Kenali Penyebabnya dan Cegah Resiko Infeksi Usus pada Anak - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Kenali Penyebabnya dan Cegah Resiko Infeksi Usus pada Anak

Infeksi usus merupakan salah satu infeksi yang paling sering terjadi pada anak-anak. Meski umumnya tidak berbahaya, infeksi usus pada anak merupakan penyakit paling umum dan penyebab kematian tersering pada balita. Apabila tidak ditangani dengan tepat infeksi usus dapat membahayakan si kecil.

         Penyebab infeksi usus dapat berasal dari virus, bakteri, atau parasit. Dari ketiga penyebab tersebut, penyebab tersering adalah infeksi akibat virus. Biasanya anak tertular infeksi usus lewat mulut, baik itu lewat makanan atau minuman yang tercemar kotoran atau tidak dimasak dengan matang, atau dari kotoran di lingkungan yang masuk mulut anak, misalnya dari tangan yang kotor.2

         Gejala infeksi usus anak sangat bervariasi karena patogen penyebabnya juga sangat beragam, dengan kesamaan yaitu adanya gejala di saluran pencernaan. Gejala tersering adalah diare, mual, muntah, dan sakit perut. Tergantung dari kuman penyebab persis infeksi tersebut, dapat terdapat gejala-gejala lain, diantaranya demam, lemas, berkurangnya nafsu makan, nyeri badan, intoleransi laktosa, diare berdarah atau berlendir. Beberapa bakteri bahkan dapat menyebabkan gejala sistem saraf seperti pandangan kabur dan kelemahan otot.2 Pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia, penyebab tersering diare adalah rotavirus, calicivirus, dan bakteri E. coli. Ketiga patogen ini merupakan penyebab dari lebih dari lima puluh persen kasus infeksi virus.3

Did you know?

“Jaga kesehatan pencernaan si kecil dari resiko infeksi usus pada anak dengan mengantisipasi penyebab dan ketahui cara pencegahannya.”

dr. Fidelis Jacklyn Adella

         Kebanyakan kasus infeksi usus dapat sembuh sendiri dalam waktu lima sampai tujuh hari dan kebanyakan bukan merupakan kasus yang memerlukan antibiotik. Namun, diare dan mual-muntah, dan gejala yang sering menjadi manifestasi infeksi usus, dapat menyebabkan komplikasi berupa dehidrasi. Dehidrasi dan hilangnya elektrolit dari tubuh disebabkan karena elektrolit tersebut ikut keluar bersama cairan dalam diare. Bila tidak ditangani dengan cepat, ketidakcukupan cairan dalam tubuh dapat mengakibatkan gagalnya suplai darah ke organ-organ hingga mengakibatkan kematian.2 Dehidrasi merupakan penyebab langsung tersering kematian akibat infeksi usus. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengawasi adanya tanda-tanda dehidrasi pada anak serta cara mencegah dan menangani dehidrasi.

Penanganan Infeksi Usus

         Rehidrasi merupakan kunci penanganan infeksi usus. Berikan minum berupa ASI atau susu/cairan lain (pada anak yang tidak ASI eksklusif) lebih sering. Pada prinsipnya, cairan yang keluar dari tubuh, baik dari muntah maupun diare harus digantikan. Berikan oralit sebanyak 50-100 cc pada anak usia di bawah satu tahun atau 100-200 cc pada anak usia di atas satu tahun yang mengalami diare tanpa tanda dehidrasi. Jumlah tersebut diberikan setiap kali anak BAB cair.4 Oralit baik diberikan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang karena komposisinya yang mirip dengan cairan tubuh. Saat ini oralit dapat dengan mudah ditemukan di apotek.

         Dehidrasi ditandai dengan rasa haus, mata cekung, berkurangnya air mata, keringnya mulut, tangan dan kaki dingin, denyut jantung bertambah cepat, serta kulit yang tidak segera kembali bila dicubit. Pada dehidrasi yang berat, anak tampak lemah, sulit diajak berinteraksi, atau bahkan tidak sadar serta menolak minum air.2,4 Apabila anak Anda mengalami gejala-gejala dehidrasi tersebut, mengalami diare berdarah, demam, muntah berulang-ulang, gejalanya memburuk, atau gejala tidak membaik dalam waktu tiga hari, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat pertolongan segera dan direhidrasi secara cepat serta efektif.

