Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Apakah Si Kecil Memiliki Risiko Alergi?

Alergi adalah reaksi simpang yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat atau benda yang sebenarnya tidak berbahaya. Seseorang lebih berisiko terkena alergi jika ia memiliki orang tua atau saudara kandung yang juga memiliki penyakit alergi.

Sistem kekebalan tubuh berfungsi sebagai perisai yang melindungi tubuh dari penyakit, terutama penyakit infeksi. Normalnya, sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat atau mikroorganisme berbahaya, seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur, lalu melawannya agar tidak menyebabkan penyakit.

Namun, penderita alergi memiliki sistem kekebalan tubuh yang terlalu sensitif, sehingga bereaksi terhadap zat atau benda yang pada dasarnya tidak berbahaya bagi tubuh.

Faktor pemicu alergi (alergen) bisa berbeda-beda pada tiap penderita, mulai dari makanan, obat, debu, bulu hewan, sengatan atau gigitan serangga, hingga cuaca atau suhu tertentu.

Orang yang memiliki penyakit alergi dapat mengalami gejala berupa kulit merah, gatal, dan bengkak, pilek, batuk, diare, hingga sesak napas, ketika tubuhnya terpapar alergen.

Alergi merupakan masalah kesehatan yang semakin banyak terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Meski dapat diderita oleh siapa saja, kondisi ini lebih banyak dialami oleh bayi dan anak-anak.

Berapa Besar Kemungkinan Anak Memiliki Alergi?

Tidak ada anak yang sama sekali tidak memiliki risiko alergi. Pada dasarnya, tiap anak memiliki peluang menderita alergi, hanya saja tidak tinggi, yaitu 5-15 %. Namun, angka tersebut akan semakin tinggi bila ia memiliki faktor risiko alergi, seperti menderita penyakit infeksi, tinggal di lingkungan yang kotor, atau sering terpapar debu dan polusi. Jika Si Kecil memiliki salah satu atau bahkan seluruh faktor tersebut, maka Mama dan Papa sebaiknya waspada dan rutin memeriksakan kondisi kesehatannya.

Selain beberapa faktor risiko di atas, seorang anak juga berisiko tinggi mengidap alergi jika ada anggota keluarga, baik itu kakak, Mama, maupun Papa, yang memiliki riwayat alergi. Tingginya risiko yang ada tergantung siapa anggota keluarga yang menderita alergi. Berikut penjelasannya:

  • Jika yang menderita alergi adalah saudara kandung, besarnya risiko anak terkena alergi adalah 25-35%.

  • Jika salah satu dari Mama atau Papa yang menderita alergi, maka peluang Si Kecil memiliki alergi sekitar 20-30%.

  • Jika Mama dan Papa sama-sama menderita alergi, maka kemungkinan Si Kecil untuk memiliki alergi berkisar 40-60%. Angka ini bisa mencapai 60-80% bila kedua orang tua juga memiliki penyakit atopik, seperti asma, eksim, dan rhinitis alergi.

Kendati kondisi ini bersifat keturunan, bukan berarti Si Kecil pasti memiliki alergi terhadap zat pemicu atau alergen yang sama dengan Mama atau Papa. Bisa saja ia memiliki alergi terhadap benda atau zat lain yang tidak menimbulkan reaksi alergi baik pada Mama maupun Papa.

Satu hal lagi yang perlu diingat, alergi yang dimiliki Mama atau Papa hanya akan meningkatkan risiko Si Kecil untuk menderita alergi, bukannya pasti menyebabkan ia alergi. Banyak juga anak-anak yang tidak memiliki alergi meskipun kedua orang tuanya menderita penyakit alergi.

Bagaimana Pengaruh Faktor Genetik Terhadap Alergi?

Penyebab pasti penyakit alergi sebetulnya belum diketahui terlalu jelas. Namun, genetik merupakan salah satu faktor yang berperan cukup besar dalam kemunculan penyakit ini. Berikut adalah penjelasannya:

Pembentukan antibodi berlebihan

Pada kondisi normal, sistem imun atau kekebalan tubuh hanya akan melepaskan antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE) saat tubuh terpapar zat atau mikroorganisme berbahaya, seperti racun, bakteri, parasit, atau virus.

