Hamil Setelah Divonis Endometriosis - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Hamil Setelah Divonis Endometriosis

Hasil pemeriksaan dokter sangat tidak mudah diterima karena endometriosis itu muncul saat saya masih gadis dan belum menikah. Tiba-tiba saya mengalami menstruasi yang berkepanjangan selama 3 minggu lebih, seperti mengalami pendarahan. Karena saat itu saya belum menikah, pada mulanya dokter menyarankan supaya menjalani terapi suntik hormon sehingga endometriosis saya dapat diatasi tanpa operasi.

Saya menjalani terapi suntik hormon setiap bulan selama 10 bulan. Bersyukur, saya berhasil menuntaskan terapi 2 bulan lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Tentu saja selain terapi suntik hormon, syarat mutlak yang harus saya penuhi adalah melakukan pola hidup sehat. Mulai dari mengkonsumsi menu makanan yang sehat dan bergizi, misalnya menghentikan penggunaan penyedap rasa buatan (MSG/vetsin) dalam masakan dan meninggalkan junk food serta soft drink, istirahat yang cukup, rajin berolah raga, dan menghindari stres.

Terapi suntik hormon yang saya jalani relatif aman. Efek sampingnya berat badan melonjak tajam dan wajah saya dipenuhi jerawat. Mau tidak mau, saya harus disiplin melakukan senam aerobic dua hari sekali untuk menjaga keseimbangan berat badan, dan menjalani perawatan kulit wajah supaya jerawat tidak tumbuh semakin parah dan terjadi infeksi. Terbayang khan betapa repotnya? Tapi itu tidak masalah, yang penting saya bisa sehat dan hidup normal kembali.

Namun rupanya kelegaan saya tidak berlangsung lama. Endometriosis adalah penyakit yang bersifat kambuhan. Maka tak heran jika setahun kemudian kista itu muncul kembali. Untuk kali ini dokter tidak menyarankan saya untuk menjalani terapi hormon karena khawatir akan mempengaruhi kondisi rahim. Jika saya menjalani terapi ini untuk yang kedua kalinya, maka rahim akan kering dan beresiko mandul atau sangat sulit memiliki keturunan.

Tidak ada pilihan lain, dokter menyarankan saya untuk hamil. Perlu diketahui, penyebab munculnya kista endometriosis ini adalah adanya ketidakseimbangan hormon estrogen dalam tubuh. Sehingga sebagian dokter menyarankan kehamilan sebagai salah satu pengobatannya. Tapi bagaimana mungkin saya hamil kalau saat itu belum menikah. Ini bukanlah keputusan yang mudah. Saya ingin sehat kembali. Saya juga ingin menikah suatu hari nanti jika sudah siap dan tiba waktunya. Tetapi bukan menikah karena penyakit.

Saya sangat bersyukur karena seluruh keluarga sangat mendukung, begitu juga keluarga calon suami saya. Maka proses pengobatan dengan kehamilan pun dimulai sejak 6 bulan sebelum kami menikah. Untuk persiapan kehamilan tersebut, dokter memberi vitamin yang saya konsumsi secara rutin untuk memulihkan kondisi rahim dan keseimbangan hormon saya. Selain itu saya banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin E. Misalnya saja taoge dan kacang hijau. Pola hidup sehat harus terus dipertahankan. Olah raga pun tidak boleh ketinggalan. Aneh juga rasanya, saya sudah melakukan segala persiapan untuk hamil bahkan ketika saya belum menikah.

Setelah menikah ternyata saya tidak langsung hamil. Cemas juga rasanya. Saya dibayang-bayangi ketakutan infertilitas akibat kista endometriosis yang saya derita. Terapi persiapan kehamilan terus saya jalani dengan penuh harapan. Perkembangannya selalu dipantau oleh dokter setiap kali saya kontrol. Dalam setiap doa saya selalu memohon dengan spesifik, “Jika Tuhan berkenan, izinkan saya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki.”

Hingga akhirnya 4 bulan berikutnya, haid saya berhenti. Untuk memastikan, saya menunggu hingga bulan ke lima setelah menikah lalu pergi ke dokter untuk pemeriksaan. Saya dinyatakan positif hamil! Luar biasa senangnya! Bukan saja karena saya berhasil hamil sehingga proses pengobatan kista secara alami dapat dimulai, tetapi lebih dari itu karena Tuhan sudah mengaruniakan kesempatan untuk mengandung di tengah kondisi saya yang tidak normal.

Saya sangat bersyukur. Meskipun dokter telah memvonis saya menderita endometriosis pada tahun 2006, tapi saya diberi kesempatan untuk hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki tiga tahun kemudian medio 2009.

Vonis kista endometriosis dan bahaya infertilitas dapat menjadi momok bagi kaum wanita. Jangan putus asa, Tuhan punya obat paling mujarab. Bagian kita adalah terus berikhtiar menjaga kesehatan maupun mendapatkan pengobatan yang tepat. Semuanya memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin khan? Karena itu, bagi setiap wanita yang dikaruniai “keunikan” janganlah berkecil hati. Kesempatan baik selalu ada selama kita mau berserah pada Tuhan dan terus berusaha.

 

(Seperti yang diceritakan Ibu Santhi R, 30 tahun, kepada Lactamil Ibu Care)