PARENTING ARTICLES

/

OTHERS

Article Tablet Article Mobile

Yuk Mulai Membangun Karakter Resilien Si Kecil

Untuk itu, di samping membangun rutinitas harian dan memberi kesempatan bermain yang menunjang tumbuh kembang anak sesuai usia, orang tua perlu membekali anak selangkah lebih maju dengan aktivitas yang memiliki makna dan tujuan. Aktivitas ini akan menumbuhkan anak-anak yang mandiri, berani, gigih, banyak akal, dan adaptif, atau dikenal juga dengan istilah resiliensi. Resiliensi bukanlah karakter bawaan dimana anak terlahir memiliki atau tidak memilikinya. Kemampuan untuk menghadapi tantangan perubahan dan bangkit setelah gagal ini adalah set pemikiran dan perilaku yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan diusahakan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan terinternalisasi menjadi karakter. Apa saja yang dapat dilakukan orang tua untuk memberi paparan bermakna dan membangun karakter resiliensi anak?

Mengenalkan berbagai pengalaman baru secara langsung

Keseharian yang repetitif dan rutin memang penting bagi anak agar merasa nyaman dengan dunia sekitarnya. Namun untuk terus menyalakan rasa ingin tahu, memperkaya pengalaman, dan mendorong berkembangnya keterampilan baru, anak perlu terus diperkenalkan dan diajak melakukan hal-hal di luar zona nyamannya. Bukan hanya membaca atau melihat dari buku dan televisi, tapi anak diajak mengalami langsung. Beberapa idenya antara lain:

  • mencoba menu baru saat di restoran, mencicip masakan kota/negara lain
  • mencoba permainan/ olahraga yang tidak biasa seperti halang rintang, flying fox, sepatu roda
  • liburan ke tempat yang berbeda dengan kesehariannya, misalnya camping atau ke sawah
  • belajar bahasa asing, mulai dari kalimat sederhana untuk menyapa atau mengenalkan diri
  • mengikutsertakan anak dalam lomba sesuai bidang yang ia minati
  • bercerita di depan anggota keluarga atau teman tentang makanan/mainan favorit
  • berkenalan dan bermain bersama dengan anak yang punya penampilan atau hobi berbeda

Mencoba hal baru memang beresiko, karena bisa jadi berujung suka – tidak suka, cocok – tidak cocok, merasa mudah atau sulit. Namun justru inilah pengalaman yang membuka kesempatan anak menjadi resiliensi. Orang tua sendiri perlu memberi contoh, menahan diri agar tidak terlalu protektif, dan mendorong anak ambil resiko (Ungar, 2009). Orang tua dapat pula menceritakan pengalaman anak maupun pengalamannya sendiri saat berhasil mengatasi rasa cemas. “Ingat ga waktu pertama kakak renang? Awalnya takut sama air, ternyata pas dicoba malah suka sekali.”

Fokus pada proses daripada hasil akhir

Ketika ingin mendorong anak untuk ambil resiko, beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua:

  • Fokus pada proses, bukan keberhasilan atau kegagalan di akhir. Beri pujian “Hebat sudah mau coba dan berusaha! ” alih-alih “hebat deh tadi bisa menang lombanya!”
  • Tekankan bahwa berbuat salah adalah bagian dari proses belajar dan itu tidak apa-apa. Misal saat anak belajar ambil minum sendiri dari dispenser tapi tumpah-tumpah. Alih-alih langsung melarang, ajari anak caranya dan kasih kesempatan coba lagi.
  • Beri ruang untuk berkreasi, hindari mematikan imajinasi dan ekspresi diri anak dengan selalu menuntut melakukan dengan cara ‘seharusnya’ menurut orang tua. Misal saat anak mewarnai langit dengan warna pink atau pohon dengan daun kuning, tahan diri untuk tidak mengoreksi, karena berbeda bukan berarti salah. Daripada komentar “kok gitu? Salah tuh..” lebih baik “Wah pohonnya berbeda nih dari yang biasa mama lihat, warna daunnya kuning. Kakak pernah lihat dimana pohon seperti itu? Bagus ya warnanya..”

Kembangkan keterampilan berpikir anak

Dengan dunia yang berubah cepat, masalah dan tantangan pun tidak akan sama dengan jaman sekarang. Anak perlu mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah, bukan hapalan akan apa yang harus diperbuat. Yang dapat dilakukan orang tua: 

  • Membiasakan anak berpikir. Saat ada kesulitan atau masalah, bahkan dari hal-hal kecil keseharian seperti ingin mengambil mainan di rak yang tinggi, mencari kepingan puzzle yang sesuai, atau merasa kepanasan, jangan langsung memberi tahu anak apa yang harus dilakukan. Melainkan bertanyalah “kira-kira bisa pakai apa ya supaya bisa ambil mainannya?” atau “kepingannya sudah benar, posisinya mungkin yang harus diubah sedikit ya supaya pas. Coba, bisa diapakan ya?”
  • Saat anak berbuat salah, misal lupa bawa tugas, jangan selalu jadi penyelamat situasi. Anak perlu belajar bertanggung jawab, ajak diskusi “bagaimana ya supaya lebih baik / tidak berbuat salah yang sama” misalnya membuat daftar to do list dan mengecek isi tes sebelum berangkat sekolah.
  • Libatkan anak dalam membuat keputusan, seperti memilih mau main apa, makan apa, pakai baju apa, mau tema ulang tahun apa, mau pergi jalan-jalan kemana, cita-cita mau jadi apa, dll.

Membangun Hubungan yang Positif dengan Anak

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kelekatan emosional dan dukungan sosial sangat penting bagi terbentuknya resiliensi (Marriner, Cacioli, & Moore, 2014; Ungar, 2013). Waktu berkualitas dengan anak menjadi kunci, lakukan kegiatan bersama yang bisa menciptakan koneksi, bukan sekedar berada di ruangan yang sama secara fisik. Bantu anak mengenali kelebihan-kelebihan dirinya sehingga lebih percaya diri. Ketika anak tahu bahwa mereka memiliki kemampuan diri dan dukungan tak bersyarat dari orang tua, mereka lebih merasa berdaya menghadapi tantangan.

 

Referensi:

Marriner, P., Cacioli, J-P., & Moore, K.A. (2014). The Relationship of Attachment to Resilience and their Impact on Stress. In K. Kaniasty, K.A. Moore, S. Howard & P. Buchwald (Eds). (pp. 73-82). Stress and Anxiety: Applications to Social and Environmental Threats, Psychological Well-Being, Occupational Challenges, and Developmental Psychology. Berlin: Logos Publishers. https://www.researchgate.net/publication/275833354_The_relationship_of_attachment_to_resilience_and_their_impact_on_stress

Michael Ungar (2009) Overprotective Parenting: Helping Parents Provide Children the Right Amount of Risk and Responsibility, The American Journal of Family Therapy, 37:3, 258-271, DOI: 10.1080/01926180802534247

Ungar, M. (2013). The impact of youth-adult relationships on resilience. International Journal of Child, Youth and Family Studies, 4(3), 328-336DOI: 10.1177/1524838013487805

https://www.apa.org/helpcenter/road-resilience.aspx