Antibodi ini kemudian memicu sel darah putih untuk melepaskan sejumlah zat ke aliran darah, yang salah satunya adalah histamin. Tujuan reaksi tersebut adalah untuk membasmi zat atau kuman berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Di saat yang bersamaan, zat histamin ini akan menimbulkan reaksi alergi.

Ketika gen alergi dari orang tua diturunkan ke anak, dapat muncul kelainan pada fungsi sistem kekebalan tubuhnya. Kelainan tersebut dapat berupa produksi IgE yang terlalu banyak, sehingga sistem kekekebalan tubuh Si Kecil menjadi terlalu sensitif dan bereaksi berlebihan terhadap zat atau benda yang sebenarnya tidak berbahaya.

Sistem Kekebalan Tubuh Sulit Mengenal Zat yang Berbahaya dan Tidak

Salah satu teori mengemukakan bahwa faktor genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anak dapat membuat sistem kekebalan tubuh anak sulit membedakan mana zat yang berbahaya dan mana yang tidak.

Akibatnya, saat tubuh anak terpapar zat atau benda tertentu, sistem kekebalan tubuhnya akan menganggap zat tersebut sebagai alergen. Kondisi ini membuat anak mudah mengalami reaksi alergi.

Walau lebih sering terjadi pada anak-anak yang orang tuanya menderita alergi, penyakit alergi juga bisa terjadi pada anak yang tidak memiliki riwayat alergi di keluarganya.

Alergi memang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, penanganan perlu dilakukan untuk meringankan gejala dan mencegah munculnya komplikasi serius, seperti reaksi alergi berat atau anafilaksis yang bisa berakibat fatal.

Yuk cegah alergi si Kecil dengan mencari tahu besar resikonya terlebih dahulu menggunakan Allergy Risk Screener. Setelah itu, bawa hasilnya ke dokter anak untuk mengetahui tindakan pencegahan yang tepat.

Semakin dini risiko alergi dan faktor pemicunya diketahui, maka pencegahan dan penanganannya bisa semakin cepat dilakukan. Dengan begitu, penyakit alergi yang diderita oleh anak tidak berkembang semakin parah atau menimbulkan komplikasi berbahaya.

facebook-logo twitter-logo

Referensi : 
Sutton, et al. (2019). IgE Antibodies: From Structure to Function and Clinical Translation. Antibodies (Basel, Switzerland). 8(1), pp. 19. Vaillant, A. & Jan, A. NCBI Bookshelf (2019). Atopy. 
Comberiati, et al. (2015). Diagnosis and Treatment of Pediatric Food Allergy: An Update. Italian Journal of Pediatrics. 41 (13), pp. 4549. 
Ortiz, R.A. & Barnes, K.C. (2015). Genetics of Allergic Diseases. Immunology and Allergy Clinics of North America. 35(1), pp. 19–44. 
Endaryanto, A. Ikatan Dokter Anak Indonesia (2015). Apakah Alergi Anak Bisa Sembuh. 
Ikatan Dokter Anak Indonesia (2014). Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pencegahan Primer Alergi. 
American Academy of Allergy Asthma & Immunology. Allergies. American Academy of Allergy Asthma & Immunology. Allergic Reactions. American Lung Association (2019). Asthma Risk Factors.
KidsHealth, Nemours (2016). For Parents. All About Allergies.
National Health Service UK (2018). Health A to Z. Allergies - Overview.
Henochowicz, S.I. National Institutes of Health (2019). U.S. National Library of Medicine MedlinePlus. Allergic Reactions.
Mayo Clinic (2018). Diseases & Conditions. Allergies.
Hall, K. Everyday Health (2018). Allergies 101: Eveything You Need to Know About Triggers, Diagnosis, and Treatment.
Scott, J.A. Everyday Health (2014). Allergies and Your Genes.
Krans, B. & Holland, K. Healthline (2018). Everything You Need to Know About Allergies.
Delves, P.J. MSD Manual Consumer Version (2019). Overview of Allergic Reactions. WebMD (2019). Allergy Statistics and Facts.
WebMD (2018). Are Allergies in Your Genes?