         Bila anak Anda mengalami gejala infeksi usus, tetap berikan anak makanan seperti biasa. Nutrisi yang cukup akan membantu tubuh anak Anda melawan penyebab infeksinya.2 Selain itu, suplementasi zink disarankan oleh WHO, UNICEF, dan Kementerian Kesehatan untuk diberikan selama 10-14 hari kepada anak-anak yang menderita diare, sebanyak 20 mg (satu tablet) per hari untuk anak di atas usia enam bulan dan 10 mg (setengah tablet) per hari untuk anak usia di bawah enam bulan.2,4 Zink mengurangi lama dan beratnya diare, serta membantu mencegah kembalinya diare dengan cara meningkatkan penyerapan air dari usus, menyehatkan sel usus, meningkatkan jumlah enzim usus, dan meningkatkan respon imun.5 Probiotik juga baik diberikan karena membantu menambah bakteri baik usus sehingga mengurangi lamanya diare.2,6

Pencegahan Infeksi Usus

         Infeksi usus ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi atau dari lingkungan yang kotor. Tingkatkan kebersihan lingkungan anak dan biasakan anak untuk sering cuci tangan dengan sabun. Hal sederhana ini dapat mengurangi risiko kejadian infeksi usus sebesar 30-50%.7-8 ASI eksklusif hingga anak berusia enam bulan serta nutrisi yang baik juga mengurangi risiko diare. Hal ini karena ASI eksklusif pada bayi dan nutrisi yang baik secara umum meningkatkan imunitas pasif anak terhadap patogen.9

         Terakhir, kini di Indonesia telah tersedia vaksin untuk mencegah infeksi rotavirus sebagai salah satu penyebab infeksi usus tersering, meski ini tidak mencegah infeksi usus akibat patogen lainnya. Dosis pertama vaksin rotavirus diberikan pada saat bayi berusia enam hingga empat belas minggu. Konsultasikan kepada dokter anak mengenai pemberian vaksin rotavirus untuk anak Anda.

         Selain resiko infeksi usus pada anak, Ibu juga perlu tahu mengenai gangguan pencernaan pada anak yang lainnya. Dengan begitu, saluran cerna si kecil yang sehat diharapkan anak lebih terlindungi dari berbagai bakteri pathogen. Kesehatan saluran cerna mempunyai dampak positif pada tumbuh kembang anak pada umumnya.

 

Daftar Pustaka

  1. GBD 2013 Mortality and Causes of Death Collaborators. Global, regional, and national age–sex specific all-cause and cause-specific mortality for 240 causes of death, 1990–2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013. The Lancet. 2015;385(9963):117-171.

  2. Kliegman R, Schor N, St.Geme J, Behrman R. Nelson textbook of pediatrics. 19th ed. Elsevier Health Sciences; 2011.

  3. Lanata C, Fischer-Walker C, Olascoaga A, Torres C, Aryee M, Black R. Global Causes of Diarrheal Disease Mortality in Children <5 Years of Age: A Systematic Review. PLoS ONE. 2013;8(9):e72788.

  4. Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Buku Saku Lintas Diare Untuk Petugas Kesehatan. Jakarta; 2015.

  5. Thawani V, Bajait C. Role of zinc in pediatric diarrhea. Indian Journal of Pharmacology. 2011;43(3):232.

  6. Szajewska H, Guarino A, Hojsak I, Indrio F, Kolacek S, Shamir R et al. Use of Probiotics for Management of Acute Gastroenteritis. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2014;58(4):531-539.

  7. Ejemot-Nwadiaro R, Ehiri J, Arikpo D, Meremikwu M, Critchley J. Hand washing promotion for preventing diarrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews [Internet]. 2015 [cited 9 March 2018];. Available from: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/14651858.CD004265.pub3/full

  8. Cairncross S, Hunt C, Boisson S, Bostoen K, Curtis V, Fung I et al. Water, sanitation and hygiene for the prevention of diarrhoea. International Journal of Epidemiology. 2010;39(Supplement 1):i193-i205.

  9. Salim H, Karyana I, Sanjaya-Putra I, Budiarsa S, Soenarto Y. Risk factors of rotavirus diarrhea in hospitalized children in Sanglah Hospital, Denpasar: a prospective cohort study. BMC Gastroenterology. 2014;14(1).