taboola Gut Dysbiosis dan Risiko Alergi pada Anak : Survival Kit
For Professional Healthcare
Home
Webinar
Jurnal Online
Artikel
Produk
Kesehatan

Gut Dysbiosis dan Risiko Alergi pada Anak

Penyakit alergi dianggap sebagai beban pada populasi yang berbeda di dunia. Alergi memiliki prevalensi 10% pada bayi tanpa orangtua atau saudara dengan riwayat alergi, dan 20 - 30% pada mereka yang memiliki orangtua atau saudara kandung dengan riwayat alergi. Peneliti sekarang lebih memusatkan perhatian kepada mikrobiota usus sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya insiden alergi; pengaruhnya terhadap sensitisasi dan kemampuannya untuk memodulasi sistem imunologi dan inflamasi.4 Mikrobiota usus berperan penting dalam perkembangan sistem kekebalan tubuh dan menentukan kecenderungan inang respon imun. Penelitian tentang hubungan antara penyakit imunitas dan mikrobiota usus menunjukan perubahan pada bakteri komensal dapat menyebabkan perubahan sistem kekebalan tubuh yang mempengaruhi regulasi metabolisme inang, pematangan sistem kekebalan tubuh, dan pengembangan toleransi oral. Studi baru-baru ini mengemukakan faktor yang mengubah komposisi mikrobiota usus, yaitu metode persalinan, antibiotik, nutrisi, dan faktor sintetis lainnya.5

Dysbiosis mengacu pada perubahan dalam susunan dan fungsi mikrobiota sedemikian rupa sehingga mengganggu homeostasis dan berkontribusi terhadap penyakit. Semakin banyak bukti dari penelitian pada manusia bahwa dysbiosis berkaitan dengan patogenesis alergi makanan. Studi menunjukan bahwa mikrobiota usus berdampak kepada sistem imun dengan mempengaruhi metabolisme inang dan perubahan imunitas adaptif. 5

Metode persalinan merupakan salah satu penentu utama paparan dan kolonisasi pada awal kehidupan. Kelahiran melalui operasi caesar mengganggu pola normal kolonisasi mikroba; bayi tidak lagi terpapar mikroba vagina atau enterik ibu selama kelahiran. Bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar didominasi oleh bakteri yang didapatkan dari kulit, staff dan lingkungan rumah sakit, seperti Staphylococcus, Streptococcus, Corynebacterium, Veillonella, dan Propionibacterium.10 Perbedaan dalam paparan flora vagina atau flora intestinal ibu telah terbukti berhubungan dengan perubahan pada mikroflora usus neonatus dan pola respon sitokin neonatal yang selanjutnya dapat menyebabkan perubahan pada keseimbangan sel Th1 / Th2 dan risiko perkembangan atopi. Namun, studi epidemiologi masih menyelidiki apakah risiko mengembangkan alergi terkait dengan metode persalinan belum mendapat hasil yang konsisten.2

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mitselou et at. (2018) di Swedia, didapatkan bahwa alergi makanan yang diderita oleh anak berkaitan dengan kelahiran sesar (HR, 1.21; 95% CI, 1.18-1.25). Studi tersebut dilakukan dengan metode kohort follow-up hingga usia 13 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 1.09 juta bayi yang lahir secara sesar.9

Hasil penelitian dari Bager et al (2008), dalam 7 studi yang dilakukan pada anak kelahiran sesar juga dapat berdampak rinitis alergi (OR 1,23, 95% CI 1,12-1,35).8 Sedangkan, anak dengan riwayat keluarga atopi, kemungkinan sensitisasi atopik meningkat setidaknya dua kali lipat pada mereka yang dilahirkan oleh operasi sesar dibandingkan dengan mereka yang dilahirkan pervaginam (OR 2,62, CI: 1,38-5,00).2 Gejalanya adalah bersin, hidung berair atau tersumbat, mata merah dan berair, gatal-gatal, bengkak, sakit perut, mual, dan diare.3

Langkah-langkah nutrisi adalah kunci untuk meningkatkan kekebalan awal kehidupan dengan mempengaruhi sawar usus melalui penguatan mikrobiota usus dan toleransi imun. Untuk pencegahan alergi primer, hal yang disetujui adalah bayi harus disusui secara eksklusif dalam enam bulan pertama kehidupan. Air susu ibu (ASI) terdiri atas berbagai faktor yang mendukung mikrobioma usus, seperti sebagai oligosakarida dan bakteri menguntungkan. Tidak dianjurkan untuk melakukan pembatasan makanan pada saat kehamilan dan menyusui.1 ASI mengandung oligosakarida susu manusia yang merangsang pertumbuhan Bifidobacterium bifidum dan genus lactobacillus, yang merupakan organisme probiotik utama di usus, membentuk lingkungan asam oleh asam lemak rantai pendek. Akibatnya, bayi yang mengonsumsi ASI memiliki banyak koloni Bifidobacteria dan Lactobacilli dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula. Selain itu, durasi menyusui juga memiliki pengaruh pada perkembangan alergi makanan karena bayi dengan durasi menyusui yang sangat singkat memiliki risiko lebih tinggi terkena alergi susu sapi.5

