaranya adalah makanan, tungau debu rumah, asap rokok, udara dingin, spora jamur, dan lain-lain.

Did you know?

”Alergi pada saluran pernapasan si Kecil dapat menimbulkan gejala seperti sesak napas berulang, batuk pilek berulang, napas berbunyi, bersin-bersin, gatal pada hidung, atau hidung tersumbat. Ketahui selengkapnya di sini.“

LIHAT LENGKAP

Asma Bronkial

Batuk dalam waktu lama dan berulang pada si Kecil sering juga dikaitkan dengan kemungkinan asma bronkial, atau yang biasa disebut asma. Seperti yang telah diketahui, penyakit asma merupakan penyakit atopi yang berhubungan dengan alergi. Gejala asma pada si Kecil bisa berupa batuk saja, tanpa sesak napas.

Gejala dan tanda asma bisa berupa riwayat sesak napas yang hilang timbul, mengi (suara seperti siulan ketika membuang napas), rasa tertekan di dada, adanya variasi musiman, dan adanya riwayat atopi pada keluarga. Kemudian, asma ditandai dengan mengi berulang, batuk pada malam hari, mengi atau batuk setelah beraktivitas, mengi atau batuk setelah terpapar alergen udara atau polutan, menderita common cold sampai dada terasa tertekan atau memerlukan waktu lebih dari 10 hari untuk sembuh, dan gejala yang membaik setelah pemberian obat asma. Yang perlu dipertimbangkan sebagai kemungkinan asma adalah anak yang menunjukkan batuk sebagai satu-satunya tanda, dan tidak disertai sesak napas dan mengi.

Ibu sebaiknya segera membawa si Kecil ke dokter jika terdapat tanda-tanda kegawatdaruratan asma seperti:

- Sesak napas atau mengi yang memberat dengan cepat

- Tidak ada perbaikan setelah menggunakan obat asma inhaler

- Sesak napas ketika melakukan aktivitas ringan

- Si Kecil duduk dengan posisi menunduk ke depan bertopang lengan karena sesak napas

- Bicara hanya mampu kata per kata

- Rewel karena sesak napas

- Ada rona kebiruan pada sekitar mulut dan/atau ujung jari

Rhinitis Alergi, Sinusitis, dan Batuk Alergi

Rhinitis dan sinusitis dapat disebabkan oleh alergi.Post-nasal dripatau aliran dahak dari hidung atau sinus ke tenggorokan yang terjadi pada rhinitis maupun sinusitis dapat menyebabkan batuk kronik. Biasanya, muncul gejala-gejala lain seperti bersin-bersin, hidung tersumbat, dan nyeri kepala. Tetapi, kadang satu-satunya gejala yang disadari hanya batuk.

Membedakan Batuk Alergi dengan Tuberkulosis Paru

Batuk kronik berulang bisa juga disebabkan oleh penyakit tuberkulosis paru. Hal yang membedakannya dengan batuk alergi adalah, batuk pada tuberkulosis paru disertai adanya kontak dengan orang dewasa penderita tuberkulosis paru. Selain itu, bisa juga ditemukan adanya penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau berat badan tidak naik dalam 1-3 bulan dengan penanganan gizi yang baik, tidak nafsu makan, demam dalam waktu lama atau hilang timbul tanpa sebab yang jelas, berkeringat pada malam hari, batuk lebih dari 3 minggu, serta adanya pembesaran kelenjar limfe permukaan yang jumlahnya lebih dari satu dan tidak terasa nyeri.

Hindari Pencetusnya

Batuk alergi hanya dapat disembuhkan dengan menghindari pencetusnya. Maka, sebaiknya Ibu menjauhkan si Kecil dari kemungkinan paparan berbagai bahan alergen. Berikut ini beberapa hal yang dapat Ibu lakukan agar si Kecil terhindar dari batuk alergi:

- Minimalisir debu yang dapat menimbulkan batuk alergi. Misalnya, dengan rutin mengganti sprei dan sarung bantal, mencuci gorden, tidak menggunakan karpet, dan menjauhkan si Kecil dari boneka berbulu dan bulu binatang.

- Bersihkan daerah-daerah lembap di dapur dan kamar mandi untuk menghindari tumbuhnya spora jamur.

- Bersihkan rumah secara teratur.

- Pakaikan masker pada si Kecil jika ia keluar rumah dalam keadaan cuaca dingin, atau banyak asap polusi dan debu.

Sumber:

comment-icon