Strategi proaktif dilakukan untuk memodulasi sistem kekebalan tubuh pada bayi yang diberikan susu formula karena adanya indikasi medis dan memiliki risiko dysbiosis, menggunakan oligosakarida spesifik (prebiotik), bakteri baik (probiotik) dan kombinasi keduanya (sinbiotik) yang ditambahkan pada susu formula bayi.1  Dilakukan penelitian pada bayi yang dilahirkan secara operasi sesar. Subyek yang sudah terdiagnosa adanya indikasi medis diberikan susu formula yang tidak terhidrolisis dari susu sapi sebagai kontrol, susu formula yang diperkaya oleh scGOS/lcFOS (prebiotik), atau susu formula yang diperkaya B. breve M-16V (sinbiotik) sejak lahir hingga usia 16 minggu. Hasilnya, suplementasi awal dengan prebiotik atau sinbiotik menghasilkan respon kolonisasi yang cepat oleh Bifidobacteria, menunjukkan bahwa 3 bulan pertama kehidupan merupakan window period untuk pemulihan cepat terhadap kolonisasi Bifidobacteria pada bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar. Sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa melimpahnya B. breve berkorelasi dengan perlindungan terhadap eksim dan sensitisasi imun pada bayi. Pada akhir penelitian, ditemukan bahwa pada subyek yang diberikan sinbiotik, tidak mengganggu populasi Bifidobacteria di masa depan. Selain itu, pemberian sinbiotik dinilai lebih aman daripada program vaginal seeding. 3

Pada analisis post-hoc pada penelitian yang sama, ditemukan presentase subyek yang memiliki reaksi berupa masalah kulit lebih rendah pada kelompok yang diberikan sinbiotik dibandingkan dengan kelompok kontrol (20% vs 42%, P=0.017). Setelah ditelusuri riwayat keluarganya, kejadian alergi/atopik dermatitis yang dilaporkan jarang ditemukan pada kelompok sinbiotik daripada kelompok kontrol. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukan pemberian campuran sinbiotik pada susu formula menaikkan SCORAD pada anak dengan atopik dermatitis mediasi imunoglobulin-E dan mungkin melindungi terhadap asma. 3 

Beberapa bukti yang terkumpul pada jurnal World Allergy Organization (WAO) menunjukan bahwa kemungkinan suplementasi prebiotik pada bayi mengurangi risiko mengi rekuren dan alergi makanan. Panel pedoman WAO juga menyarankan suplemen prebiotik pada bayi yang mempunyai indikasi medis sehingga tidak disusui secara eksklusif, pada bayi dengan risiko tinggi dan rendah untuk memiliki alergi (rekomendasi bersyarat).4

Hanya Untuk Kalangan Medis

REFERENSI:

  1. Highlights from the Nutricia Symposium @ APAPARI Congress 2019, Bali, Indonesia.
  2. Kolokotroni, Ourania et al. 2012. Asthma and atopy in children born by caesarean section: effect modification by family history of allergies – a population based cross-sectional study. BMC Pediatrics 2012, 12:179. http://www.biomedcentral.com/1471-2431/12/179
  3. Chua, et al. 2017. Effect of synbiotic on the gut microbiota of caesarean delivered infants: a randomized, double-blind, multicenter study. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition Publish Ahead of Print.  DOI: 10.1097/MPG.0000000000001623
  4. Fiocchi et al. 2015. World Allergy Organization-McMaster University Guidelines for Allergic Disease Prevention (GLAD-P): Probiotics. World Allergy Organization Journal. 8:4 DOI 10.1186/s40413-015-0055-2
  5. Lee et al. The gut microbiota, environmental factors, and links to the development of food allergy (2020) Clin Mol Allergy 18:5 https://doi.org/10.1186/s12948-020-00120-x
  6. Herz, Udo. 2019. Role of Synbiotic. Highlights from the Nutricia Symposium @ APAPARI Congress 2019, Bali, Indonesia.
  7. Keag OE, Norman JE, Stock SJ (2018) Long-term risks and benefits associated with cesarean delivery for mother, baby, and subsequent pregnancies: Systematic review and meta-analysis. PLOS Medicine 15(1): e1002494. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1002494
  8. Bager, P., Wohlfahrt, J., & Westergaard, T. (2008). Caesarean delivery and risk of atopy and allergic disesase: meta-analyses. Clinical & Experimental Allergy, 38(4), 634–642. doi:10.1111/j.1365-2222.2008.02939.
  9. Mitselou, N et al. 2018. Cesarean delivery, preterm birth, and risk of food allergy: Nationwide Swedish cohort study of more than 1 million children. American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. 1510-1514. https://doi.org/10.1016/j.jaci.2018.06.044.
  10.  Zhuang, Lu et al. 2019. Intestinal Microbiota in Early Life and Its Implications on Childhood Health. Genomics Proteomics Bioinformatics 17: (13–25). https://doi.org/10.1016/j.gpb.2018.10.002

Artikel Terkait